LOGINTubuh Agnira terhentak kencang saat dorongan dari belakangnya semakin kencang, matanya terpejam dengan desisan halus di bibirnya.
"Aaaahhh ... Sambara, lebih cepat!" jerit Agnira mulai kehilangan akal.Sambara terus menggerakkan miliknya dengan kuat, menghujam lembah Agnira dengan brutal. Tangannya tidak tinggal diam, meremas gundukan kenyal Agnira dan memainkan benda hitam kecilnya."Aaahhh ... kau nikmat sekali, Agnira."Desahan itu terus terdengar memeAgnira sudah berpindah kamar, kini dia terlentang di atas kasur Sambara yang besar dan dingin. Nuansa kamar ini terasa gelap menurutnya, dia berjalan ke sisi jendela, membuka gorden hitam yang membingkainya.Cahaya hangat matahari masuk menerobos begitu saja, membuat ruangan gelap itu disinari sepenuhnya, udara mulai berganti menjadi lebih segar. Agnira kembali meneliti kamar Sambara, langkahnya berjalan pelan, menyusuri setiap jengkal kamar suaminya.Mata Agnira menyipit tatkala melihat dokumen hitam yang berada di atas meja, tangannya menyentuh dokumen itu. Surat cerai yang ia ajukan satu minggu yang lalu, di bagian bawah belum terbubuh tanda tangan Sambara, hanya milik dirinya yang sudah tertera."Dia belum menandatangani surat cerai ini," bisik Agnira pelan, pandangannya beralih pada figura besar di kamar itu.Foto pengantin mereka berdua, berdiri di atas altar dengan gaun seadanya. Agnira tersenyum miris, dia bahkan tidak tersenyum dalam foto
Tubuh Agnira terhentak kencang saat dorongan dari belakangnya semakin kencang, matanya terpejam dengan desisan halus di bibirnya. "Aaaahhh ... Sambara, lebih cepat!" jerit Agnira mulai kehilangan akal.Sambara terus menggerakkan miliknya dengan kuat, menghujam lembah Agnira dengan brutal. Tangannya tidak tinggal diam, meremas gundukan kenyal Agnira dan memainkan benda hitam kecilnya."Aaahhh ... kau nikmat sekali, Agnira." Desahan itu terus terdengar memenuhi kamar, ranjang berderit pelan seiring dengan penyatuan yang semakin brutal. Sambara memutar tubuh istrinya tanpa melepas menyatuan mereka, memangku Agnira dan membawanya duduk di atas meja rias. Bagian kaki Agnira terbuka lebar, memperlihatkan lembah nikmat miliknya yang basah dan lembab. Sambara tidak membuang waktu lagi, dia berlutut melumat benda itu dan membuat Agnira mendongak, pikirannya kacau saat intinya merasakan hangat lidah suaminya. Jilatan demi jilatan Sambara berikan
Ruang keluarga terlihat remang, hanya sinar dari televisi yang menjadi satu-satunya penerangan. Kenan terlihat sudah beringsut dari tempatnya duduk, ia mendekat dan merapat pada Nayara. Wanita itu benar-benar terlihat berwajah datar tanpa ekspresi."Ck, menyingkirlah," desis Nayara mendorong Kenan kencang.Pria itu tersungkur pelan, namun dengan cepat terduduk kembali dan meraih lengan Nayara erat. Agnira terus meronta di atas pangkuan Sambara, tubuhnya bergerak gelisah, mencoba melepaskan diri. Gerakan itu justru membuat rahang Sambara mengeras, menahan sesuatu yang nyaris lepas. Tangannya langsung mencekal pinggang Agnira dengan kuat, memaksa wanita itu diam di tempat."Sambara ... lepaskan," desis Agnira tajam, ia terus meronta kuat.Pria itu tidak menjawab. Malah diam seribu bahasa, namun tatapannya jelas menyimpan bara yang bergelora. Setiap gerakan yang Agnira lakukan menimbulkan rasa panas yang membakar gairahnya."Saya s
Sorot tajam masih suami istri itu layangkan, bahkan saat keduanya sudah terduduk diam di kursi meja makan. Beberapa hidangan sudah terjadi, dengan berbagai menu beraroma menggugah selera."Duduklah," perintah Agnira pada Kenan dan Nayara.Kenan dengan cepat menarik kursi, sementara Nayara masih diam tidak bergeming sedikitpun. Alis Agnira mengeryit bingung, keduanya lantas saling berpandangan singkat. Namun tak lama, perhatian Nayara beralih pada Sambara yang masih diam, seolah tak peduli, pria itu sibuk mengiris steak di hadapannya dengan tenang.Agnira mengikuti arah lirikan itu. Seketika ia mengerti, dan desahan lelah pun lolos dari bibirnya."Duduk Nayara, kau tidak akan mati hanya karena duduk bersama kami," ucap Agnira menekan setiap kalimatnya."Memang tidak akan mati, tapi saya tidak suka satu meja dengan bawahan saya," sambar Sambara dengan suara tenang.Kenan yang hendak meraih centong nasi mendadak menarik tangannya, a
"Kamu ganti baju dulu," perintah Sambara pada istrinya, sorot matanya dingin dan tegas.Agnira menatap pada piyama tidur yang masih ia kenakan. Lagi-lagi baju indahnya harus sobek akibat ulah Sambara. Wanita itu melirik suaminya yang terlihat berwajah santai, seperti tidak pernah merasa bersalah."Bibi bisa turun terlebih dahulu, bilang pada tamu bahwa kami akan segera turun," ucap Agnira lembut. Nurma mengangguk patuh, lalu berlalu setelah menunduk hormat pada Sambara–kebiasaan yang selalu dilakukan para pelayan di rumah itu. Sambara menganut sistem kasta; baginya, pelayan dan majikan tak akan pernah setara. Pria itu memang tidak sombong, melainkan angkuh yang sudah mendarah daging."Cepatlah," perintah Sambara sekali lagi.Agnira hanya mampu melirik sinis. "Sabar, tidak lihat aku kesulitan melangkah." "Lelet sekali," ejek pria itu dingin.Agnira membulatkan mulutnya, ia berbalik dan menatap sengit Sambara. "Ini semua
Sambara keluar dari kamar mandi dengan rambut basah, handuk melilit pinggang serta tangan yang mengusak rambut perlahan, memamerkan otot perut dan juga lengannya. Hal itu terlihat seksi bagi Agnira, matanya bahkan tidak berkedip dan terus menatap, sampai Sambara berjalan ke arahnya pun ia tidak sadar."Kau ingin makan apa?" tanya Sambara pelan.Agnira mengerjap singkat, dia mengusap liur di ujung mulutnya yang hampir menetes, bisa gila bila dirinya terus satu ruangan dengan Sambara. Belum lagi otaknya yang selalu tertuju pada benda besar di balik handuk itu."Agnira," panggil Sambara sekali lagi. Pria itu berbalik untuk melihat keadaan istrinya. Namun, yang ia dapati hanya sorot mata Agnira yang terfokus pada satu hal. Ia mengikuti arah pandang wanita itu, lalu melangkah pelan mendekat."Kau mau lagi?" tanya Sambara berbisik. Ia menunduk, mensejajarkan wajahnya dengan Agnira.Tanpa sadar kepala Agnira mengangguk pelan, menghadir







