แชร์

Ramuan Pemikat Hasrat
Ramuan Pemikat Hasrat
ผู้แต่ง: Rcancer

Nasib Pria Miskin

ผู้เขียน: Rcancer
last update ปรับปรุงล่าสุด: 2026-02-17 07:53:06

Gemuruh suara petir menggelegar. Menyentak sebagian umat manusia yang sedang terkurung air dari langit. Hujan deras disertai angin dan petir masih mengguyur sebagian wilayah bumi.

Udara begitu terasa dingin hingga menyebabkan sebagian penduduk di salah satu muka bumi memilih merapatkan tubuhnya dengan selimut atau apapun yang bisa digunakan untuk menghalau rasa dingin yang menerpa kulit mereka.

Tapi tidak dengan seorang pemuda, yang saat ini tengah ada di rumahnya yang sangat sederhana. Pemuda itu tengah menghadapi satu keluarga terpandang yang menemui pemuda itu dengan amarah yang meledak.

"Kamu menyukai anakku? Apa kamu sedang bermimpi!" Ucap lantang seorang pria paru baya terdengar seperti petir yang baru saja menyambar.

Pria paruh baya itu menatap penuh benci dan ejekan kepada pemuda yang sedang tertunduk menahan amarah dan malu.

"Kamu ini hanya pemuda miskin tak berpendidikan, pengangguran, berani-beraninya menyukai anak saya, apa kamu nggak bisa ngaca, hah!"

Pemuda itu agak terkesiap. Matanya menatap orang yang baru saja melontarkan hinaan pedas kepadanya.

Ada rasa amarah yang membakar benaknya, namun apa daya pemuda itu tidak bisa meluapkan amarah itu karena dia sadar diri posisi dia saat ini sebagai tersangka.

"Heh, Oji! Kamu tuh harusnya sadar dini, keluarga kamu tuh beda level!" hinaan yang sama juga keluar dari anggota keluarga pria itu yang turut datang.

Pemuda yang akrab dipanggil Oji hanya bisa kembali menunduk. Dia sungguh tidak menyangka akan diinjak harga dirinya seperti ini.

"Nggak perlu kamu ngaku-ngaku ke semua orang kalau kamu menyukai Arinda, nggak perlu," ucap sosok wanita yang usianya terbilang masih muda.

"Gara-gara ulah kamu itu, Arinda sampai jadi bahan omongan semua orang. Kamu puas, bikin kami sekeluarga malu? Hah!" Bentak wanita yang sama.

Oji tidak menunjukan reaksi apapun. Dia tidak menyangka, kalau yang candaannya akan berakibat seperti ini.

"Kamu itu harusnya berpikir dulu, sebelum mengakui ke semua orang. Kita bukan level kamu yang setara dengan kamu," sosok wanita muda lainnya juga turut bersuara.

"Kamu pikir, dengan kamu menyebar gosip tentang perasaan kamu yang menyukai Arinda, kami akan senang gitu?" Tidak! Itu penghinaan bagi keluarga besar kami."

"Tapi aku tidak pernah menyebar gosip apapun, Mbak," kali ini Oji berusaha membela diri. "Sungguh, aku tidak tahu, siapa yang menyebar gosip itu?"

"Alah, nggak usah bohong!" bentak sosok wanita lain lagi penuh kekesalan. "Terus fungsinya apa, kamu menyimpan foto Arinda, hah! Mau kamu santet?"

Oji kembali terbungkam. Dia terpojok, tak bisa membela diri lagi.

"Benar-benar nggak tahu diri banget kamu. Udah ayok, Pa, kita, pulang, alergi aku berada di rumah kumuh seperti ini."

"Ingat, kalau sampai terjadi apa-apa sama anak saya, akan aku habisi kamu, paham!" Ancam si pria paruh baya.

"Kalau sampai gosip itu tak kunjung reda, jangan harap kamu akan tenang tinggal di kampung ini. Camkan itu!" Pria yang dikenal sebagai penguasa kampung itu pun pergi bersama tiga wanita, anggota keluarganya.

Oji mendongak, menatap penuh benci pada orang-orang yang baru saja menghinanya. Dadanya bergemuruh dan tangannya terkepal kuat.

"Oji."

Tiba-tiba ada suara lirih, yang memanggil nama pemuda itu. Oji pun menoleh dan secara mendadak hatinya terasa sesak.

"Nenek," ucapnya lirih.

Seorang wanita tua berusia sekitar enam puluh tahun mendekat. Wanita itu terisak lalu menggengam tangan cucunya.

Sedari tadi, wanita itu memilih diam di dapur, sembari menahan sesak kala mendengar cucunya dihina oleh orang ternama di kampung.

Nenek ingin membela, tapi tadi Oji sempat melarangnya dan meminta sang Nenek diam saja dan bersembunyi.

"Bagaimana bisa mereka sangat jahat sama kamu, Ji? Apa mereka tidak punya hati?" Nenek berkata dengan suara gemetar.

"Udahlah, Nek, nggak usah dipikirkan," Oji berusaha bersikap tenang. "Lagian, yang berharap jadi menantu Pak Cokro ya siapa. Baru dengar gosip aja, mereka langsung panas."

Nenek tercenung menyaksikan sikap cucunya yang terkesan cuek.

"Emang yang menyebar gosip itu siapa?" Tanya Nenek. "Kok bisa ada gosip seperti itu?"

Oji sontak tersenyum sinis. "Aku tahu orangnya, Nek. Karena cuma dia yang tahu, kalau aku mengagumi anaknya Pak Cokro, benar-benar teman pengkhianat."

Nenek kembali tercenung.

"Aku pergi dulu, Nek, aku harus segera menyelesaikan masalah ini."

"Mau kemana? Hujannya deras banget. Jangan melakukan perbuatan yang buruk. Nenek nggak mau kamu ada masalah lagi."

"Tenang, Nek, cuma mau minta penjelasan saja," Oji pun bersiap untuk pergi.

Begitu mantel sudah terpakai, Oji segera menuju motor butut yang telah lama mati pajak. Motor yang sudah basah kuyup itu dia nyalakan.

Tak butuh waktu lama, motor pun melaju, menembus hujan yang masih deras. Oji mengarahkan motor itu ke salah satu rumah.

Tapi sayang, di tengah perjalanan, tiba-tiba Oji merasakan ada yang aneh dengan motornya.

"Ah, sial!" Umpatnya begitu motor berhenti. "Motornya kenapa lagi? Bikin kesal aja."

Dalam guyuran hujan deras, Oji terus meluapkan kekesalannya sambil mencoba memeriksa motor butut peninggalan orang tuanyam

"Brengsek! Sialan! Motor nggak ada gunanya!" maki Oji sambil menendang motor itu hingga terjungkal.

Oji benar-benar meluapkan amarahnya yang sedari tadi dia pendam kepada motornya. Dadanya kembang kempis dengan amarahnya yang begitu besar, dia merutuki nasibnya saat ini.

Puas melampiaskan amarahnya, Oji kembali memperbaiki posisi motornya lalu menuntun motor itu menuju ke tempat yang lebih terang dan bisa untuk berteduh.

Begitu menemukan tempat yang sesuai, Oji segera mengarahkan motornya ke sana dan kembali memeriksa keadaan motor.

"Apa itu?" Di saat matanya mengedar ke arah lain, tanpa sengaja, Oji melihat sebuah kotak kayu teronggok diantara batuan kerikil.

Karena penasaran, Oji meraih kotak tersebut dan mencoba mengeringkannya karena basah terkena air hujan.

Kening Oji berkerut kala melihat isinya. "Punya siapa ini?" Anak muda itu mengangkat satu persatu isi dalam kotak.

"Uangnya tiga ratus ribu dan ini," Oji memperhatikan barang yang kini ada di genggamannya.

"Kaya parfum, tapi kok nggak bau wangi," ucapnya, lalu dia membaca tulisan yang tertera dalam botol tersebut. "Semprotkan di area ketiak saja untuk mendapatkan hasil yang lebih memuaskan."

Kening Oji semakin berkerut tajam. "Aneh, nggak ada baunya sama sekali, tapi disemprotkan ke ketiak. Emang apa fungsinya?"

Oji meletakan botol tersebut berikut uangnya ke dalam kotak. Lalu kotak diletakķan di dekat kakinya dan dia kembali fokus ke motornya.

Hingga beberapa puluh menit kemudian, Oji pun merasa puas karena motornya bisa dinyalakan. Di saat dia hendak pergi, matanya kembali terusik dengan kotak yang dia temukan.

Oji memungut kotak tersebut. "Ini nggak ada yang merasa kehilangan apa gimana?" Gumamnya.

Oji pun kembali membuka kotak tersebut. "Kalau ditinggalkan, sayang banget ini ada duitnya. Tapi kalau dibawa, nanti yang punya nyariin gimana?"

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Ramuan Pemikat Hasrat   Pertemuan Pertama

    "Aaahhh!" Suara teriakan tiba-tiba mengusik ketenangan Oji dan Neneknya yang sedang menikmati hidangan sederhana sambil melepas lelah.Kedua orang itu serentak melempar pandangan ke arah sumber suara dan betapa terkejutnya mereka dengan apa yang mereka saksikan, tak jauh dari ladang mereka."Ji, Ji, tolongin dia, Ji, cepat!" Dengan sigap Nenek langsung meminta cucunya untuk segera mengambil tindakan. Oji pun langsung bereaksi. Anak muda itu segera bangkit untuk memberi bantuan pada sosok perempuan yang terperosok ke dalam sawah.Begitu sampai di lokasi, Oji langsung turun ke sawah untuk membantu wanita itu. Setelah wanita berhasil berdiri, lantas Oji membantunya naik ke atas.Ketika si wanita berhasil naik, sekarang, Oji tinggal mencoba menaikan motor ke tempat yang sama. Meski cukup kesulitan, tapi akhirnya Oji berhasil mendorong motor itu ke jalan."Mbak Rani nggak apa-apa?" Nenek yang sudah berada di dekat lokasi kejadian, sontak melempar pertanyaan yang membuat cucunya terkejut.

  • Ramuan Pemikat Hasrat   Godaan Lagi

    Mata Oji hampir tak berkedip, begitu si pemilik rumah kembali menghampirinya. Tiba-tiba jantungnya berdegup kencang dan wajahnya nampak gelisah."Nih, ada beberapa kaos baru yang masih aku simpan," dengan santai, si pemilik rumah yang akrab bernama Nadia, menunjukan lima kaos yang masih terbungkus rapi di dalam plastik kemasan.Dia seakan tidak menyadari kalau pria yang usianya lebih muda darinya, kini sedang dilanda resah luar biasa karena wanita itu."Kenapa malah bengong," suara Nadia sontak mengagetkan Oji yang terdiam dengan pikiran berkelana kemana-mana. "Apa kamu tertarik dengan kaos yang aku pakai, ini juga baru loh."Oji hanya bisa meringis. Penampilan wanita itu benar-benar membuat jiwa lelaki Oji bangkit dan dia berusaha untuk mengendalikan keadaan dirinya.Entah alasan apa yang membuat Nadia mengganti pakaian yang tadi dia kenakan. Namun yang pasti, saat ini wanita cantik itu terlihat lebih seksi setelag menggunakan kaos longgar dan memperlihatkan pahanya yang putih dan mu

  • Ramuan Pemikat Hasrat   Kabur

    Oji terpaku dengan mata hampir tak berkedip. Tiba-tiba dadanya berdegup lebih kencang hanya karena ucapan dari wanita yang meninta tolong kepadanya.Ketika Oji dapat menguasai dirinya sendiri, kepalanya menoleh ke segala arah dan saat itu juga, Oji menyadari kalau rumah itu sepi.Pikiran Oji pun semakin kacau. Sungguh, apa yang dikatakan pemilik rumah, membuat benak dan pikiran Oji bertarung hebat sampai membuat anak muda itu resah."Aduh, Mbak, nggak deh, aku nggak berani," ucap Oji kemudian agak gugup."Kenapa nggak berani?" Mia malah melempar senyum menggoda. "Apa permintaanku terlalu berat?"Bulu kuduk Oji seketika meremang. Baru kali ini, ada jari tangan wanita yang meraba dadanya dengan lembut, tapi malah membuat Oji merinding."Aduh, Mbak, jangan kaya gitu lah," Oji mencoba menghindar dengan menggeser tubuhnya agak menjauh. "Bahaya. Nanti kalau ada yang lihat bisa salah paham."Mie kembali tersenyum nakal dan dia melangkah lalu berdiri dengan tubuh bagian belakang menempel pada

  • Ramuan Pemikat Hasrat   Sikap Yang Aneh

    Ketika hari berganti, Oji kali ini bangun lebih pagi dari biasanya.Karena tidak ada pekerjaan penting yang harus dilakukan, pemuda berusia dua puluh satu tahun itu memutuskan untuk berolahraga.Hari ini Oji sudah mempersiapkan hati dan jiwanya untuk menghadapi gunjingan para tetanggga, akibat peristiwa semalam di rumahnya.Oji yakin, beberapa tetangga pasti melihat kedatangan keluarga Cokro dan menyangkut pautkan mereka dengan desas-desus yang melibatkan anak Pak Cokro dengan Oji.Sebelum keluar kamar, sejenak tatapan Oji terusik pada botol parfum yang dia temukan semalam. Oji pun mencium ketiaknya sendiri dan rasa heran seketika tergambar dalam wajahnya."Sebenarnya ini parfum bukan sih?" Gumam Oji menatap botol yang sudah berada di tangannya.Masih dengan rasa penasaran yang besar, anak itu kembali menyemprotkan cairan tersebut hingga membasahi bulu ketiaknya.Setelah beberapa detik dia terdiam dengan rasa penasarannya, akhirnya Oji memutuskan keluar kamar untuk menunaikan niatnya.

  • Ramuan Pemikat Hasrat   Teman Dekat Berkhianat

    Oji melajukan motornya menuju suatu tempat. Ketika Oji melewati sebuah bangunan, matanya tak sengaja melihat wajah yang dia kenal berada di teras bangunan tersebut.Oji segera menghentikan laju motornya dan matanya menatap wajah-wajah itu dengan tatapan terkejut sekaligus heran."Oh, jadi seperti itu kelakuanmu di belakangku," ucap Oji. Tatapannya penuh amarah dan rasa kecewa.Oji terdiam beberapa saat, memikirkan tindakan apa yang akan dia lakukan kepada salah satu wajah yang dia kenal itu.Setelah mempertimbangkan segalanya, Oji akhirnya memutuskan mendekat dan menemui wajah itu."Oji?" seseorang nampak kaget kala matanya menangkap sosok yang dia kenal berada di dekatnya.Suara sosok itu pun sontak mengalihkan semua mata yang sedang berkumpul di satu tempat dan mereka menunjukan beragam reaksi."Kamu ngapain ke sini?" tanya sosok anak muda yang saat ini mengenakan kaos biru. "Mau gabung sama kita?" Senyum dan tatapannya terlihat sangat mengejekOji memilih diam tapi kakinya terus me

  • Ramuan Pemikat Hasrat   Nasib Pria Miskin

    Gemuruh suara petir menggelegar. Menyentak sebagian umat manusia yang sedang terkurung air dari langit. Hujan deras disertai angin dan petir masih mengguyur sebagian wilayah bumi. Udara begitu terasa dingin hingga menyebabkan sebagian penduduk di salah satu muka bumi memilih merapatkan tubuhnya dengan selimut atau apapun yang bisa digunakan untuk menghalau rasa dingin yang menerpa kulit mereka.Tapi tidak dengan seorang pemuda, yang saat ini tengah ada di rumahnya yang sangat sederhana. Pemuda itu tengah menghadapi satu keluarga terpandang yang menemui pemuda itu dengan amarah yang meledak."Kamu menyukai anakku? Apa kamu sedang bermimpi!" Ucap lantang seorang pria paru baya terdengar seperti petir yang baru saja menyambar. Pria paruh baya itu menatap penuh benci dan ejekan kepada pemuda yang sedang tertunduk menahan amarah dan malu. "Kamu ini hanya pemuda miskin tak berpendidikan, pengangguran, berani-beraninya menyukai anak saya, apa kamu nggak bisa ngaca, hah!" Pemuda itu agak

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status