FAZER LOGINLeo melangkah mundur memberi jalan. Ia menekan panel pintu ruang VIP hingga daun kayu mahoni itu terbuka lebar.Hendrawan melangkah masuk dengan napas memburu. Sepatu kulit kotornya menginjak karpet abu-abu tebal milik sang dokter.Di balik meja kerja besar itu, Elara meringkuk merapatkan tubuhnya. Istri bupati itu meremas alat penyadap hitam dengan tangan gemetar.Ia menyelinap lewat pintu belakang puskesmas sepuluh menit lalu. Ia bermaksud menyerahkan rekaman percakapan korupsi suaminya pada Leo.Suara amukan Hendrawan di lobi memaksanya bersembunyi di bawah kolong meja yang tertutup panel kayu rapat."Ruangan ini terlalu mewah untuk klinik desa," komentar Hendrawan memindai peralatan medis di sekitarnya.Bupati itu menjatuhkan pantatnya ke atas sofa tamu berbahan kulit asli tanpa diundang."Duduk dan dengarkan tuntutanku, Dokter," perintah Hendrawan menunjuk kursi kerja Leo.Leo menarik kursi putarnya dan duduk dengan postur tegap. Ujung sepatu pantofelnya menyentuh paha Elara di k
Jari telunjuk Leo menekan tombol merah di layar ponsel tersebut. Panggilan dari penguasa kabupaten itu terputus sepihak."Bupati Hendrawan akan segera memburu ke sini," ucap Leo melempar ponsel mahal itu ke atas meja rotan.Maya merapikan kerah kemejanya. Janda kembang itu menatap lurus ke arah pintu utama dengan raut wajah waspada."Dia mencari Nyonya Elara sampai ke desa terpencil ini?" tanya Maya memastikan situasi."Dia mencari kambing hitam atas proyek korupsinya yang macet total," ralat Leo mengambil jas putihnya dari sandaran kursi kayu.Leo mengancingkan jas dokternya dengan cepat sambil melangkah menuju pintu keluar."Mandikan Elara dan tahan dia di kamar. Jangan biarkan dia keluar dari rumah ini sebelum aku kembali," instruksi Leo mutlak."Baik, Tuan," patuh Maya melangkah mundur perlahan menuju kamar tidur.Leo berjalan menyusuri jalan setapak berbatu meninggalkan pekarangan rumah Maya. Lampu-lampu jalan desa mulai menyala terang, menandakan jam operasional puskesmas telah
Leo menahan pinggul Elara menggunakan kedua telapak tangannya yang besar. Pria itu mengatur ritme pergerakannya dengan perhitungan matematis.Setiap dorongan pinggul Leo menargetkan persimpangan saraf sakral di dasar tulang belakang sang wanita. Titik itu menyambung langsung dengan pusat kendali motorik di otak.Elara melebarkan matanya menatap langit-langit kamar. Kuku jarinya menancap dalam menembus lapisan sprei katun putih."Ini... terlalu kuat," rintih Elara dengan napas tersengal-sengal.Tubuh rampingnya mengejang keras menerima rangsangan yang belum pernah ia rasakan selama hidupnya."Tubuhmu kelaparan selama dua tahun terakhir," desis Leo tanpa menurunkan kecepatan. "Aku hanya memberinya porsi yang pantas."Istri bupati itu menggelengkan kepalanya berulang kali ke kanan dan ke kiri di atas bantal.Saraf simpatiknya yang mati kini dibombardir oleh sinyal listrik berkekuatan maksimal dari ujung jari Leo.Leo menggeser posisi tangannya ke bagian perut bawah Elara. Ibu jari pria i
Engsel pintu kayu jati kamar Maya berderit pelan. Elara melangkah masuk menembus keremangan ruang tidur berukuran tiga kali empat meter tersebut.Kamar itu hanya berisi sebuah ranjang kayu jati berlapis seprai putih polos. Sebuah lemari pakaian rotan berdiri kaku di sudut ruangan.Leo menyusul masuk dan menutup pintu rapat-rapat. Bunyi klik dari selot logam mengunci akses mereka dari dunia luar."Waktu sepuluh menitmu dimulai dari sekarang," ucap Elara menyentuh layar jam tangan pintar di pergelangan kirinya.Wanita itu berdiri canggung di tengah ruangan. Ia merapatkan kedua lengannya menutupi dada."Lepaskan kain loak itu," perintah Leo tanpa memedulikan hitungan mundur sang pasien."Kau bisa memeriksaku tanpa harus menelanjangiku," tolak Elara mempertahankan sisa harga dirinya.Istri pejabat tinggi itu menatap tajam mata Leo. Ia mencari keraguan di wajah sang dokter bedah."Saraf simpatik tidak merespons manipulasi dari balik pakaian tebal," balas Leo datar.Leo berjalan mendekati s
Ujung sepatu bot Leo menapaki teras kayu rumah Maya. Aroma melati yang tidak biasa tercium dari sela-sela pintu depan yang sedikit terbuka.Maya melangkah lebih dulu, mendorong pintu kayu itu tanpa suara. Janda kembang tersebut menunjuk ke arah ruang tamu dengan gerakan matanya.Seorang wanita duduk bersandar kaku di atas sofa rotan usang. Ia mengenakan daster batik luntur yang jelas bukan miliknya, tampak sangat kebesaran menutupi lekuk tubuhnya.Topi anyaman bambu lebar tergeletak di samping tas kulit buaya berwarna hitam mengkilap."Tuan Dokter sudah tiba, Nyonya," sapa Maya formal.Wanita misterius itu menoleh pelan. Kacamata hitam besar menutupi separuh wajahnya, menyembunyikan ekspresi matanya dari pengawasan."Kunci pintu depan dan tutup semua jendela," perintah wanita itu dengan nada suara yang terbiasa memberi instruksi pada bawahan.Leo menyilangkan tangannya di depan dada, bersandar santai pada kusen pintu kayu."Maya, tinggalkan kami berdua," instruksi Leo datar.Maya menu
Pintu pagar bambu kembali memunculkan suara gesekan pelan dari luar.Nadia melangkah masuk membawa sebuah map plastik berwarna merah. Mantan inspektur provinsi itu menghentikan langkahnya melihat Diana tergeletak tanpa busana di atas batu datar."Saya membawa salinan pencabutan izin proyek komersial untuk Firma Tata Graha, Tuan," lapor Nadia datar.Nadia menatap lurus tubuh lemas arsitek elit tersebut tanpa ekspresi terkejut.Leo melempar handuk putih basahnya ke lantai batu."Berikan dokumen pembatalan itu padanya," perintah Leo mengambil kemeja linen hitamnya dari gantungan.Nadia berjalan mendekati undakan kolam dan menjatuhkan map itu tepat di samping kepala Diana.Diana tidak berusaha menutupi dadanya menggunakan kedua tangannya. Wanita kota itu terlalu kehabisan tenaga bahkan untuk bergeser sejengkal pun dari posisinya."Kau tidak perlu bersusah payah membatalkan izinku, Inspektur Nadia," bisik Diana dengan suara serak.Arsitek elit itu menoleh menatap pergerakan tangan Leo yang







