MasukBerhari-hari, setelah Maverick tahu seluruh kebenaran enam tahun lalu, dia hanya diam di rumahnya. Namun hal itu bukan berarti dia diam sepenuhnya tanpa pergerakan, seperti permintaannya kemarin pada James, Maverick meminta James untuk tetap mengawasi Rosélia dan selalu menyampaikan hasilnya pada Maverick.Bukan menguntit, Maverick hanya ingin memastikan jika Rosélia baik-baik saja. Seperti hari ini, di penghujung hari, James baru saja kembali. Selama di Interlaken, pria itu jarang memakai setelan formal seperti jas. Dia lebih sering menggunakan celana bahan dan dipadukan dengan kaos polo lengan pendek yang memperlihatkan dada bidangnya."Bagaimana hari ini?" tanya Maverick.Meski pria itu terlihat santai meneguk secangkir teh, namun pikirannya tak pernah tenang sejak hari itu. Rasa bersalah terus menghantuinya. Dia ingin bertemu dengan Rosélia, dia ingin meminta pengampunan pada gadis itu, tapi tidak dia lakukan. Dia tak cukup berani melakukannya setelah sadar dengan apa yang dia pe
Bastian tidak menghibur ketika Maverick bertanya demikian. Justru Bastian menjawab dengan jujur kenyataan yang berhasil membuat Maverick kembali dihantui rasa bersalah."Kamu memang seburuk itu. Aku tahu kamu tidak sepenuhnya buruk. Hanya saja, bagi Rosélia yang saat itu sedang memerlukan support dari orang terdekatnya, mungkin kamu memang seburuk itu. Meski pernikahan kalian bukan suatu kesengajaan, tapi sebagai suami, harapannya kamu selalu ada untuknya. Apalagi di saat dia memerlukan penopang di antara hidup dan matinya. Namun, justu saat itu kamu menjadi orang yang berhasil membuat Rosélia merasa sendirian!" Bastian tidak berkata setenang tadi. Emosinya mulai kembali meluap karena keadaan.Maverick tak menjawab. Dia kehabisan alasan untuk membela dirinya. Dia sepenuhnya salah dan membuat luka di hati Rosélia kian membesar dengan semua penolakan dan kekasaran yang dia lakukan."Brengsek!" umpatnya yang dia tujukan untuk dirinya sendiri. "Jadi salah satu alasan dia memilih pergi saa
Adu mulut yang dilakukan Maverick dan Bastian sebenarnya tak luput dari pendengaran dan penglihatan Rosélia. Gadis itu menyaksikan semuanya dengan sadar.Dia bahkan juga sempat memanggil Bastian beberapa kali, berharap pria itu bisa menghentikan ocehannya. Namun karena terlalu lemas, suaranya tersamarkan oleh teriakan dua pria itu.Hingga pada akhirnya Bastian mengungkap satu kebenaran yang menjadi kunci dari semuanya. Rosélia memejamkan matanya bersamaan dengan itu air matanya ikut menetes tanpa izin.Keheningan yang tercipta akibat ucapan Bastian akhirnya membuat Rosélia kembali memanggil pria itu."Bas," lirihnya.Saat itu juga, Bastian menengok ke arah Rosélia dan kemudian matanya terbelalak sempurna saat dia sadar apa yang telah dia ucapkan."R-Ros, Rosélia." Bastian mendekat, mengabaikan Maverick yang juga masih mematung akibat ucapan Bastian. "Ada yang sakit?" sambung Bastian begitu dia telah berada di samping ranjang Rosélia.Namun Rosélia bungkam. Matanya memerah dengan air m
Sekeras apapun Rosélia berusaha melupakan masalahnya, ingatannya akan terus mengarah ke sana. Bastian memang sudah mengatakan jika dia tidak akan mengatakan apapun pada Maveric dan Rosélia berharap Bastian akan menepatinya.Pagi hari ini, sebelum gadis itu mengantarkan Elodie ke sekolah, dia menyempatkan diri untuk menyiram tanaman bunga di beranda rumahnya. Karena beberapa hari tidak tersiram, membuat beberapa bunga itu layu dibuatnya.Hari ini dia kembali seorang diri. Bastian kembali sibuk dengan pekerjaannya dan seorang pria yang beberapa minggu kemarin selalu datang serta memohon pengampunannya, sudah satu minggu ini tidak menampakkan batang hidungnya.“Aku bersyukur akhirnya dia berhenti datang,” ucapnya. Meski ucapannya seperti itu, namun raut wajahnya tak bisa berbohong. Ada banyak sekali tanda tanya tentang mengapa Maverick tidak datang lagi.“Rosélia, sadarlah!” sentaknya. Gadis itu menampar pipinya beberapa kali berusaha mengembalikan kesadarannya.Setelah merasa seluruh t
Cukup lama Bastian menggenggam dan memandang amplop coklat itu. Setelah mengusap debu yang ada di atasnya, pria itu lantas membukanya. Masih sama, tangannya bergetar dan keringat dingin mulai bercucuran. Di dalam sana, ada beberapa lembar kertas dan satu gelang yang identik dengan pasien rumah sakit.Tertera begitu jelas pada kertas pertama yang dilihatnya, surat pertanyaan yang ditulis langsung oleh tangan Rosélia saat itu. Bastian masih ingat bagaimana tangan Rosélia bergetar ketika menulisnya, bahkan sekarang pun Bastian bisa melihat dari hasil tulisan Rosélia yang tak rapi seperti biasanya.Sebuah surat persetujuan yang menjelaskan bahwa gadis itu bersedia menjadi donor bagi Valerie. Ingatan Bastian kembali pada enam tahun lalu.“Aku sudah memintamu berpikir puluhan kali, Rosé. Aku tak ingin kamu menyesali keputusanmu ini,” ucap Bastian.Ruangan Bastian yang terlampau sepi itu justru membuat keduanya dilanda ketegangan saat itu.“Dan aku juga sudah bilang puluhan kali padamu jik
Setelah ketegangan cukup panjang yang terjadi di antara Rosélia dan Bastian, akhirnya dua manusia itu kini terduduk di sofa ruang keluarga dengan suasana yang sudah sedikit lebih santai. Dan tentu saja mereka juga sudah membuat Elodie tertidur lebih dulu.Meski Bastian masih merasa takut dengan apa yang hendak mereka bicarakan, namun setidaknya tatapan Rosélia sudah tidak sedingin tadi.Rosélia menarik napas dalam. Dia agak mencondongkan badannya pada Bastian, kemudian memandang pria itu dalam."Jelaskan padaku," pinta Rosélia. Meski tak ada nada tinggi dalam ucapannya, namun justru ucapan itu terkesan lebih menusuk dari biasanya.Telunjuk lentik gadis itu menunjuk selembar kertas yang tergeletak di atas meja. Sebuah kertas yang dia temukan di saku jas dokter milik Bastian, kertas yang mungkin seharusnya tidak dia ketahui.Pria itu balas menatap Roséli. Namun bukan tatapan yang sama seperti yang Rosélia berikan padanya, melainkan tatapan sendu yang justru membuat Rosélia harap-harap c
Venue yang Rosélia dekor selama kurang lebih satu bulan lamanya ditambah dengan berbagai drama menjelang hari-H, nyatanya hanya dipakai untuk beberapa jam saja. Kini, ruangan megah nan mewah itu sudah mulai kembali sepi. Para tamu undangan, kolega bisnis, petinggi perusahaan dan juga para pimpinan
Mbok Rumi benar-benar menyiapkan semuanya di kamar ini. Semua keperluannya ada, hanya beberapa barang miliknya saja yang harus Rosélia bawa ke sana. Ditariknya selimut sampai sebatas dada. Tubuhnya terlentang, matanya menatap lurus ke arah langit-langit kamar dengan pencahayaan samar. Baru saja he
Tangis Rosélia pecah, telinganya berdengung, dadanya sesak sampai dia memukul-mukulnya berharap sesak itu hilang meski hanya sesaat. Semua mata tertuju padanya. Melihatnya dengan tatapan jijik, kecewa yang menuh amarah. Perlahan, raungan terdengar semakin keras. Bersamaan dengan itu, Viviane berjal
Tangis Rosélia pecah, telinganya berdengung, dadanya sesak sampai dia memukul-mukulnya berharap sesak itu hilang meski hanya sesaat. Semua mata tertuju padanya. Melihatnya dengan tatapan jijik, kecewa yang menuh amarah. Perlahan, raungan terdengar semakin keras. Bersamaan dengan itu, Viviane berjal







