Share

Interogasi Buta

Author: Falisha Ashia
last update publish date: 2026-05-28 12:19:15

Leo melangkah mundur memberi jalan. Ia menekan panel pintu ruang VIP hingga daun kayu mahoni itu terbuka lebar.

Hendrawan melangkah masuk dengan napas memburu. Sepatu kulit kotornya menginjak karpet abu-abu tebal milik sang dokter.

Di balik meja kerja besar itu, Elara meringkuk merapatkan tubuhnya. Istri bupati itu meremas alat penyadap hitam dengan tangan gemetar.

Ia menyelinap lewat pintu belakang puskesmas sepuluh menit lalu. Ia bermaksud menyerahkan rekaman percakapan korupsi suaminya pada
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Rayuan Desa Wanita   Hancurnya Sindikat Plasma

    Engsel pintu insulasi perak itu berderit pelan merespons dorongan bahu kanan Leo.Hawa beku berhembus keluar berbenturan langsung dengan udara pengap bekas pabrik tekstil.Leo melangkah keluar dari ruang pendingin raksasa menenteng kemeja linennya di tangan kiri.Sinta berjalan mengekor tepat di belakang sang dokter bedah dengan langkah kaki yang menapak stabil.Suhu inti tubuh perawat muda itu telah kembali normal sepenuhnya pasca terapi termal di dalam mesin pembeku.Rona kemerahan menghiasi wajah dan leher Sinta menyisakan jejak guncangan biologis barusan.Napas wanita itu masih sedikit tersengal menahan lonjakan hormon endorfin yang memabukkan jaringan otaknya.Sembilan penjaga bayaran mengerang parau memegangi pergelangan kaki mereka yang cacat permanen.​"Berhenti melangkah sekarang juga, Dokter keparat!" bentak Frans dari ujung lorong timur.Mantan ahli anatomi itu mengangkat sebuah pistol pembius bertekanan gas pneumatik tinggi.Laras hitam berlubang besar itu mengarah lurus m

  • Rayuan Desa Wanita   Suhu Minus Derajat

    Ujung tongkat baja pertama melayang lurus mengincar pelipis kanan Leo.Pemuda itu merendahkan bahunya membiarkan besi tumpul tersebut melewati kepalanya.Pisau titanium di tangan sang dokter bedah berputar memantulkan cahaya neon."Pukul kepalanya dari belakang!" perintah seorang preman berwajah parut.Leo melangkah mundur memotong lintasan serangan lawan dengan presisi geometris.Bilah perak murni itu menyayat bagian belakang pergelangan kaki preman pertama.Tendon Achilles pria tersebut terputus rapi dalam satu tarikan garis lurus.Preman berwajah parut itu menjerit keras kehilangan fungsi tumpuan kakinya seketika.Dia ambruk menghantam lantai tanpa kesempatan untuk berdiri tegak kembali."Kalian terlalu membebani otot betis saat mengayunkan senjata," evaluasi Leo datar."Potong lidahnya biar dia bungkam!" teriak preman lain melompat maju.Tiga penjaga bayaran lainnya merangsek serentak dari arah samping.Leo memutar tubuhnya menggunakan poros tumit kiri dengan kelenturan efisien.S

  • Rayuan Desa Wanita   Sayatan Pisau Titanium

    Ban mobil Jeep hitam itu berdecit keras menggesek aspal berlubang di kawasan kumuh pinggiran kota.Layar jam digital di dasbor mobil menunjukkan pukul satu dini hari lewat lima belas menit.Leo mematikan mesin kendaraannya tepat di depan sebuah bangunan bekas pabrik tekstil yang terbengkalai.​Jejak ban truk pendingin medis tercetak sangat jelas di atas tanah lumpur dekat pintu masuk."Distribusi kantong plasma darah golongan O negatif bermuara di tempat pembuangan sampah ini," gumam Leo.Sepatu pantofelnya menghindari genangan air kotor, melangkah menuju pintu baja berkarat di bagian belakang bangunan.​Suara mesin pendingin ruangan terdengar beroperasi melebihi kapasitas standar sebuah gedung kosong.Di balik pintu itu, Frans berdiri mengenakan celemek plastik yang dipenuhi noda kecokelatan.Sinta, seorang perawat muda berseragam putih, terbaring kaku terikat sabuk kulit di atas meja operasi.​Mulut Sinta disumbat gulungan kain kasa medis yang menahan suara teriakannya meminta tolon

  • Rayuan Desa Wanita   Komandan Lumpuh

    Leo menarik kedua jarinya dari leher Rina saat suara derap langkah menjauh.Polisi wanita itu merosot lemas menghirup sisa oksigen dengan rakus."Ambil map merahmu dari lantai baja itu sekarang," perintah Leo membenarkan kerahnya.Rina merangkak cepat memungut dokumen tersebut dengan tangan bergetar.Leo memutar tubuhnya menghadap pintu brankas setebal lima belas sentimeter.Pria itu memusatkan tenaga murni ke ujung sepatu pantofel kanannya.​Leo menendang engsel baja pintu brankas tersebut menggunakan satu hentakan brutal.Brak!Baut penahan pintu patah berhamburan menghantam dinding lorong.Pelat baja seberat ratusan kilogram itu terlempar membentur lantai keramik.Komandan Bayu yang berjarak lima langkah refleks memutar tubuhnya.Wajah perwira distrik itu memucat melihat pintu brankas jebol paksa."Penyusup!" teriak Bayu mengangkat laras senapan serbunya setinggi dada.​Jari telunjuk Bayu menekan pelatuk tanpa peringatan tembakan.Suara letusan mesiu menggema memekakkan telinga di

  • Rayuan Desa Wanita   Gudang Barang Bukti

    Leo memutar kawat baja kecil di dalam lubang kunci ganda pintu ruang arsip. Bunyi klik pelan terdengar berpadu dengan dengungan lampu neon koridor markas besar aparat distrik.Jam digital di pergelangan tangan sang dokter bedah menunjukkan pukul sebelas malam. Dia mendorong panel kayu solid itu dan menyusup masuk tanpa bunyi engsel.​Cahaya senter kecil menyorot deretan lemari besi di sudut ruangan gelap tersebut. Leo melangkah meredam suara sepatunya menghampiri sumber cahaya yang bergerak acak.Inspektur Rina membongkar paksa laci kabinet baja menggunakan linggis mini. Polisi wanita itu menarik setumpuk map merah berisi deretan angka transfer rekening.​"Mencuri dokumen atasan di tengah malam berisiko pemecatan tidak hormat," tegur Leo.Rina terkesiap memutar tubuhnya dan menodongkan pistol ke arah sumber suara. Matanya membelalak mengenali pria berkemeja linen yang bersandar di rak.​"Bagaimana kau bisa menembus tiga lapis pos penjagaan di luar sana?" tanya Rina menurunkan laras pi

  • Rayuan Desa Wanita   Garis Polisi di Gerbang Elite

    Roda bergerigi mobil taktis militer menggilas kasar aspal mulus pelataran Puskesmas Elite tepat pukul dua siang.Suara decit rem berpadu dengan raungan mesin diesel memecah ketenangan jadwal operasional medis harian.Dua peleton pasukan berseragam hitam melompat turun dari bak truk membawa senapan serbu laras panjang.​Sepatu bot mereka berderap serentak menyebar cepat mengepung seluruh pintu masuk bangunan."Blokir semua akses pintu keluar dan pasang garis polisi kuning sekarang juga!" perintah Komandan Bayu melangkah turun dari Jeep komando.Pria paruh baya itu mengenakan seragam perwira distrik lengkap dengan pangkat balok emas di pundaknya.​Staf medis dan puluhan pasien yang sedang antre mundur perlahan merapatkan punggung ke dinding gedung.Beberapa ibu-ibu memeluk anak mereka dengan erat saat melihat moncong senjata api diarahkan ke udara."Jangan ada yang berani mengambil foto atau merekam kejadian ini!" bentak salah satu aparat merebut paksa ponsel seorang warga.​"Siapa yang

  • Rayuan Desa Wanita   Satu Kasur Bertiga

    Kamar berukuran tiga kali tiga meter itu terasa sangat sempit dan sunyi. Sinar temaram dari lampu teplok di sudut ruangan menyorot tubuh tiga orang yang berbaring sejajar di atas ranjang kayu tua. Kasur itu sebenarnya hanya muat untuk dua orang, tetapi malam ini, tubuh tegap Leonardo Xaverius ter

  • Rayuan Desa Wanita   Ayo Kita Tidur Bertiga

    Bilah golok karatan itu membelah udara dengan suara mendesing, mengarah tepat ke leher Leonardo.Maya dan Kania menjerit histeris, menutup mata mereka rapat-rapat.Namun, bagi seorang dokter bedah yang terbiasa dengan ketelitian tingkat tinggi di meja operasi, tebasan Bahar yang membabi buta itu ta

  • Rayuan Desa Wanita   Berikan Tubuhmu!

    Sementara itu, rahang Leonardo mengeras. Urat-urat di lehernya menonjol. Gairah yang tadi terpaksa padam kini tersulut kembali, berubah wujud menjadi amarah yang sangat pekat dan mematikan. Matanya menatap tajam ke arah ruang tamu.Siapa yang berani membuat keributan di tengah malam buta seperti in

  • Rayuan Desa Wanita   Dapur Yang Panas Dan Menegangkan

    Bibir sang dokter langsung meraup bibir ranum Maya yang sudah bergetar menantinya. Erangan tertahan lolos dari tenggorokan wanita matang itu saat sentuhan bibir yang awalnya lembut berubah menjadi lumatan liar dan rakus. Rasa haus akan sentuhan pria yang sudah bertahun-tahun terpendam, akhirnya m

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status