Beranda / Romansa / Ranjang kedua dr. Jonathan / 78. Riwayat yang hilang

Share

78. Riwayat yang hilang

Penulis: Riri riyanti
last update Tanggal publikasi: 2026-10-20 20:25:12
"Tidak adakah hal yang ingin kau jelaskan, hm?" Pria itu bertanya. Nadanya santai, meskipun ada keseriusan di dalamnya.

Atmosfer meja makan itu sedikit berubah. Lily yang semula menyuap sarapannya dengan pelan, tiba-tiba menghentikan gerakannya akibat pertanyaan itu. Apalagi ketika mata biru itu berhenti di matanya, mengunci tatapan.

"Tentang apa?" Lily memberinya sebuah lirikan, namun dengan terus menikmati sarapan.

Meskipun sejujurnya ia sudah tahu arah pertanyaan pria di depannya, ia te
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Ranjang kedua dr. Jonathan   97. Bahu yang tidak ia lepas

    Langit tanpa bintang kini berubah kelabu. Tetesan air hujan yang menghunjam genting menjadi satu-satunya suara yang mendominasi ruang keluarga. Javier ada di sana, menemani Diandra yang berbaring miring di sofa. Meski kedua mata hazel nan menawan itu terpejam, namun gurat pedih seakan tak mau sirna menghiasi rupa cantik wanita itu. Javier duduk di bawah, menjaga, terus saja menatap ke wajah Diandra. Kaleng-kaleng bir yang ia bawa sebagian besar masih utuh, tak tersentuh. Tergeletak asal di atas meja kaca. Mungkin karena sudah tak kuat lagi menahan hatinya yang patah, hampir satu jam wanita itu menangis di bahunya tadi. Tidak mengatakan apa-apa, hanya mengeluarkan sesak di dada. Tapi, ia tahu ... bukan hanya dugaan saja, ia yakin Diandra sudah melihat bukti jika suaminya berkhianat. Jika tidak, mana mungkin Diandra akan sehancur ini. Javier masih menatap wajah cantik itu. Menyentuh pipinya. "Andai yang kau cintai adalah aku, kau tidak akan sakit sampai seperti ini," bisiknya. Seiri

  • Ranjang kedua dr. Jonathan   96. Bahu yang salah

    Setelah pengakuan Jonathan, Lily mengangguk kemudian memejamkan mata dengan rileks, dengan dada bidang itu yang masih menjadi bantalnya. Detakan jantung pria itu seakan menjadi melodi mengantar tidur untuknya. Matanya berangsur memberat, namun belum benar-benar jatuh terlelap. Saat itulah Jonathan diam membisu, tatapannya menerawang jauh ke depan. Ia memang bahagia. Baru kali ini ia merasakan kenyamanan yang tanpa beban. Ia merasa dibutuhkan. Ia bisa benar-benar menjadi diri sendiri, bisa bermanja pun memanjakan pasangannya. Tapi, di sisi lain ia pun merasa berdosa. Detik selanjutnya wajah Diandra justru terbayang di kepala. Ah, ia teringat bahwa ponselnya masih dalam mode pesawat. Tanpa mengubah posisi, salah satu tangannya meraih ponsel di atas nakas. Ketika mode pesawat ia matikan, notifikasi pesan masuk muncul di layar. Cukup banyak. Terutama pesan dari istrinya. [Sayang, sudah sampai di Bandung?] Pesan itu dikirim pagi tadi, hampir pukul enam. [Jangan lupa makan siang, ya

  • Ranjang kedua dr. Jonathan   95. Video yang meruntuhkan

    "Apa ... maksudmu?" suara Diandra serak. Dadanya mulai berdenyut tidak menyenangkan. "Aku melihat suamimu lagi. Bersama gadis yang waktu itu." Di seberang telepon, Elizabeth kembali bersuara. Sejenak napas Diandra berhenti, seiring dengan langkahnya. Kedua kakinya seakan terpaku pada lantai kamar, tak bisa bergerak. Tatapannya kosong, menatap foto besar pernikahannya di dinding putih. Tanpa sadar kedua matanya telah tergenang air kesedihan. Detakan di dadanya berubah menyesakkan. "... benarkah?" hanya satu kata. Bahkan getaran suaranya makin jelas terdengar oleh si lawan bicara di seberang. "Iya, sumpah! Mereka terlihat sangat dekat." Suara Elizabeth di telepon terjeda selama beberapa detik. Diandra mampu mendengar napas teman baiknya itu memberat sejenak sebelum kembali berucap. "Kau ingin melihatnya? Akan kuganti dengan panggilan video jika kau bersedia." Dari nada suaranya, wanita berambut cokelat panjang itu kentara menahan kesal. "Sepertinya ... tidak perlu, Liz. Aku me

  • Ranjang kedua dr. Jonathan   94. Mata-mata di Restoran

    Lampu gantung rotan di atas meja mereka bergoyang pelan tiap kali angin laut memasuki ruangan restoran. Di luar, ombak menghantam batu karang. Konstan. Seperti suara detak jantung yang tenang. "Di sini cukup sepi, ya?" Lily berucap setelah duduk di kursi kayu, menghadap sebuah meja bundar. Mata indahnya telah selesai menatap sekeliling. Hanya ada beberapa meja yang terisi, berpasang-pasangan. "Itu salah satu alasanku memilih tempat ini. Di sini cukup privat, tidak akan ada yang mengenali kita." Jonathan menjawab, pria itu duduk tepat di depannya, hanya bersekat meja dengan vas berisi bunga mawar merah di atasnya. Aneka makanan laut sudah tersaji. Masih hangat, mengepulkan asap tipis. Aromanya menggugah selera. "Oh, pantas saja." Kepala Lily mengangguk beberapa kali tanda paham. Hubungan mereka memang selalu dirahasiakan, bahkan sebuah keharusan. Ada saat di mana Lily sangat ingin diakui. Ia ingin dunia tahu bahwa Jonathan adalah miliknya. Bukankah itu hal yang wajar? Seorang yang

  • Ranjang kedua dr. Jonathan   93. Angin Bali yang tidak bohong

    Angin Bali sore itu tidak bohong. Tidak seperti di Bandung yang berisik, bau asap, pula lampu neon yang tidak pernah mati. Di sini ... sepi. Pasir Pantai Nusa Dua begitu putih. Putih bersih, lembut setiap kali terinjak. Lautnya biru. Bukan biru biasa, tapi biru kaca. Jernih sampai batu karang di dasarnya terlihat jelas, bergoyang pelan ketika terkena arus. Anginnya terasa hangat. Membawa bau garam dan bunga kamboja yang sedang mekar di pinggir jalan, serta bau sate ikan yang dibakar dari warung nelayan di ujung pantai. Sesekali ada burung camar lewat, berteriak, lalu melayang jauh. Di sini hanya ada suara ombak. Bergulung-gulung naik, pecah di bibir pantai, kemudian mundur lagi. Seperti napas. Panjang, tenang, teratur. Tidak ada suara klakson. Tidak ada suara notifikasi ponsel. Berbicara tentang ponsel, bahkan sampai saat ini Jonathan belum mengganti mode pesawat di ponselnya. Alat komunikasi canggih miliknya itu ia tinggal di kamar resort. Masih tergeletak di atas nakas. "Langi

  • Ranjang kedua dr. Jonathan   92. Merah yang datang tidak tepat waktu

    Jonathan duduk di tepi ranjang, menatap hamparan lautan yang tampak jelas melalui jendela kaca besar kamar resort yang ia sewa bersama Lily. Mata birunya melirik pada ponsel di atas nakas, ponsel yang masih dalam mode pesawat, mode yang ia pasang ketika masih terbang di atas ketinggian. Dan ia ada di sini, kurang lebih sudah dua puluh lima menit yang lalu, di Bali dan bukan Bandung. Ia telah sukses membohongi istrinya. Rasa bersalah itu sejenak hinggap, namun ia tepis dengan gelengan kepala. Tangannya yang bertaut di atas lutut mengepal kuat dengan jari menyentuh permukaan cincin pernikahannya dengan Diandra. Detik berikutnya ia memejamkan erat kedua mata ketika hatinya bergejolak gusar. Tidak! Ini sudah menjadi keputusannya, dan tidak boleh ada penyesalan. Jika Diandra bisa bepergian dengan leluasa bersama Javier, maka ia pun berhak pergi bersama Lily dengan hati tenang, bukan? Itulah yang dinamakan impas. Ia pergi dengan Lily karena Diandra sering bepergian dengan Javier. M

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status