LOGINKonvoi mobil medis dan pengawalan bersenjata menerobos gerbang Rumah Sakit dengan kecepatan tinggi. Pintu otomatis lobi gawat darurat terbuka lebar, menyambut kedatangan rombongan darurat tersebut.Tim dokter dan perawat berseragam steril telah bersiaga penuh dengan brankar dorong."Buka jalan!" seru Arsen lantang begitu turun dari mobil. Jas dokternya langsung ia kenakan seraya mengambil alih komando medis. "Pasien wanita, primigravida, kehamilan aterm dengan riwayat trauma tumpul, stres akut, ketuban pecah dini, dan tanda-tanda solusio plasenta! Siapkan Ruang Operasi Satu sekarang juga!"Sambara keluar dari ambulans seraya menggendong Agnira di dadanya. Pria itu menolak brankar dorong dan memilih melangkah sendiri menerobos koridor rumah sakit, membawa beban istrinya dengan langkah lebar dan kokoh."Mas, sakit," rintih Agnira lemah. Jemarinya yang berlumuran keringat dingin tak sedetik pun melepaskan kerah kemeja Sambara."Saya ada di sini, Agnira. Tatap mata saya," bisik Sam
Napas Nayara memburu. Sebelum menarik Agnira berdiri, tangannya bergerak cepat menggeledah rompi taktis mayat pria di bawah kakinya.Jari-jarinya menyentuh benda keras di saku samping, sebuah kartu akses berpelat baja dengan logo khusus sistem keamanan terpusat dan sebuah pistol Glock berperedam."Kartu bypass," desis Nayara lega. Ia menyisipkan pistol itu ke balik pinggangnya dan langsung merengkuh tubuh Agnira."Nay, sakit sekali," rintih Agnira. Tubuhnya gemetar hebat, keringat dingin membasahi seluruh lehernya. Tangannya meremas perut yang kini mengeras akibat kontraksi yang kian rapat."Tahan, Nyonya. Tarik napas panjang. Kita keluar sekarang lewat pintu darurat belakang," bisik Nayara seraya menopang sebagian besar bobot tubuh majikannya.Tepat saat mereka melangkah menuju lorong belakang, suara rintihan samar terdengar dari balik pintu ruang cuci di dekat dapur."Mmpphh...!"Mata Nayara menyipit waspada. Sambil tetap memapah Agnira, ia menendang pintu kayu itu hingga terb
"Mari kita akhiri semua ini," desis Sambara seraya kembali menerjang.Arman berusaha bangkit dari lantai dengan napas tersengal, satu tangannya menekan rusuk yang nyeri akibat benturan. Namun Sambara tidak memberinya celah sedikit pun. Dalam sekejap, Sambara menahan ayunan pukulan Arman hanya dengan satu tangan."Kau sudah terlalu tua untuk permainan ini, Arman," seringai Sambara dingin. "Dan kau belum belajar kapan harus berhenti."Sambara memelintir lengan Arman dan menghantam bahunya hingga pria tua itu terjerembap. Saat Arman mencoba meraih senjata yang terlempar di lantai, kaki Sambara langsung menginjak remuk pergelangan tangannya."Argh!" Arman melolong tertahan."Sudah saya peringatkan sejak awal. Sekali kau menyentuh batasan saya, kau akan saya musnahkan detik itu juga."Di luar dugaan, Arman justru tertawa serak. "Kau pikir ... ini benar-benar berakhir?"Sambara menyipitkan mata. "Apa maksudmu?""Kalau aku jatuh malam ini, kau akan membayar harga yang jauh lebih mah
Sambara menatap Arman tanpa berkedip. Seringai tipis terukir di bibirnya. Tubuh bagian atasnya terekspos karena tidak mengenakan baju, sementara percikan darah Aurelie terlihat menodai kulit dan bahunya.Dalam cahaya redup gudang, wajah Sambara tampak semakin mengintimidasi. Tatapannya tajam dan penuh kewaspadaan, terus mengawasi Arman beserta anak buahnya, seolah menunggu siapa pun yang berani mengambil langkah lebih dulu."Apa kau pikir satu tembakan akan membuatku takut?" Arman mengangkat pistolnya, mencoba mempertahankan keberanian yang mulai goyah.Sambara justru tertawa pelan. "Bukan satu tembakan yang seharusnya kau takutkan."Ia menggeser pandangan ke arah belasan anak buahnya yang kini mengepung gudang dari berbagai sisi. "Yang harus kau takutkan adalah kenyataan bahwa kau tidak punya jalan keluar."Arman melirik ke belakang. Jalan menuju hutan sudah tertutup. Anak buah Sambara berdiri dengan senjata terarah kepada kelompoknya."Turunkan senjata!" teriak salah satu anak buah
Senyum Aurelie semakin lebar ketika melihat perubahan pada wajah Sambara. Pria itu masih berdiri tegak, tetapi napasnya mulai berubah berat. Tatapannya yang semula tajam perlahan tampak membayang.Jari-jari Sambara mengepal kuat, berusaha mempertahankan kendali atas tubuhnya sendiri. Aurelie tertawa kecil—tawa puas karena merasa berhasil menjebak pria itu."Bagaimana rasanya, Sambara?" Ia melangkah mendekat. "Kau selalu terlihat begitu kuat, selalu mampu mengendalikan semua orang di sekitarmu." Aurelie memiringkan kepalanya. "Tapi untuk malam ini, kau tidak akan bisa mengendalikan dirimu sendiri."Sambara tidak menjawab. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu melirik serpihan serbuk yang berserakan di lantai. "Apa yang kau masukkan ke dalam serbuk itu?""Kenapa? Takut?""Jawab." Nada suara Sambara terdengar rendah dan berbahaya.Aurelie terkekeh. "Sudah terlambat untuk bertanya."Ketika Aurelie melangkah mendekat, Sambara bergerak cepat. Ia melepas jaketnya dan melemparnya ke sudut
Malam semakin larut ketika suara deru mesin mobil membelah kesunyian. Sebuah mobil hitam melaju meninggalkan kediaman Lakeswara. menyusuri jalanan yang semakin sepi. Lampu-lampu kota perlahan menghilang, berganti dengan pepohonan tinggi yang berdiri rapat di sepanjang jalan. Sambara duduk di kursi belakang dengan tatapan lurus ke depan.Wajahnya tenang. Namun jemarinya sesekali mengetuk pelan pahanya, sebuah kebiasaan kecil yang hanya muncul ketika pikirannya sedang dipenuhi sesuatu yang mengganggu.Arman. Nama itu kembali berputar di kepalanya. Selama ini Sambara mengira semua kejadian yang menimpanya memiliki hubungan dengan Leonard. Namun semakin banyak informasi yang ia dapatkan, semakin jelas bahwa ada seseorang yang bekerja dari balik layar.Seseorang yang bahkan mampu memengaruhi orang-orang di sekelilingnya tanpa menunjukkan wajah. Dan kini gudang tua itu kembali muncul dalam semua kekacauan tersebut. Arman. Pria itu tidak bisa Sambara anggap remeh.Sambara mengangkat ponseln
Agnira terdiam, memproses segalanya dengan cepat. Ia kembali melirik Sambara, lalu berdiri perlahan dari duduknya."Hanya tiga puluh hari, 'kan?" tanya Agnira, singkat.Sambara yang sudah kembali duduk santai hanya mengangguk. "Iya.""Baiklah. Jika itu maumu, akan aku lakukan," putus Agnira tanpa
"Batas waktu kita berakhir lusa. Saya sudah menyiapkan dokumen perceraian,"Agnira menatapnya sekali di tengah memotong daging saat pria itu meraih gelas air. Tarikan napas berat terdengar, membuat suasana ruang makan yang sunyi terasa semakin menekan. "Taruh saja di atas meja kerja. Nanti saya b
"Buka matamu, Agnira. Tatap saya," perintah Sambara rendah.Agnira membuka mata perlahan dan satu-satunya objek yang ia lihat adalah suaminya. Orang yang selama tiga tahun ini membersamai dirinya dalam hening, orang yang bahkan selalu tampak acuh dan tidak perduli akan hadirnya.Tangan Agnira menge
Malam merambat perlahan, membawa keheningan lembut yang terasa tidak nyaman. Di balik pintu kamar, Agnira terdiam menatap dirinya sendiri di depan cermin besar. "Ayo, Agnira ... ini tidak akan lama," bisik Agnira, pelan, nyaris tidak terdengar.Kaki jenjang yang terbalut sandal bulu itu bergerak







