Mag-log inTumpukan uang kertas seratus ribuan tersusun rapi di atas meja kayu panjang.Gendang kulit ditabuh bertalu-talu mengiringi sorakan ratusan penonton di sekeliling lapangan desa. Siang itu, festival panen tahunan memasuki puncak acaranya."Hadiah utama lomba halang rintang ini senilai sepuluh juta rupiah!" teriak kepala panitia melalui pelantang suara raksasa di sudut lapangan.Jaya mengikat tali sepatu kanvasnya dengan tangan bergetar.Pria itu berdiri bertumpu pada satu kaki. Gips putih yang membalut betis kirinya telah dibongkar paksa secara sepihak pagi ini menggunakan gergaji kayu.Sebuah tongkat bambu pendek menopang sisi kiri tubuhnya."Kang, kumohon jangan ikut lomba ini," pinta Nida menahan lengan suaminya.Keringat membasahi dahi wanita itu. Wajah Nida terlihat sangat cemas."Tulang kakimu belum menyatu sempurna."Jaya menepis pelan tangan istrinya."Aku harus membuktikan bahwa aku masih bisa menafkahimu, Nida," tolak Jaya dengan rahang mengeras. "Kita butuh uang ini untuk men
Jarum jam dinding kuningan di ruang kerja VIP menunjuk tepat ke angka empat sore.Suara ketukan buku jari beradu dengan panel pintu kayu memecah keheningan."Masuk!" perintah Leo meletakkan pena peraknya ke atas meja kaca.Gagang pintu berputar ke bawah secara perlahan. Nida melangkah masuk ke dalam ruangan.Wanita itu menutup kembali pintu di belakangnya tanpa menimbulkan bunyi bantingan.Pakaian yang ia kenakan masih rok panjang cokelat dan blus pudar yang sama sejak pagi."Duduk," tawar Leo menunjuk kursi tamu berlapis kulit hitam di seberang mejanya."Saya akan berdiri saja, Dokter," tolak Nida menghentikan langkahnya tepat dua meter di depan meja kerja.Posisi tubuhnya berdiri tegak. Kedua tangannya bertaut rapat di depan perut.Leo menyandarkan punggungnya ke kursi. Matanya memindai postur pertahanan sang guru honorer itu."Kau meninggalkan ikan asin belanjamu di tengah jalan berlumpur," observasi Leo tanpa basa-basi."Ikan itu sudah kotor. Suami saya tidak akan memakan sesuatu
Pisau daging menghantam talenan kayu berulang kali. Suara tulang ikan yang terpotong bergema di lorong pasar desa.Percikan air amis membasahi ujung celemek plastik pedagang. Bau anyir darah ikan bercampur dengan aroma lumpur pagi memenuhi udara.Nida meletakkan selembar uang sepuluh ribuan yang terlipat rapi ke atas meja lapak. Wanita itu mengambil sekantong plastik hitam kecil berisi ikan asin dan seikat bayam layu."Pagi ini belanjaanmu lumayan mewah, Nida," sindir sebuah suara sumbang dari arah belakang punggungnya.Nida memutar tubuhnya perlahan. Tiga wanita paruh baya berdiri sejajar menghalangi jalan setapak pasar yang becek.Mereka adalah kelompok ibu-ibu yang sering memonopoli area pasar. Pemimpinnya bernama Parti, seorang rentenir panci yang memiliki reputasi buruk di desa."Hanya ikan asin biasa untuk lauk Kang Jaya, Bi Parti," jawab Nida menundukkan kepala.Ia bermaksud melangkah ke sisi kiri untuk melewati mereka.Dua wanita di belakang Parti segera menggeser posisi. Mere
Gelas kaca berisi kopi hitam diletakkan pelan ke atas meja kayu. Maya berdiri di samping kursi kerja Leo sambil membawa nampan kosong."Nida sudah mulai bekerja membersihkan ruangan ini tadi pagi, Tuan," lapor Maya merapikan tumpukan dokumen medis.Janda kembang itu menatap ragu ke arah sang dokter. Ia menggigit bibir bawahnya sebelum melanjutkan kalimatnya."Saya tahu Anda memiliki ketertarikan padanya," ucap Maya melangkah mundur."Wanita itu berbeda dari kami semua. Dia memegang prinsip kesucian yang tidak bisa ditembus oleh uang atau kekuasaan."Leo menyesap kopi hitamnya dalam satu tarikan napas. Pria itu meletakkan kembali gelasnya ke atas meja tanpa suara."Karakter manusia dibentuk oleh batas toleransi tekanan fisik mereka," balas Leo menyandarkan punggungnya."Aku akan menguji batas toleransi itu sore ini."Sepatu pantofel Leo menginjak tanah basah di pekarangan sebuah rumah sederhana. Dinding bilik bambu bangunan itu tampak miring ke arah kanan.Jam di pergelangan tangan Leo
Jari tangan Nida mencengkeram erat pinggiran meja nakas. Buku jarinya memutih menahan emosi."Tiga ribu rupiah tidak akan cukup untuk menutupi biaya makan kami," tolak Nida menatap tajam pria paruh baya itu. "Apalagi untuk membayar tagihan obat-obatan suamiku."Karta mengangkat bahunya acuh tak acuh. Ia menutup buku catatan hitamnya dengan satu bantingan pelan."Itu harga standar untuk gabah berpenyakit, Nida.""Ambil uang tunai ini sekarang, atau kau membiarkan gabahmu membusuk di lumbung reyotmu," ancam sang tengkulak beras.Jaya mencoba bangkit dari bantalnya. Wajah pria itu memucat menahan nyeri dari kaki kirinya."Kami akan mencari pembeli lain, Pak Karta. Silakan keluar dari ruangan ini," usir Jaya dengan suara parau."Silakan saja mencari pembeli lain.""Tapi ingat, semua truk ekspedisi di kecamatan ini berada di bawah kendaliku," cibir Karta berbalik menuju pintu.Tengkulak tua itu memutar knop pintu."Tidak ada satu pun sopir yang berani mengangkut gabah kalian keluar dari pe
Nida melepas pelukannya dari tubuh Jaya secara perlahan. Wanita itu mengusap sisa air mata di pipinya menggunakan punggung tangan.Ia berdiri tegak menatap lurus ke arah Leo yang masih memegang kain kasa berdarah."Terima kasih atas pertolongan pertama Anda, Dokter," ucap Nida menundukkan kepalanya sedikit.Nada suaranya terdengar sangat formal. Jarak tubuhnya tertahan dua meter dari posisi Leo berdiri.Leo membuang kain kasa kotor itu ke sudut ruangan. Pria itu mengunci pandangannya pada sepasang bola mata cokelat terang milik Nida.Tidak ada percikan ketertarikan di sana. Hanya ada rasa hormat dari seorang warga kepada petugas medis."Arterinya sudah tersambung," lapor Leo melipat pisau bedahnya. "Tapi tulang tibia dan fibulanya hancur. Dia butuh pemasangan pen platina secepatnya."Nida menelan ludah. Tangannya meremas kuat ujung rok cokelatnya yang basah oleh air hujan."Berapa biaya untuk operasi pemasangan platina tersebut?" tanya Nida tanpa mengalihkan pandangannya."Bawa dia ke