Masuk“Yah,” panggil Salsa dengan suara lirih. Sesampainya di dalam kamar sang ayah, ia mendapati ayahnya berdiri terhuyung di dekat meja nakas. Pecahan beling berserakan di lantai, menandakan gelas yang hendak digunakan untuk minum terlepas dari genggaman tangan yang melemah. “Ayah mau minum?” tanya Salsa, mencoba mendekat dengan hati-hati agar tidak terkena pecahan beling. Dia juga mengingatkan sang anak untuk tidak mendekat.Salsa menghentikan langkahnya saat melihat bahu sang ayah mulai mengusap kedua matanya dengan punggung tangan, pria tua itu juga langsung memalingkan wajah untuk menyembunyikan kenyataan bahwa dia sedang menangis. Tapi dari tarikan napasnya yang berat, Salsa tahu persis—ayahnya sedang menangis dalam diam.“Iya, Ayah mau minum...” jawab sang ayah lirih, suaranya parau dan terdengar begitu lelah. Ada satu kekhawatiran yang tidak bisa ia jelaskan dengan kata-kata.Melihat kondisi ayahnya yang sedang tidak baik-baik saja, hati Salsa terasa diremas oleh tangan tak kasat m
Nathan hanya sekali melirik saja ke arah yang dibilang oleh Raka langsung tahu kalau orang itu adalah orang suruhannya. “Itu Baron,” gerutu Nathan kesal karena jantungnya nyaris copot gara-gara mendengar ucapan Raka yang mengira orang itu adalah orang kiriman pak Darmawan. “Oia, dia sudah dapat mobil baru. Maaf, Bos.” Raka yang menyadari kesalahannya pun langsung berdiri dan keluar menghampiri orang itu. Baron adalah orang yang akan menjaga Salsa dan kedua anaknya dari jarak aman. Nathan tidak akan membiarkan orang-orang yang dia cintai tersakiti oleh siapapun. Baron adalah salah satu anak buah terbaik Nathan. Setelah Raka pergi Alea mendekati sang papa.“Pa, selamat ya... Ternyata aku bukan satu-satunya anak Papa, tapi salah satunya,” bisik Alea lirih. Meski ada nada haru di suaranya, mata gadis itu berbinar bahagia begitu tahu sang papa ternyata memiliki anak kembar.Nathan merentangkan tangannya, membawa Alea ke dalam pelukannya. Sejak gadis itu tahu rahasia besar kalau dia bukan
Di saat yang sama, mobil yang dikendarai Clara sedang membelah jalan tol menuju luar kota. Di dalamnya, ada tiga teman dekatnya yang ikut serta untuk keperluan pemotretan sekaligus travelling singkat. Sebenarnya perjalanan itu hanya memakan waktu sekitar tiga jam jika menempuh jalur darat. Clara pun bisa saja dengan mudah menyuruh papanya menyiapkan helikopter pribadi agar mereka sampai lebih cepat. Namun, karena teman-temannya ngotot ingin menikmati kuliner di sepanjang jalan dan menikmati perjalanan santai, Clara akhirnya mengalah dan mau mengemudikan mobilnya sendiri.“Jadi dia benar-benar nggak marah kamu pergi ke luar kota tanpa dia? Padahal besok kan tanggal merah, terus nyambung libur weekend. Harusnya dia tawar diri dong buat nemenin kamu? Atau jangan-jangan dia sebenarnya nggak setuju kamu masih aktif jadi model?” cecar Zaskia dari kursi penumpang depan. Dua temannya di belakang langsung mengangguk setuju. Sebetulnya Zaskia ingin bilang jangan-jangan Nathan tidak mencintai Cl
Nathan kembali menekan tengkuk Salsa untuk memperdalam ciumannya. Nafsunya benar-benar sulit untuk ditahan lagi. Lima tahun miliknya nganggur, kalau barang antiknya ini berbahan logam kemungkinan sudah karatan.Napas keduanya tersengal saat kehabisan pasokan oksigen. Setelah beberapa menit ciuman keduanya terlepas, Nathan menarik tangan Salsa diletakkan di atas miliknya yang sudah mencapai ukuran maksimal.“Ini salah...” bisik Salsa lirih. Suaranya bergetar, beradu dengan napasnya yang menderu.“Nggak ada yang salah, sayang. Kalau pikiranmu masih tertuju pada Clara, aku janji akan cari jalan keluar,” potong Nathan. Tangannya terulur membelai pipi Salsa, mengusap sisa air mata yang kembali membasahi kulit halus itu. “Beri aku waktu buat selesaikan semuanya. Aku tahu ini nggak akan mudah, tapi semua rasa sakit yang kamu tanggung sendirian selama lima tahun ke belakang bakal kuganti dengan kebahagiaan. Tolong bersabar sedikit lagi, sayang... Aku sangat mencintaimu.”Salsa mendongak, mena
Mata Nathan membelalak sempurna saat melihat Clara sudah turun dari mobil dan langsung berdiri tepat di samping mobilnya. Kepalanya serasa mau pecah. Nathan yang saat itu sedang mendorong troli berisi tumpukan mainan langsung menghentikan langkahnya. Posisinya hanya berjarak beberapa langkah dari Clara—tempat Salsa sedang merunduk ketakutan di dalam kabin.Rasa panik seketika menyergap seluruh tubuh Nathan. Bukan dia takut ketahuan bersama Salsa, tapi dia takut Clara akan melukai Salsa. Cengkeramannya pada gagang troli mengencang hingga kuku-kuku jarinya memutih. Pikirannya kalut membayangkan apa yang akan terjadi jika Clara tiba-tiba mengintip lewat kaca gelap mobilnya atau nekat membuka pintu.Keringat dingin mulai menetes di pelipis Nathan. Pria itu memaksa dadanya yang berdegup kencang untuk tetap terlihat tenang. Sambil mengutuki situasi gila ini di dalam hati, Nathan melangkah lebih cepat mendorong trolinya, berniat memasang badan dan memotong gerakan Clara sebelum wanita itu se
“Terima kasih sudah mempertahankan Kenzo dan Kenzi. Terima kasih, sayang,” ucap Nathan sambil mengecup Salsa. Mereka sudah rapi kembali dan Nathan mengurungkan niatnya untuk tidur bersama Salsa setelah mengetahui fakta bahwa si kembar adalah darah dagingnya. Urusan nafsu bisa ia lanjutkan lain kali, tapi hari ini dia harus bisa memeluk kedua buah hatinya.“Tolong jangan libatkan kami dalam masalahmu, sayang. Tolong jangan sampai ada yang tahu soal keberadaan Kenzo dan Kenzi. Sebisa mungkin aku akan selalu memakaikan masker untuk keduanya setiap keluar rumah,” ujar Salsa penuh permohonan. Dia benar-benar tidak mau berurusan dengan tunangan Nathan. “Aku ikhlas kamu menikah dengan Clara, dan aku tidak akan pernah menghalangimu jika mau bertemu dengan anak-anak kita,” tambah Salsa lagi. Nathan menggeleng lalu memeluk Salsa dengan erat. “Aku tahu aku berhutang nyawa pada Papanya Clara. Aku tahu aku berhutang budi pada Papanya Clara. Tapi beri aku waktu untuk menyelesaikan semuanya. Aku ja
Salsa berjalan mondar-mandir di depan ruang ICU, lalu bersandar lemas ke dinding ruang tunggu. Tatapan matanya terus-terusan tertuju pada pintu kaca buram di depannya. Pikiran Salsa sudah kacau sejak mendapat kabar kalau ayahnya kritis dan mengalami pendarahan hebat di otak akibat kecelakaan maut ya
Di sisi lain, layar ponsel di genggaman Zara mendadak terasa panas saat sebuah unggahan video di media sosial menampilkan sosok Aditya. Di dalam rekaman video itu, Aditya berjalan menunduk dengan tangan terborgol, dikelilingi beberapa petugas kepolisian yang menggiringnya masuk ke mobil tahanan. T
Begitu pintu ruangannya tertutup dan Salsa keluar, Nathan langsung melonggarkan dasinya yang terasa mencekik leher. Wajahnya tetap datar tanpa ekspresi. Dia tidak membuang waktu untuk memikirkan hal lain dan langsung meraih ponsel pribadinya di atas meja kerja. Targetnya sudah jelas, yaitu menghanc
Di dalam taksi online, air matanya menetes membasahi layar ponselnya yang menunjukkan jam digital. Sepuluh menit perjalanan rasanya seperti berabad-abad. Begitu mobil berhenti di depan sebuah gerbang rumah mewah di pusat kota, Salsa langsung turun.Rumah mewah itu berdiri megah, seolah tak tersentu







