LOGINSiang itu enam kendaraan bergerak beriringan menuju kawasan industri kendaraan berat di pinggir kota. Mobil-mobil yang membawa anggota kelompok Joni melaju perlahan melewati jalanan kosong yang dipenuhi bangkai kendaraan dan reruntuhan.
Semakin dekat ke area pabrik, suasana justru terasa semakin aneh. Tidak ada zombie. Sama sekali. Joni yang duduk di salah satu mobil langsung menyipitkan mata sambil melihat keluar jendela. “Pelanin.” Sopir langsung mengurangi kecepatan. Joni tetap memperhatikan sekitar dengan serius. “Hati-hati.” Nada suaranya berubah lebih rendah. “Ga ada zombie itu ga normal.” Konvoi akhirnya masuk perlahan ke area pabrik kendaraan berat. Gerbang besi besarnya sudah hancur, sementara halaman dalam dipenuhi truk besar rusak, kendaraan proyek terbalik, dan bekas goresan besar di banyak badan kendaraan. Sunyi. Terlalu sunyi. Suara radio tiba-tiba berbunyi. “Jon.” Suara Pak Bram terdengar dari radio komunikasi. “Kayaknya ini ide buruk.” Joni tidak langsung menjawab. Matanya masih mengamati bekas-bekas kerusakan di sekitar area. Beberapa kendaraan bahkan terlihat seperti dihancurkan paksa oleh sesuatu yang sangat besar. Konvoi akhirnya berhenti di dekat gudang utama. Pintu mobil langsung terbuka satu per satu dan anggota mulai turun dengan senjata di tangan. Joni keluar sambil mengangkat senapannya. “Formasi taktis.” Orang-orang langsung bergerak sesuai posisi masing-masing. Pak Bram maju ke depan dan otomatis mengambil alih komando lapangan. “Tim satu cek kiri.” “Tim dua sama gue.” “Jangan jauh dari kendaraan.” Deri dan anggota mekaniknya tetap di dekat mobil sambil berjaga. Mereka memang bukan petarung utama. Joni memeriksa magasin senjatanya sebentar lalu berkata singkat. “Gue ikut Bram.” Pak Bram melirik Joni sebentar lalu mengangguk. Kelompok itu mulai bergerak perlahan masuk lebih dalam ke area pabrik yang sunyi dan penuh bangkai kendaraan besar tersebut. Tim dua baru saja masuk ke salah satu gudang besar ketika suara tembakan mendadak meledak dari dalam. Dor dor dor! Teriakan langsung menyusul sesaat setelahnya. “LARI!” Joni, Pak Bram, dan tim satu yang masih berada di area luar spontan menoleh ke arah gudang seberang dengan wajah tegang. Beberapa detik kemudian, anggota tim dua keluar berlarian dari dalam gudang dengan panik. Wajah mereka pucat sambil terus menembak ke belakang. Lalu— BRAKKK! Suara hantaman besar mengguncang seluruh area. Pintu gudang besi itu penyok ke depan. Hantaman kedua langsung membuat engselnya copot dan pintu besar itu terlempar keluar menghantam tanah dengan suara keras. Debu beterbangan. Dan dari dalam gelap gudang, sesuatu mulai keluar. Empat zombie mutan. Tiga di antaranya bertubuh sangat besar. Kedua lengan mereka membengkak tidak normal, berubah seperti perisai raksasa berduri yang menyatu langsung dengan tubuh mereka. Setiap langkahnya membuat lantai bergetar kecil. Sementara satu lainnya— merangkak cepat di dinding gudang. Speedster. Pak Bram langsung membentak keras. “MUTAN!” Dia langsung mengangkat senjatanya. “Tanker! Itu tanker!” “TEMBAK!” Tanpa menunggu lagi, tim satu langsung melepaskan rentetan peluru ke arah para mutan itu. Joni ikut menembak sambil bergerak maju sedikit memberi perlindungan ke tim dua yang masih berlari menjauh. Peluru menghantam tubuh para tanker. Tetapi suara yang muncul justru membuat semua orang merinding. Tang tang tang! Peluru memantul dari lengan besar mereka. “ANJING!” Salah satu anggota panik. Para tanker itu terus maju sambil mengangkat lengan mutasinya seperti tameng hidup, sementara speedster di belakang mulai bergerak cepat menyusuri dinding menuju arah mereka. Rentetan peluru terus menghantam tubuh para tanker, tetapi hampir semuanya memantul dari lengan mutasi mereka yang besar seperti tameng hidup. Ketiga monster itu terus maju sambil mengeluarkan suara geraman berat yang menggema di seluruh area pabrik. Sementara itu speedster sudah menghilang dari pandangan. “Mana speedsternya?!” salah satu anggota berteriak panik. Pak Bram langsung membentak sambil terus menembak. “Belakang leher tanker! Itu titik lemahnya!” Dia menunjuk bagian belakang kepala salah satu tanker yang tidak tertutup mutasi. “Tembak situ!” Namun situasi sudah terlanjur kacau. Tiba-tiba sebuah bayangan melesat dari samping kendaraan proyek yang terbalik. Speedster. Gerakannya terlalu cepat. Salah satu anggota tim dua bahkan tidak sempat bereaksi sebelum lehernya langsung diterkam dan tubuhnya dibanting ke lantai beton. Darah menyembur. “AAAAH!” Teriakan lain langsung terdengar ketika speedster kedua kalinya menyerang dari arah berbeda. Seorang pria terseret masuk ke bawah truk besar sebelum suara tulangnya remuk terdengar jelas. Joni mengumpat kasar lalu langsung bergerak. “Bram! Tanker lu!” Dia mengambil granat dari sabuknya sambil berlari ke arah kendaraan-kendaraan rusak di sisi gudang. Speedster kembali muncul, kali ini melompat ke arah Joni dengan tubuh rendah seperti binatang. Joni refleks menjatuhkan diri ke samping. BRAK! Mutan itu menghantam badan excavator rusak hingga penyok besar muncul di besinya. “Cepet banget…” Joni menggertakkan gigi sambil langsung melempar baut besar ke arah lain. Benda itu menghantam mobil terbalik dan menghasilkan suara keras. Speedster langsung menoleh lalu melesat ke arah suara itu. “Dapet lu.” Begitu mutan itu masuk di antara kendaraan sempit, Joni langsung menarik pin granat dan melemparkannya. BOOM! Ledakan mengguncang area sekitar. Api dan serpihan besi beterbangan keluar dari celah kendaraan. Namun speedster masih hidup. Tubuhnya hangus sebagian, tetapi monster itu tetap bergerak sambil menjerit marah ke arah Joni. “Anjing…” Joni langsung mengangkat senjatanya dan menembak bertubi-tubi saat mutan itu melompat lagi. Dor dor dor dor! Beberapa peluru akhirnya mengenai kepala dan lehernya di udara. Tubuh speedster jatuh berguling di tanah sebelum akhirnya diam. Di sisi lain, situasi tim Bram juga tidak lebih baik. Dua tanker sudah menghancurkan posisi berlindung mereka. Salah satu anggota bahkan terlempar setelah dihantam lengan berduri mutan itu dan tubuhnya langsung remuk di tembok. “KE BELAKANGNYA!” Pak Bram berteriak. Mereka mulai memanfaatkan kendaraan besar di area itu. Dua orang memancing tanker mengitari truk semen rusak sementara anggota lain mencoba mengambil sudut tembak ke belakang leher mereka. Salah satu tanker akhirnya terkena. Dor! Peluru menembus belakang lehernya dan monster itu langsung jatuh menghantam tanah. Namun tanker kedua langsung mengamuk. Mutan itu menabrak forklift hingga terbalik lalu menghantam salah satu anggota tim dua sampai tubuhnya tidak bergerak lagi. Tembakan terus terdengar. Debu dan serpihan beterbangan memenuhi area gudang. Joni yang baru selesai dengan speedster langsung berlari membantu sisi Pak Bram. “Geser!” Dia mengambil posisi tinggi di atas kendaraan proyek rusak dan mulai menembaki bagian belakang leher tanker terakhir saat monster itu sibuk mengejar anggota lain. Dor dor dor! Peluru pertama meleset. Peluru kedua mengenai pundak. Peluru ketiga akhirnya menembus belakang leher mutan itu. Tank tersebut berhenti mendadak. Lalu roboh keras ke tanah. Sunyi perlahan mulai kembali. Yang terdengar hanya napas berat dan suara rintihan beberapa orang terluka. Area gudang berubah seperti medan perang. Kendaraan hancur lebih parah, darah tersebar di lantai beton, dan tubuh anggota tim dua berserakan di berbagai sudut. Dari seluruh tim dua— hanya dua orang yang masih berdiri. Satu lagi duduk bersandar sambil memegang luka di perutnya dengan wajah pucat. Pak Bram berdiri diam beberapa detik sambil menatap mayat anak buahnya sendiri sebelum akhirnya menghembuskan napas panjang. “...sial.”Beberapa hari berikutnya, perang antara kelompok Joni dan Broto mulai berubah menjadi perang bayangan bukan lagi serangan frontal.Melainkan perburuan, dan dimulai dengan salah satu kelompok kecil yang diam-diam sudah diajak kerja sama oleh Pak Kusno.Mereka pura-pura tetap menjadi survivor biasa di area sekitar wilayah Broto.Dan pagi itu radio komunikasi kelompok Joni berbunyi.“Base. Kelompok Broto keluar.”Suara samar terdengar dari HT kecil.“Empat mobil. Arah selatan.”Di ruangan komunikasi, anggota langsung mencatat lalu menyampaikan informasi itu ke Joni.Beberapa menit kemudian konvoi kecil kelompok Joni langsung bergerak keluar.Joni di mobil depan bersama Pak Bram sambil melihat peta kasar area.“Mereka biasanya loot apa di selatan?”Pak Bram menjawab sambil terus memperhatikan jalan.“Gudang makanan sama bengkel lama.”Joni mengangguk kecil.“Berarti jalur baliknya kemungkinan lewat sini.”Dia menunjuk jalan industri sempit di peta. Dan benar saja beberapa jam kemudian rom
Tidak lama setelah Sindy kabur keluar ruangan, pintu kembali terbuka. Deri masuk sambil mengernyit.“Bang…”Dia menunjuk ke arah luar.“Si Sindy kenapa merah banget mukanya?”Joni yang masih agak bengong langsung refleks duduk lebih tegak.“…hah?”Deri makin curiga.“Lu marahin dia?”“Engga.”Jawaban Joni terlalu cepat namun Deri langsung menyipitkan mata.“…curiga gue.”Namun sebelum Deri sempat lanjut, Joni buru-buru mengalihkan topik.“Udah upgrade?”Wajah Deri langsung berubah semangat.“Udah.”Dia langsung membuka panel traitnya.“Schematic sekarang berubah jadi Machinist.”Joni langsung nyengir.“Wah. Sekarang lu masokis?”Deri langsung melotot.“BUKAN MASOKIS! Machinist!”Joni langsung ketawa ngakak.“Mirip anjir namanya.”Deri cuma geleng-geleng kesel dab Joni lalu kembali serius.“Yaudah. Fungsinya apa sekarang? Udah dites?”Deri langsung mengangguk semangat.“Sedikit.”Dia duduk lalu mulai menjelaskan sambil gerak-gerakin tangan excited.“Sekarang gue bisa bikin blueprint le
Beberapa hari setelah serangan kelompok Broto, ruangan rapat kelompok Joni kembali dipenuhi anggota inti mereka.Namun kali ini suasananya berbeda, kali ini lebih serius, lebih berat karena sekarang semua orang sadar, mereka sudah resmi masuk perang besar antar kelompok.Joni duduk di ujung meja sambil melihat satu per satu orang di ruangan itu.“Mulai laporan.”Tatapannya berpindah ke Sindy terlebih dulu.“Sindy.”Sindy langsung membuka beberapa catatan di depannya.“Soal combat drugs…”Tatapannya naik ke Joni.“Setelah abang kasih sampelnya buat aku teliti lebih lanjut…”Dia menarik napas kecil.“…aku bisa ngilangin efek sampingnya.”Ruangan langsung diam dan Deri langsung menoleh cepat.“…hah?”Namun Sindy melanjutkan dengan serius.“Efek gagal organ, kerusakan saraf, sama stimulasi berlebihan itu muncul karena beberapa komponen kimianya ga stabil.”“Kalau dipisah dan diseimbangin ulang… harusnya bisa jauh lebih aman.”Mata Joni langsung menyipit tertarik dan Sindy lalu menambahkan
Sindy menatap layar biru transparan itu dengan napas masih tidak stabil.Tulisan di depannya perlahan berhenti berubah.═══════════Trait: Pharmatrix═══════════“…Pharmatrix?”Suaranya pelan penuh bingung namun sebelum dia sempat memahami lebih jauh, Pak Bram langsung memeluknya erat.“SINDY!”Pria itu sampai menangis lega sambil memegang kepala anaknya.“Lu hidup… Syukur…”Joni yang berdiri di dekat sana juga akhirnya menghembuskan napas panjang lega setelah tegang sejak tadi.Sementara Sindy sendiri masih terlihat blank. Matanya berkedip beberapa kali sebelum akhirnya sadar sesuatu.“…kok aku hidup?”Pak Bram langsung menoleh ke Joni dan Joni akhirnya menjelaskan singkat.“Kristal. Kita pake kristal zombie ke luka lu.”Sindy langsung membeku mendengar itu karena dia tahu artinya lalu Joni menyipitkan mata sedikit.“Lu sekarang awakener?”Sindy perlahan menoleh lagi ke layar biru yang masih mengambang di pandangannya. Beberapa detik kemudian dia mengangguk pelan.“…iya.”Joni langsu
Tubuh Sindy semakin kejang hebat di atas kasur.KRAK… KREEET…Tali pengikat mulai berderit keras karena tubuhnya terus bergerak tidak normal.Kasur darurat itu bahkan ikut bergeser sedikit di lantai akibat hentakan tubuh Sindy yang semakin brutal.“ARGH—!”Suara napas dan erangan aneh keluar dari tenggorokannya.Mila langsung mundur beberapa langkah dengan wajah pucat.“Bang… Ini ga normal…”Pak Bram yang melihat itu justru semakin hancur. Air matanya tidak berhenti jatuh sambil terus memegang kepalanya sendiri.“Sindy…”Namun Joni tetap berdiri di dekat tempat tidur dengan wajah tegang. Tatapannya tidak lepas dari tubuh Sindy.Lalu urat hitam mulai muncul perlahan dari sekitar luka di perutnya.Menyebar sedikit demi sedikit. Mata beberapa anggota langsung membesar ketakutan. Karena mereka semua tahu seperti apa awal perubahan zombie.Deri refleks langsung mengangkat senjatanya sedikit dan Joni langsung sadar situasinya makin berbahaya.“Senjata.”Suara Joni terdengar berat.“Kasih gu
Joni keluar dari gudang sambil terus menyeret tubuh Dani yang tidak sadarkan diri di lantai beton.Suara gesekan tubuh dan oli terdengar kasar di tengah suasana base yang masih penuh asap dan sisa pertempuran.Begitu melihat Deri dan Pak Bram di depan, Joni langsung bertanya santai.“Udah selesai?”Deri yang masih melongo melihat kondisi Dani langsung menjawab cepat.“Mereka kabur.”Pak Bram ikut mengangguk.“Udah mundur semua.”Lalu dia melihat ke arah luar base yang rusak cukup parah.“Tapi…”Tatapannya kembali ke Joni.“…mereka sebenernya dari mana sih?”Joni berhenti sebentar.Tatapannya menyapu area gerbang yang hancur dan tembok pertahanan yang dulu mereka perkuat mati-matian.Kini sebagian sudah runtuh penuh bekas ledakan dan api. Alisnya mengernyit melihat kerusakan itu.“…kelompok Broto.”Nada suaranya berubah dingin.“Mereka balas dendam soal pabrik energi itu.”Deri langsung menghela napas kasar.“Anjing…”Lalu matanya turun lagi ke arah Dani yang diseret Joni.“…terus ini







