INICIAR SESIÓNLeo tidak memberikan respons verbal. Langkah panjangnya langsung membelah kerumunan warga menuju area pameran yang gelap.Kania berlari kecil mengikuti dari belakang, tangannya mencengkeram ujung kemeja Leo dengan erat.Panggung utama masih menyiarkan musik dangdut dengan dentuman bas yang memekakkan telinga. Suara keributan di sudut pasar malam itu nyaris tak terdengar oleh warga lainnya.Leo menghentikan langkah sepatunya lima meter dari stan pameran teh milik desa.Tiga pemuda berandal tampak berdiri sempoyongan di depan meja bambu yang sudah hancur berantakan. Pecahan cangkir keramik dan daun teh berserakan di atas tanah.Pemuda yang paling besar mencengkeram kerah baju Sekar dengan satu tangannya. Tangan lainnya memegang pecahan botol minuman keras berbahan kaca hijau."Berikan kami uang kas pameran ini, Janda Sombong!" teriak pemuda besar itu dengan napas bau alkohol."Lepaskan aku, Bajingan!" ronta Sekar memukul lengan pria itu sekuat tenaga.Kania menahan napasnya melihat pema
Tangan Leo merenggut gaun merah marun itu hingga meluncur jatuh menumpuk di atas ubin semen. Kulit punggung Wulan terekspos langsung di bawah cahaya bohlam redup.Permukaan meja kayu berderit pelan menahan bobot tubuh wanita tersebut."Kita harus menyusun jadwal pengisi panggung untuk besok pagi," suara bariton Pak RT terdengar sangat dekat dari arah luar.Langkah sepatu bot beberapa pria berhenti tepat di balik dinding triplek. Jarak mereka hanya terhalang selembar papan kayu setebal tiga milimeter.Wulan membelalakkan matanya ngeri. Tangan wanita itu mencengkeram lengan kemeja Leo dengan gemetar."Tolong, pindah dari sini," bisik Wulan terbata-bata. "Mereka akan mendengar suara kita.""Kau yang memilih ruangan ini," balas Leo datar. Pria itu menyisipkan tubuhnya tepat di antara kedua paha Wulan.Jari Leo menekan titik meridian di sekitar panggul dan paha dalam Wulan. Manipulasi saraf itu menghasilkan gelombang panas yang merusak kendali motorik sang janda.Wulan menengadahkan wajahn
Maya meletakkan setumpuk map pasien ke atas meja kaca dengan bunyi bantingan keras. Janda kembang itu menatap Wulan dengan pandangan permusuhan yang tak disembunyikan.Kania masuk ke lobi puskesmas membawa daftar perlengkapan panggung. Gadis desa itu berhenti mematung melihat kedekatan posisi Wulan dengan bosnya."Tuan Leo harus menghadiri gladi bersih festival desa nanti malam," sela Kania dengan nada tidak terima.Wulan melirik Kania sekilas dari balik bulu matanya yang lentik. Janda kota itu sama sekali tidak menganggap asisten medis tersebut sebagai ancaman."Balai desa adalah lokasi gladi bersih kalian, bukan?" balas Wulan santai. "Kebetulan sekali. Ruang gantinya kedap suara dan cocok untuk relaksasi otot."Leo mengangkat tangan kanannya ke udara, menghentikan protes Kania yang baru akan keluar dari mulutnya."Jam delapan malam. Siapkan dokumen kontraknya," putus Leo mutlak. Pria itu berbalik arah dan kembali masuk ke ruang VIP-nya tanpa basa-basi.Wulan tersenyum menang melihat
Jari telunjuk pria berjas abu-abu itu menekan pelatuk logam. Tangan kiri Leo melesat memukul sisi luar pergelangan tangan pria tersebut.Bunyi retakan tulang terdengar sangat keras. Pistol laras pendek itu terlempar ke lantai keramik dan membuang tembakan pelurunya ke arah plafon.Serpihan semen berjatuhan menimpa meja resepsionis. "Ugh!" erang pria berjas itu memegangi tangannya yang patah.Leo memutar tubuhnya secara berurutan. Ujung sepatu kulitnya menendang lutut kiri pria itu hingga melengkung ke arah sebaliknya.Pria itu langsung ambruk tanpa bisa berteriak. Dua rekannya membeku melihat kecepatan serangan sang dokter desa."Bawa kembali sampah ini ke ibu kota," perintah Leo datar menunjuk pasien bersimbah darah di lantai. "Beri tahu bos kalian bahwa aturan kota tidak berlaku di sini."Kedua pria itu gemetar ketakutan. Mereka segera menyeret rekan mereka dan tubuh pasien itu keluar dari lobi puskesmas tanpa berani membalas.Leo mengambil pistol yang terjatuh di lantai. Ia membong
Mata Leo tidak berkedip menatap sumber cahaya senter itu. Tangan kanannya menekan kepala Maya agar tetap bersembunyi di bawah permukaan air."Matikan senter itu, Pak RT," perintah Leo mutlak. Suara baritonnya menembus celah anyaman bambu dengan sangat jelas.Sinar senter itu langsung mati seketika. Terdengar suara langkah kaki tersandung batu akibat kepanikan mendadak dari luar pagar."Maaf, Dokter Leo! Kami tidak tahu Anda sedang berendam," seru Pak RT gelagapan. "Ayo cepat pergi dari sini!"Suara derap sepatu bot menjauh menuruni lereng bukit. Keheningan kembali menguasai area pemandian VIP tersebut.Maya mengangkat kepalanya dari dalam genangan belerang. Ia meraup oksigen sebanyak mungkin dengan dada bergerak naik turun dengan cepat."Mereka sudah pergi," lapor Kania bersandar lega ke dinding batu alam.Leo mengangkat tubuh Maya dari pangkuannya. Pria itu menyandarkan lengannya kembali ke tepi kolam tanpa mengubah ekspresi wajahnya.Pintu anyaman bambu tiba-tiba bergeser terbuka. N
Tangan kiri Leo menarik pinggul Kania merapat melintasi air. Permukaan air belerang meluap membasahi bebatuan pinggir kolam akibat gerakan tersebut."Pelajaran pertama dimulai malam ini," ucap Leo datar.Pria itu menekan bahu gadis desa tersebut ke bawah. Kania memejamkan matanya rapat saat tubuhnya merosot menempati pangkuan sang dokter dalam satu sentakan presisi.Kania meremas sisi kolam batu menahan sentakan pertama. Tubuhnya belum terbiasa menerima ritme cepat dari sang pria di dalam air.Maya menahan napasnya melihat putrinya ditaklukkan tepat di depan mata. Tangan kanan Leo melesat merengkuh tengkuk janda kembang itu."Tugasmu menahan suaranya, Ibu," perintah Leo menatap mata Maya.Maya memajukan wajahnya tanpa ragu. Ia mencium bibir putrinya rapat-rapat untuk meredam erangan Kania yang nyaris meledak.Pergumulan tanpa suara terjadi di tengah kolam batu. Hembusan napas ketiga orang itu memburu cepat di tengah kepulan uap panas.Leo mendominasi ritme permainan seutuhnya. Otot pe







