LOGINPintu kaca tebal biro hukum Vanya hancur berantakan menghantam lantai lobi pada pertengahan malam. Leo menarik kembali tendangan kaki kanannya setelah memastikan jalur masuk terbuka lebar.Pemuda itu melangkah melewati pecahan kaca tanpa menimbulkan suara gesekan pada sepatu pantofelnya.Ruang utama biro hukum itu berantakan dengan tumpukan dokumen yang berserakan di atas meja kerja. Leo menyusuri lorong gelap menuju ruang arsip yang letaknya berada di bagian paling belakang gedung.Tiga penjaga berbadan kekar berdiri mengelilingi Vanya yang masih terikat erat di kursi kayu."Tanda tangani dokumen sialan ini sekarang atau jari-jarimu akan kupatahkan satu per satu!" bentak penjaga pertama memegang pisau lipat."Palsukan saja tanda tanganku, kalian sudah merampas kebebasanku," tolak Vanya dengan suara lemah namun tegas.Notaris muda itu memejamkan mata menghindari silau lampu senter yang diarahkan langsung ke wajahnya.Leo melangkah memotong jarak dari ambang pintu tanpa memberik
Suara gerung mesin eskavator membelah telinga di sebelah timur Puskesmas Elite pada pertengahan hari.Rantai baja kendaraan berat itu menggilas tanah kosong yang telah ditetapkan sebagai lokasi perluasan fasilitas.Area seluas dua hektar itu direncanakan menjadi Rumah Sakit Terpadu untuk menangani pasien operasi besar.Leo melangkah keluar dari lobi puskesmas membawa rancangan cetak biru bangunan di tangan kanannya.Pagar beton setinggi dua meter mendadak terpasang menutupi separuh akses masuk lahan tersebut."Siapa yang mengizinkan pemancangan beton penutup jalan ini?" tanya Leo menggulung cetak birunya rapat-rapat.Bidan Ayu berlari kecil menyusul sang dokter membawa papan akrilik dan alat tulis."Pekerja konstruksi datang satu jam lalu membawa tiga alat berat," lapor Ayu menunjuk deretan ekskavator. "Mereka memblokir lahan atas nama perusahaan properti luar distrik."Bos Haris turun dari kabin ekskavator terdepan menginjak gundukan tanah merah hingga sepatunya kotor.Pria
Suara langkah sepatu bot mereda digantikan dengan gesekan logam pada pintu baja kontainer. Anjing penjaga itu terus menyalak merespons bau manusia dari dalam peti kemas berkarat.Leo menarik tangannya memutus tekanan pada area dada Marina secara halus."Tetap di sudut ini," instruksi Leo melepaskan pelukan janda muda itu.Marina mengangguk peluh membasahi rambutnya yang menempel di dahi. Napas wanita tangguh itu masih memburu berusaha mengembalikan fungsi logikanya yang hancur.Leo mengangkat kaki kirinya mengambil ancang-ancang menendang engsel pintu dari bagian dalam.Sepatu pantofel pria itu menghantam sudut logam pintu baja tepat sebelum tuas pembuka ditarik dari luar. Suara logam patah bergema diiringi terlepasnya kedua engsel baja raksasa tersebut.Pintu kontainer terlempar ke depan menabrak dua algojo hingga mereka terjungkal ke aspal.Leo melangkah keluar menembus udara malam pelabuhan yang beraroma garam dan oli mesin. Cahaya lampu sorot kuning langsung menyorot wajah
Gelap menutupi seluruh aktivitas bongkar muat pelabuhan menyisakan lampu sorot kuning dari atas tiang derek raksasa. Angin laut berembus kencang membawa aroma garam pekat menembus setiap sudut dermaga.Leo melangkah melewati tumpukan jaring nelayan tanpa memicu sensor keamanan elektronik di sekitar area tersebut.Pria itu menyusup masuk menelusuri lorong sempit di antara deretan peti kemas yang menjulang seperti dinding labirin.Dua algojo bertato jangkar menyudutkan Marina di dekat roda baja derek raksasa. Mereka menekan tubuh wanita itu ke permukaan peti kemas merah menahan kedua lengannya dengan kasar."Kau terlalu banyak mencampuri urusan Bos Bahri siang tadi, Marina," desis algojo pertama mendekatkan wajahnya. "Kepala logistik sepertimu tidak pantas menentang pemilik pelabuhan.""Lepaskan tanganku atau aku akan melaporkan kalian ke otoritas maritim!" ancam Marina meronta kuat menahan perih di lengannya."Otoritas maritim tidak akan mendengar teriakanmu dari dasar laut," ejek
Roda bergerigi Jeep hitam itu melindas genangan air asin di pelataran beton Pelabuhan Logistik Distrik Selatan. Cipratan air laut mengenai tumpukan peti kemas kosong yang tersusun rapi di sisi kiri jalan.Leo mematikan mesin kendaraan tepat saat suara peluit kapal kargo berbunyi panjang menandakan waktu bongkar muat siang.Pria itu membuka pintu kemudi dan melangkah turun membawa satu map dokumen pengiriman di tangan kirinya.Fasilitas kesehatannya membutuhkan alat bedah robotik canggih dari pabrik luar kota untuk menangani pasien operasi besar."Di mana posisi kontainer dengan nomor seri medis yang kujadwalkan hari ini?" tanya Leo menghampiri pos penjagaan dermaga.Penjaga pos itu tidak menjawab dan hanya menunjuk ke arah deretan peti kemas berwarna merah di sayap timur pelabuhan.Pria berseragam pelabuhan itu menundukkan wajahnya menghindari kontak mata dengan sang dokter.Suara tamparan keras beradu dengan deburan ombak terdengar jelas dari arah tumpukan baja tersebut.Leo me
Leo menarik tangannya dari perut Nengsih memutus stimulasi saraf wanita itu.Pria itu memutar engsel pengunci loker dari dalam menggunakan tangan kirinya. Kaki kanannya terangkat dan menendang pintu baja itu menggunakan lutut dengan tenaga penuh.Engsel baja itu patah terlepas dari rangkanya menghasilkan suara dentuman logam memekakkan telinga. Pintu baja terlempar ke depan menabrak dua satpam tepat saat Yanto bersiap melangkah maju."Dokter keparat! Kau menyusup ke markasku!" teriak Yanto mundur selangkah menghindari hantaman pintu.Direktur keamanan itu langsung mengayunkan tongkat setrum bertegangan tinggi mengincar dada kiri Leo. Suara aliran listrik mendesis tajam dari ujung senjata tersebut siap membakar kulit.Leo sama sekali tidak melangkah mundur menghindari serangan bertegangan fatal itu.Pemuda itu justru mematahkan jarak serang dan melangkah maju menembus pertahanan lawan. Lengan kiri Leo menepis pergelangan tangan Yanto ke arah luar dengan satu sentakan kuat.Tong
Leonardo masih terpaku memandangi lekuk tubuh Maya, berusaha keras menyembunyikan kilat gairah di matanya di balik ekspresi wajah yang tenang.Otaknya yang sedang merangkai imajinasi liar tiba-tiba terhenti saat suara Kania memecah lamunan."Ibu!" Kania setengah berlari menghampiri ibunya yang masi
Senyuman nakal di bibir Leonardo Xaverius belum sempat memudar saat Kania akhirnya tersadar dari rasa syoknya. Gadis desa itu tiba-tiba menunduk, dan matanya membelalak panik melihat ikatan kemben batiknya yang merosot tajam, mengekspos belahan dadanya yang putih dan penuh di bawah cahaya remang bu
Sebuah motor klasik hitam yang nilainya di pasar barang antik mencapai ratusan juta, membelah jalanan tanah berbatu. Debu tebal mengepul liar di belakangnya, menutupi pandangan.Namun tiba-tiba saja, motor yang dikendarai oleh pria tampan bernama Leonardo Xaverius itu mogok."Sial! Kenapa harus mog
Kamar berukuran tiga kali tiga meter itu terasa sangat sempit dan sunyi. Sinar temaram dari lampu teplok di sudut ruangan menyorot tubuh tiga orang yang berbaring sejajar di atas ranjang kayu tua. Kasur itu sebenarnya hanya muat untuk dua orang, tetapi malam ini, tubuh tegap Leonardo Xaverius ter







