Home / Male Adult / Rayuan Desa Wanita / Atap Kelas yang Runtuh

Share

Atap Kelas yang Runtuh

Author: Falisha Ashia
last update publish date: 2026-06-08 14:45:26

"Putar kemudi ke arah jalur tanah merah," perintah Leo melipat laporan logistik di tangannya.

Truk boks besar berlogo medis itu berbelok tajam. Ban bergerigi tebal menggilas aspal desa yang mulai tergenang air kecokelatan.

Nyai Arum menginjak pedal gas secara konstan. Wanita yang kini menjadi asisten logistik itu mengenakan kemeja katun rapi, bertindak sangat patuh di sebelah sang dokter.

"Kita membawa seratus dus cairan infus dan obat antibiotik dari kota," lapor Nyai Arum menatap lurus ke dep
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Rayuan Desa Wanita   Tolakan Halus

    Nida melepas pelukannya dari tubuh Jaya secara perlahan. Wanita itu mengusap sisa air mata di pipinya menggunakan punggung tangan.Ia berdiri tegak menatap lurus ke arah Leo yang masih memegang kain kasa berdarah."Terima kasih atas pertolongan pertama Anda, Dokter," ucap Nida menundukkan kepalanya sedikit.Nada suaranya terdengar sangat formal. Jarak tubuhnya tertahan dua meter dari posisi Leo berdiri.Leo membuang kain kasa kotor itu ke sudut ruangan. Pria itu mengunci pandangannya pada sepasang bola mata cokelat terang milik Nida.Tidak ada percikan ketertarikan di sana. Hanya ada rasa hormat dari seorang warga kepada petugas medis."Arterinya sudah tersambung," lapor Leo melipat pisau bedahnya. "Tapi tulang tibia dan fibulanya hancur. Dia butuh pemasangan pen platina secepatnya."Nida menelan ludah. Tangannya meremas kuat ujung rok cokelatnya yang basah oleh air hujan."Berapa biaya untuk operasi pemasangan platina tersebut?" tanya Nida tanpa mengalihkan pandangannya."Bawa dia ke

  • Rayuan Desa Wanita   Atap Kelas yang Runtuh

    "Putar kemudi ke arah jalur tanah merah," perintah Leo melipat laporan logistik di tangannya.Truk boks besar berlogo medis itu berbelok tajam. Ban bergerigi tebal menggilas aspal desa yang mulai tergenang air kecokelatan.Nyai Arum menginjak pedal gas secara konstan. Wanita yang kini menjadi asisten logistik itu mengenakan kemeja katun rapi, bertindak sangat patuh di sebelah sang dokter."Kita membawa seratus dus cairan infus dan obat antibiotik dari kota," lapor Nyai Arum menatap lurus ke depan.Leo menurunkan sedikit kaca jendelanya. Suara rintik air siang itu perlahan mendominasi kabin truk."Jalanan ini melintasi area sekolah dasar tua. Kurangi kecepatanmu," instruksi Leo.Matanya menangkap siluet sebuah bangunan memanjang berdinding batako di sisi kiri jalan.Cat bangunan itu mengelupas parah. Kerangka atap kayunya melengkung tajam ke bawah menahan beban air hujan yang terus bertambah deras.Seorang pria bertelanjang dada sedang memanjat tangga bambu di sisi luar dinding kelas.

  • Rayuan Desa Wanita   Terapi Detoks di Balik Tirai Sajen

    Tangan kanan Leo memutar tubuh Nyai Arum menghadap tumpukan karung goni beras.Pria itu menekan pangkal leher wanita tersebut menggunakan ibu jari dan telunjuknya secara bersamaan.Nyai Arum mencoba meronta dalam pengaruh obat halusinasi. Kuku-kukunya menggores punggung tangan sang dokter secara acak akibat sistem sarafnya yang menolak intrusi fisik asing tersebut."Aku sedang mengunci jalur saraf sumsum tulang belakangmu," ucap Leo mengabaikan goresan berdarah di tangannya.Leo menekan tiga titik saraf detoksifikasi di pangkal leher dan tulang punggung wanita itu. Sengatan rasa panas langsung membakar pembuluh darah Nyai Arum detik itu juga. Mulut wanita itu terbuka lebar meraup pasokan oksigen di udara.Proses pembuangan racun memicu lonjakan suhu tubuh. Keringat dingin membanjiri dahi dan pelipis Nyai Arum menembus pori-pori kulitnya dengan kecepatan tinggi."Panas... badanku terasa direbus," keluh Nyai Arum menggeliat gelisah di atas tumpukan beras mentah.Gairah biologis ya

  • Rayuan Desa Wanita   Penculikan Sang Nyai

    Tangan kiri Leo bergerak vertikal menangkis serangan mendadak tersebut.Tulang lengannya berbenturan keras dengan batang kayu jati padat."Gerakanmu terlalu lambat untuk seorang pria yang mengaku dikuasai roh leluhur," ucap Leo.Pria itu memutar pergelangan tangannya dan merampas tongkat itu secara paksa.Ki Gede terhuyung ke depan kehilangan tumpuan utamanya.Leo menendang persendian lutut dukun tua itu hingga ia jatuh berlutut di atas tanah berdebu."Pria tua bangka ini memukul dokter kita!" teriak salah satu pemuda desa yang pro pada Leo.Warga desa menahan napas melihat tokoh spiritual itu ditumbangkan dalam hitungan detik.Leo melemparkan tongkat jati itu ke dekat kaki Sekar.Pria itu mengangkat jari telunjuk kanannya yang masih berlumuran cairan hijau."Hama ini tidak berasal dari kutukan," deklarasi Leo menatap kerumunan warga yang mematung. Lihat warna kental dan korosi pada lapisan luar kulit ulat ini."Sekar memungut sisa bangkai serangga dari atas tanah dan mengangkatnya ti

  • Rayuan Desa Wanita   Kedatangan Ki Gede

    Ban Jeep hitam Leo bergesekan kasar dengan tanah berbatu di pelataran pasar desa. Pria itu mematikan mesin dan mencabut kunci kontak.Suhu panas matahari siang menembus atap kanvas kendaraannya.Sekar berlari mendekati pintu kemudi membawa sebuah ranting teh yang telah gundul."Ribuan ulat memakan habis tunas daun di sektor barat dalam tiga jam terakhir," lapor Sekar menyodorkan ranting tersebut.Leo mengambil ranting itu dari tangan asistennya. Mata sang dokter memindai bangkai ulat gemuk berwarna hijau gelap yang menempel di ujung batang."Corak garis kuning di punggung ulat ini tidak lazim ditemukan di habitat dataran tinggi," observasi Leo.Ia memencet perut serangga itu menggunakan ibu jari dan telunjuknya hingga pecah. Cairan hijau kental menetes mengenai ujung sepatu pantofelnya."Warga mulai memanen paksa sisa daun yang ada. Mereka panik," tambah Sekar dengan napas tersengal mengatur ritme bicaranya."Ancaman gagal panen ini memicu kekacauan di semua sektor perkebunan."Suara

  • Rayuan Desa Wanita   Stempel Basah di Kolong Meja

    141Kancing piyama satin merah itu terlepas satu per satu dari lubangnya. Kain sutra mahal itu meluncur jatuh melewati bahu Laras hingga ke lantai.Leo menarik pergelangan tangan wanita itu tanpa membuang waktu. Pria itu menyeret tubuh Laras menyusuri lorong menuju ruang kerja pribadi Bowo.Pintu kayu jati berpelitur gelap ditendang terbuka. Leo melempar tubuh Laras ke atas meja kerja utama. Tumpukan map jatuh menghantam lantai."Buka kedua kakimu," perintah Leo melonggarkan kerah kemeja linennya.Laras menuruti instruksi itu dengan napas tersengal. Akal sehatnya telah menguap tergantikan keputusasaan untuk sembuh.Jari tangan kanan Leo mematuk lurus menekan simpul saraf sakral di pangkal paha wanita itu. Tekanan presisi tersebut menghantam langsung aliran darah yang tersumbat di panggul bawah Laras."Ah!" Laras memekik tertahan. Punggungnya melengkung ke atas membentuk busur yang tegang.Sensasi panas menyengat membakar jaringan ototnya. Rangsangan ekstrem itu memaksa kelenjar hormon

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status