Share

24. Gue Ga Gay!

Author: SleepyFace
last update publish date: 2026-05-13 23:00:35

Joni segera turun dari atas kendaraan proyek sambil menarik napas berat. Tubuhnya masih penuh debu dan telinganya berdenging akibat ledakan tadi.

Dia langsung menoleh ke arah Deri dan anggota mekanik yang masih berjaga dekat kendaraan.

“Der! Bantu yang luka!”

Deri langsung mengangguk.

“Cepet turun semua!”

Tim mekanik segera bergerak membawa kotak obat, kain perban, dan perlengkapan seadanya menuju anggota yang terluka. Beberapa orang mulai mengangkat korban menjauh dari area pertarungan sementara yang lain membantu menghentikan pendarahan.

Di sisi lain, beberapa anggota yang masih kuat mulai mendekati tubuh para mutan.

“Kristalnya ambil!”

Salah satu berkata sambil mulai membelah kepala tanker dengan wajah tegang.

Joni berjalan mendekati Pak Bram yang masih berdiri diam melihat area penuh mayat.

“Gimana kondisi orang kita?”

Pak Bram menghela napas berat.

“Hancur.”

Tatapannya turun ke arah tubuh anggota tim dua.

“Hampir habis.”

Deri ikut mendekat sambil membawa kain penuh darah.

“Yang luka juga banyak—”

Kalimatnya terputus.

Matanya tiba-tiba menyipit ke arah celah gelap gudang sebelah.

Ada sesuatu bergerak.

Cepat.

Mata Deri langsung membesar.

“JONI AWAS!”

Deri refleks berlari dan mendorong tubuh Joni sekuat tenaga.

Joni terlempar ke samping tepat ketika sesuatu melesat dari dalam kegelapan.

Sebuah organ panjang.

Mirip lidah berdarah.

CRAAK!

Organ itu menembus perut Deri dari samping hingga tembus ke belakang.

Semua membeku sesaat.

Lalu lidah itu tertarik kembali dengan cepat ke arah gudang.

Tubuh Deri langsung jatuh ke lantai dengan darah mengalir deras dari lubang besar di perutnya.

“DERI!!”

Mata Joni langsung membelalak.

Dia menoleh ke arah gudang dengan napas memburu.

Dari dalam gelap, sesuatu mulai merangkak keluar.

Zombie baru.

Tubuhnya rendah dengan enam kaki panjang seperti serangga. Mulutnya terbuka lebar hingga hampir membelah kepalanya, sementara lidah panjang berdarah tadi menggeliat keluar masuk seperti cambuk hidup.

Joni langsung dipenuhi amarah.

“ANJINGGG!”

Dia mengangkat senjatanya dan menembak membabi buta.

Dor dor dor dor!

Mutan itu bergerak cepat di dinding gudang, menghindari hampir semua peluru sebelum kembali menembakkan lidahnya ke arah Joni.

Joni berguling ke samping dan refleks meraih senapan milik anggota yang sudah tewas di dekatnya.

“TEMBAK ITU!”

Tim Deri dan tim satu langsung ikut menghujani mutan tersebut dengan peluru dari berbagai arah.

Dor dor dor dor dor!

Zombie itu mencoba bergerak lagi di dinding, tetapi jumlah peluru terlalu banyak. Tubuhnya mulai robek, salah satu kakinya patah, lalu rentetan terakhir menghancurkan kepalanya di udara.

BRAK!

Tubuh mutan itu jatuh keras ke lantai beton dan akhirnya diam.

Sunyi kembali turun.

Namun kali ini tidak ada rasa lega.

Karena semua mata langsung tertuju ke arah Deri yang tergeletak bersimbah darah di tanah.

Joni langsung berlari menghampiri Deri yang sudah dikerubungi beberapa anggota. Darah masih terus mengalir dari lubang besar di perutnya sementara beberapa orang mencoba menekan lukanya dengan panik.

“MINGGIR!”

Joni mendorong salah satu anggota sampai terjatuh lalu berlutut di samping Deri.

“Der! Der!”

Namun di tengah kekacauan itu, salah satu anggota yang tadi mengambil kristal dari kepala mutan ikut terdorong oleh Joni. Kristal di tangannya terlepas lalu jatuh ke tanah.

Tidak ada yang sempat menangkapnya.

Kristal itu memantul sekali lalu jatuh tepat di luka terbuka Deri.

Semua orang membeku.

Kristal kebiruan itu mendadak bersinar terang.

“Apa—”

Belum sempat seseorang menyelesaikan kalimatnya, kristal itu seperti mencair menjadi cairan bercahaya lalu perlahan meresap masuk ke dalam daging terbuka di perut Deri.

Dan tepat di depan mata mereka, daging mulai tumbuh.

Cepat.

Terlalu cepat.

Lubang besar di perut Deri perlahan menutup sendiri dengan gerakan menjijikkan yang bisa dilihat jelas oleh mata telanjang. Otot, daging, dan kulit tumbuh kembali seolah dipercepat berkali-kali lipat.

Semua orang mundur refleks dengan wajah pucat.

Joni sendiri sampai terpaku beberapa detik sebelum akhirnya membentak keras.

“MUNDUR!”

Dia langsung berdiri sambil menarik beberapa orang menjauh.

“SEMUA MUNDUR!”

Anggota lain buru-buru menjauh dari tubuh Deri. Bahkan Pak Bram ikut menarik orang-orang supaya memberi jarak.

Di tengah lingkaran kosong itu, tubuh Deri mulai bergetar hebat.

Kejang.

Tangannya menghantam lantai beton berulang kali sementara suara erangan kasar keluar dari tenggorokannya.

“Ughh… AAAARGH!”

Tubuhnya melengkung tidak normal beberapa kali.

Joni menatap semua itu dengan ekspresi sulit dijelaskan. Kaget, bingung, dan waspada bercampur jadi satu.

Perlahan dia mengangkat senjatanya.

Moncongnya mengarah tepat ke kepala Deri.

Dan dia hanya berdiri diam menunggu kejang itu berhenti.

Kejang tubuh Deri perlahan mulai mereda. Tubuhnya masih terbaring di lantai beton dengan napas berat dan tubuh penuh keringat.

Joni tetap mengarahkan senjatanya sambil berteriak.

“Der!”

“Der! Lu sadar?!”

“Der?!”

Tidak ada jawaban selama beberapa detik.

Suasana menjadi semakin tegang.

Beberapa anggota mulai saling melirik dengan wajah pucat. Pak Bram perlahan mengangkat senjatanya ke arah Deri, diikuti anggota lain yang mulai ikut bersiap.

Mereka menunggu keputusan Joni.

Lalu tiba-tiba—

Deri bergerak.

Tubuhnya perlahan bangun lalu duduk sambil memegang perutnya.

“Anjir gue—”

Kalimatnya terputus ketika dia melihat perutnya sendiri.

Matanya langsung membesar.

“HAH?”

Lubang besar di perutnya sudah hilang.

Tidak ada darah baru.

Tidak ada luka terbuka.

Sembuh total.

Deri langsung menoleh ke depan dan baru sadar semua orang sedang mengarahkan senjata kepadanya.

Joni berdiri paling depan dengan ekspresi bingung sekaligus waspada.

Deri mengernyit.

“Jon…”

“Lu ngapain ngarahin senjata ke gue?”

Joni akhirnya sedikit sadar dari keterkejutannya, tetapi senjatanya tetap tidak turun.

“Lu sadar, Der?”

Tatapannya tajam.

“Ada berasa aneh ga?”

Deri memegang perutnya lagi sambil masih bingung.

“Ya jelas aneh lah.”

“Perut gue bolong tadi.”

Joni belum menurunkan kewaspadaannya.

“Lu beneran Deri kan?”

Deri mulai kesal lalu mencoba berdiri.

Dor!

Joni langsung menembak tanah dekat kakinya.

“JANGAN GERAK!”

Deri langsung diam membeku.

“Diem.”

Tatapan Joni masih dingin.

“Lu Deri apa zombie?”

Deri mulai panik.

“Gue Deri anjir!”

“Gue juga ga tau kenapa sembuh!”

Joni masih belum puas.

“Oke.”

Dia menunjuk Deri dengan senjatanya.

“Coba jawab.”

“Apa yang lu inget waktu pertama kali ketemu gue?”

Deri diam beberapa detik lalu menjawab cepat.

“Lu rekrut gue buat benerin senjata lu.”

Dia menggaruk kepala bingung.

“Padahal awalnya gue kira lu gay.”

Sunyi.

Joni bengong.

Semua anggota refleks langsung menoleh ke arah Joni.

Pak Bram juga ikut memandang Joni dengan ekspresi rumit sebelum akhirnya menghela napas panjang.

“Padahal…”

Dia menatap Joni prihatin.

“Mau saya jodohkan sama Sindy.”

Pak Bram menggeleng pelan.

“Sayang ternyata gay.”

Joni langsung panik dan menoleh ke segala arah.

“EH ANJING!”

“KAGAK GUE GA GAY MONYET!”

Dia menunjuk Deri dengan emosi.

“LU APASIH NGOMONG GITU?!”

Deri malah bingung.

“Lah lu yang nanya tadi.”

“Ya gue jawab.”

Beberapa anggota mulai mengernyit sambil tanpa sadar mundur setengah langkah dari Joni.

Joni langsung makin panik.

“EH BANGSAT!”

“GUE GA GAY!”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Raja Logistik di Dunia Zombie   52. Perang Bayangan

    Beberapa hari berikutnya, perang antara kelompok Joni dan Broto mulai berubah menjadi perang bayangan bukan lagi serangan frontal.Melainkan perburuan, dan dimulai dengan salah satu kelompok kecil yang diam-diam sudah diajak kerja sama oleh Pak Kusno.Mereka pura-pura tetap menjadi survivor biasa di area sekitar wilayah Broto.Dan pagi itu radio komunikasi kelompok Joni berbunyi.“Base. Kelompok Broto keluar.”Suara samar terdengar dari HT kecil.“Empat mobil. Arah selatan.”Di ruangan komunikasi, anggota langsung mencatat lalu menyampaikan informasi itu ke Joni.Beberapa menit kemudian konvoi kecil kelompok Joni langsung bergerak keluar.Joni di mobil depan bersama Pak Bram sambil melihat peta kasar area.“Mereka biasanya loot apa di selatan?”Pak Bram menjawab sambil terus memperhatikan jalan.“Gudang makanan sama bengkel lama.”Joni mengangguk kecil.“Berarti jalur baliknya kemungkinan lewat sini.”Dia menunjuk jalan industri sempit di peta. Dan benar saja beberapa jam kemudian rom

  • Raja Logistik di Dunia Zombie   51. Pabrik Perang

    Tidak lama setelah Sindy kabur keluar ruangan, pintu kembali terbuka. Deri masuk sambil mengernyit.“Bang…”Dia menunjuk ke arah luar.“Si Sindy kenapa merah banget mukanya?”Joni yang masih agak bengong langsung refleks duduk lebih tegak.“…hah?”Deri makin curiga.“Lu marahin dia?”“Engga.”Jawaban Joni terlalu cepat namun Deri langsung menyipitkan mata.“…curiga gue.”Namun sebelum Deri sempat lanjut, Joni buru-buru mengalihkan topik.“Udah upgrade?”Wajah Deri langsung berubah semangat.“Udah.”Dia langsung membuka panel traitnya.“Schematic sekarang berubah jadi Machinist.”Joni langsung nyengir.“Wah. Sekarang lu masokis?”Deri langsung melotot.“BUKAN MASOKIS! Machinist!”Joni langsung ketawa ngakak.“Mirip anjir namanya.”Deri cuma geleng-geleng kesel dab Joni lalu kembali serius.“Yaudah. Fungsinya apa sekarang? Udah dites?”Deri langsung mengangguk semangat.“Sedikit.”Dia duduk lalu mulai menjelaskan sambil gerak-gerakin tangan excited.“Sekarang gue bisa bikin blueprint le

  • Raja Logistik di Dunia Zombie   50. Awal Serangan Balik

    Beberapa hari setelah serangan kelompok Broto, ruangan rapat kelompok Joni kembali dipenuhi anggota inti mereka.Namun kali ini suasananya berbeda, kali ini lebih serius, lebih berat karena sekarang semua orang sadar, mereka sudah resmi masuk perang besar antar kelompok.Joni duduk di ujung meja sambil melihat satu per satu orang di ruangan itu.“Mulai laporan.”Tatapannya berpindah ke Sindy terlebih dulu.“Sindy.”Sindy langsung membuka beberapa catatan di depannya.“Soal combat drugs…”Tatapannya naik ke Joni.“Setelah abang kasih sampelnya buat aku teliti lebih lanjut…”Dia menarik napas kecil.“…aku bisa ngilangin efek sampingnya.”Ruangan langsung diam dan Deri langsung menoleh cepat.“…hah?”Namun Sindy melanjutkan dengan serius.“Efek gagal organ, kerusakan saraf, sama stimulasi berlebihan itu muncul karena beberapa komponen kimianya ga stabil.”“Kalau dipisah dan diseimbangin ulang… harusnya bisa jauh lebih aman.”Mata Joni langsung menyipit tertarik dan Sindy lalu menambahkan

  • Raja Logistik di Dunia Zombie   49. Pharmatrix

    Sindy menatap layar biru transparan itu dengan napas masih tidak stabil.Tulisan di depannya perlahan berhenti berubah.═══════════Trait: Pharmatrix═══════════“…Pharmatrix?”Suaranya pelan penuh bingung namun sebelum dia sempat memahami lebih jauh, Pak Bram langsung memeluknya erat.“SINDY!”Pria itu sampai menangis lega sambil memegang kepala anaknya.“Lu hidup… Syukur…”Joni yang berdiri di dekat sana juga akhirnya menghembuskan napas panjang lega setelah tegang sejak tadi.Sementara Sindy sendiri masih terlihat blank. Matanya berkedip beberapa kali sebelum akhirnya sadar sesuatu.“…kok aku hidup?”Pak Bram langsung menoleh ke Joni dan Joni akhirnya menjelaskan singkat.“Kristal. Kita pake kristal zombie ke luka lu.”Sindy langsung membeku mendengar itu karena dia tahu artinya lalu Joni menyipitkan mata sedikit.“Lu sekarang awakener?”Sindy perlahan menoleh lagi ke layar biru yang masih mengambang di pandangannya. Beberapa detik kemudian dia mengangguk pelan.“…iya.”Joni langsu

  • Raja Logistik di Dunia Zombie   48. Bangun, Sindy

    Tubuh Sindy semakin kejang hebat di atas kasur.KRAK… KREEET…Tali pengikat mulai berderit keras karena tubuhnya terus bergerak tidak normal.Kasur darurat itu bahkan ikut bergeser sedikit di lantai akibat hentakan tubuh Sindy yang semakin brutal.“ARGH—!”Suara napas dan erangan aneh keluar dari tenggorokannya.Mila langsung mundur beberapa langkah dengan wajah pucat.“Bang… Ini ga normal…”Pak Bram yang melihat itu justru semakin hancur. Air matanya tidak berhenti jatuh sambil terus memegang kepalanya sendiri.“Sindy…”Namun Joni tetap berdiri di dekat tempat tidur dengan wajah tegang. Tatapannya tidak lepas dari tubuh Sindy.Lalu urat hitam mulai muncul perlahan dari sekitar luka di perutnya.Menyebar sedikit demi sedikit. Mata beberapa anggota langsung membesar ketakutan. Karena mereka semua tahu seperti apa awal perubahan zombie.Deri refleks langsung mengangkat senjatanya sedikit dan Joni langsung sadar situasinya makin berbahaya.“Senjata.”Suara Joni terdengar berat.“Kasih gu

  • Raja Logistik di Dunia Zombie   47. Pilihan Terakhir

    Joni keluar dari gudang sambil terus menyeret tubuh Dani yang tidak sadarkan diri di lantai beton.Suara gesekan tubuh dan oli terdengar kasar di tengah suasana base yang masih penuh asap dan sisa pertempuran.Begitu melihat Deri dan Pak Bram di depan, Joni langsung bertanya santai.“Udah selesai?”Deri yang masih melongo melihat kondisi Dani langsung menjawab cepat.“Mereka kabur.”Pak Bram ikut mengangguk.“Udah mundur semua.”Lalu dia melihat ke arah luar base yang rusak cukup parah.“Tapi…”Tatapannya kembali ke Joni.“…mereka sebenernya dari mana sih?”Joni berhenti sebentar.Tatapannya menyapu area gerbang yang hancur dan tembok pertahanan yang dulu mereka perkuat mati-matian.Kini sebagian sudah runtuh penuh bekas ledakan dan api. Alisnya mengernyit melihat kerusakan itu.“…kelompok Broto.”Nada suaranya berubah dingin.“Mereka balas dendam soal pabrik energi itu.”Deri langsung menghela napas kasar.“Anjing…”Lalu matanya turun lagi ke arah Dani yang diseret Joni.“…terus ini

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status