LOGIN“Jangan harap air matamu bisa meluluhkanku, Rosélia,” ucap Maverick tajam. “Jangan bersikap seolah kamu adalah korbannya dan merasa paling menderita,” sambungnya. Kening Rosélia mengernyit bingung. Bukankah memang iya? Dia sepenuhnya menjadi korban atas keegoisan keluarganya.“Lalu menurutmu, jika bukan aku, siapa?” jawab Rosélia. Terselip kekehan tipis dalam ucapannya.“Kamu lupa? Kamu lupa bagaimana keadaan Valerie sekarang? Kamu lupa siapa yang membuatnya koma? Apa kamu juga lupa kalau kamu penyebab adanya pernikahan kita? Kalau bukan kamu yang menyembunyikan obat Valerie, semuanya tidak akan berakhir seperti ini. Kesimpulannya, Valerie adalah korban dari keegoisanmu itu!” Nada bicaranya meninggi di kalimat terakhir.Rosélia mengangguk-anggukan kepalanya, bukan mengakui, tapi dia lelah dengan semua tuduhan yang tidak pernah dia lakukan.Diraihnya blazer dan juga tasnya kemudian dia menatap Maverick tajam.“Pikirkan apapun yang mau kamu pikirkan. Salahkan aku sebesar yang kamu mau,
Revisi dekorasi memakan waktu cukup lama sehingga membuat Rosélia tertahan di venue hingga larut. Tubuhnya sudah lelah, hidungnya juga sudah mengeluarkan darah segar beberapa saat lalu. Hal itu sudah membuktikan jika tubuhnya sudah melebihi batas pertahanannya.Setelah menyeka wajahnya yang basah akibat cuci muka, Rosélia kembali ke tengah venue sambil membenarkan jasnya. “Berapa lama lagi sampai kalian selesai?” tanya Rosélia. Dia sangat berharap bisa selesai lebih cepat dan pulang.“Kami tidak tahu, Nona. Lampu kristal ini agak sulit dilepas. Kami minta maaf,” jawab salah satu staf menyesal.Rosélia mengangguk paham. Dia juga tidak ingin menyepelekan pekerjaan orang lain. Ada kalanya kesalahan teknis terjadi ketika masa-masa genting. “Baiklah, beri tahu aku jika sudah selesai. Aku akan tunggu di sana,” ucapnya sambil menunjuk sudut ruangan. Ada sebuah single sofa di sudut ruangan yang sepertinya belum mereka singkirkan.Rosélia duduk di sana, cukup nyaman dan mampu menenagkan send
Hari menjelang pernikahan semakin dekat sehingga persiapan pernikahan juga semakin padat. Hal itu sangat terasa oleh Rosélia karena dia hampir tidak cukup beristirahat sejak beberapa minggu lalu.Rosélia lebih sering pulang larut karena harus mengurus venue, kampus dan juga galeri sekaligus. Tubuhnya mulai memberikan tanda-tanda kelelahan. Sering pusing bahkan beberapa kali dia hampir pingsan. Tapi, tidak ada yang peduli.Besok adalah hari pernikahan Valerie dan Maverick. Itu artinya, hari ini adalah hari terakhir Rosélia menguras tenaga, pikiran dan waktunya untuk persiapan.Matahari sudah kembali ke peraduannya berganti dengan sang pemilik malam yang bersinar terang di langit hitam. Bukannya pulang, Rosélia kembali menuju venue dengan harapan dia tak harus merevisi lagi."Semuanya aman?" Ucapannya menggema begitu suara hak sepatu berhenti. Para staf menoleh dan mengangguk hampir bersamaan. Namun, Rosélia merasa ada yang salah. Diteliti kembali seluruh venue sebelum kemudian dia men
Pernikahan bukan sesuatu yang dapat dipermainkan. Kesakralannya layak dihormati dan pelaksanaannya adalah hal yang patut dismbut oleh semua orang, terutama keluarga dari kedua belah pihak. Jika mereka rakyat biasa saja sangat antusias menyambut hari besar yang satu ini, apalagi keluarga Deveraux dan Ashbourne yang notabenenya keluarga ternama, terkenal, tersohor baik dalam dunia bisnis atau status sosial. Pernikahan Maverick Ashbourne dan Valerie Deveraux adalah pernikahan pertama yang akan dilakukan masing-masing keluarga mengingat Maverick adalah anak tunggal dan Kakaknya Valerie, Rosélia belum menikah.Jadi, persiapan dilakukan sematang mungkin dengan konsep semewah yang diinginkan Valerie. Mulai dari dekorasi, layout venue, pemilihan warna dan juga estetika warna, mereka pilih dengan hati-hati."Tak bisakah Kakak kabulkan permintaanku yang satu ini? Ini pernikahan pertama dan terakhirku, aku mau ini special, salah satunya dengan Kakak terlibat dalam dekorasi dan layout venue di
Mengisi kelas, menghadiri seminar, melukis, atau datang ke sebuah pameran merupakan keseharian Rosélia dan dia sama sekali tidak keberatan dan merasa lelah dengan kegiatannya. Tetapi, jika Viviane sudah hadir di antara kesibukannya itu, di sanalah Rosélia merasa ingin menghilang dari semesta.Telepon dari keluarganya sudah seperti teror yang terus mengganggu ketenangan hidupnya. Tak jarang Rosélia menolak panggilan-panggilan itu. Tapi, seolah tahu Rosélia melakukannya dengan sengaja, mereka akan kembali menelepon sampai Rosélia mengangkatnya dan memenuhi keinginan mereka.Bola matanya memutar lelah. Seperti yang dia duga, panggilan telepon itu tak akan berhenti sebelum Rosélia mengangkatnya. Maka, dengan berat hati dia menekan tombol hijau di ponselnya."Apa lagi kali ini?" tanya Rosélia lelah."Lama sekali kamu angkat telepon!" Suara Viviane melengking di seberang sana. Namun, Rosélia mengabaikannya, dia in
Paksaan dari keluarga sepertinya sudah menjadi makanan sehari-hari Rosélia. Dia dipaksa untuk mulai terbiasa dengan semua itu, dia dipaksa untuk memaklumi keluarganya dan dia dipaksa untuk selalu mematuhi titah mereka.Rosélia lelah, ingin berontak, ingin hidup dengan tenang seperti yang lain. Tapi, lagi-lagi dia tak bisa. Hidupnya serasa dirantai oleh rasa bersalah karena kematian sang Ibu, ditambah validasi yang selalu Ayahnya ucapkan sehingga membuat Rosélia percaya jika dia pembunuhnya.Maka, malam ini pun sama. Rosélia tidak diizinkan memilih atau menggunakan alasannya untuk tidak datang ke acara makan malam yang diadakan keluarganya. Namun, biarkan kali ini dia menggunakan sedikit waktunya untuk egois. Akan dia selesaikan dulu urusannya sebelum pergi ke acara makan malam di rumahnya.Sesekali diliriknya jam kecil yang melingkar di pergelangan tangannya sebelum kemudian fokusnya kembali pada ramainya jalan di malam hari."Hanya terlambat setengah jam. Tidak apa-apa, bukan?" ucapn







