Accueil / Male Adult / Rayuan Desa Wanita / Pengabdian Sang Bunga Desa

Partager

Pengabdian Sang Bunga Desa

Auteur: Falisha Ashia
last update Date de publication: 2026-07-04 12:03:03

Ujung jari Nida menekan kain celana bahan milik Leo.

Leo mencengkeram kedua pergelangan tangan Nida.

Dia menghentikan pergerakan tangan wanita itu tanpa menggunakan tenaga berlebih.

"Kau melakukan ini karena putus asa," ucap Leo datar, memandang lurus ke mata wanita di depannya.

"Aku tidak menerima penyerahan diri dari wanita yang mencari pelarian sementara."

Nida menggeleng cepat.

Rambut hitam panjangnya tergerai menutupi sebagian bahunya.

"Saya sadar di mana tempat saya seharusnya," bantah Ni
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé

Dernier chapitre

  • Rayuan Desa Wanita   Reuni yang Hancur

    Ujung pena tinta hitam itu bergetar hebat di atas kertas bermaterai.Tono menekan ujung penanya, meninggalkan coretan tanda tangan yang tidak beraturan.Darah kotor menetes dari dagu pria paruh baya itu secara terus-menerus.Noda merah menetes membasahi bagian bawah dokumen pengalihan aset secara permanen.​Leo menarik kertas itu dari bawah tangan Tono yang mulai melemas tak berdaya."Kau sudah menepati bagian kesepakatanmu dengan sangat baik," ucap Leo melipat dokumen tersebut."Tolong aku, Dokter. Napasku mau putus," mohon Tono tersengal-sengal menahan perih."Aku selalu menepati janji pada rekan bisnis baruku," tanggap Leo.​Tangan kanan Leo mengeluarkan sebatang jarum perak dari kotak medis di sakunya.Dia menusukkan jarum itu menembus titik meridian paru-paru Tono dalam satu gerakan cepat.Tono tersentak keras, meraup udara dengan rakus ke dalam paru-parunya yang tersumbat.Rasa sakit di dadanya berkurang drastis, memberikan perpanjangan waktu sementara bagi organ vitalnya.​Suar

  • Rayuan Desa Wanita   Napas Tercekik

    Lengan pengeruk ekskavator itu meluncur turun mengincar pilar penyangga atap gudang seng.Kecepatan ayunannya menciptakan embusan angin yang meniup debu kapur di lantai beton.Leo menarik sebilah pisau bedah ortopedi dari saku dada kemejanya.Baja tebal berkualitas tinggi itu memantulkan kilat cahaya lampu sorot halogen.​Otot lengan kanan Leo berkontraksi maksimal dalam hitungan sepersekian detik.Dia melempar pisau bedah itu dengan presisi mematikan tepat ke arah pangkal persendian ekskavator.Bilah baja setajam silet itu menancap dalam menembus katup karet selang hidrolik utama mesin.Semburan cairan oli hidrolik bertekanan tinggi meledak keluar seperti air mancur hitam pekat.​Tekanan sistem mekanik mesin pengeruk itu anjlok seketika.Lengan besi seberat tonan itu kehilangan tenaga penopangnya di pertengahan udara.Logam raksasa itu jatuh menghantam lantai beton tepat di depan pintu masuk gudang dengan suara dentuman memekakkan telinga.Puing-puing lantai beton hancur berhamburan,

  • Rayuan Desa Wanita   Sang Geolog & Baja Berkarat

    Langkah sepatu Leo bergema di lantai beton gudang alat berat yang kotor tersebut.Dia tidak menghentikan langkahnya melihat formasi lima preman bersenjata tongkat bisbol.Tatapan matanya hanya tertuju pada rantai baja yang melilit pergelangan kaki Jaya.​"Berhenti di sana, Dokter Sombong!" bentak preman gempal berbekas luka bakar di leher.Pria itu mengangkat tongkat bisbol kayunya setinggi bahu."Satu langkah lagi, aku akan mematahkan tulang rusuk supirmu menjadi serpihan."​Leo mengabaikan ancaman murahan tersebut.Ujung jarinya menekan panel kontrol hidrolik darurat di sisi badan ekskavator.Tuas pengeruk besi itu bergerak turun perlahan hingga menyentuh lantai beton.Tubuh Jaya yang tergantung terbalik mendarat kasar menimbulkan erangan parau dari bibirnya.​Leo berjongkok membuka lilitan rantai baja yang mengunci kaki pria kurus itu."D-dokter Leo," rintih Jaya dengan mata setengah terbuka, menahan rasa sakit luar biasa."Mereka... mereka menjebakku di tikungan jurang."​"Simpan

  • Rayuan Desa Wanita   Titik Buta Sang Penjaga

    Seragam hijau Nida merosot jatuh ke atas lantai ubin yang basah oleh uap autoklaf.Permukaan kulit punggungnya terekspos langsung menyentuh rak stainless steel yang dingin.Nida menggigit telapak tangannya sendiri menahan suara guncangan dadanya."Katakan pada pasien, itu darah kambing dari pasar," perintah Leo dengan suara bariton menembus pelat pintu besi."Baik, Dokter Leo. Saya akan urus kekacauan di depan," balas Ayu terdengar menjauh.Langkah sepatu pantofel bidan itu memudar tertelan keributan ruang tunggu.Leo menatap bahu Nida yang bergetar pelan.Tangannya merapikan kembali pakaian dalam wanita itu dengan gerakan efisien."Pakai kembali seragammu," instruksi Leo menarik resleting punggung Nida ke atas."Tetap di ruangan ini sampai aku kembali membawa suamimu."Nida mengangguk cepat sambil mengancingkan kerah seragamnya dengan jemari gemetar."Jangan lakukan hal bodoh yang membahayakan nyawanya, Dokter," bisik Nida tertahan."Aku tidak pernah bertaruh untuk hal yang tidak pas

  • Rayuan Desa Wanita   Paket dari Bos Tambang

    Lampu neon di sepanjang lorong Puskesmas Elite berkedip menyala secara otomatis.Cahaya putihnya menyorot halaman depan aspal yang mulai digelayuti kegelapan malam.Sebuah mobil pikap kabin tunggal tanpa plat nomor melaju kencang menerobos gerbang besi yang terbuka.Mesin kendaraan bertenaga besar itu menderu kasar memecah rutinitas petang warga desa.Kaca samping sisi penumpang terbuka setengah menampilkan siluet tangan bertato.Sebuah benda bulat terbungkus karung goni kotor terlempar dari dalam kabin mobil.Benda itu menghantam lantai keramik teras dengan suara debum yang berat.Pikap tersebut langsung memutar kemudi secara paksa menuju jalan keluar.Ban karet kasarnya berdecit bergesekan dengan aspal meninggalkan jejak hitam pekat sebelum menghilang ke arah jalan provinsi.Mobil dobel kabin hitam milik Leo mengerem tajam tepat di belakang jejak ban yang tertinggal.Leo menendang pintu kemudi hingga terbuka dan melangkah turun.Sepatu pantofelnya menapak lantai teras mendekati karu

  • Rayuan Desa Wanita   Forensik di Dasar Jurang

    Pita kuning garis polisi membentang membelah aspal jalan provinsi yang berdebu.Sepatu pantofel Leo menginjak rerumputan basah di tepi tebing curam.Matanya menatap lurus ke dasar jurang sedalam tiga puluh meter di bawahnya."Ruang kemudi hancur total tergencet batang pohon pinus," lapor Kepala Polisi Perbatasan berdiri di samping Leo.Pria berseragam cokelat itu menunjuk bangkai truk boks berlogo logistik herbal desa yang ringsek."Kami menduga pengemudimu kehilangan kendali akibat rem blong."Leo menyalakan senter taktis dari saku celana kargonya.Sorot lampu menembus kegelapan dasar tebing yang tertutup bayangan rimbun pepohonan."Di mana jasad pengemudiku?" tanya Leo datar."Arus sungai di bawah sana sangat deras," jelas sang polisi."Anggota kami meyakini tubuh Jaya terlempar dari kaca dan terseret arus."Leo mematikan senternya dan menyarungkan kembali benda itu."Kesimpulan yang cacat logika," tanggap Leo melangkah melewati pita kuning."Tunggu, Dokter Leo!" cegah polisi itu me

  • Rayuan Desa Wanita   Tumpukan Uang Di Dalam Tas

    Tawa arogan Kepala Desa Tirto masih menggema di udara pagi, berpadu dengan isak tangis keputusasaan puluhan ibu-ibu pemetik teh yang terduduk lemas di tanah."Tertawalah sepuasmu, Tirto," sebuah suara bariton yang sangat berat dan dingin tiba-tiba membelah kerumunan, menghentikan tawa sang Kades se

  • Rayuan Desa Wanita   Harga Yang Mencekik

    Langkah panjang sang dewa bedah menembus kabut tebal menjelang fajar. Udara dingin pegunungan sama sekali tidak mampu mendinginkan darahnya yang mendidih oleh antisipasi kemenangan.Setibanya di pekarangan rumah kayu, aroma kopi tubruk hitam langsung menyambut indra penciuman Leo, berpadu dengan wa

  • Rayuan Desa Wanita   Pijatan Dari Bidan Ayu

    Leo melepaskan kurungan tangannya dari dinding kayu, membiarkan Bidan Ayu kembali bernapas lega, meski dada gadis itu masih naik-turun dengan ritme yang sangat cepat.Senyum penuh kemenangan terukir samar di bibir sang dewa bedah melihat sepasang kaki gadis idealis itu masih gemetar tak berdaya."A

  • Rayuan Desa Wanita   Runtuhnya Gengsi Bidan Ayu

    Darah segar terus menyembur dari luka robek di paha petani paruh baya itu, mewarnai tanah kebun teh menjadi merah pekat. Bidan Ayu jatuh berlutut di lumpur, mengabaikan seragam putih kebanggaannya yang kini kotor berlumuran darah.Tangan gadis itu gemetar hebat saat menekan gumpalan kasa ke atas lu

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status