Share

Bab 81

Author: D.N.A
last update publish date: 2026-05-31 11:33:29

"Biar aku yang menuntun Kenan," ucap Agnira sambil berjalan mendekat.

Wanita itu mengulurkan tangan, berniat membantu Kenan yang masih terlihat belum sepenuhnya pulih. Jemarinya bahkan hampir menyentuh lengan pria itu. Namun sebelum sempat melakukannya, Sambara bergerak lebih cepat.

Dengan wajah datar, pria itu lebih dulu meraih bahu Kenan dan menopangnya dengan mantap.

"Mari," ucap Sambara singkat.

Tanpa memberi kesempatan pada Agnira untuk membantah, ia langsung menuntun Kenan melangkah kelua
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Andi Sary Nova
Agnira sebagai seorang perempuan kau terlihat sangat keras kepala dan sok bikin Q aja sebagai perempuan pengen jitak lo punya kepala biar tahu kalau suamimu itu lg cemburu dan lo jgn terlalu egois jd istri
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Ranjang Panas Suamiku   Bab 83

    Rumah Kenan tidak berada di pusat kota, juga bukan di kawasan perumahan mewah. Rumah sederhana itu berdiri di pinggiran kota, tepat menghadap hamparan laut lepas yang membentang luas sejauh mata memandang. Debur ombak yang terdengar silih berganti menciptakan suasana tenang yang sulit ditemukan di tempat lain."Rumah ini pernah hampir digusur?" tanya Sambara tiba-tiba.Pria itu berdiri dengan kedua tangan di saku celana, matanya mengarah ke lautan yang berkilauan diterpa cahaya matahari sore."Dari mana Anda tahu, Pak?" tanya Kenan penasaran.Sambara menarik napas pelan. Lalu dagunya terangkat, menunjuk ke arah sebuah bangunan megah yang berdiri tidak jauh dari sana. Di tepi pantai, sebuah resort mewah menjulang dengan arsitektur modern yang mencolok di antara pemandangan alam sekitar."Itu milik Ravenmark Holdings," ujar Sambara tenang. Ia menoleh ke arah Kenan dan menatap pria itu lurus-lurus. "Dan Ravenmark Holdings adalah perusahaan s

  • Ranjang Panas Suamiku   Bab 82

    "Pak, saya boleh bersandar? Kepala saya pusing," ujar Kenan sambil meringis pelan.Sambara hanya diam dan melirik sinis pria berwajah pucat di sampingnya. Tidak ada tanda-tanda pria itu akan membuka suara. Namun, beberapa detik setelah Kenan berucap, bahu Sambara terasa berat. Kenan sudah menyandarkan kepalanya di sana dengan nyaman, seolah tidak peduli dengan sorot mata dingin yang Sambara tunjukkan."Heh! Berat!" sentak Sambara sambil menggoyangkan bahunya.Namun, Kenan tidak bergerak sama sekali. Pria itu tampak sudah tertidur pulas dengan mata terpejam rapat dan napas yang teratur.Agnira memantau segalanya dari kaca spion mobil, dia menyipitkan mata saat melihat Sambara mengangkat tangan. Dengan tanpa perasaan Sambara mendorong kepala Kenan dan membuat pria itu terantuk pintu mobil, Kenan meringis kecil, sementara Agnira membulatkan mata tidak percaya."Sambara!" bentak Agnira sambil memutar tubuhnya, matanya memicing menatap ke arah pria di belakangnya itu."Saya hanya merenggan

  • Ranjang Panas Suamiku   Bab 81

    "Biar aku yang menuntun Kenan," ucap Agnira sambil berjalan mendekat.Wanita itu mengulurkan tangan, berniat membantu Kenan yang masih terlihat belum sepenuhnya pulih. Jemarinya bahkan hampir menyentuh lengan pria itu. Namun sebelum sempat melakukannya, Sambara bergerak lebih cepat.Dengan wajah datar, pria itu lebih dulu meraih bahu Kenan dan menopangnya dengan mantap."Mari," ucap Sambara singkat.Tanpa memberi kesempatan pada Agnira untuk membantah, ia langsung menuntun Kenan melangkah keluar dari rumah sakit. Agnira hanya bisa berhenti di tempat dan menatap punggung keduanya dengan ekspresi kesal.Sementara itu, Kenan terlihat canggung. Tatapannya berpindah-pindah antara Agnira dan Sambara, merasa ada sesuatu yang tidak beres di antara pasangan suami istri ini.Sedangkan Sambara tetap berjalan santai, seolah tindakannya barusan adalah hal yang paling wajar di dunia. Namun sorot matanya yang tajam jelas menunjukkan satu hal, ia sama sekali tidak berniat membiarkan Agnira menyentuh

  • Ranjang Panas Suamiku   Bab 80

    "Aku tidak mau bekerja bersamamu lagi," ucap Agnira di sela langkahnya.Wanita itu menghentikan langkah tepat di teras rumah, lalu berbalik menatap tajam ke arah Sambara yang masih terlihat santai di belakangnya. Sementara itu, Sambara menarik napas panjang sebelum akhirnya membuka suara."Sekarang ada masalah apa lagi?" tanya Sambara mulai lelah.Entah kenapa, setiap hari Agnira selalu saja membawa drama baru ke dalam hidupnya. Selalu ada alasan baru yang wanita itu gunakan untuk menjauh atau meminta berpisah. Ditambah lagi, tatapan penuh kebencian yang terus Agnira tunjukkan membuat Sambara perlahan merasa sangat bersalah.Agnira melipat kedua tangan di depan dada. Matanya memicing penuh kecurigaan saat menatap Sambara dari ujung kepala hingga kaki."Kau bau, Sambara. Dan aku tidak suka aroma tubuhmu," kata Agnira dengan enteng."Apa?" Sambara menatap istrinya dengan ekspresi tidak percaya.Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, pria yang biasanya selalu tenang dan menjaga wibawa it

  • Ranjang Panas Suamiku   Bab 79

    Malam semakin larut. Aroma khas kamar Sambara kini telah berganti menjadi wangi aroma terapi lembut yang menenangkan, Agnira menggantinya sendiri dengan alasan ia selalu merasa mual setiap mencium aroma maskulin yang biasa memenuhi kamar itu.Sambara sebenarnya ingin protes, tetapi pada akhirnya pria itu hanya mampu diam dan memperhatikan semua perubahan yang dilakukan istrinya.Dan ternyata bukan hanya aromanya saja yang berubah. Sprei tempat tidur mereka kini berganti warna menjadi putih dengan motif bunga kecil, gorden kamar yang semula gelap juga sudah berubah menjadi pink terang. Bahkan sofa hitam milik Sambara pun kini tertutup kain bernuansa senada.Kamar yang awalnya terlihat dingin dan kaku khas seorang pria dewasa perlahan berubah menjadi jauh lebih cerah dan hidup karena ulah Agnira. Wanita itu terlihat puas dengan hasil karyanya, sangat berbanding terbalik dengan wajah Sambara yang terlihat enggan."Besok aku mau mengganti hiasan menyeramkan di dinding itu," gumam Agnira p

  • Ranjang Panas Suamiku   Bab 78

    Makan malam terasa hening di antara keduanya. Tidak ada satu pun yang memulai percakapan, hanya suara denting sendok dan garpu yang sesekali terdengar memecah kesunyian.Agnira terlihat begitu lahap menghabiskan makan malamnya. Berkali-kali wanita itu menambah nasi dan mengambil ayam di depannya, sampai-sampai ia sudah tidak lagi memedulikan keberadaan Sambara yang duduk di sampingnya.Entah kenapa, akhir-akhir ini nafsu makan Agnira meningkat drastis. Ia jadi lebih mudah lapar, sering merasa pusing, cepat lelah, dan suasana hatinya pun berubah-ubah tanpa alasan yang jelas."Bi ... Bi Nurma!" panggil Agnira tiba-tiba dengan suara cukup nyaring.Bi Nurma yang mendengar panggilan itu segera datang tergopoh-gopoh. Wanita paruh baya itu langsung menunduk hormat begitu sampai di depan meja makan."Iya, Nyonya. Ada yang bisa saya bantu?" tanya Nurma sopan.Agnira terdiam sejenak. Pipi wanita itu masih menggembung penuh oleh suapan nasi di mulutnya."Tolong buatkan cireng," ucapnya polos.Pe

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status