Home / Male Adult / Rayuan Desa Wanita / Riak Air yang Tertahan

Share

Riak Air yang Tertahan

Author: Falisha Ashia
last update publish date: 2026-05-21 10:47:57

Mata Leo tidak berkedip menatap sumber cahaya senter itu. Tangan kanannya menekan kepala Maya agar tetap bersembunyi di bawah permukaan air.

"Matikan senter itu, Pak RT," perintah Leo mutlak. Suara baritonnya menembus celah anyaman bambu dengan sangat jelas.

Sinar senter itu langsung mati seketika. Terdengar suara langkah kaki tersandung batu akibat kepanikan mendadak dari luar pagar.

"Maaf, Dokter Leo! Kami tidak tahu Anda sedang berendam," seru Pak RT gelagapan. "Ayo cepat pergi dari sini!"

S
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Rayuan Desa Wanita   Kedatangan Penguasa Jalur Logistik

    Jari telunjuk pria berjas abu-abu itu menekan pelatuk logam. Tangan kiri Leo melesat memukul sisi luar pergelangan tangan pria tersebut.Bunyi retakan tulang terdengar sangat keras. Pistol laras pendek itu terlempar ke lantai keramik dan membuang tembakan pelurunya ke arah plafon.Serpihan semen berjatuhan menimpa meja resepsionis. "Ugh!" erang pria berjas itu memegangi tangannya yang patah.Leo memutar tubuhnya secara berurutan. Ujung sepatu kulitnya menendang lutut kiri pria itu hingga melengkung ke arah sebaliknya.Pria itu langsung ambruk tanpa bisa berteriak. Dua rekannya membeku melihat kecepatan serangan sang dokter desa."Bawa kembali sampah ini ke ibu kota," perintah Leo datar menunjuk pasien bersimbah darah di lantai. "Beri tahu bos kalian bahwa aturan kota tidak berlaku di sini."Kedua pria itu gemetar ketakutan. Mereka segera menyeret rekan mereka dan tubuh pasien itu keluar dari lobi puskesmas tanpa berani membalas.Leo mengambil pistol yang terjatuh di lantai. Ia membong

  • Rayuan Desa Wanita   Riak Air yang Tertahan

    Mata Leo tidak berkedip menatap sumber cahaya senter itu. Tangan kanannya menekan kepala Maya agar tetap bersembunyi di bawah permukaan air."Matikan senter itu, Pak RT," perintah Leo mutlak. Suara baritonnya menembus celah anyaman bambu dengan sangat jelas.Sinar senter itu langsung mati seketika. Terdengar suara langkah kaki tersandung batu akibat kepanikan mendadak dari luar pagar."Maaf, Dokter Leo! Kami tidak tahu Anda sedang berendam," seru Pak RT gelagapan. "Ayo cepat pergi dari sini!"Suara derap sepatu bot menjauh menuruni lereng bukit. Keheningan kembali menguasai area pemandian VIP tersebut.Maya mengangkat kepalanya dari dalam genangan belerang. Ia meraup oksigen sebanyak mungkin dengan dada bergerak naik turun dengan cepat."Mereka sudah pergi," lapor Kania bersandar lega ke dinding batu alam.Leo mengangkat tubuh Maya dari pangkuannya. Pria itu menyandarkan lengannya kembali ke tepi kolam tanpa mengubah ekspresi wajahnya.Pintu anyaman bambu tiba-tiba bergeser terbuka. N

  • Rayuan Desa Wanita   Hampir Saja

    Tangan kiri Leo menarik pinggul Kania merapat melintasi air. Permukaan air belerang meluap membasahi bebatuan pinggir kolam akibat gerakan tersebut."Pelajaran pertama dimulai malam ini," ucap Leo datar.Pria itu menekan bahu gadis desa tersebut ke bawah. Kania memejamkan matanya rapat saat tubuhnya merosot menempati pangkuan sang dokter dalam satu sentakan presisi.Kania meremas sisi kolam batu menahan sentakan pertama. Tubuhnya belum terbiasa menerima ritme cepat dari sang pria di dalam air.Maya menahan napasnya melihat putrinya ditaklukkan tepat di depan mata. Tangan kanan Leo melesat merengkuh tengkuk janda kembang itu."Tugasmu menahan suaranya, Ibu," perintah Leo menatap mata Maya.Maya memajukan wajahnya tanpa ragu. Ia mencium bibir putrinya rapat-rapat untuk meredam erangan Kania yang nyaris meledak.Pergumulan tanpa suara terjadi di tengah kolam batu. Hembusan napas ketiga orang itu memburu cepat di tengah kepulan uap panas.Leo mendominasi ritme permainan seutuhnya. Otot pe

  • Rayuan Desa Wanita   Mandi Bertiga

    Uap putih tebal mengepul dari permukaan air kolam batu. Suhu dingin malam di perbukitan menusuk kulit, namun air belerang itu memancarkan kehangatan yang kontras.Leo berendam santai bersandar pada dinding batu alam. Otot lengan dan dadanya yang keras terekspos di atas permukaan air.Lampu petromaks yang digantung di tiang bambu memberikan penerangan remang. Pintu anyaman bambu di sudut pemandian terbuka perlahan dengan bunyi gesekan pelan.Maya dan Kania melangkah masuk beriringan. Keduanya mengenakan jubah mandi handuk berwarna putih tebal yang panjangnya hanya mencapai pertengahan paha."Tutup pintunya," perintah Leo memecah keheningan.Maya berbalik dan menggeser pintu anyaman bambu itu hingga tertutup rapat. Tangannya sedikit gemetar menyentuh pengunci kayu.Kania berdiri kaku memeluk handuk kecil di depan dadanya. Gadis itu menundukkan wajahnya, menghindari tatapan langsung dari Leo."Turun ke kolam sekarang," ucap Leo datar. Matanya menatap kedua wanita itu tanpa berkedip.Maya

  • Rayuan Desa Wanita   Proyek Rahasia di Lereng Bukit

    Leo melangkah melewati bingkai pintu ruang VIP. Pak Joko menyalakan senter, menyorot jalan setapak menuju bukit di belakang puskesmas."Tunjukkan lokasinya," perintah Leo menuruni anak tangga semen.Mereka berjalan menembus kegelapan kebun teh. Suara gesekan daun terdengar saat sepatu bot Pak Joko membuka jalan.Suhu merosot tajam menyentuh kulit. Uap putih mengepul dari balik celah tebing batu setinggi lima meter di depan mereka.Pak Joko mengarahkan sinar senternya ke dasar tebing. Air mendidih keluar dari retakan batu, membentuk genangan alami."Debit airnya sangat stabil, Tuan Leo," lapor Pak Joko menunjuk kubangan itu. "Suhunya pas untuk merebus telur matang."Leo berjongkok di pinggir genangan. Ia mencelupkan dua jarinya ke dalam air panas tersebut.Kandungan belerang murni menyengat penciumannya. Mineral alami ini sangat bagus untuk memulihkan jaringan saraf yang rusak."Berapa banyak pekerja bangunan yang menganggur di desa minggu ini?" tanya Leo berdiri menepuk tangannya."Ad

  • Rayuan Desa Wanita   Penaklukan Nona Kota

    Cahaya senter menyapu permukaan ubin hingga menyentuh botol kaca kecil itu. Leo menggeser ujung sepatunya ke belakang.Gerakan kakinya tersembunyi sempurna di balik tumpukan kardus infus. Ayu menunduk dan mengambil botol itu dari lantai."Ini botolnya, Nyonya," kata Ayu. "Mari kita keluar dari ruangan ini."Suara ketukan hak tinggi Nadia menjauh menuju pintu keluar. Pintu gudang farmasi tertutup rapat diiringi bunyi klik logam.Leo melepaskan bekapannya dari mulut Kania santai. Gadis itu merosot jatuh ke lantai sambil meraup oksigen."Bereskan pakaianmu dan kembali bekerja," perintah Leo mutlak. Pria itu merapikan kemejanya dan berjalan keluar meninggalkan Kania.Lampu taman puskesmas menyala serentak. Malam telah tiba membawa udara dingin ke kawasan perkebunan.Leo duduk santai di kursi kulit ruang kerja VIP-nya. Tangannya memegang catatan laporan stok obat harian.Suara ketukan pelan terdengar dari daun pintu kayunya. Pintu itu terbuka perlahan tanpa menunggu izin dari Leo.Nadia me

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status