FAZER LOGINPintu kayu berpelitur gelap di ruang istirahat pribadi lantai dua terbuka pelan. Jarum jam dinding menunjuk angka sebelas malam.Nida melangkah masuk menembus keremangan lampu tidur berwarna kuning. Rok cokelatnya masih menyisakan noda darah kering peninggalan insiden siang tadi.Leo duduk menyandar pada sandaran ranjang berukuran besar. Pria itu baru saja melepaskan kancing teratas kemeja katun hitamnya.Matanya memindai postur tubuh wanita yang berdiri tiga meter di depannya dengan kalkulasi tajam.Wajah Nida sepucat kertas. Air mata mengalir menuruni pipinya dalam keheningan absolut.Tidak ada isakan yang keluar dari kerongkongannya."Kau sudah mengambil keputusan medis untuk suamimu," observasi Leo tanpa mengubah posisi duduknya.Nida mengangguk pelan. Langkah kakinya bergerak maju mendekati sisi pinggiran ranjang.Ujung jari wanita itu bergetar saat menyentuh kancing pertama blus kusam yang dia kenakan.Benda bulat kecil itu terlepas dari lubangnya. Kulit leher Nida yang jenjang
Tubuh Jaya menghantam tanah lapangan dengan bunyi berdebum kasar.Debu merah mengepul di sekitar kepalanya yang terkulai lemas. Amplop cokelat berisi uang sepuluh juta itu terlepas dari genggamannya, jatuh menutupi genangan darah segar.Sorakan penonton terhenti secara mendadak. Keriuhan festival berubah menjadi keheningan absolut yang mencekam."Kang Jaya!" jerit Nida merobek kesunyian siang itu.Wanita itu menjatuhkan lututnya ke atas tanah berdebu. Tangan Nida yang gemetar hebat mencoba menopang kepala suaminya.Darah merah pekat terus mengalir dari sudut bibir Jaya, membasahi kerah kemeja lusuhnya."Tolong! Tolong panggil dokter!" teriak Nida menatap panik ke arah kerumunan warga yang mematung.Leo melangkah membelah kerumunan penonton. Sepatu pantofelnya menapaki tanah lapangan dengan ritme yang sangat konstan, tanpa sedikit pun indikasi kepanikan.Pria itu berjongkok di sebelah tubuh Jaya yang mengejang.Tangan kiri Leo merobek jahitan sisa celana kain pria itu. Matanya memindai
Tumpukan uang kertas seratus ribuan tersusun rapi di atas meja kayu panjang.Gendang kulit ditabuh bertalu-talu mengiringi sorakan ratusan penonton di sekeliling lapangan desa. Siang itu, festival panen tahunan memasuki puncak acaranya."Hadiah utama lomba halang rintang ini senilai sepuluh juta rupiah!" teriak kepala panitia melalui pelantang suara raksasa di sudut lapangan.Jaya mengikat tali sepatu kanvasnya dengan tangan bergetar.Pria itu berdiri bertumpu pada satu kaki. Gips putih yang membalut betis kirinya telah dibongkar paksa secara sepihak pagi ini menggunakan gergaji kayu.Sebuah tongkat bambu pendek menopang sisi kiri tubuhnya."Kang, kumohon jangan ikut lomba ini," pinta Nida menahan lengan suaminya.Keringat membasahi dahi wanita itu. Wajah Nida terlihat sangat cemas."Tulang kakimu belum menyatu sempurna."Jaya menepis pelan tangan istrinya."Aku harus membuktikan bahwa aku masih bisa menafkahimu, Nida," tolak Jaya dengan rahang mengeras. "Kita butuh uang ini untuk men
Jarum jam dinding kuningan di ruang kerja VIP menunjuk tepat ke angka empat sore.Suara ketukan buku jari beradu dengan panel pintu kayu memecah keheningan."Masuk!" perintah Leo meletakkan pena peraknya ke atas meja kaca.Gagang pintu berputar ke bawah secara perlahan. Nida melangkah masuk ke dalam ruangan.Wanita itu menutup kembali pintu di belakangnya tanpa menimbulkan bunyi bantingan.Pakaian yang ia kenakan masih rok panjang cokelat dan blus pudar yang sama sejak pagi."Duduk," tawar Leo menunjuk kursi tamu berlapis kulit hitam di seberang mejanya."Saya akan berdiri saja, Dokter," tolak Nida menghentikan langkahnya tepat dua meter di depan meja kerja.Posisi tubuhnya berdiri tegak. Kedua tangannya bertaut rapat di depan perut.Leo menyandarkan punggungnya ke kursi. Matanya memindai postur pertahanan sang guru honorer itu."Kau meninggalkan ikan asin belanjamu di tengah jalan berlumpur," observasi Leo tanpa basa-basi."Ikan itu sudah kotor. Suami saya tidak akan memakan sesuatu
Pisau daging menghantam talenan kayu berulang kali. Suara tulang ikan yang terpotong bergema di lorong pasar desa.Percikan air amis membasahi ujung celemek plastik pedagang. Bau anyir darah ikan bercampur dengan aroma lumpur pagi memenuhi udara.Nida meletakkan selembar uang sepuluh ribuan yang terlipat rapi ke atas meja lapak. Wanita itu mengambil sekantong plastik hitam kecil berisi ikan asin dan seikat bayam layu."Pagi ini belanjaanmu lumayan mewah, Nida," sindir sebuah suara sumbang dari arah belakang punggungnya.Nida memutar tubuhnya perlahan. Tiga wanita paruh baya berdiri sejajar menghalangi jalan setapak pasar yang becek.Mereka adalah kelompok ibu-ibu yang sering memonopoli area pasar. Pemimpinnya bernama Parti, seorang rentenir panci yang memiliki reputasi buruk di desa."Hanya ikan asin biasa untuk lauk Kang Jaya, Bi Parti," jawab Nida menundukkan kepala.Ia bermaksud melangkah ke sisi kiri untuk melewati mereka.Dua wanita di belakang Parti segera menggeser posisi. Mere
Gelas kaca berisi kopi hitam diletakkan pelan ke atas meja kayu. Maya berdiri di samping kursi kerja Leo sambil membawa nampan kosong."Nida sudah mulai bekerja membersihkan ruangan ini tadi pagi, Tuan," lapor Maya merapikan tumpukan dokumen medis.Janda kembang itu menatap ragu ke arah sang dokter. Ia menggigit bibir bawahnya sebelum melanjutkan kalimatnya."Saya tahu Anda memiliki ketertarikan padanya," ucap Maya melangkah mundur."Wanita itu berbeda dari kami semua. Dia memegang prinsip kesucian yang tidak bisa ditembus oleh uang atau kekuasaan."Leo menyesap kopi hitamnya dalam satu tarikan napas. Pria itu meletakkan kembali gelasnya ke atas meja tanpa suara."Karakter manusia dibentuk oleh batas toleransi tekanan fisik mereka," balas Leo menyandarkan punggungnya."Aku akan menguji batas toleransi itu sore ini."Sepatu pantofel Leo menginjak tanah basah di pekarangan sebuah rumah sederhana. Dinding bilik bambu bangunan itu tampak miring ke arah kanan.Jam di pergelangan tangan Leo