Home / Urban / Ramuan Pemikat Hasrat / Teman Dekat Berkhianat

Share

Teman Dekat Berkhianat

Author: Rcancer
last update Petsa ng paglalathala: 2026-02-17 07:53:46

Oji melajukan motornya menuju suatu tempat. Ketika Oji melewati sebuah bangunan, matanya tak sengaja melihat wajah yang dia kenal berada di teras bangunan tersebut.

Oji segera menghentikan laju motornya dan matanya menatap wajah-wajah itu dengan tatapan terkejut sekaligus heran.

"Oh, jadi seperti itu kelakuanmu di belakangku," ucap Oji. Tatapannya penuh amarah dan rasa kecewa.

Oji terdiam beberapa saat, memikirkan tindakan apa yang akan dia lakukan kepada salah satu wajah yang dia kenal itu.

Setelah mempertimbangkan segalanya, Oji akhirnya memutuskan mendekat dan menemui wajah itu.

"Oji?" seseorang nampak kaget kala matanya menangkap sosok yang dia kenal berada di dekatnya.

Suara sosok itu pun sontak mengalihkan semua mata yang sedang berkumpul di satu tempat dan mereka menunjukan beragam reaksi.

"Kamu ngapain ke sini?" tanya sosok anak muda yang saat ini mengenakan kaos biru. "Mau gabung sama kita?" Senyum dan tatapannya terlihat sangat mengejek

Oji memilih diam tapi kakinya terus melangkah menuju seseorang yang wajahnya terlihat panik.

"Maksud kamu apa? Nyebarin gosip tentang aku?" Tanya Oji langsung ke intinya, pada sosok yang saat ini wajahnya panik.

"Gosip apa?" Sosok berkaos kuning malah melempar tatapan pura-pura tak tahu.

"Nggak usah belaga tak tahu," balas Oji menahan amarah. "Aku tahu banget, gosip itu kamu yang nyebarin, iya kan?"

"Kamu salah," tiba-tiba seseorang ikut bersuara, membuat Oji dan yang lain melempar tatapan ke arah orang itu.

"Aku yang nyebar gosip itu, dan aku juga yang ngomong sama keluarganya Arinda," ucap sosok pria dengan santainya. "Kenapa? Nggak terima?"

Oji melempar tatapan tajam ke arah sosok yang tersenyum meremehkannya.

"Makanya, mimpi tuh jangan ketinggian," ucap sosok yang sama. "Lagian, kamu terlalu percaya diri banget sih. Udah tahu Arinda bukan level kamu, berani-beraninya kamu jatuh cinta sama dia."

Tangan Oji terkepal kuat dan tatapan penuh amarahnya dia lempar ke arah sosok pria yang wajahnya panik.

"Brengsek kamu!" Maki Oji dan dia segera pergi dari sana.

"Sadar diri aja, Ji, suka cewek tuh yang sama-sama miskin. Nggak perlu mimpi ketinggian agar jatuhnya tidak terlalu sakit. Hahaha..." ejek seseorang dan semuanya ikut tertawa.

Oji pergi dengan amarah yang makin berkobar. Dia tidak menyangka, orang yang selama ini menjadi teman ceritanya, justru berkhianat dan memilih gabung dengan anak-anak yang sudah lama sangat memusuhi Oji.

Oji tidak berdaya melawan anak-anak itu. Selain mereka mainnya keroyokan, salah satu dari empat anak muda adalah anak dari orang berpengaruh di kampung ini.

Oji adalah salah satu anak muda yang sering diremehkan dan mendapat perlakuan tak menyenangkan dari anak itu.

"Kamu udah pulang?" tanya wanita tua yang sedari tadi cemas dengan sikap cucunya. "Kamu nggak habis berkelahi kan?"

Oji tersenyum tipis lalu duduk di kursi kayu dekat neneknya. "Nggak lah, Nek, ngapain berkelahi," jawabnya.

Nenek menghembuskan nafas lega. "Sebenarnya masalah utamanya apa sih, Ji? Kok bisa Pak Cokro semarah itu sama kamu?"

"Entah lah, Nek, aku juga bingung," ucap Oji sambil mencomot Ubi rebus yang tersedia di atas meja. "Padahal, aku nggak bilang apa-apa, tapi mereka bisa-bisanya kaya gitu."

Nenek menatap cucunya dengan tatapan penuh selidik. "Tapi tadi Nenek dengar, katanya kamu menyukai anaknya yang bungsu. Apa benar?"

Seketika Oji tersenyum masam. "Cuma sebatas mengagumi, Nek," jawab Oji jujur. "Aku ya sadar diri lah, nggak mungkin mendekati anaknya. Cuma karena gitu doang mereka nggak terima."

Nenek mengangguk samar. Sepertinya dia mulai mengerti, masalah yang dihadapi cucunya.

"Terus, darimana mereka bisa tahu, kamu mengagumi anaknya?" Tanya Nenek lagi. "Mereka juga tahu, kamu menyimpan fotonya anak Pak Cokro. Apa ada yang ngomong sama mereka?"

Oji mengangguk. "Tio yang ngomong, Nek."

"Tio?" Nenek nampak terkejut sampai matanya agak melebar.

Oji pun kembali mengangguk. "Aku tuh cuma cerita ke Tio doang, Nek, kalau aku mengagumi anaknya Pak Cokro. Eh, malah dia cerita sama Erik, ya udah, gempar semuanya."

"Owalah..." ujar Nenek. "Kok bisa Tio tega sama kamu?"

"Mungkin dia lelah, berteman sama aku, Nek," jawab Oji asal. "Kalau main sama Erik, dia bisa ikut gaya-gayaan seperti orang kaya."

Nenek spontan mencebikan bibirnya. "Ya udah, kamu nggak perlu lagi berteman sama anak seperti itu," saran wanita tua itu.

Oji kembali tersenyum tipis. "Kakek kapan pulang sih, Nek?"

"Lusa mungkin," jawab Nenek. "Jangan sampai kakek tahu, apa yang terjadi hari ini. Bisa-bisa dia ngamuk, terus masalahnya tambah runyam."

"Aku tahu," jawab Oji. "Aku ke kamar dulu ya, Nek, ngantuk." Anak itu lantas bangkit dari duduknya menuju kamar yang tak jauh dari ruang tamu.

Sebenarnya kalau dilihat dari keadaannya, Oji tidak terlihat miskin parah. Rumahnya memang sederhana dan sebagian dindingnya menggunakan anyaman bambu.

Tapi bukan berarti keluarga Oji benar-benar miskin. Kakek Neneknya saja punya ladang yang cukup luas dan hasilnya bisa digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Tapi kalau dibandingkan dengan kekayaan keluarga Pak Cokro, jelas beda jauh. Mungkin harta keluarga Oji tidak ada sepuluh persennya dari harta Pak Cokro.

Alasan utama Oji dianggap remeh dan sering direndahkan, terutama oleh kaum wanita adalah, selain Oji yang pengangguran, masa lalu Oji juga jadi pemicu anak itu tidak dilirik lawan jenisnya.

Begitu sampai kamar, Oji melepas resleting jaket dan mengeluarkan sesuatu dari saku yang ada di balik jaket tersebut.

Oji duduk di atas kasur dan matanya kembali memperhatikan kotak kayu yang tadi dia temukan.

Oji memutuskan membawa pulang kotak kayu yang berisi uang serta cairan dalam botol parfum dengan alasan, takut benda itu ditemukan oleh orang lain karena pemiliknya tak kunjung datang ke tempat Oji menemukan benda itu.

"Sebenarnya ini parfum atau apa sih?" Gumam Oji sambil memperhatikan botol berukuran seratus mili liter. "Nggak bau wangi dan petunjuknya juga aneh."

Oji terdiam beberapa saat, seperti sedang memikirkan sesuatu. Hingga beberapa detik kemudian, Oji melepas kaos yang dia kenakan.

"Sialan, bikin penasaran aja," Oji pun menyemprotkan cairan ke ketiaknya sesuai petunjuk yang tertera karena rasa penasaran yang sangat kuat.

Setelah mencoba beberapa menit, Oji tidak merasakan perubahan apapun. Oji hanya bisa mencebik kesal lalu dia memilih merebahkan tubuhnya untuk bermain ponsel hingga anak itu tertidur.

#####

Hari pun berganti dan keesokan paginya, Oji nampak tengah berolah raga menuju ke arah lapangan yang jaraknya cukup dekat.

Ternyata memang benar, gosip tentang dirinya sudah menyebar kemana-mana. Bahkan sempat ada orang yang menegur Oji dan menasehatinya.

Sesampainya di lapangan, Oji melepas kaos, yang dia kenakan dan melakukan senam ringan sebelum kembali berlari keliling lapangan.

Tanpa Oji sadari, tak jauh dari tempat keberadaannya, ada mata yang menatap lekat anak muda itu dan tatapannya terlihat bukan tatapan biasa.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Ramuan Pemikat Hasrat   Bangun Tidur

    "Eugh..." suara khas tanda orang bangun tidur, keluar dari mulut pemuda yang saat tengah terbaring di atas karpet. Tubuhnya pun sedikit bergerak namun tiba-tiba tubuh itu terdiam dan merasa aneh.Anak muda yang akrab dipanggil Oji segera membuka matanya dan melempar tatapan ke arah lain. Betap terkejurnya anak itu kala matanya menangkap seseorang wanita."Kamu sudah bangun?" Dengan entengnya wanita itu malah melempar pertanyaan sambil melempar senyum."Apa yang kamu lakukan, Mbak?" Oji mengangkat tubuhnya sedikit dan wajahnya masih diliputi rasa heran.Wanita itu malah semakin tersenyum lebar dan nampak tersipu. "Maaf, ya, kalau aku lancang. Soalnya aku udah nggak tahan."Oji masih tidak percaya dengan apa yang terjadi. Dia lantas mengedarkan pandangannya ke sekitar dan raut herannya semakin kelihatan."Tadi kamu ketiduran. Sampai tokoku tutup kamu nggak bangun-bangun, jadi aku terpaksa tarik tubuh kamu ke dalam," tanpa diminta, wanita yang mengaku janda itu langsung memberi penjelasa

  • Ramuan Pemikat Hasrat   Di Hari Berikutnya

    "Bukankah itu kotak kayu parfum kita?" Seorang pria nampak kaget begitu melihat benda yang dia kenal, teronggok diantara tumpukan sampah.Sosok pria itu pun mendekat untuk memastikan kalau dia tidak salah lihat. "Tuh, kan, benar, ini kotak ramuan itu, Jo!" Serunya antusias."Loh, iya,"rekan dari pria itu pun tak kalah senang. "Wah, akhirnya kita menemukan petunjuk baru," dia langsung celingukan, memperhatikan sekitarnya. "Kira-kira, sampah ini berasal dari rumah yang mana?""Itu dia yang harus kita cari tahu," ucap sosok yang saat ini mengenakan kaos hitam. "Pasti ini sampah salah satu rumah yang ada di sekiar sini."Sang rekan mengangguk dan mengiyakan. "Ya udah, kita cari rumah yang kehilangan parfum dulu. Setelah itu kita tinggal fokus cari orang yang menemukan kotak parfum ini.""Oke!" Kedua pria itu semakin semangat dalam melakukan usaha pencarian. Sedangkan di tempat lain, orang yang menemukan kotak kayu itu, sedang fokus dengan pekerjaan.Oji saat ini tengah sibuk melayani pem

  • Ramuan Pemikat Hasrat   Jam Malam

    "Ji, apa mungkin, Arinda marah sama kamu gara-gara dia pengin bermain ranjang juga?" Tiba-tiba Karin melempar pertanyaan yang membuat Oji terperanjat.Anak muda itu menoleh, menatap wanita yang tersenyum kepadanya, lalu Oji berpaling dan memilih memejamkan matanya."Kalau bisa sih, disaat seperti ini, kita jangan membahas orang lain dulu, Mbak," ucap Oji. "Bukankah kamu ngajak aku ke sini, untuk bersenang-senang? Jadi, nggak perlu lah, kita membahas hal yang tidak penting."Sekarang, giliran Karin yang tertegun. Wanita itu lantas tersenyum dan memilih mengalah dengan cara kembali mencium aroma ketiak Oji.Tidak ada obrolan lagi di antara mereka. Hingga beberapa menit berlalu, Karin baru menyadari kalau pria yang baru saja memuaskannya, kini telah terlelap."Sepertinya, kamu capek banget ya, Ji?" Gumam Karin, menatap lekat wajah anak muda yang terlelap. Dia tersenyum, lalu menempelkan bibirnya pada pipi Oji.#####Hingga beberapa jam kemudian, tubuh Oji menunjukan sebuah pergerakan, ya

  • Ramuan Pemikat Hasrat   Nenek Merasa Janggal

    Dua wanita yang sama-sama sudah memiliki cucu itu masih asyik berbincang. Sedangkan di luar warung, dua pria juga masih dalam kebingungan.Di saat bersamaan, datang lagi seorang wanita, memasuki warung tersebut. Wanita itu lebih muda dan sepertinya dia baru saja pergi karena dia datang menggukan motor maticnya."Eh, ada Nenek Sani," wanita itu terlihat sumringah sambil menyapa wanita yang usianya lebih tua darinya.Sapaan itu bukanya disambut dengan baik, tapi Nenek Sani malah terdiam dengan raut yang menandakan kalau dia terkejut. Nenek Sani cukup kenal dengan sosok wanita muda dan mereka sebenarnya hampir tak bertegur sapa tiap kali bertemu dan terkesan kurang ramah.Maka itu, Nenek Sani kaget, waktu sosok wanita itu bersikap ramah kepadanya. Beruntung, Nenek langsung menyadari sikapnya dan dia segera membalas sapaan dengan senyuman."Mbak Nadia darimana?" Tanya si pemilik warung. "Baru pulang kerja?""Iya nih, Mbok," balas Nadia sambil mencomot satu gorengan tempe. "Mbok aku minta

  • Ramuan Pemikat Hasrat   Dilema

    Oji tidak langsung mengiyakan. Anak itu memilih diam sambil berpikir untuk mencari alasan, menolak permintaan wanita yang pernah menghinanya.Oji juga yakin, kalau keinginan wanita itu cuma sandiwara saja. Perubahan sikap wanita itu pasti karena dia sudah terhipnotis dengan ketiak Oji.Jika diperhatikan, Karin sebenarnya bukan wanita yang jelek. Bahkan tanpa perawatan khusus, wanita itu memang sudah terlihat cantik sejak dulu.Bentuk badannya pun cukup menggiurkan. Tidak terlalu kurus dan tidak terlalu gemuk. Benar-benar bentuk tubuh yang dirawat sangat baik."Nggak lah, Mbak," dengan sangat terpaksa, Oji menolak permintaan Karin. "Hari ini, aku sangat lelah, aku ingin istirahat yang lama."Jawaban Oji sontak membuat kaget lawan bicaranya sampai wanita itu menatap tajam dengan kening berkerut."Lelah?" Tanya Karin. "Aku kan cuma ngajak ngobrol, Ji, bukan ngajak melakukan sesuatu yang aneh-aneh."Oji terperanjat mendengar balasan lawan bicaranya. Lalu anak itu cengengesan dan agak sala

  • Ramuan Pemikat Hasrat   Menghidari Godaan

    Oji diserang gelisah. Anak muda itu yakin, wanita dewasa di depannya, sedang menggoda dan seperti memberi perangkap agar Oji masuk ke dalam jeratannya.Belajar dari pengalaman, gelagat yang ditunjukan lawan bicaranya sama persis yang terjadi pada para wanita sebelumnya. Bukannya Oji tak suka mendapat kesempatan enak lagi. Anak itu takut, jika nasib sial menghampirinya seperti yang dialami tetangga Pamannya beberapa waktu lalu."Kenapa diam? Lagi mikir apa hayo?" Wanita yang belum diketahui namanya kembali mengusik Oji membuat anak itu semakin gelagapan."Nggak mikir apa-apa, Mbak," kilah Oji sambil cengengesan tersipu."Yah, nggak asyik," raut si wanita malah cemberut. "Harusnya mikir aja loh, Mas. Apa mungkin selera kamu bukan janda?"Mata Oji sontak agak terbelalak. Dia tidak menyangka lawan bicaranya bisa berpikiran seperti itu. "Wajar sih, kalau kamu nggak suka janda, kamu masih muda, ganteng, pasti lebib suka yang sama-sama muda, iya kan?""Ya, belum tentu juga sih, Mbak," bal

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status