Masuk"Maaf, Pak Sambara, putri saya sudah kembali lancang." Surya segera mendekat. Pria tua itu menatap putrinya dengan wajah menahan geram. Ratih juga ikut mendekat. Wajah wanita paruh baya itu tampak dipenuhi rasa cemas sekaligus malu."Aurelie," tegurnya pelan. "Jangan membahas masa lalu lagi."Aurelie menggigit bibir bawahnya. Jemarinya mencengkeram ujung selimut, lalu mengangguk lemah. "Maaf, Mah."Surya kembali membungkukkan badan ke arah Sambara. "Maaf, Pak Sambara, putri saya sudah kembali lancang." Suaranya terdengar penuh penyesalan. "Tolong jangan dimasukkan ke hati. Kondisinya memang belum stabil."Ratih pun ikut menundukkan kepala. "Kami benar-benar minta maaf. Seharusnya dia tidak mengatakan hal seperti itu."Sambara menatap kedua orang tua Aurelie tanpa perubahan ekspresi. "Tidak perlu meminta maaf kepada saya."Surya dan Ratih mengangkat kepala bersamaan. Merasa lega dengan ucapan Sambara yang masih memiliki hati nurani, jika ia terusir dari kediaman Lakeswara, entah akan
Ruangan rawat Aurelie mendadak hening. Hanya terdengar suara suster yang sedang memasang kembali infus di tangan wanita itu. Tak seorang pun berbicara. Bahkan Surya dan Ratih hanya bisa terdiam setelah mendapatkan lirikan maut dari Sambara.Sudah sejak tadi orang tua itu terus meminta maaf atas kelancaran putri mereka. Hal itu membuat Sambara muak dan melayangkan bentakan tajam, barulah setelah itu keduanya bungkam dan terdiam di sisi ranjang lainnya.Aurelie beberapa kali meringis pelan saat jarum infus kembali menembus kulitnya, tetapi tatapannya tak pernah benar-benar lepas dari Sambara. Ada begitu banyak pertanyaan yang ingin ia lontarkan, namun semuanya seakan tertahan di ujung lidah.Sementara itu, Agnira berdiri tenang di sisi suaminya. Wajahnya tetap ramah, meski ia dapat merasakan tatapan Aurelie yang sesekali mengarah padanya."Sudah selesai, Bu," ucap sang suster sembari merapikan selang infus. "Jangan terlalu banyak bergerak lagi, ya."Aurelie mengangguk pelan. "Terima kas
Udara hangat langsung menyambut Agnira tatkala wanita itu menginjakkan kaki di halaman rumah sakit.Meski matahari bersinar cerah, suasana di sekitar gedung utama justru terasa begitu tegang. Beberapa pria berpakaian hitam telah lebih dulu menyebar di setiap sudut. Sebagian berdiri di pintu masuk, sebagian lagi menyamar sebagai pengunjung maupun petugas kebersihan.Agnira menghela napas pelan. Ia lelah dengan keadaan seperti ini, ia hanya ingin bebas seperti dulu, tetapi sepertinya harus menunggu lebih lama lagi."Mas," bisiknya sambil melirik ke kanan dan kiri. "Kalau begini caranya, orang pasti mengira ada presiden yang sedang dirawat."Sambara yang berjalan di sampingnya hanya melirik sekilas. "Biarkan saja.""Berlebihan tau," ujar wanita itu gemas sendiri."Bagi saya, tidak ada kata berlebihan kalau menyangkut keselamatan kamu."Agnira mengembuskan napas pasrah. Ia tahu tidak ada gunanya berdebat. Sejak insiden di klinik, Sambara benar-benar berubah menjadi jauh lebih protektif.
"Apa kamu masih mencintainya?" Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibir Agnira. Sambara terdiam cukup lama. Tatapannya jatuh pada wajah sang istri yang kini menunggu jawaban dengan sorot mata penuh rasa ingin tahu, bercampur sedikit kecemasan yang berusaha disembunyikan.Alih-alih menjawab, Sambara justru menarik Agnira ke dalam pelukannya. Mendekap tubuh yang selama ini menemani hidupnya."Katanya takut telat," gumamnya pelan di dekat telinga sang istri. "Kenapa malah membahas hal yang tidak perlu?"Agnira mengerucutkan bibir. "Itu penting.""Bagi siapa?" "Bagiku," jawab Agnira cepat. Ia melonggarkan dekapan Sambara dan mendongak, menatap wajah suaminya yang berjarak sangat dekat.Sambara mengembuskan napas pelan. "Kamu cemburu?"Agnira tidak langsung menjawab. Jemarinya memainkan kancing kemeja Sambara. "Sedikit. Tapi aku lebih penasaran dengan gadis bernama Leana itu." Jawaban jujur itu memb
"Kamu yakin mau menjenguk?" tanya Sambara memastikan sekali lagi. Dia menatap wajah sang istri dengan serius.Kini, Sambara terlihat sedang duduk di sisi ranjang dan memperhatikan Agnira yang sibuk memilih pakaian. Wanita itu terlihat melempar beberapa pakaian yang ia coba sembarangan, wajahnya jelas terlihat kesal saat beberapa potong pakaian tidak pas di tubuhnya."Yakin, lagipula kita harus berbelasungkawa, Mas," ujar Agnira acuh. Satu set pakaian kembali melayang dan mengenai wajah Sambara.Sambara mendelik mendengar penuturan istrinya. Aurelie belum mati, kenapa Agnira sudah berbicara soal belasungkawa? Ia menarik kaus yang menutupi wajahnya, lalu meletakkannya kembali di atas ranjang."Belasungkawa?" ulangnya datar.Agnira yang masih sibuk membongkar isi lemari berhenti sejenak. Ia menoleh dengan wajah polos. "Iya.""Untuk siapa?" tanya Sambara sambil berdiri dari duduknya dan melangkah ke arah sofa. Dia akan duduk diam di
Dokter Maya di temukan dalam keadaan tidak sadarkan diri di dalam ruangannya. Wanita itu terlihat linglung dengan luka di pelipis kanan, entah apa yang Leonard lakukan, tetapi yang jelas untuk saat ini, pria itu dalam buruan Sangkara Hitam.Semua anak buah Sambara di kerahkan untuk mencari keberadaan itu. Di dunia bawah, nama Leonard sudah menjadi sayembara, siapa yang bisa memenggal kepalanya akan mendapatkan hadiah besar dari Sambara.Pria itu tidak pernah main-main dalam bertindak, dan untuk kali ini dia tidak akan memberi kesempatan bagi musuhnya untuk mendekat. Arsen terlihat diam dengan keputusan yang baru Sambara ucapkan, hatinya menolak karena Leonard masihlah sahabat dekatnya. Dulu, mereka bertiga berteman baik, bahkan bisa dibilang seperti saudara kandung."Kau yakin akan melakukan ini, Sambara?" tanya Arsen memastikan.Wajah Sambara masih terlihat menahan kesal. Sorot matanya tajam saat melirik ke arah Arsen."Kamu masih ingin membelanya?" tanyanya datar.Arsen menggeleng p
Keesokan paginya. Ruang makan yang selalu di isi keheningan mendadak terasa lebih berat dari sebelumnya. Agnira terus menerus melirik kecil pada Sambara yang berjarak cukup jauh dengannya, sudah biasa dan memang itu aturan awalnya.Wangi aroma masakan menguar. Namun di antara mereka belum ada yang
Agnira terdiam, memproses segalanya dengan cepat. Ia kembali melirik Sambara, lalu berdiri perlahan dari duduknya."Hanya tiga puluh hari, 'kan?" tanya Agnira, singkat.Sambara yang sudah kembali duduk santai hanya mengangguk. "Iya.""Baiklah. Jika itu maumu, akan aku lakukan," putus Agnira tanpa
"Batas waktu kita berakhir lusa. Saya sudah menyiapkan dokumen perceraian,"Agnira menatapnya sekali di tengah memotong daging saat pria itu meraih gelas air. Tarikan napas berat terdengar, membuat suasana ruang makan yang sunyi terasa semakin menekan. "Taruh saja di atas meja kerja. Nanti saya b
"Buka matamu, Agnira. Tatap saya," perintah Sambara rendah.Agnira membuka mata perlahan dan satu-satunya objek yang ia lihat adalah suaminya. Orang yang selama tiga tahun ini membersamai dirinya dalam hening, orang yang bahkan selalu tampak acuh dan tidak perduli akan hadirnya.Tangan Agnira menge







