Home / Male Adult / Rayuan Desa Wanita / Jeritan di Pagi Buta

Share

Jeritan di Pagi Buta

Author: Falisha Ashia
last update publish date: 2026-06-22 14:40:28

Gagang kunci inggris berbahan baja itu menghantam meja resepsionis kaca dengan keras.

Retakan panjang terbentuk seketika membelah permukaan kaca tebal tersebut.

"Mana dokter sombong itu?!" bentak Sarah mengabaikan pecahan kaca yang berserakan.

Montir wanita itu berdiri di tengah lobi puskesmas dengan pakaian mekanik yang masih dipenuhi noda oli. Wajah tomboinya merah padam menahan amarah.

Bidan Ayu melangkah mundur berlindung di balik rak rekam medis dengan wajah pucat.

Pintu ruang VIP lantai d
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Rayuan Desa Wanita   Runtuhnya Loyalitas Sang Dokter

    Pintu kaca buram itu hancur berkeping-keping menerima hantaman bahu sang penjaga.Pecahan kaca berhamburan ke atas lantai keramik laboratorium. Anjing herder langsung melompat masuk mengendus kegelapan.Leo berdiri tegak menyembunyikan Widya di balik punggung lebar jas kulit hitamnya.Pria itu mengeluarkan sebotol alkohol medis kadar tinggi dari saku dan melemparkannya tepat ke lantai di depan moncong anjing tersebut.Prang!Botol kaca itu pecah menyebarkan uap alkohol pekat yang seketika membutakan indra penciuman sensitif hewan pelacak.Anjing herder itu melolong kesakitan sambil menggosokkan hidungnya ke lantai, kehilangan kemampuan melacak jejak.Broto melangkah masuk menyalakan senter besarnya. Sorot cahayanya menembus tirai plastik yang sudah terkoyak."Kau!" geram Broto mengenali postur Leo dari siang tadi. "Bagaimana kau bisa masuk ke sini?!""Pintu belakangmu tidak pernah dirancang untuk menghentikan ahli anatomi," jawab Leo santai.Sang juragan sapi mengarahkan senternya pad

  • Rayuan Desa Wanita   Terapi di Atas Meja Lab

    Jari tangan Widya bergetar parah saat menyentuh kancing jas putihnya.Wanita itu menarik napas panjang. Akal sehatnya menolak instruksi tersebut, namun rasa kebas yang menjalar di pergelangan tangannya menjadi bukti mutlak kematian sel jaringan ototnya.Kain bernoda lumpur itu jatuh ke atas permukaan meja bedah baja. Kemeja katun tipis yang ia kenakan menyusul terlepas dan menumpuk di sisi pinggiran logam.Wanita itu memeluk dadanya sendiri menyembunyikan pakaian dalamnya. Matanya menatap waspada ke arah pria berjas hitam di depannya."Turunkan tanganmu," instruksi Leo melangkah maju merapatkan posisinya ke sela lutut Widya. "Proses pembuangan racun ini tidak bisa terhalang kain apa pun."Widya menurut dengan napas tersengal. Kedua tangannya perlahan turun meremas erat pinggiran meja logam dingin tersebut.Permukaan baja anti karat itu bergesekan langsung dengan kulit belakang pahanya.Leo meletakkan telapak tangan kanannya tepat di atas pangkal bahu kanan Widya yang membengkak parah.

  • Rayuan Desa Wanita   Rahasia di Ruang Steril

    Ujung obeng minus mencongkel engsel jendela kaca nako di lantai dua bangunan laboratorium hewan.Logam tipis itu memutar sekrup karatan tanpa menimbulkan suara gesekan keras.Leo mendorong kaca jendela hingga terbuka selebar bahu.Pria itu melompat masuk ke dalam ruangan gelap tepat pada pukul sebelas malam. Sepatu pantofelnya mendarat mulus di atas lantai keramik putih tanpa menimbulkan gema.Deretan lemari pendingin berbahan stainless steel berdiri berjejer di sisi kiri ruangan. Sinar bulan menembus kaca jendela memberikan pencahayaan minim. Bau alkohol medis bercampur aroma pakan ternak menguasai ventilasi udara.Langkah kaki Leo mendekati lemari pendingin nomor tiga. Tangannya menarik tuas pintu yang hanya dikunci menggunakan kait mekanis sederhana.Puluhan botol kaca berisi cairan kekuningan tanpa label tersusun rapi di rak pendingin. Embun dingin menetes dari permukaan kaca tersebut."Dosis tinggi testosteron dan hormon pertumbuhan sintetik sapi," catat Leo mengambil dua botol k

  • Rayuan Desa Wanita   Algojo Pemotong Daging

    Palu godam baja seberat sepuluh kilogram itu melesat membelah udara pagi.Genggaman dua tangan sang algojo raksasa menyalurkan seluruh tenaga ototnya untuk menghancurkan sendi lutut target. Angin berdesir keras mengiringi lintasan senjata tumpul pematah tulang hewan tersebut.Leo tidak memundurkan kakinya untuk mencari jarak aman dari jangkauan palu. Pria itu justru melompat ringan satu langkah ke depan, masuk ke dalam area titik buta ayunan sang algojo.Tangan kiri Leo melesat menembus celah pertahanan lawan yang terbuka lebar saat sedang mengayunkan senjata berat.Empat ujung jari Leo menekan dengan kekuatan konstan menembus lapisan otot tebal di pergelangan tangan kanan algojo raksasa tersebut. Tekanan presisi itu menghantam langsung simpul saraf radialis yang mengendalikan fungsi motorik jari.Genggaman tangan kanan algojo itu merenggang seketika di luar kendali sadarnya.Kehilangan setengah titik tumpuan membuat ayunan palu godam itu melenceng jauh dari sasaran. Kepala baja palu

  • Rayuan Desa Wanita   Gerbang Baja Sang Juragan Sapi

    Ban bergerigi Jeep hitam berhenti tepat satu sentimeter di depan gerbang baja berkarat.Leo mematikan mesin kendaraannya dan mencabut kunci kontak.Pria itu melangkah turun menginjak kubangan lumpur bercampur kotoran sapi di pintu masuk Peternakan Lembu Putih.Papan reklame kayu berukuran besar terpampang miring di atas gerbang tersebut.Dua penjaga berbadan tegap langsung menyilangkan tongkat besi menghalangi langkah sang dokter."Buka gerbang ini sekarang juga," perintah Leo menatap lurus ke arah kedua penjaga tersebut."Juragan Broto tidak menerima tamu di jam perah pagi," tolak salah satu penjaga mendorong dada Leo.Leo tidak mengulangi perintahnya atau mundur.Tangan kanannya bergerak secepat kilat meraih persendian siku penjaga itu.Leo memberikan tarikan presisi yang mengunci saraf lengan lawannya hingga tongkat besi itu terlepas.Penjaga itu menjerit tertahan dan ambruk berlutut di atas lumpur.Leo mendorong panel gerbang baja tersebut menggunakan satu hentakan bahu hingga ter

  • Rayuan Desa Wanita   Jeritan di Pagi Buta

    Gagang kunci inggris berbahan baja itu menghantam meja resepsionis kaca dengan keras.Retakan panjang terbentuk seketika membelah permukaan kaca tebal tersebut."Mana dokter sombong itu?!" bentak Sarah mengabaikan pecahan kaca yang berserakan.Montir wanita itu berdiri di tengah lobi puskesmas dengan pakaian mekanik yang masih dipenuhi noda oli. Wajah tomboinya merah padam menahan amarah.Bidan Ayu melangkah mundur berlindung di balik rak rekam medis dengan wajah pucat.Pintu ruang VIP lantai dua terbuka. Leo melangkah keluar sambil memasang kancing kemeja linennya dengan tenang.Sepatu pantofelnya menuruni anak tangga tanpa ada nada ketergesaan sedikit pun."Kau merusak fasilitas medisku, Nona Montir," tegur Leo berhenti di bordes tangga terakhir.Sarah langsung menodongkan kunci inggrisnya lurus ke arah dada Leo."Anak buah Maman membakar bengkelku tiga jam yang lalu!" teriak Sarah dengan suara bergetar."Kau bilang kau yang akan menanggung semua kerusakan fisik jika mereka berani m

  • Rayuan Desa Wanita   Atap Kelas yang Runtuh

    "Putar kemudi ke arah jalur tanah merah," perintah Leo melipat laporan logistik di tangannya.Truk boks besar berlogo medis itu berbelok tajam. Ban bergerigi tebal menggilas aspal desa yang mulai tergenang air kecokelatan.Nyai Arum menginjak pedal gas secara konstan. Wanita yang kini menjadi asist

  • Rayuan Desa Wanita   Terapi Detoks di Balik Tirai Sajen

    Tangan kanan Leo memutar tubuh Nyai Arum menghadap tumpukan karung goni beras.Pria itu menekan pangkal leher wanita tersebut menggunakan ibu jari dan telunjuknya secara bersamaan.Nyai Arum mencoba meronta dalam pengaruh obat halusinasi. Kuku-kukunya menggores punggung tangan sang dokter secara

  • Rayuan Desa Wanita   Penculikan Sang Nyai

    Tangan kiri Leo bergerak vertikal menangkis serangan mendadak tersebut.Tulang lengannya berbenturan keras dengan batang kayu jati padat."Gerakanmu terlalu lambat untuk seorang pria yang mengaku dikuasai roh leluhur," ucap Leo.Pria itu memutar pergelangan tangannya dan merampas tongkat itu secara

  • Rayuan Desa Wanita   Kedatangan Ki Gede

    Ban Jeep hitam Leo bergesekan kasar dengan tanah berbatu di pelataran pasar desa. Pria itu mematikan mesin dan mencabut kunci kontak.Suhu panas matahari siang menembus atap kanvas kendaraannya.Sekar berlari mendekati pintu kemudi membawa sebuah ranting teh yang telah gundul."Ribuan ulat memakan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status