LOGINUdara hangat langsung menyambut Agnira tatkala wanita itu menginjakkan kaki di halaman rumah sakit.Meski matahari bersinar cerah, suasana di sekitar gedung utama justru terasa begitu tegang. Beberapa pria berpakaian hitam telah lebih dulu menyebar di setiap sudut. Sebagian berdiri di pintu masuk, sebagian lagi menyamar sebagai pengunjung maupun petugas kebersihan.Agnira menghela napas pelan. Ia lelah dengan keadaan seperti ini, ia hanya ingin bebas seperti dulu, tetapi sepertinya harus menunggu lebih lama lagi."Mas," bisiknya sambil melirik ke kanan dan kiri. "Kalau begini caranya, orang pasti mengira ada presiden yang sedang dirawat."Sambara yang berjalan di sampingnya hanya melirik sekilas. "Biarkan saja.""Berlebihan tau," ujar wanita itu gemas sendiri."Bagi saya, tidak ada kata berlebihan kalau menyangkut keselamatan kamu."Agnira mengembuskan napas pasrah. Ia tahu tidak ada gunanya berdebat. Sejak insiden di klinik, Sambara benar-benar berubah menjadi jauh lebih protektif.
"Apa kamu masih mencintainya?" Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibir Agnira. Sambara terdiam cukup lama. Tatapannya jatuh pada wajah sang istri yang kini menunggu jawaban dengan sorot mata penuh rasa ingin tahu, bercampur sedikit kecemasan yang berusaha disembunyikan.Alih-alih menjawab, Sambara justru menarik Agnira ke dalam pelukannya. Mendekap tubuh yang selama ini menemani hidupnya."Katanya takut telat," gumamnya pelan di dekat telinga sang istri. "Kenapa malah membahas hal yang tidak perlu?"Agnira mengerucutkan bibir. "Itu penting.""Bagi siapa?" "Bagiku," jawab Agnira cepat. Ia melonggarkan dekapan Sambara dan mendongak, menatap wajah suaminya yang berjarak sangat dekat.Sambara mengembuskan napas pelan. "Kamu cemburu?"Agnira tidak langsung menjawab. Jemarinya memainkan kancing kemeja Sambara. "Sedikit. Tapi aku lebih penasaran dengan gadis bernama Leana itu." Jawaban jujur itu memb
"Kamu yakin mau menjenguk?" tanya Sambara memastikan sekali lagi. Dia menatap wajah sang istri dengan serius.Kini, Sambara terlihat sedang duduk di sisi ranjang dan memperhatikan Agnira yang sibuk memilih pakaian. Wanita itu terlihat melempar beberapa pakaian yang ia coba sembarangan, wajahnya jelas terlihat kesal saat beberapa potong pakaian tidak pas di tubuhnya."Yakin, lagipula kita harus berbelasungkawa, Mas," ujar Agnira acuh. Satu set pakaian kembali melayang dan mengenai wajah Sambara.Sambara mendelik mendengar penuturan istrinya. Aurelie belum mati, kenapa Agnira sudah berbicara soal belasungkawa? Ia menarik kaus yang menutupi wajahnya, lalu meletakkannya kembali di atas ranjang."Belasungkawa?" ulangnya datar.Agnira yang masih sibuk membongkar isi lemari berhenti sejenak. Ia menoleh dengan wajah polos. "Iya.""Untuk siapa?" tanya Sambara sambil berdiri dari duduknya dan melangkah ke arah sofa. Dia akan duduk diam di
Dokter Maya di temukan dalam keadaan tidak sadarkan diri di dalam ruangannya. Wanita itu terlihat linglung dengan luka di pelipis kanan, entah apa yang Leonard lakukan, tetapi yang jelas untuk saat ini, pria itu dalam buruan Sangkara Hitam.Semua anak buah Sambara di kerahkan untuk mencari keberadaan itu. Di dunia bawah, nama Leonard sudah menjadi sayembara, siapa yang bisa memenggal kepalanya akan mendapatkan hadiah besar dari Sambara.Pria itu tidak pernah main-main dalam bertindak, dan untuk kali ini dia tidak akan memberi kesempatan bagi musuhnya untuk mendekat. Arsen terlihat diam dengan keputusan yang baru Sambara ucapkan, hatinya menolak karena Leonard masihlah sahabat dekatnya. Dulu, mereka bertiga berteman baik, bahkan bisa dibilang seperti saudara kandung."Kau yakin akan melakukan ini, Sambara?" tanya Arsen memastikan.Wajah Sambara masih terlihat menahan kesal. Sorot matanya tajam saat melirik ke arah Arsen."Kamu masih ingin membelanya?" tanyanya datar.Arsen menggeleng p
"Tunggu dokter."Pria bermasker itu berhenti, lalu menoleh perlahan. "Ya?""Silakan tunjukkan kartu identitas Anda."Keheningan seketika memenuhi ruangan. Sambara, yang sedang membantu Agnira duduk di atas ranjang pemeriksaan, mengalihkan pandangannya ke arah pintu. Sorot matanya langsung berubah tajam.Pria bermasker itu tersenyum tipis di balik masker. "Tentu."Ia meletakkan baki di atas meja, lalu merogoh saku jas putihnya. Robi tidak berkedip sedikit pun. Tangannya perlahan bergeser ke balik jas, menyentuh gagang pistol yang tersimpan rapi di pinggang."Aneh," gumam Robi."Iya?" tanya dokter itu terlihat panik."Dokter di klinik ini menggunakan kartu identitas yang digantung di dada. Bukan disimpan di saku," tutur Robi sambil menyipitkan mata.Kalimat itu membuat tangan pria bermasker berhenti di dalam saku. Pria itu menelan ludah dengan susah payah, hawa di ruangan ini mendadak turun drastis dan membuat ia menjadi gugup.Suasana berubah sunyi. Dalam sepersekian detik, mata pria i
Jejak air mata di atas kertas diary Kenan telah mengering, tetapi kalimat itu justru semakin tertanam dalam kepala Nayara. Ia menutup buku tebal tersebut dengan tangan gemetar, lalu mendekapnya erat di dada.Nayara memiliki berjalan pelan ke arah tempat tidur Kenan. Ia merebahkan tubuh di atas kasur empuk itu, dan memeluk guling dengan jejak aroma milik kekasihnya yang masih menempel di sana.Rasa bersalah kembali datang memenuhi rongga hatinya, menghantamnya hingga terasa sesak. Selama ini, Kenan menyimpan luka itu sendirian di balik senyumnya. Dan Robi, pria itu mengubur perasaannya begitu dalam demi menjaga profesionalisme dan menghormati keputusan yang Nayara ambil.Nayara memejamkan mata erat-erat. Bagaimana mungkin ia tidak sadar, jika Robi menyimpan perasaan terhadapnya selama ini? Fajar menyingsing perlahan, hangat mentari mulai terasa saat Nayara membuka matanya. Tubuhnya terasa remuk dengan kepala yang terasa sakit karena terlalu banyak menangis.Suara derap langkah kak
Agnira terdiam, memproses segalanya dengan cepat. Ia kembali melirik Sambara, lalu berdiri perlahan dari duduknya."Hanya tiga puluh hari, 'kan?" tanya Agnira, singkat.Sambara yang sudah kembali duduk santai hanya mengangguk. "Iya.""Baiklah. Jika itu maumu, akan aku lakukan," putus Agnira tanpa
"Batas waktu kita berakhir lusa. Saya sudah menyiapkan dokumen perceraian,"Agnira menatapnya sekali di tengah memotong daging saat pria itu meraih gelas air. Tarikan napas berat terdengar, membuat suasana ruang makan yang sunyi terasa semakin menekan. "Taruh saja di atas meja kerja. Nanti saya b
"Buka matamu, Agnira. Tatap saya," perintah Sambara rendah.Agnira membuka mata perlahan dan satu-satunya objek yang ia lihat adalah suaminya. Orang yang selama tiga tahun ini membersamai dirinya dalam hening, orang yang bahkan selalu tampak acuh dan tidak perduli akan hadirnya.Tangan Agnira menge
Malam merambat perlahan, membawa keheningan lembut yang terasa tidak nyaman. Di balik pintu kamar, Agnira terdiam menatap dirinya sendiri di depan cermin besar. "Ayo, Agnira ... ini tidak akan lama," bisik Agnira, pelan, nyaris tidak terdengar.Kaki jenjang yang terbalut sandal bulu itu bergerak







