تسجيل الدخولAgnira sudah berpindah kamar, kini dia terlentang di atas kasur Sambara yang besar dan dingin. Nuansa kamar ini terasa gelap menurutnya, dia berjalan ke sisi jendela, membuka gorden hitam yang membingkainya.
Cahaya hangat matahari masuk menerobos begitu saja, membuat ruangan gelap itu disinari sepenuhnya, udara mulai berganti menjadi lebih segar. Agnira kembali meneliti kamar Sambara, langkahnya berjalan pelan, menyusuri setiap jengkal kamar suaminya.Mata Agnira menyipit taMeja makan yang selalu terasa sepi kini sedikit berisik karena ulah Nana. Gadis itu memukul-mukul piring menggunakan sendok dan garpu, menimbulkan bunyi yang cukup membuat Sambara merasa terganggu.Sambara memijat pelan pelipisnya. "Nana, berhenti memukul piring." Bukannya berhenti, tetapi Nana memukul piring semakin kencang, membuat Sambara menggeram pelan. Ia benar-benar tidak suka dengan suara berisik, hening adalah temannya sejak lama.Sambara kembali akan membuka mulut. Namun Agnira dengan cepat menahan pria itu, mencengkeram lengannya dan membuat pria itu kembali menelan ucapannya.Fokus Agnira beralih pada Nana, dia mengusap pelan rambut hitam adik iparnya itu secara lembut. Mata Nana mengerjap pelan, menatap Agnira dengan binar cerah. "Nana sayang, kakak pinjam yah." Wanita itu meraih sendok dan garpu dari tangan Nana, meletakkan kedua benda itu di tempatnya semula.Agnira mengambil sepotong roti, mengolesinya dengan selai coklat lalu memberikannya pada Nana. Namun bukan m
"Aaaahh ... lebih cepat sayang," perintah Sambara dengan mata terpejam, menikmati sensi hangat dan basah yang berada di bawah sana.Sambara mendongak saat kuluman itu semakin dalam, ia meremas rambut Agnira dan membenamkan kepala wanitanya agar semakin dalam. Kepala Agnira terus bergerak dengan cepat, membuat kaki Sambara mengejang."Ssshhh ... saya sampai Agnira! Aaaahhh."Tembakan itu begitu dahsyat memenuhi mulut Agnira, membuat wanita itu membulatkan mata karena banyaknya cairan yang keluar. Benda milik Sambara masih terlihat berdiri tegak, bahkan setelah klimaks dua kali. Pria itu masih belum puas dan menginginkannya lagi.Jemarinya perlahan menyentuh bibir Agnira, mengusap jejak putih yang menempel di sudut bibirnya. Lidah Agnira terjulur, menjilat jari-jari Sambara dan mengulumnya perlahan, membuat Sambara terpejam dan menikmatinya."Kau mau lagi?" tawar Agnira pelan, berbisik di telinga Sambara.Sambara seperti terhipnoti
"Apa? Kenapa kita harus tidur sekamar?"protes Agnira kesal.Sambara terlihat acuh pada protes istrinya. Pria itu duduk santai di sisi ranjang, tangannya mulai melepaskan arloji perlahan, disusul jas yang masih melekat di tubuhnya."Ayolah, aku juga butuh privasi,"geram Agnira jengkel karena tidak ditanggapi."Apa salahnya? Kita suami istri, jadi tidak ada yang aneh kalau tidur dalam satu kamar."Pria itu berjalan ke arah jendela lalu menutup tirai yang terbuka lebar.Kamar itu langsung tampak remang saat Sambara menutup akses cahaya dari luar.Beberapa saat sebelumnya, ketika mereka baru sampai di rumah, Sambara mengatakan bahwa kamar Agnira akan ditempati Nana untuk sementara waktu, sedangkan Agnira harus tidur bersamanya."Bukan itu, kita ini tidak sewajarnya suami istri pada umumnya. Kau tahu sendiri 'kan!" Sambara mulai membuka kemejanya, memperlihatkan dada bidangnya perlahan. Agnira mengalihkan tatapan saat melihat
"Nona Nana akan kami pindahkan ke ruangan khusus," ucap dokter itu memberitahu. Ia tersenyum ke arah Sambara dengan gestur genitnya.Agnira berdecih pelan, tangannya terus mengusap rambut Nana penuh kelembutan. Sedangkan matanya menatap tajam pada dokter genit disamping Sambara."Nana akan kami bawa pulang, tidak perlu ruangan khusus." Tatapan Sambara terus tertuju pada Agnira dan Nana.Dokter wanita itu tersenyum canggung. "Baik jika seperti itu, Pak. Akan kami urus kepulangannya." Dokter itu mendelik ke arah Agnira dan berlalu dari ruangan. Hal itu sangat jelas tertangkap oleh mata Agnira, bibirnya bergerak pelan, ingin sekali sumpah serampah ini keluar."Dokter pun dia goda, dasar menyebalkan," gerutu Agnira pelan, nyaris tidak terdengar.Namun pendengaran Sambara jauh lebih tajam, pria itu berdeham sekilas dan ikut duduk di samping Nana, menyentuh pelan bahu adiknya dan membuat atensi Nana teralih padanya. "Kita pulang yah, Nana mau pulang?" Sambara menarik sudut bibirnya, membe
"Bagaimana Herman?" tanya Agnira di sela langkah mereka.Dia mendongak dan menatap ekspresi Sambara yang selalu terlihat tenang dan santai. Pria itu terus berjalan di depan Agnira, tanpa melihat ke arah wanita itu, sorot matanya begitu angkuh dan dingin, sosok yang sangat sulit di gapai. Entah bagaimana Sambara bisa begitu dekat dengan Nayara?"Dia mendapatkan hukuman yang setimpal," jawab Sambara pelan, berhenti melangkah dan menatap dalam ke arah Agnira.Alis Agnira mengeryit heran. "Apa sudah dilaporkan pada pihak berwajib, dia harus masuk penjara dan di hukum lama." Sambara melirik wanita itu sekilas, lalu kembali berjalan lebih dulu. Hal itu membuat Agnira merasa heran, kepalanya mendongak menatap Nayara."Herman di masukkan ke dalam penjara, bukan?" tanyanya penasaran.Nayara terdiam. "Maaf Nyonya, itu bukan hak saya untuk menjawab." Agnira memutar bola mata malas. Nayara ini benar-benar bawahan yang setia, dia m
Bau antiseptik begitu menusuk indra penciuman Agnira. Wanita itu menggeliat pelan saat kesadarannya mulai terkumpul. Matanya terbuka perlahan, menatap langit-langit ruangan yang putih tanpa cela. “Nyonya, Anda sudah sadar.” Nayara mendekat dengan wajah lega. “Saya panggil dokter dulu.” Wanita itu segera keluar dari ruangan, tepat ketika Sambara baru saja tiba. Pria itu melangkah mendekat ke arah Agnira dan menatap istrinya dengan sorot mata dingin. Beberapa saat kemudian, Nayara kembali bersama seorang dokter dan suster. Sorot mata Sambara langsung berubah semakin dingin saat melihat dokter yang dibawa Nayara. “Saya mau dokter wanita,” ucap Sambara datar. Ia menatap tajam pada dokter pria yang Nayara bawa. Dokter itu pun digantikan oleh dokter wanita. Setelah masuk ke dalam ruangan, dokter mulai memeriksa kondisi Agnira secara menyeluruh. Wanita itu tampak lemah dan tidak berdaya. "Ibu Agnira sudah lebih baik. Anda hanya kelelahan dan terlalu syok," jelas dokter dengan ramah. S







