แชร์

Chapter 125

ผู้เขียน: SereiaAlvenna_
last update วันที่เผยแพร่: 2026-08-07 21:36:46

Sekeras apapun Rosélia berusaha melupakan masalahnya, ingatannya akan terus mengarah ke sana.

Bastian memang sudah mengatakan jika dia tidak akan mengatakan apapun pada Maveric dan Rosélia berharap Bastian akan menepatinya.

Pagi hari ini, sebelum gadis itu mengantarkan Elodie ke sekolah, dia menyempatkan diri untuk menyiram tanaman bunga di beranda rumahnya. Karena beberapa hari tidak tersiram, membuat beberapa bunga itu layu dibuatnya.

Hari ini dia kembali seorang diri. Bastian kembali sibuk
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Ranjang Panas Pengantin Pengganti   Chapter 129

    Seperti biasa, pagi hari di Interlaken terasa begitu segar dengan udara pagi yang dihiasi dengan tumbuhan-tumbuhan hijau juga pemandangan pegunungan. Namun bagi Maverick, pagi ini terasa lebih berat.Udara yang bisa orang hirup sepuasnya, membuat nafasnya terasa tercekat. Lehernya terasa begitu tercekik. Mungkin mengingat hari ini akan menjadi hari terakhir baginya berada di Interlaken.Setelah selesai mempersiapkan diri, Maverick duduk di depan jendela ditemani secangkir kopi. Bukan kopi yang utama, melainkan sosok wanita yang dia tunggu untuk melewati depan rumahnya. Sebenarnya setiap hari Maverick selalu melihat. Hanya melihat, memperhatikan tidak berani mendekat apalagi menyapanya."Tuan yakin tidak ingin saya ikut?" tanya James."Hmm, aku bisa melakukannya sendiri." Tak lama setelah percakapannya dengan James berakhir, iris legam Maverick berhasil menangkap sosok Rosélia yang tersenyum manis. Bukan hanya senyum, tapi Maverick juga yakin jika Rosélia tengah terkekeh saat ini.Pa

  • Ranjang Panas Pengantin Pengganti   Chapter 128

    Berhari-hari, setelah Maverick tahu seluruh kebenaran enam tahun lalu, dia hanya diam di rumahnya. Namun hal itu bukan berarti dia diam sepenuhnya tanpa pergerakan, seperti permintaannya kemarin pada James, Maverick meminta James untuk tetap mengawasi Rosélia dan selalu menyampaikan hasilnya pada Maverick.Bukan menguntit, Maverick hanya ingin memastikan jika Rosélia baik-baik saja. Seperti hari ini, di penghujung hari, James baru saja kembali. Selama di Interlaken, pria itu jarang memakai setelan formal seperti jas. Dia lebih sering menggunakan celana bahan dan dipadukan dengan kaos polo lengan pendek yang memperlihatkan dada bidangnya."Bagaimana hari ini?" tanya Maverick.Meski pria itu terlihat santai meneguk secangkir teh, namun pikirannya tak pernah tenang sejak hari itu. Rasa bersalah terus menghantuinya. Dia ingin bertemu dengan Rosélia, dia ingin meminta pengampunan pada gadis itu, tapi tidak dia lakukan. Dia tak cukup berani melakukannya setelah sadar dengan apa yang dia pe

  • Ranjang Panas Pengantin Pengganti   Chapter 127

    Bastian tidak menghibur ketika Maverick bertanya demikian. Justru Bastian menjawab dengan jujur kenyataan yang berhasil membuat Maverick kembali dihantui rasa bersalah."Kamu memang seburuk itu. Aku tahu kamu tidak sepenuhnya buruk. Hanya saja, bagi Rosélia yang saat itu sedang memerlukan support dari orang terdekatnya, mungkin kamu memang seburuk itu. Meski pernikahan kalian bukan suatu kesengajaan, tapi sebagai suami, harapannya kamu selalu ada untuknya. Apalagi di saat dia memerlukan penopang di antara hidup dan matinya. Namun, justu saat itu kamu menjadi orang yang berhasil membuat Rosélia merasa sendirian!" Bastian tidak berkata setenang tadi. Emosinya mulai kembali meluap karena keadaan.Maverick tak menjawab. Dia kehabisan alasan untuk membela dirinya. Dia sepenuhnya salah dan membuat luka di hati Rosélia kian membesar dengan semua penolakan dan kekasaran yang dia lakukan."Brengsek!" umpatnya yang dia tujukan untuk dirinya sendiri. "Jadi salah satu alasan dia memilih pergi saa

  • Ranjang Panas Pengantin Pengganti   Chapter 126

    Adu mulut yang dilakukan Maverick dan Bastian sebenarnya tak luput dari pendengaran dan penglihatan Rosélia. Gadis itu menyaksikan semuanya dengan sadar.Dia bahkan juga sempat memanggil Bastian beberapa kali, berharap pria itu bisa menghentikan ocehannya. Namun karena terlalu lemas, suaranya tersamarkan oleh teriakan dua pria itu.Hingga pada akhirnya Bastian mengungkap satu kebenaran yang menjadi kunci dari semuanya. Rosélia memejamkan matanya bersamaan dengan itu air matanya ikut menetes tanpa izin.Keheningan yang tercipta akibat ucapan Bastian akhirnya membuat Rosélia kembali memanggil pria itu."Bas," lirihnya.Saat itu juga, Bastian menengok ke arah Rosélia dan kemudian matanya terbelalak sempurna saat dia sadar apa yang telah dia ucapkan."R-Ros, Rosélia." Bastian mendekat, mengabaikan Maverick yang juga masih mematung akibat ucapan Bastian. "Ada yang sakit?" sambung Bastian begitu dia telah berada di samping ranjang Rosélia.Namun Rosélia bungkam. Matanya memerah dengan air m

  • Ranjang Panas Pengantin Pengganti   Chapter 125

    Sekeras apapun Rosélia berusaha melupakan masalahnya, ingatannya akan terus mengarah ke sana. Bastian memang sudah mengatakan jika dia tidak akan mengatakan apapun pada Maveric dan Rosélia berharap Bastian akan menepatinya.Pagi hari ini, sebelum gadis itu mengantarkan Elodie ke sekolah, dia menyempatkan diri untuk menyiram tanaman bunga di beranda rumahnya. Karena beberapa hari tidak tersiram, membuat beberapa bunga itu layu dibuatnya.Hari ini dia kembali seorang diri. Bastian kembali sibuk dengan pekerjaannya dan seorang pria yang beberapa minggu kemarin selalu datang serta memohon pengampunannya, sudah satu minggu ini tidak menampakkan batang hidungnya.“Aku bersyukur akhirnya dia berhenti datang,” ucapnya. Meski ucapannya seperti itu, namun raut wajahnya tak bisa berbohong. Ada banyak sekali tanda tanya tentang mengapa Maverick tidak datang lagi.“Rosélia, sadarlah!” sentaknya. Gadis itu menampar pipinya beberapa kali berusaha mengembalikan kesadarannya.Setelah merasa seluruh t

  • Ranjang Panas Pengantin Pengganti   Chapter 124

    Cukup lama Bastian menggenggam dan memandang amplop coklat itu. Setelah mengusap debu yang ada di atasnya, pria itu lantas membukanya. Masih sama, tangannya bergetar dan keringat dingin mulai bercucuran. Di dalam sana, ada beberapa lembar kertas dan satu gelang yang identik dengan pasien rumah sakit.Tertera begitu jelas pada kertas pertama yang dilihatnya, surat pertanyaan yang ditulis langsung oleh tangan Rosélia saat itu. Bastian masih ingat bagaimana tangan Rosélia bergetar ketika menulisnya, bahkan sekarang pun Bastian bisa melihat dari hasil tulisan Rosélia yang tak rapi seperti biasanya.Sebuah surat persetujuan yang menjelaskan bahwa gadis itu bersedia menjadi donor bagi Valerie. Ingatan Bastian kembali pada enam tahun lalu.“Aku sudah memintamu berpikir puluhan kali, Rosé. Aku tak ingin kamu menyesali keputusanmu ini,” ucap Bastian.Ruangan Bastian yang terlampau sepi itu justru membuat keduanya dilanda ketegangan saat itu.“Dan aku juga sudah bilang puluhan kali padamu jik

  • Ranjang Panas Pengantin Pengganti   Chapter 07

    Satu minggu berlalu bagi Rosélia terasa sangat lama. Pameran usai dan semua berjalan dengan lancar, bisa dikatakan sukses. Selama satu minggu itu, Rosélia beberapa kali menyempatkan waktu untuk menengok Valerie. Adiknya itu tak kunjung membuka mata, dia masih betah dalam tidurnya. Sama seperti har

  • Ranjang Panas Pengantin Pengganti   Chapter 06

    Mbok Rumi benar-benar menyiapkan semuanya di kamar ini. Semua keperluannya ada, hanya beberapa barang miliknya saja yang harus Rosélia bawa ke sana. Ditariknya selimut sampai sebatas dada. Tubuhnya terlentang, matanya menatap lurus ke arah langit-langit kamar dengan pencahayaan samar. Baru saja he

  • Ranjang Panas Pengantin Pengganti   Chapter 05

    Tangis Rosélia pecah, telinganya berdengung, dadanya sesak sampai dia memukul-mukulnya berharap sesak itu hilang meski hanya sesaat. Semua mata tertuju padanya. Melihatnya dengan tatapan jijik, kecewa yang menuh amarah. Perlahan, raungan terdengar semakin keras. Bersamaan dengan itu, Viviane berjal

  • Ranjang Panas Pengantin Pengganti   Chapter 04

    Tangis Rosélia pecah, telinganya berdengung, dadanya sesak sampai dia memukul-mukulnya berharap sesak itu hilang meski hanya sesaat. Semua mata tertuju padanya. Melihatnya dengan tatapan jijik, kecewa yang menuh amarah. Perlahan, raungan terdengar semakin keras. Bersamaan dengan itu, Viviane berjal

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status