LOGINLangkah sepatu laras preman itu berderap menjauhi dinding tabung silo nomor empat.Suara kokangan peluru rakitan terdengar memudar menyisakan deru mesin pabrik dari kejauhan.Leo menarik kedua jarinya perlahan dari titik saraf bronkial di dada Farah."Mereka sudah bergerak menuju blok penampungan utara," lapor Leo menurunkan jas dokternya.Farah merosot lemas menghirup oksigen dengan ritme napas yang masih memburu.Wajah dingin sang ahli forensik memerah pekat menahan sisa guncangan hormon biologis di jaringan otaknya."T-terima kasih, Dokter," bisik Farah dengan suara serak membetulkan kancing kemejanya yang berantakan.Leo tidak membuang waktu menanggapi kepatuhan emosional dari wanita berwatak dingin tersebut.Pemuda itu memutar tubuhnya dan mengangkat kaki kanan setinggi engsel palka baja.Satu tendangan tumit presisi dilontarkan menghantam kunci mekanis pintu bawah silo tersebut.Brak!Pintu palka baja itu terlempar ke luar membentur aspal pabrik yang berdebu.Leo melangkah kelua
Rantai besi berbandul paku melayang setinggi bahu membelah udara pabrik yang berbau amonia pekat.Tiga preman bertato di barisan depan menyerang serentak mengincar dada, leher, dan kaki Leo."Hancurkan lututnya terlebih dahulu!" instruksi salah satu preman mengayunkan tongkat kayunya.Leo tidak membuang tenaga untuk menangkis benturan logam berat tersebut secara frontal.Sepatu pantofelnya menolak aspal, melontarkan tubuhnya melesat maju menyusup ke tengah formasi lawan layaknya hantu.Dua jari telunjuk dan tengah Leo menancap presisi pada titik saraf radialis di lengan preman pertama.Sinyal motorik yang mengendalikan telapak tangan pria itu terputus mutlak dalam hitungan milidetik.Rantai besi terlepas dari genggaman preman pertama, jatuh menghantam aspal berdebu.Leo memutar tumitnya menggunakan momentum putaran tubuh memotong jarak dengan preman kedua dan ketiga.Siku kanannya menghantam ulu hati, disusul totokan dua jari di lipatan siku preman yang membawa tongkat kayu."Aaaarg
Tabung oksigen portabel berbenturan keras dengan lantai keramik lorong Puskesmas Elite.Bidan Ayu mendorong ranjang dorong dengan napas tersengal membelah antrean pasien.Layar monitor medis di tangannya berkedip merah memancarkan bunyi peringatan darurat."Dua lansia tambahan baru saja kehilangan kesadaran di ruang tunggu depan, Dokter!" lapor Ayu panik.Wanita itu menarik masker oksigen dan memasangkannya ke wajah keriput seorang pasien pria.Leo melangkah keluar dari ruang kerjanya membawa stetoskop di leher kemeja linennya.Pria itu memeriksa pupil mata pasien dan mencium aroma tajam dari pakaian mereka."Bau amonia pekat bercampur sisa pembakaran klorin basah," observasi Leo datar."Pasien-pasien ini tidak mengalami wabah penyakit menular biasa.""Mereka keracunan partikel udara beracun dalam durasi lebih dari empat jam berturut-turut," jelas Leo menarik stetoskopnya.Jadwal sarapan pagi warga perbatasan barat hancur total oleh serangan gas kimia mematikan tersebut."Dari ma
Ujung sepatu bot preman itu berputar arah menjauhi pelat baja rongga turbin.Suara langkah kakinya perlahan meredup tenggelam oleh deru bising putaran mesin air raksasa di atas mereka.Leo melepaskan tekanan ibu jarinya dari ulu hati Amel secara perlahan."Mereka sudah bergerak menuju blok generator cadangan di sisi timur," lapor Leo datar menatap celah pelat.Amel melepaskan gigitannya dari kerah kemeja linen pria itu dengan napas terengah-engah.Wajah insinyur wanita itu memerah pekat menahan sisa guncangan biologis di sekujur saraf motoriknya."K-kita harus segera keluar sebelum mereka menyisir ulang tempat ini," bisik Amel merapikan letak kacamatanya.Leo merangkak keluar dari rongga sempit itu dan berdiri tegak menepis debu dari celananya.Dia mengulurkan tangan kanannya menarik tubuh Amel hingga berdiri stabil di atas kakinya.Mata sang dokter bedah tertuju pada deretan panel hidrolik penggerak pintu bendungan utama."Sistem elektronik mereka mungkin terkunci rapat dari pusat ko
Amel berdiri mengetik cepat di atas papan ketik terminal kendali hidrolik stasiun pompa air.Wanita berkacamata itu mencoba membobol sistem keamanan untuk membuka kunci pintu bendungan desa secara manual."Kode enkripsinya sudah diubah ulang secara sepihak siang tadi," gumam Amel membetulkan letak kacamatanya.Keringat dingin menetes dari dahi sang insinyur menyadari risiko tinggi dari tindakan sabotase tersebut.Tiga preman penjaga mendadak melangkah masuk ke dalam ruang kontrol menodongkan senjata mereka."Jadi kau mau mencoba menjadi pahlawan kemanusiaan untuk warga desa ya, Nona Insinyur?" tegur preman pertama.Amel terlonjak mundur menabrak meja kontrol menjatuhkan gulungan peta topografinya ke lantai."Bos Tirta sudah menduga kau akan mencoba berkhianat dengan membuka pintu bendungan itu malam ini," lanjut preman kedua.Pria berbadan gempal itu melangkah maju berniat mencengkeram rambut panjang Amel yang diikat kuda.Leo melesat masuk dari balik bayangan pintu memotong jarak
Debu kering beterbangan tertiup angin panas menyapu pelataran aspal Puskesmas Elite.Musim kemarau ekstrem melanda seluruh wilayah perbatasan distrik tanpa tanda-tanda awan mendung.Daun-daun pohon jati di pinggir jalan raya menguning dan berguguran layu menahan suhu tinggi.Layar monitor tangki air utama puskesmas berkedip merah menampilkan angka debit yang terus menurun.Bidan Ayu berlari keluar dari lorong ruang sterilisasi alat medis dengan wajah tegang."Pasokan air bersih untuk mesin sterilisasi uap panas mengalami penyusutan drastis pagi ini, Dokter," lapor Ayu dengan wajah yang tampak panik."Kita tidak bisa melakukan tindakan operasi minor siang nanti tanpa instrumen yang disterilkan secara absolut itu."Leo meletakkan cangkir kopi hitamnya ke atas meja kerja kayu jati di ruang VIP."Debit air tanah tidak akan turun drastis dalam semalam hanya karena cuaca panas," observasi Leo datar.Suara deru mesin mobil SUV mewah memecah percakapan mereka dari arah gerbang depan.Sebuah
Sofa reyot di ruang tamu itu seakan menjadi saksi bisu runtuhnya moral dan akal sehat. Udara pagi yang mulai menyusup dari celah jendela tak mampu mengusir aroma pekat percintaan liar yang masih menggantung di ruangan tersebut.Leo bersandar dengan dada telanjang yang dipenuhi bekas cakaran dan gig
Tangan besar Leonardo bergerak secepat kilat. Dengan kecekatan seorang ahli bedah yang tak membiarkan satu milimeter pun kesalahan, ia menarik selimut tebal dari ujung ranjang dan menutupi tubuh Sekar yang setengah telanjang.“Sembunyi di bawah selimut, meringkuk ke arah dinding. Jangan bernapas te
Kamar berukuran tiga kali tiga meter itu terasa sangat sempit dan sunyi. Sinar temaram dari lampu teplok di sudut ruangan menyorot tubuh tiga orang yang berbaring sejajar di atas ranjang kayu tua. Kasur itu sebenarnya hanya muat untuk dua orang, tetapi malam ini, tubuh tegap Leonardo Xaverius ter
Bilah golok karatan itu membelah udara dengan suara mendesing, mengarah tepat ke leher Leonardo.Maya dan Kania menjerit histeris, menutup mata mereka rapat-rapat.Namun, bagi seorang dokter bedah yang terbiasa dengan ketelitian tingkat tinggi di meja operasi, tebasan Bahar yang membabi buta itu ta







