LOGIN“Sayang, sini, nak,” panggil Nathan.Kenzo dan Kenzi noleh ke podium, “Papa, Mama, kita masuk tivi,” ucap mereka kompak. Sambil melihat ke arah kamera itu dan tubuh keduanya udah penuh di layar kamera. Suasana langsung riuh dengan ucapan polos keduanya. “Iya, sini dong biar lebih jelas kelihatannya. Ayo, nak,” panggil Nathan dengan suara lembut.Alea menarik tangan kedua adiknya dan mengajaknya naik ke podium. Sesekali mereka masih menoleh ke belakang. Sampai kesandung dan hampir jatuh gara-gara belum ikhlas menjauh dari kamera besar itu. “Gila, Pak Nathan benar-benar selembut itu sama anak si janda,” wartawan masih gibahin Nathan. Sebagian besar dari awak media itu geram dan merasa Clara adalah orang yang paling tersakiti. Mereka semakin kesal saat melihat Salsa masih bisa tersenyum dan bercanda dengan pria yang berhasil direbutnya. Si kembar duduk diantara mama dan Papanya. Sementara Alea memilih berdiri di dekat Raka, karena setelah adik-adiknya diperkenalkan ke hadapan publik,
“Ternyata Pak Nathan nakal juga ya. Aku pikir dia laki-laki yang baik, bahkan banyak orang menjadikannya sebagai panutan. Selama pacaran dengan Clara mana pernah dia ada kasus perselingkuhan. Eh ternyata borok juga. Siapa sangka asap yang selama ini ditutupi ternyata terpendes juga oleh yang lain,” ujar wartawan itu masih berbicara buruk tentang Nathan dan Salsa. Pokoknya di mata mereka, Salsa ini adalah seorang pelakor yang menjijikkan. “Namanya laki-laki punya banyak uang. Sama seperti pak Darmawan, Padahal dia punya anak cewek. Tapi tanpa sepengetahuan anak dan istrinya, dia sering sekali menghabiskan waktu bersama gadis-gadis belia. Begitulah kalau orang punya banyak uang,” timpal yang lain.“Iya benar, kalau sudah berduit apapun bisa dilakukan.”“Udah diem. Kita nggak pernah tahu kan apa sebenarnya yang terjadi di antara mereka. Kalian ini sudah melebihi Tuhan saja ngomongnya,” wartawan laki-laki tampak geram mendengar dua rekannya yang terus-terusan menghakimi Nathan dan Salsa.
Malam harinya, tepatnya di rumah sakit tempat Kenzo dirawat, Nathan berhasil meminta kedua orang tuanya untuk tidur di rumah. Dia dan Salsa yang menjaga si kembar. Sementara kedua pengasuh si kembar juga diizinkan pulang dan harus kembali esok pagi. Tentu saja itu sengaja dilakukan oleh Nathan agar dia bebas bermesraan dengan calon istrinya. Terlebih si kembar kalau sudah tidur jarang sekali terbangun tengah malam. Nathan dan Salsa tiduran di sofa yang lebar itu, tangannya udah mulai masuk ke dalam bra calon istrinya. “Sayang,” panggil Salsa berbisik setelah puncak dadanya dimainkan oleh calon suaminya ini.“Kangen banget, sayang,” balas Nathan berbisik karena tak ingin desahan mereka didengar oleh kedua anak mereka. “Hadap sini, sayang. Pingin hisap,” bujuk Nathan. Karena sudah tidak tahan dengan godaan calon suaminya ini, Salsa pun membalikkan badannya dan mereka jadi berhadap-hadapan. Tanpa menunggu lama Nathan langsung menaikkan baju Salsa dan juga bra yang dipakai calon istrin
Ponsel Nyonya Abimanyu yang tergeletak di atas meja tiba-tiba berdering nyaring. Layarnya menyala, menampilkan nama salah satu kerabat dekat keluarga besar Abimanyu. Begitu tombol hijau digeser, belum sempat Nyonya Abimanyu menyapa dengan tenang, suara semprotan emosi langsung terdengar nyaring dari seberang telepon.“Kamu ini gimana sih? Harusnya kamu itu ngasih tahu Nathan! Di saat Clara lagi tertimpa musibah besar kayak gini, jangan malah ditinggalin begitu aja! Belum tentu juga Darmawan itu beneran bersalah. Eh, si Nathan malah udah viral ke mana-mana sama cewek lain yang jelas-jelas nggak lebih baik dari Clara! Di mana sih otakmu? Di mana hati nuranimu sampai nggak bisa ngajarin anakmu sendiri cara berterima kasih?” cecar kerabatnya itu dengan kalimat menyakitkan yang penuh amarah. Keluarga besar Nyonya Abimanyu yang tidak mengetahui permasalahan yang sebenarnya tentu saja langsung menyalahkan Nathan dan menganggap Nathan laki-laki brengsek.Di luar sana, padahal bukti sudah terp
Nathan langsung menunduk dan mengecup lembut perut Salsa yang mulai membuncit. Dia menempelkan telinganya di sana, berbisik seolah-olah sedang bernegosiasi langsung dengan calon bayinya.“Gimana, Sayang? Belanjanya tiap weekend aja, ya? Soalnya kalau hari kerja, Papa harus nyari duit yang banyak buat masa depan kamu sama kakak-kakak. Oke, Nak?” ucap Nathan santai.Salsa langsung mencebikkan bibirnya. Jujur saja, dia sendiri merasa aneh dengan kondisi tubuhnya saat ini. Rasa mual parah yang kemarin bikin dia tersiksa tiba-tiba saja hilang tanpa jejak. Bau badan Nathan yang tadinya tercium sangat busuk di hidungnya, sekarang malah berganti jadi aroma maskulin yang bikin betah dekat-dekat. Mau dijelaskan seperti apa pun rasanya bingung, tapi cuma Nyonya Abimanyu yang mengerti situasi ini. Kata Mommynya Nathan, itu tanda kalau si jabang bayi sudah mau berdamai sama Papanya.Nathan mendongak, menatap Salsa dengan cengiran tanpa dosa. “Kata anak kita, dia setuju kok belanjanya pas weekend a
“Sayang, sebentar lagi kita akan menikah. Tanpa kamu mau bulan madu kita akan jadi sangat berkualitas, meskipun kita tidak bisa pergi ke luar negeri? Kamu udah janji kan mau mengajak aku liburan ke Bali?” tanya Salsa. Wajahnya dibuat memelas saat Nathan sudah memarkirkan mobilnya di basement hotel yang dulu sering mereka kunjungi. “Tapi aku gak tahan, sayang. Sejak kamu ngambek aku gak pernah nyentuh kamu,” Nathan mulai merajuk. Matanya tertuju pada belahan dada Salsa yang mulai besar. Demi apapun Nathan sudah tak tahan dan ingin langsung menghisap dada itu memberi banyak kepemilikan di sana. “Kenapa kamu gak bisa menahan padahal nggak sampai 3 kali 24 jam lagi kita akan sah sebagai suami istri? Kenapa kamu nggak berusaha menahan diri dulu, kalau sekarang kamu mulai menyentuh tubuhku dan saat kita berlibur setelah menikah maka rasanya tidak akan sama lagi. Kita 5 tahun pernah berpisah, masa nungguin sebentar aja kamu tidak mau?” Mulutnya mulai maju tanda kalau Salsa lagi ngambek. Na
Nathan menatap tubuh Salsa dari atas hingga bawah, sementara gadis itu hanya bisa meneteskan air mata sampai akhirnya suara Nathan membuatnya buru-buru mengusap air mata yang membasahi kedua sudut matanya.“Jangan buat nafsuku hilang. Kau disini wajib melayani nafsuku dan membuatku puas,” ujar pria
“Ta–tapi saya gak mau pakai baju ini, Om,” cicit Salsa, mencoba mengumpulkan sisa keberaniannya yang sudah hampir habis ditelan ketakutan setiap kali bertemu dengan Nathan.Nathan yang sejak tadi sibuk di depan MacBook seketika berhenti mengetik. Dia menoleh ke sumber suara, menatap Salsa dengan r
Ting. Satu pesan baru masuk lagi dari Nathan. Pria itu mengirimkan sebuah titik lokasi vila yang menjadi tempat pertemuan mereka besok siang. Belum sempat Salsa mencerna semuanya, satu pesan beruntun kembali masuk. “Jangan bilang apa pun pada Alea tentang perjanjian panas ini. Paham!” Hati Salsa
Braaaaak Pintu kamar Zara dibuka lebar hingga menimbulkan dentuman yang cukup keras membuat Salsa kaget. “Kurang ajar! Kamu ngintip, ya?” tuduh Aditya kesal. Dia keluar untuk mencari tahu apa sebetulnya yang pecah di depan kamar calon istrinya. Dan betapa kesalnya dia mendapati Salsa di sana. Ad







