Home / Male Adult / Rayuan Desa Wanita / Negosiasi Kepala Desa

Share

Negosiasi Kepala Desa

Author: Falisha Ashia
last update publish date: 2026-04-22 19:56:46

Matahari pagi baru saja menghangatkan embun di dedaunan teh, namun suhu di teras rumah kayu Maya mendadak terasa mendidih. Leonardo Xaverius duduk dengan tenang di kursi rotannya, meletakkan cangkir kopi hitamnya secara perlahan.

Sepasang mata elangnya menatap tajam ke arah dua tamu tak diundang yang kini berdiri di ujung tangga teras.

Kepala Desa, seorang pria paruh baya bernama Tirto, tersenyum lebar dengan perut buncit yang menyembul dari balik kemeja safarinya. Namun, fokus Leo, dan fokus p
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Rayuan Desa Wanita   Mafia Pupuk Oplosan

    Bab 157 Mafia Pupuk OplosanTangan kapalan Jaya meremas batang padi yang menghitam pekat.Pria itu mencabut tanaman tersebut dari akarnya dengan mudah. Bau busuk menyengat langsung menusuk rongga hidung."Semuanya mati," gumam Jaya dengan tatapan kosong.Nida berdiri mematung di pematang sawah sore itu. Angin meniup pelan ujung rok panjangnya yang terkena cipratan lumpur.Hamparan padi yang seharusnya menguning kini berubah menjadi deretan batang layu berlendir. Tidak ada satu pun bulir panen yang bisa diselamatkan."Apa yang terjadi pada petak sawah kita, Kang?" tanya Nida melangkah turun mendekati suaminya.Jaya menundukkan kepalanya dalam-dalam. Pria itu menunjuk sebuah karung putih kotor berlogo kuda merah di tepi parit."Pupuk cair yang kubeli dua hari lalu," jawab Jaya dengan suara bergetar."Cairan itu membakar akar tanaman kita dari dalam hanya dalam waktu empat puluh delapan jam."Nida berjalan mendekati karung tersebut. Ia berjongkok dan memeriksa sisa cairan kental berbau

  • Rayuan Desa Wanita   Jarak yang Menyiksa

    Kain lap basah bergesekan dengan meja kaca ruang istirahat. Nida membersihkan debu mikroskopis menggunakan gerakan tangan kaku.Nida merapatkan kerah blusnya. Otaknya menyusun kalimat penolakan jika pria itu mencoba merebut harga dirinya sore ini.Leo melangkah masuk membawa papan catatan medis."Saya sudah mengepel seluruh lantai ruangan ini, Dokter," lapor Nida menundukkan pandangannya.Otot bahunya menegang bersiap menerima konfrontasi.Leo berjalan melewati posisi Nida seolah wanita itu tidak kasat mata.Leo meletakkan catatannya dan mengambil buku bersampul kulit hitam dari rak."Pastikan jendela arah timur tertutup sebelum kau pulang," instruksi Leo bernada sangat datar.Pria itu segera berbalik dan melangkah keluar ruangan tanpa melirik Nida sedikit pun.Pintu kayu tertutup rapat kembali. Nida berdiri mematung memegang kain lap basahnya.Pria itu sama sekali tidak menagih janjinya atau mencoba menyentuh kulitnya.Empat hari berlalu sejak Jaya mulai mengemudikan truk logistik he

  • Rayuan Desa Wanita   Beban Hutang Budi

    Sapu lidi di tangan Jaya mengumpulkan sisa daun bambu kering ke sudut pelataran puskesmas.Pria itu mengayunkan tangannya dengan tenaga penuh. Kaki kirinya menopang tubuhnya secara sempurna tanpa sedikit pun rasa nyeri.Jam dinding di lobi baru saja menunjuk angka tiga sore.Leo melangkah keluar dari pintu kaca otomatis. Pria itu mengancingkan jas putih dokternya dengan gerakan konstan."Kau tidak perlu menjadi penyapu jalanan di fasilitas medisku, Jaya," tegur Leo berhenti di pelataran.Jaya segera meletakkan sapu lidinya. Pria itu menundukkan kepalanya dalam-dalam."Saya merasa sangat tidak berguna, Dokter," ucap Jaya dengan suara serak."Operasi saraf itu bernilai puluhan juta. Saya tidak bisa tenang jika hanya membayar menggunakan tenaga menyapu halaman."Nida baru saja keluar dari ruang logistik membawa ember plastik kosong. Langkah wanita itu terhenti mendengar percakapan suaminya."Berikan saya pekerjaan yang layak, Dokter Leo. Pekerjaan berat apa pun akan saya lakukan demi mel

  • Rayuan Desa Wanita   Benih Godaan yang Tertanam

    Sepatu bot karet usang milik Jaya menginjak lantai keramik ruang rawat VIP.Pria itu menekan telapak kaki kirinya ke bawah dengan sangat hati-hati."Tulangku sama sekali tidak terasa ngilu," ucap Jaya melangkah maju satu tindak."Bahkan otot pangkal pahaku yang robek kemarin siang terasa sangat rapat."Ia berjalan mengelilingi ranjang medis baja itu tanpa menggunakan tongkat bambunya lagi.Jaya menendang udara kosong di depan meja nakas untuk menguji refleks kakinya.Nida berdiri di sudut ruangan. Wanita itu memasukkan pakaian kotor mereka ke dalam tas kain kanvas.Ia menatap pergerakan suaminya dengan kantung mata yang sedikit menghitam akibat kurang tidur."Jangan memaksakan diri berlari dulu, Kang," tegur Nida menutup resleting tasnya."Otot betismu baru saja dibedah semalam," tambahnya mengingatkan.Jaya tertawa pelan. Ia meninju paha kirinya sendiri untuk membuktikan stabilitas kakinya."Dokter Leo memang tidak punya tandingan," puji Jaya dengan nada polos."Aku merasa jauh lebih

  • Rayuan Desa Wanita   Pengorbanan Sang Martir

    Pintu kayu berpelitur gelap di ruang istirahat pribadi lantai dua terbuka pelan. Jarum jam dinding menunjuk angka sebelas malam.Nida melangkah masuk menembus keremangan lampu tidur berwarna kuning. Rok cokelatnya masih menyisakan noda darah kering peninggalan insiden siang tadi.Leo duduk menyandar pada sandaran ranjang berukuran besar. Pria itu baru saja melepaskan kancing teratas kemeja katun hitamnya.Matanya memindai postur tubuh wanita yang berdiri tiga meter di depannya dengan kalkulasi tajam.Wajah Nida sepucat kertas. Air mata mengalir menuruni pipinya dalam keheningan absolut.Tidak ada isakan yang keluar dari kerongkongannya."Kau sudah mengambil keputusan medis untuk suamimu," observasi Leo tanpa mengubah posisi duduknya.Nida mengangguk pelan. Langkah kakinya bergerak maju mendekati sisi pinggiran ranjang.Ujung jari wanita itu bergetar saat menyentuh kancing pertama blus kusam yang dia kenakan.Benda bulat kecil itu terlepas dari lubangnya. Kulit leher Nida yang jenjang

  • Rayuan Desa Wanita   Runtuhnya Sang Tulang Punggung

    Tubuh Jaya menghantam tanah lapangan dengan bunyi berdebum kasar.Debu merah mengepul di sekitar kepalanya yang terkulai lemas. Amplop cokelat berisi uang sepuluh juta itu terlepas dari genggamannya, jatuh menutupi genangan darah segar.Sorakan penonton terhenti secara mendadak. Keriuhan festival berubah menjadi keheningan absolut yang mencekam."Kang Jaya!" jerit Nida merobek kesunyian siang itu.Wanita itu menjatuhkan lututnya ke atas tanah berdebu. Tangan Nida yang gemetar hebat mencoba menopang kepala suaminya.Darah merah pekat terus mengalir dari sudut bibir Jaya, membasahi kerah kemeja lusuhnya."Tolong! Tolong panggil dokter!" teriak Nida menatap panik ke arah kerumunan warga yang mematung.Leo melangkah membelah kerumunan penonton. Sepatu pantofelnya menapaki tanah lapangan dengan ritme yang sangat konstan, tanpa sedikit pun indikasi kepanikan.Pria itu berjongkok di sebelah tubuh Jaya yang mengejang.Tangan kiri Leo merobek jahitan sisa celana kain pria itu. Matanya memindai

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status