LOGINBagi sebagian orang, waktu mungkin bukan apa-apa. Hanya membawa perubahan pada usia dan penampilan. Tapi bagi Maverick, waktu jauh daripada itu semua. Waktu mengajarkan banyak hal tentang kehilangan, cinta dan arti sebuah rumah.Dulu, dia mengira memiliki segalanya berarti paling berkuasa di manapun. Dia memiliki harta, kuasa dan juga nama keluarga yang dihormati banyak orang.Namun, semua itu ternyata tak pernah cukup untuk membuatnya merasa utuh. Sampai seorang perempuan bernama Rosélia Deveraux tanpa sengaja datang ke dalam hidupnya.Perempuan yang dulu tak pernah ingin dia miliki. Perempuan yang pernah dia lukai begitu dalamnya. Perempuan yang bahkan setelah melewati begitu banyak rasa sakit, masih memberinya kesempatan untuk memperbaiki.Dan sekarang, perempuan itu sedang duduk di sofa ruang keluarga mereka, membaca buku sambil sesekali mengingatkan anak laki-laki agar tidak berlari dalam rumah."Alistair, pelan-pelan!" interupsinya. Entah sudah berapa kali dia berkata demikian,
Setelah Maverick menceritakan kegelisahannya pada Rosélia, mereka berdua duduk di atas ranjang. Maverick sama sekali tak mendengarkan ucapan Rosélia untuk tidak terlalu khawatir.Buktinya, saat ini di tangannya sudah ada tab yang menampilkan informasi yang didapatkan dari James.Ethan Voxley, putra bungsu keluarga Voxley. Alis Maverick mengernyit.“Kenapa dia yang dibawa ke acara itu kalau dia anak bungsu?” tanyanya setelah membaca apa yang ada di layar.“Kenapa?” Rosélia mendekat. Dia ikut penasaran dengan apa yang tengah dilihat oleh Maverick.“Anak yang diceritakan Elodie… dia putra bungsu Darwin, cucu dari pemilik VoxMedia Group, Moris Voxley. Jika dia putra bungsu, kenapa dia yang datang? Kenapa bukan putra sulungnya?” Maverick masih mempertanyakan hal yang sama.Memang, umumnya para pemilik perusahaan akan membawa putra atau putri sulung mereka ke acara semacam itu dengan tujuan memperkenalkan pada rekan-rekan kerjanya jika dialah yang akan menjadi penerus perusahaan.“Mungkin K
Elodie berlari kecil ke arah Maverick yang ternyata sudah kembali dari podium. Ayahnya itu sepertinya tengah mencarinya. Terlihat dari ekspresi khawatir yang tersemat jelas di wajah pria itu.Tak jauh dengan James. Pria itu juga sibuk bertanya kepada setiap orang tentang keberadaan putri atasannya itu. “Iya, dia berusia sekitar dua belas tahun,” ucap James.“Kami tidak terlalu memperhatikan karena sejak tadi fokus kami hanya pada pembicara,” jawab orang itu.“Ups, sepertinya aku membuat Ayahku kelimpungan,” kekehnya. Elodie berjalan cepat ke arah Ayahnya dengan senyuman tanpa dosanya. “Ayah,” panggilnya. Dia mencolek lengan Ayahnya.Hal itu membuat rasa lega di dada Maverick hadir. Seolah semua belenggu hilang begitu saja saat mendengar suara lembut putrinya.James yang juga mendengar panggilan itu akhirnya bisa bernapas lega.*“Ayah tidak mau hal itu sampai terulang lagi. Kamu tahu betapa khawatirnya Ayah tadi?” Maverick terus menceramahi Elodie sepanjang perjalanan. Bahkan ketik
Lima tahun kemudian…“Kamu yakin tidak ikut?” tanya Maverick. Dia memandang Rosélia di hadapannya yang sedang membetulkan letak dasinya.“Hmm, jika aku ikut, bagaimana dengan dia,” ucap Rosélia sembari melirik ke arah sampingnya, di mana seorang anak laki-laki berusia lima tahun itu tengah bermain dengan berbagai macam mainannya.“Kita bisa mengajaknya,” usul Maverick. “Dan dia akan segera bosan kemudian menangis di sana? Tidak, tidak. Biar Elodie saja yang menemanimu,” jawab Rosélia.Alistair Ashbourne, anak kedua Maverick dan Rosélia. Anak kecil berkulit putih itu lahir lima tahun yang lalu. Putranya yang berhasil membuat Maverick mati-matian menahan mual saat dia berada dalam kandungan.“Mommy, ini bagaimana?” Gadis yang mulai memasuki usia remaja itu sibuk dengan gaun baru pemberian Ayahnya. Tali di bagian belakang membuatnya kesulitan. Akhirnya dia menyerah dan meminta bantuan Rosélia.Elodie, gadis itu tumbuh menjadi gadis cantik yang ceria, cerewet dan lembut. Dia selalu meng
Bukan hanya hitungan hari Maverick merasakan penderitaan itu. Bahkan sampai satu minggu Maverick tidak berangkat kerja. Setiap pagi, dia selalu muntah. Namun tak ada yang keluar. Hanya cairan bening, sisanya rasa mual yang tak berujung.Demamnya sudah membaik, mungkin tubuhnya sudah mulai membiasakan diri dengan perasaan itu. Tapi, hari ini saat dirasa mualnya tidak tertahan, Maverick malah menangis. Tidak meraung, hanya isakan kecil namun berhasil membuat Rosélia mendekat saat samar mendengarnya.“Sayang, kenapa? Ada yang sakit? Tambah mual?” Rangkaian pertanyaan datang bersamaan karena rasa khawatirnya. Mata Maverick berair. Bahkan semakin terisak ketika Rosélia melayangkan pertanyaan.Karena itu, Rosélia semakin bingung. Bukannya jawaban yang dia dapatkan tapi air mata Maverick yang bisa dikatakan jarang sekali muncul.“Bilang, ada apa?” Rosélia semakin kebingungan.Namun tiba-tiba Maverick mendekat. Dia merentangkan tangannya meminta sebuah pelukan pada Rosélia. Bibirnya menek
Bersantai dipagi hari, ditutupi selimut tebal bahkan ketika matahari sudah lebih naik dari sebelumnya sama sekali bukan kebiasaan seorang Maverick Ashbourne.Sejak dulu, pria itu diajarkan untuk bangun pagi. Bahkan ketika dia sudah mulai tahu dunia kerja, dia menjadi lebih rajin karena entah mengapa dia merasa begitu mencintai pekerjaannya.Namun hari ini, pria itu masih betah bergumul di balik selimut tanpa suara. Hanya suara nafas berat yang terdengar begitu Rosélia masuk ke kamarnya setelah selesai menyiapkan sarapannya.“Kamu tidak akan pergi bekerja?” tanya Rosélia. Dia tidak menghampiri Maverick, melainkan datang untuk mengambil tas kerjanya.“Rosé... sepertinya aku sakit...” lirihnya. Suaranya begitu serak dan lemah.Mendengar itu, Rosélia yang sudah menyampirkan tas di bahunya, kembali menyimpannya dan fokus pada Maverick.Gadis itu duduk di samping Maverick, dia menyimpan tangannya di kening pria itu. Namun, beberapa detik kemudian, Maverick seolah menghindar. Dia menciptakan
Satu minggu berlalu bagi Rosélia terasa sangat lama. Pameran usai dan semua berjalan dengan lancar, bisa dikatakan sukses. Selama satu minggu itu, Rosélia beberapa kali menyempatkan waktu untuk menengok Valerie. Adiknya itu tak kunjung membuka mata, dia masih betah dalam tidurnya. Sama seperti har
Mbok Rumi benar-benar menyiapkan semuanya di kamar ini. Semua keperluannya ada, hanya beberapa barang miliknya saja yang harus Rosélia bawa ke sana. Ditariknya selimut sampai sebatas dada. Tubuhnya terlentang, matanya menatap lurus ke arah langit-langit kamar dengan pencahayaan samar. Baru saja he
Tangis Rosélia pecah, telinganya berdengung, dadanya sesak sampai dia memukul-mukulnya berharap sesak itu hilang meski hanya sesaat. Semua mata tertuju padanya. Melihatnya dengan tatapan jijik, kecewa yang menuh amarah. Perlahan, raungan terdengar semakin keras. Bersamaan dengan itu, Viviane berjal
Tangis Rosélia pecah, telinganya berdengung, dadanya sesak sampai dia memukul-mukulnya berharap sesak itu hilang meski hanya sesaat. Semua mata tertuju padanya. Melihatnya dengan tatapan jijik, kecewa yang menuh amarah. Perlahan, raungan terdengar semakin keras. Bersamaan dengan itu, Viviane berjal







