ANMELDENSepanjang berkeliling melihat-lihat area proyek, fokus Salsa benar-benar buyar. Matanya tidak bisa diajak kompromi dan terus saja melirik ke arah Nathan dan Clara. Ada rasa tidak nyaman yang tiba-tiba menyergap, membuat suasana hatinya langsung berantakan tanpa sebab yang jelas.Padahal kalau dilihat lagi, sikap Nathan biasa saja. Pria itu tetap memasang wajah datar seperti yang selalu dia tunjukkan, menjawab dengan sangat singkat, dan lebih banyak sibuk menanggapi laporan dari kepala proyek. Masalahnya ada pada Clara. Wanita itu sepertinya tidak bisa jauh-jauh dari Nathan sedikit pun. Ada saja tingkahnya yang memancing kekesalan Salsa mulai dari sengaja berjalan mepet, tertawa centil yang kedengaran dibuat-buat, sampai tangan luwesnya yang sebentar-sebentar merapikan jas kerja Nathan.Melihat pemandangan itu, Salsa hanya bisa mendengus kesal sambil menghela nafas panjang tapi hatinya berisik dan terus saja mengumpat dalam hati. Gelagat Clara yang super agresif dan tidak tahu malu itu
“Aman gak ya?” gumam Nathan.Dia takut tiba-tiba ada security yang melihat mobilnya tidak kunjung pergi dari area parkir. Nathan menoleh ke kanan dan ke kiri lalu ke arah belakang untuk memastikan keadaan di sana aman. Berada di dekat gadis ini benar-benar membuatnya sangat sulit mengontrol nafsu. Di manapun mereka sedang berduaan Nathan selalu saja ingin menyentuh Salsa. “Kalau gak aman kita cari tempat lain saja, Om,” sahut Salsa. Saat gadis itu hendak menjauh dari pangkuan Nathan, pria itu berhasil mencegahnya.“Aman kayaknya,” jawab Nathan. Enak saja Salsa mau cari tempat lain sementara nafsunya udah bikin kepalanya pening sampai di ubun-ubun.Salsa mendongak untuk menatap pria yang akan ia manjakan itu dengan mulutnya. Rambutnya berantakan tapi terlihat sangat seksi dan menggemaskan di mata Nathan.Tak ada sepatah katapun yang terucap tapi Nathan memberi ciuman lembut dan singkat di bibir Salsa.“Ayo, lakukan lagi,” ujarnya. Saat pria itu udah diliputi oleh hawa nafsu, dia akan
“Wanita itu sepupunya Pak Nathan. Anak dari adik bungsu Nyonya Abimanyu. Dia itu brand ambassador dari perusahaan Abimanyu Group. Ya, istilah lainnya, dia model eksklusif yang sudah dikontrak puluhan tahun oleh Abimanyu Group,” ucap Raka, repot-repot menjelaskan panjang lebar padahal Salsa sama sekali tidak bertanya.Setelah mendengar penjelasan dari Raka, Salsa hanya mengangguk lalu kembali mengalihkan pandangan pada piring di depannya. Dia memilih fokus menyantap makanan dan sama sekali tidak tertarik untuk mencuri dengar obrolan Nathan dengan wanita tersebut. Tapi kalau dipikir-pikir, wanita itu memang sangat pantas menjadi ikon perusahaan besar. Di mata Salsa, selain postur tubuhnya yang tinggi ramping, wajah wanita itu juga sangat cantik.“Wanita itu bernama Clara. Dia wanita yang akan dijodohkan dengan Pak Nathan.”Uhuk! Uhuk! Uhuk!Salsa langsung tersedak makanan yang baru saja ditelannya tepat saat kalimat terakhir Raka mencubit pendengarannya. Siapa yang tidak kaget lelaki ya
Pagi harinya, Nyonya Abimanyu sudah berdandan sangat cantik. Meskipun tidak ada agenda keluar rumah, wanita paruh baya yang sangat menyukai penampilan glamor dan barang-barang mewah itu tetap tampil modis. Pagi ini, dia turun tangan langsung ke dapur, ikut menyiapkan sarapan untuk keluarga tercinta, termasuk untuk Raka dan Salsa.Di sela-sela kesibukan itu, tiba-tiba kepala pelayan mendekat ke arahnya. Pelayan itu bermaksud untuk memberikan laporan bahwa tugas rahasia tadi malam telah berhasil dilaksanakan, sembari menyodorkan ponselnya untuk memperlihatkan rekaman video saat dia memergoki Nathan melangkah masuk ke kamar tamu yang ditempati Salsa.“Jadi, kamu benar-benar melihat putraku masuk ke kamar tamu tempat Salsa tidur?” tanya Mommynya Nathan, memastikan dengan mata berbinar saking iya sangat penasaran.“Benar, Nyonya. Saya melihat sendiri Tuan Muda Nathan masuk ke dalam kamar itu. Bahkan, beliau berada di sana hampir lima belas menit,” adu si kepala pelayan dengan bangga, meras
“Aku tidak akan pernah meninggalkanmu dan tidak akan pernah membiarkanmu berjuang sendirian untuk balas dendam,” ujar Zara, suaranya terdengar begitu meyakinkan, seolah dia adalah malaikat penolong untuk Aditya.Namun, Aditya bukanlah orang bodoh. Dia tahu persis bahwa wanita di hadapannya ini tidak mungkin melakukan pengorbanan sebesar itu secara cuma-cuma. Zara juga memiliki dendam pribadi yang jauh lebih mengerikan terhadap Salsa. Meski begitu, Aditya sama sekali tidak berniat mempermasalahkannya. Siapa pun dalang di balik kebencian itu tidaklah penting. Hal utama yang ada di benaknya saat ini adalah kepastian bahwa begitu ia keluar dari penjara nanti, dia sudah memiliki uang untuk mewujudkan keinginannya dan tempat untuk berteduh. Dia tahu Zara tidak sedang membual.“Thanks,” jawab Aditya, matanya menyipit penuh keyakinan kalau kemenangan akan berpihak pada mereka.Mendengar respons itu, Zara tersenyum hangat pada sang mantan. Dia menyentuh kedua tangan Aditya yang terhalang pemba
Ketika jarum jam di London baru menunjukkan pukul tiga dini hari—waktu di mana Salsa terpaksa terjaga demi melayani nafsu Nathan di atas ranjang—di belahan bumi yang lain, matahari sudah meninggi. Waktu telah bergeser ke pukul sembilan pagi, jam sibuk di mana Zara sudah tampil nyentrik dan bersiap melangkahkan kaki menuju Rumah Tahanan untuk menemui Aditya. Hubungan masa lalu mereka memang sudah lama kandas, namun belakangan ini Zara sengaja membuka kembali jalinan komunikasi yang sempat terputus. Ada satu tujuan besar yang menyatukan mereka berdua, keinginan menggebu untuk membalas dendam dan menghancurkan Salsa.Di dalam sel tahanannya, Aditya sering sekali teringat pada hari kelam saat hidupnya dihancurkan dalam hitungan hari. Dia masih ingat betul bagaimana segerombolan preman berbadan tegap tiba-tiba merangsek masuk ke ruang kerjanya, mengobrak-abrik tempat itu, dan merampas paksa ponselnya serta benda-benda elektronik miliknya. Saat tubuhnya dihajar habis-habisan, sayup-sayup A
“Alea sayang,” tegur Nathan. Tentu saja dia harus menegur sang anak yang kepo dengan isi pesan di ponsel Salsa. Jangan sampai sang anak membaca pesan yang ia kirim pada Salsa. Seketika Alea nyengir kuda dan mengembalikan ponsel Salsa. Sejujurnya dia hanya khawatir kalau Aditya yang mengirim pesan
Nathan menggeser duduknya saat Alea terlihat mendekat ke depan ruang ICU lagi. Lantas Alea duduk di antara Papa dan sahabatnya. Di depan Alea, Nathan itu berubah menjadi Papa Peri. Terlihat sangat manis dan baik. Padahal saat dengan Salsa, mulut pria ini sangat pedas, lebih pedas dari bon cabe leve
“A–Alea. Ke–kenapa kamu ada di sini? Bukankah kamu sedang liburan?” tanya Salsa terbata.Lidahnya mendadak kelu melihat sosok yang berdiri tak jauh darinya. Ketakutan seketika merayap di hati Salsa, membuat seluruh persendiannya terasa mau lepas semua.“Gak penting! Sekarang jawab, kenapa kamu bisa
Nathan menatap tubuh Salsa dari atas hingga bawah, sementara gadis itu hanya bisa meneteskan air mata sampai akhirnya suara Nathan membuatnya buru-buru mengusap air mata yang membasahi kedua sudut matanya.“Jangan buat nafsuku hilang. Kau disini wajib melayani nafsuku dan membuatku puas,” ujar pria







