Masuk"Kamu tuh sama kaya aku, Kakak ipar. Cintanya bertepuk sebelah tangan," bisik Kirana pelan, gadis itu terkekeh ringan dan berjalan ke arah kursi ruang tamu.
Duduk di sana dengan pandangan yang terus menyapu sekitar. Tawa Kirana mereda, berganti dengan tatapan tajam, yang langsung menyorot pada foto kecil di sudut meja."Lihat, dia bahkan masih memajang fotonya." Gadis itu kembali berdiri, meraih foto itu dan menatapnya dalam. "Seharusnya aku yang dia pilih, bukan dia ataupun"Kita tidak mungkin tidur di lantai atas dengan kondisi mu yang seperti ini, jadi aku meminta Bi Nurma untuk membersihkan kamar tamu yang berada di lantai bawah," ujar Agnira memberitahu.Ia mendorong tubuh suaminya menuju kamar yang berada di pojok ruang tamu. Kamar kosong yang tidak pernah di buka sama sekali, kamar yang dulu sempat di tempati oleh Panji.Kamar itu cukup luas, walaupun tidak seluas kamar utama miliknya. Kasurnya pun terbilang kecil dari dua kamar di lantai atas. Akan tetapi, apa boleh buat, Agnira tidak akan sanggup menggendong Sambara ke lantai atas."Ke mana Nana?" tanya Sambara yang tidak melihat keberadaan adiknya sejak tadi."Mungkin di halaman belakang. Dia sedang gemar melukis saat ini," ucap Agnira sambil berjalan ke arah jendela.Wanita itu membuka tirai selebar mungkin. Membiarkan cahaya matahari masuk ke dalam kamar dan menerangi seisi kamar, membuat suasana semakin nyaman. "Lihat, adikmu di sana," tunjuk Agnira pada halaman belakang yang langsung terlih
"Sidang pertama Panji akan di adakan satu minggu dari sekarang," beritahu Nayara di sela langkah mereka, "dan Tuan harus hadir di sana." "Iya, saya tau." Sambara menggeser duduknya agar terasa nyaman. Kini mereka akan pulang ke rumah Lakeswara, karena Sambara yang bersikeras sudah sembuh dari rasa sakitnya. Walaupun sangat jelas dari segi fisik pria itu sangat jauh dari kata sembuh.Untuk berdiri tegak saja kesulitan, bahkan duduk tegak pun harus ekstra menahan sakit. Akan tetapi, apa boleh buat, Sambara itu keras kepala. "Aku pengen bakso," celetuk Agnira sambil menatap keluar kaca mobil. Wanita itu menarik napas dalam seperti sedang merasakan sakit yang luar biasa.Sambara berpura-pura tuli. Dia lebih memilih membuka notebook nya daripada mendengarkan permintaan aneh Agnira. Makanan pinggir jalan sangat tidak baik di konsumsi terlalu sering, dan itu adalah hal yang harus Agnira patuhi."Untuk apa duitmu banyak, kalau seharga dua puluh ribu saja tidak punya," sindir Agnira tajam.
Begitu memasuki gedung utama, seorang polisi berpangkat inspektur segera menghampiri mereka."Selamat pagi, Pak Sambara.""Pagi." Sambara menjawab sapaan itu dengan apa adanya. "Terima kasih sudah datang memenuhi panggilan kami," lanjut polisi itu, sambil tersenyum hangat.Sambara hanya mengangguk singkat. Pria itu memang tidak pernah pandai berbasa-basi."Silakan ikut saya." Polisi itu memimpin mereka menuju sebuah ruangan pemeriksaan yang berada di lantai bawah yang berada di paling ujung ruangan.Sesampainya di sana, Sambara dipersilakan masuk. Namun ketika Agnira hendak mengikuti dari belakang, petugas itu mengangkat tangan."Maaf, Bu. Hanya Pak Sambara yang bisa masuk."Langkah Agnira langsung terhenti. Wanita itu menoleh ke arah Sambara, lalu menatap Nayara dan juga Robi. Ia tidak bisa membiarkan Sambara masuk sendirian, mengingat terakhir kali pria itu bersama aparat kepolisian dan berakhir seperti ini."Kenapa?" tanya Sambara yang melihat wajah ragu istrinya. "Tidak apa-apa,
Seperti yang dikatakan Nayara, Sambara wajib memenuhi panggilan dari pihak kepolisian. Pagi itu, pria itu sudah tampil rapi dengan pakaian sederhana yang jarang ia kenakan.Rambut hitamnya tersisir rapi, sementara sorot matanya yang tajam telah kembali seperti semula. Namun, ada satu hal yang berbeda. Kali ini, Sambara harus duduk di atas kursi roda karena kondisinya yang belum sepenuhnya pulih."Kau yakin akan datang?" tanya Agnira untuk kesekian kalinya, sambil merapikan sweater yang membungkus tubuh suaminya."Tentu saja. Ini panggilan dari pihak berwajib," jawab Sambara tenang.Meski demikian, tatapannya sempat beralih ke Nayara dengan sorot mata yang penuh arti. Tentu saja ia akan datang.Bagaimana mungkin ia melewatkan momen ketika musuh-musuhnya akhirnya menerima kekalahan yang pantas mereka dapatkan?Sudut bibir Sambara terangkat tipis. Setelah semua yang terjadi, akhirnya ia akan melihat mereka jatuh dengan matanya sendiri. Bukankah sudah ia katakan, bahwa dirinya tidak akan
Setelah pengakuan perasaan itu, keduanya sama-sama terdiam dalam kecanggungan yang sulit dijelaskan. Tidak ada percakapan yang terjalin di antara mereka.Sambara terlihat sibuk membaca jurnal yang berada di tangannya, sementara Agnira berpura-pura fokus pada ponsel yang sejak tadi ia pegang. Namun, sesekali keduanya diam-diam saling melirik.Setiap kali tatapan mereka bertemu, baik Sambara maupun Agnira akan segera mengalihkan pandangan dengan gugup, seolah tidak terjadi apa-apa. Meski begitu, sudut bibir keduanya beberapa kali terlihat terangkat tipis tanpa sadar.Suasana hening itu terasa aneh, tetapi juga menenangkan. Mereka tidak merasa perlu mengisi keheningan dengan pertengkaran atau sindiran seperti biasanya. Hanya duduk bersama dalam ruangan yang sama sudah cukup membuat jantung keduanya berdebar dengan cara yang berbeda.Ini gila dan itulah kenyataannya. Bibir mereka mungkin saling bungkam, namun takdir Tuhan sedang bekerja di dalamnya. "Agnira," panggil Sambara pelan.Agnir
"Kau tahu sesuatu tentang mereka?" selidik Agnira sambil memicingkan mata.Sambara mendelik tajam. Pria itu meringis kecil saat berusaha mengubah posisi duduknya. Bagian perutnya masih terasa nyeri karena jahitan yang belum benar-benar kering, belum lagi kakinya yang mulai merasakan efek dari luka yang ia terima."Lagipula, untuk apa mengurusi kisah cinta mereka? Kisah cinta kita saja sudah cukup rumit," gerutu Sambara pelan.Agnira yang mendengar itu hanya mampu menelan ludah dengan susah payah. Tidak salah memang, hanya saja kurang tepat. Sampai sekarang, Agnira bahkan masih tidak tahu bagaimana perasaannya sendiri terhadap Sambara."Setidaknya bantu saya duduk. Jangan malah termenung seperti itu," sentak Sambara mulai kesal."Ck, iya, iya. Kau ini baru bangun sudah mengomel terus. Giliran tidur, bikin orang khawatir setengah mati," gerutu Agnira balik.Wanita itu segera meraih bahu Sambara dan membantunya duduk dengan hati-hat
Ruangan mendadak hening. Semua mata langsung tertuju pada wanita yang bersembunyi di balik tubuh Nayara. Mereka terkejut mendengar wanita itu menyebut Sambara sebagai suaminya. "Kak ... dia ...," ucapan seorang pria terhenti saat Robi melirik tajam ke arahnya. Pria bertubuh besar d
Mobil Nayara berhenti tepat di pinggir jalan yang sepi. Dari arah berlawanan, mobil milik Robi tampak terparkir rapi. Pria itu berdiri bersandar di kap mobilnya, dengan sebatang rokok yang terselip di antara jari-jarinya."Nyonya tunggu di sini saja. Biar saya yang menemui Robi," ucap Nayara sambil
"Uhuk... uhuk..."Sambara terbatuk pelan. Setetes darah mengalir dari sudut bibirnya dan menetes ke lantai. Wajah tampan pria itu tampak lebam di beberapa bagian, napasnya sedikit memburu akibat pukulan yang baru saja diterimanya.Namun, ada satu hal yang membuat semua orang di ruangan itu terdiam,
"Kau di mana, sialan?" desis Nayara tajam.Di seberang sana, Robi tampak mengemudi dengan tergesa-gesa. Tangan kanannya lincah memutar kemudi, sementara tangan kirinya menggenggam ponsel erat. Ia memejamkan mata sesaat ketika umpatan Nayara menggema di telinganya."Tuan Sambara tidak dibawa ke kant







