Beranda / Male Adult / Rayuan Desa Wanita / Dapur Yang Panas Dan Menegangkan

Share

Dapur Yang Panas Dan Menegangkan

Penulis: Falisha Ashia
last update Tanggal publikasi: 2026-03-09 14:16:48

Bibir sang dokter langsung meraup bibir ranum Maya yang sudah bergetar menantinya.

Erangan tertahan lolos dari tenggorokan wanita matang itu saat sentuhan bibir yang awalnya lembut berubah menjadi lumatan liar dan rakus. Rasa haus akan sentuhan pria yang sudah bertahun-tahun terpendam, akhirnya meledak malam ini.

Tangan besar Leo tidak tinggal diam. Ia mengangkat pinggang Maya dengan mudah, mendudukkan wanita itu di atas meja cor-coran dapur. Kain jarik Maya tersingkap hingga ke pangkal paha, sementara tangan Leo yang lain menyusup ke punggung Maya, merengkuh tubuh sintal itu agar semakin menempel padanya.

Napas Maya memburu, dadanya yang penuh naik-turun dengan cepat bergesekan dengan dada bidang Leo. Suhu di dapur yang temaram itu terasa mendidih. Keringat tipis mulai membasahi pelipis dan leher mereka berdua.

"Leo... ahh...," desah Maya parau di sela-sela bibir mereka yang bersentuhan. Ia melingkarkan kedua kakinya ke pinggang kokoh pemuda itu, mengundang Leo untuk masuk lebih jauh.

Milik Leo sudah bereaksi maksimal di balik celananya. Matanya menatap wajah Maya yang memerah padam dan dipenuhi kabut gairah. Pertahanan mereka berdua telah hancur lebur. Leo merapatkan pinggulnya, bersiap untuk menembus batas terakhir dan memberikan apa yang sangat didambakan oleh janda kesepian itu.

Namun, tepat di detik yang paling krusial itu...

Srekk... srekk...

Suara langkah kaki yang diseret terdengar pelan dari arah lorong kayu, menuju tepat ke arah dapur.

Gerakan Leo terhenti seketika. Tubuh Maya menegang kaku layaknya patung.

"Ibu...?"

Suara serak khas orang bangun tidur memecah kesunyian malam, menyiram gairah yang sedang membara itu dengan air es. Itu suara Kania!

Keduanya saling melempar tatapan panik dengan mata membelalak lebar. Menggunakan refleks luar biasa cepat yang biasa ia pakai di ruang operasi, Leo segera mundur selangkah. Ia buru-buru menaikkan resleting celananya dan membenahi letak kaos putihnya yang kusut.

Maya tak kalah panik. Ia segera melompat turun dari meja dapur dengan tangan gemetar, menarik kain jariknya ke bawah dan merapikan letak kembennya yang nyaris terlepas. Ia buru-buru berjongkok, berpura-pura memegangi pergelangan kakinya sambil menetralkan detak jantungnya yang seakan mau meledak.

Satu detik kemudian, bayangan Kania muncul di ambang pintu dapur.

Gadis muda itu mengucek salah satu matanya. Ia menatap dua orang dewasa di depannya secara bergantian. Suasana di dapur itu terasa sangat tebal dan aneh.

"Ibu sama Dokter Leo lagi ngapain di dapur malam-malam begini?" tanya Kania dengan kening berkerut. Matanya yang polos memindai wajah ibunya dan Leo. "Kok kalian berdua... keringetan begitu?"

Kecanggungan yang luar biasa langsung mencekik udara. Jantung Leo berdegup kencang bak habis lari maraton, tetapi ia memaksakan otot-otot wajahnya untuk membentuk ekspresi setenang mungkin.

Maya menelan ludah yang terasa kasar di tenggorokan. Ia mencoba mengontrol suaranya agar tidak terdengar gemetar.

"Aduh... ini, Kania. Ibu... Ibu tadi kebangun mau ambil minum, tapi karena gelap, kaki Ibu kesandung meja dan terkilir," dusta Maya dengan cepat, otaknya bekerja keras mencari alasan. "Untung aja Dokter Leo kebetulan lewat sehabis dari kamar mandi, jadi dia langsung bantuin mijat kaki Ibu yang sakit."

Leo langsung mengambil alih peran dengan karismanya yang tenang. Ia mengangguk pelan, menatap Kania dengan tatapan profesional layaknya seorang dokter yang sedang bertugas.

"Iya, Kania. Otot pergelangan kaki ibumu cukup tegang. Memijatnya untuk melancarkan aliran darah butuh sedikit tenaga ekstra. Ditambah udara malam di dapur ini cukup gerah, makanya kami agak berkeringat," jelas Leo dengan intonasi yang begitu meyakinkan, memutarbalikkan fakta dengan sempurna.

Kania terdiam sejenak, lalu mengangguk-anggukkan kepalanya perlahan. Sama sekali tidak ada kilat kecurigaan di mata gadis lugu itu.

"Oh... astaga. Kaki Ibu nggak apa-apa, kan? Makasih banyak ya, Dokter Leo, udah bantuin Ibu," ucap Kania tulus, percaya seratus persen pada penjelasan sang dewa penyelamatnya.

Kania kemudian melangkah santai melewati Leo, menuangkan air putih dari teko ke dalam gelas, lalu meminumnya hingga tandas.

Melihat krisis itu berhasil dilewati, Leo dan Maya kompak membuang napas lega secara diam-diam. Maya melirik Leo dengan wajah yang memerah karena menahan rasa malu yang luar biasa, menyadari betapa gilanya apa yang baru saja hampir mereka lakukan.

Kania meletakkan gelasnya dan menoleh. "Ya udah, Kania balik tidur dulu ya, Bu. Dokter Leo juga, selamat malam."

Namun, tepat saat Kania baru melangkah satu langkah menjauhi dapur, kesunyian malam itu kembali dirobek secara paksa.

BRAK! BRAK! BRAK!

Suara gedoran pintu depan terdengar sangat keras dan beringas. Daun pintu kayu yang rapuh itu bergetar hebat, seolah-olah akan jebol saat itu juga.

Langkah Kania terhenti seketika. Maya langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan, wajahnya yang tadi merona merah kini berubah seputih kertas.

"Buka pintunya, Maya! Aku tahu kau di dalam! Jangan sembunyi!" raung suara kasar dan berat dari luar rumah.

Ketakutan langsung menjalar di mata Maya dan Kania. Mereka berdua saling berpelukan dengan tubuh bergetar hebat.

Sementara itu, rahang Leonardo mengeras. Urat-urat di lehernya menonjol. Gairah yang tadi terpaksa padam kini tersulut kembali, berubah wujud menjadi amarah yang sangat pekat dan mematikan. Matanya menatap tajam ke arah ruang tamu.

Siapa yang berani membuat keributan di tengah malam buta seperti ini?

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Rayuan Desa Wanita   Pesta Air Panas (TAMAT)

    Uap putih tebal mengepul dari permukaan kolam belerang panas menutupi area Resor Pemandian VIP desa teh.​Lampu taman bernuansa temaram menyinari deretan pagar bambu yang memisahkan area privat tersebut dari lingkungan luar. Tidak ada satu pun pasien, warga desa, atau staf operasional yang diizinkan melintasi batas gerbang kayu pada malam itu.​Leo menyandarkan bahu dan kepalanya pada tepian batu kali yang membentuk formasi kolam pemandian tersebut.​Pria itu merendam tubuhnya sebatas dada menikmati suhu air empat puluh derajat Celcius yang merelaksasi ototnya. Tidak ada lagi kemeja linen atau jas medis yang menempel pada tubuh kokohnya malam ini.​Enam wanita melangkah menuruni anak tangga batu menuju area kolam utama tanpa keraguan sedikit pun.​Maya berjalan di posisi paling depan membawa sebuah nampan kayu berisi cangkir teh herbal panas dan handuk bersih. Janda kembang itu telah melucuti blus kerjanya menyisakan balutan kain sutra tipis yang melekat pada kulitnya.​Di sebelah kir

  • Rayuan Desa Wanita   Deklarasi Legalitas Absolut

    Tumpukan map kulit tebal mendarat di atas permukaan meja bundar berbahan kayu jati.​Suara benturan tumpukan dokumen itu menggema di dalam ruang rapat utama Rumah Sakit Terpadu. Cahaya matahari pagi menembus celah kerai jendela menyinari debu yang beterbangan di udara.​Leo menarik kursi kulit di ujung meja dan duduk menyandarkan punggungnya secara perlahan.​Kemeja linen pria itu bergerak menyesuaikan postur tubuhnya tanpa menyisakan satu pun lipatan kusut. Pria itu menyilangkan kaki kanannya dan menyesap kopi hitam dari cangkir porselen di tangan kirinya.​"Duduk di kursimu masing-masing," perintah Leo menatap deretan kursi baja yang mengelilingi meja.​Sembilan wanita berseragam kerja menempati posisi mereka tanpa menimbulkan suara gesekan kursi yang berisik. Nida, Ratih, Ayu, Sekar, Karina, Sisca, Rika, Wina, dan Laras duduk tegak merapatkan lutut mereka.​Mereka meletakkan buku catatan dan pena logam di atas meja secara serentak.​"Seluruh sertifikat lahan dan dokumen legal perpi

  • Rayuan Desa Wanita   Runtuh

    Ujung sepatu pantofel Leo menghantam keras daun pintu kayu ek gudang anggur dari arah dalam. Engsel baja tebal itu patah seketika menciptakan bunyi dentuman keras yang menggema memekakkan telinga di ruang bawah tanah.Pintu gudang terlempar terbuka menabrak rak penyimpanan hingga puluhan botol kaca mahal jatuh berserakan menghantam lantai.​Leo melangkah keluar menembus udara ruangan yang dipenuhi bau alkohol menyengat hidung. Kemeja linennya tidak memiliki satu pun lipatan kusut. Taipan Harun terkesiap memundurkan langkah kakinya merespons suara benturan kayu tersebut.​"Mati kau, Dokter kampungan!" bentak Harun mengangkat laras pistol revolvernya lurus ke arah dada Leo.​Pria tua itu menarik pelatuk senjatanya tanpa keraguan sedikit pun di kedua matanya. Suara letusan mesiu memantul di dinding beton ruang bawah tanah tersebut menghasilkan gema yang sangat tajam.​Leo sama sekali tidak memundurkan pijakan kakinya untuk menghindari terjangan proyektil peluru mematikan itu. Pria itu me

  • Rayuan Desa Wanita   Gudang Anggur Bawah Tanah

    Sepatu pantofel Leo menginjak rumput sintetis di halaman belakang kediaman mewah Harun pada larut malam.​Lampu taman memancarkan cahaya kekuningan menyinari dinding marmer mansion di lereng bukit tersebut. Pria itu menyusup melewati sensor inframerah tanpa memicu bunyi peringatan pada sistem keamanan.​Leo membuka pintu kaca geser dan melangkah masuk ke ruang keluarga utama bangunan itu.​Di dekat perapian elektrik, Kirana duduk bersimpuh di atas karpet bulu dengan rambut berantakan. Istri muda konglomerat itu menangis sesenggukan memegangi bahu kirinya yang memar akibat siksaan fisik.​Dua pengawal pribadi berseragam loreng berdiri mengapit wanita itu membawa tongkat rotan tebal.​"Tuan Harun memerintahkan kami untuk mendisiplinkanmu malam ini, Nyonya Kirana," ucap pengawal pertama mengetukkan rotan ke telapak tangannya.​"Aku tidak melakukan kesalahan apa pun pada suamiku!" tolak Kirana dengan suara bergetar menahan tangis.​"Kau menatap dokter kampung itu terlalu lama siang tadi,"

  • Rayuan Desa Wanita   Helikopter Di Langit Distrik

    Suara putaran baling-baling helikopter menghantam atap Rumah Sakit Terpadu pada Selasa siang.​Angin kencang dari baling-baling ganda itu menerbangkan debu dan kerikil tajam di pelataran parkir. Helikopter bercat hitam legam itu mendarat paksa tepat di tengah akses jalan utama desa teh.​Tiga unit buldoser beroda rantai baja melaju beriringan merangsek masuk ke halaman. Mesin alat berat itu meruntuhkan pagar beton fasilitas medis dalam satu kali hantaman keras.​Potongan beton dan kawat berduri berserakan di atas jalan aspal yang baru saja diaspal ulang bulan lalu.​Puluhan pria berpakaian seragam paramiliter loreng melompat turun dari sisi kiri dan kanan badan helikopter. Mereka membawa senapan laras panjang dan menyebar cepat memblokir seluruh titik keluar masuk desa.​"Kosongkan bangunan ini dalam sepuluh menit atau buldoser ini akan meratakan kalian semua!" teriak seorang komandan paramiliter melalui pelantang suara.​Suara peringatan itu memantul di dinding kaca lobi rumah sakit

  • Rayuan Desa Wanita   Manipulasi

    Sepatu pantofel Leo mendarat tanpa suara di atas karpet tebal koridor utama kantor dewan distrik.​Cahaya remang dari lampu pendar darurat menjadi satu-satunya sumber penerangan sebelum fajar tiba. Pria itu menyusup melewati sistem keamanan berlapis gedung pemerintahan tersebut tanpa memicu alarm.​Di ruang arsip lantai dasar, Sintia berlutut di depan lemari baja yang terbuka lebar.​Sekretaris dewan itu membongkar tumpukan map kuning dengan tangan gemetar. Ia mencari bukti catatan aliran dana suap yang mengalir ke rekening pribadi Baskoro.​Tiga ajudan berbadan gempal berdiri di ambang pintu memegang tongkat kejut listrik.​"Kau menggali kuburanmu sendiri dengan mencari dokumen itu, Sintia," ucap ajudan pertama melangkah maju ke dalam ruangan.​"Bos Baskoro sudah menduga kau akan mengkhianatinya setelah penyegelan kemarin," tambah ajudan kedua menyalakan tongkat setrumnya hingga memercikkan bunga api.​Sintia memundurkan tubuhnya hingga punggungnya menabrak rak besi arsip. Wanita ber

  • Rayuan Desa Wanita   Satu Kasur Bertiga

    Kamar berukuran tiga kali tiga meter itu terasa sangat sempit dan sunyi. Sinar temaram dari lampu teplok di sudut ruangan menyorot tubuh tiga orang yang berbaring sejajar di atas ranjang kayu tua. Kasur itu sebenarnya hanya muat untuk dua orang, tetapi malam ini, tubuh tegap Leonardo Xaverius ter

  • Rayuan Desa Wanita   Ayo Kita Tidur Bertiga

    Bilah golok karatan itu membelah udara dengan suara mendesing, mengarah tepat ke leher Leonardo.Maya dan Kania menjerit histeris, menutup mata mereka rapat-rapat.Namun, bagi seorang dokter bedah yang terbiasa dengan ketelitian tingkat tinggi di meja operasi, tebasan Bahar yang membabi buta itu ta

  • Rayuan Desa Wanita   Berikan Tubuhmu!

    Sementara itu, rahang Leonardo mengeras. Urat-urat di lehernya menonjol. Gairah yang tadi terpaksa padam kini tersulut kembali, berubah wujud menjadi amarah yang sangat pekat dan mematikan. Matanya menatap tajam ke arah ruang tamu.Siapa yang berani membuat keributan di tengah malam buta seperti in

  • Rayuan Desa Wanita   Terjebak Di Desa

    Sebuah motor klasik hitam yang nilainya di pasar barang antik mencapai ratusan juta, membelah jalanan tanah berbatu. Debu tebal mengepul liar di belakangnya, menutupi pandangan.Namun tiba-tiba saja, motor yang dikendarai oleh pria tampan bernama Leonardo Xaverius itu mogok."Sial! Kenapa harus mog

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status