MasukTanpa sadar, tangan Tono meremas bagian dada jaket kulitnya dengan kuat setiap kali dia mengambil tarikan napas panjang.Target penaklukan jalur distribusi aspal ini telah terdiagnosis hancur berantakan di dalam otak analitis sang dokter bedah.Cairan bensin membasahi permukaan aspal hitam menciptakan genangan yang memantulkan terik cahaya matahari siang.Aroma bahan bakar beroktan tinggi menguap tajam menyengat rongga hidung setiap orang di sekitar portal tol.Preman bayaran Tono mulai menyiramkan cairan bensin ke arah ban belakang truk logistik Tiara.Pria itu mengangkat jerigen hijaunya lebih tinggi bersiap mengguyur sisi bodi truk yang terbuat dari besi pelat.Leo tidak membuang sisa waktu untuk memberikan ceramah moral pada kawanan preman jalanan tersebut.Sepatu pantofelnya menolak keras aspal berdebu, melontarkan tubuhnya melesat maju membelah jarak lima meter.Gerakan sang dewa bedah menembus pertahanan lawan tanpa memicu bunyi langkah yang bisa diantisipasi secara visual.Du
Tumpukan dokumen sertifikat properti mendarat berurutan di atas meja kerja kayu jati di dalam ruang VIP Puskesmas Elite.Leo merapikan tepi kertas bermaterai tersebut menggunakan kedua telapak tangannya secara simetris.Infrastruktur dan pelayanan publik distrik kini dikendalikan oleh hierarki kekuatan Leo.Sektor medis, air bersih, dan lahan strategis beroperasi penuh tanpa ada sisa perlawanan dari pihak luar.Inspektur Rina berdiri tegap di seberang meja memberikan laporan mingguan tanpa nada keraguan."Semua akses lahan panti telah dialihkan atas nama fasilitas medis kita, Dokter," lapor Rina menyerahkan map merah.Leo mengangguk pelan dan mengunci laci mejanya menggunakan anak kunci berbahan kuningan."Namun distribusi komoditas utama desa teh diuji oleh blokade jalur tol perbatasan yang mendadak dibangun," tambah Rina.Polisi wanita itu membetulkan letak sabuk taktisnya yang bergeser ke bawah."Juragan Tono, raja jalanan aspal, memasang portal baja raksasa di tengah jalur utama
Ujung pisau bedah titanium Leo mencongkel celah sempit panel elektronik di dinding ruang isolasi.Logam perak itu merusak susunan kabel sirkuit utama dalam satu putaran presisi mekanik.Lampu indikator merah di atas pintu baja padam seketika menyisakan bunyi dengungan pendek akibat korsleting."Sistem pengunci magnetiknya sudah terputus dari sumber daya sentral," lapor Leo mencabut pisaunya perlahan.Citra menarik napas panjang mengatur ulang ritme jantungnya yang masih berpacu liar tak terkendali.Janda muda itu menyisir rambutnya yang berantakan menggunakan jari tangan kirinya yang berkeringat."Mereka pasti menunggu kita di luar pintu ini, Dokter," bisik Citra membetulkan kerah seragam perawatnya."Senjata tumpul jalanan tidak akan pernah bisa mengalahkan kecepatan instrumen bedah klinis," balas Leo santai.Leo mendorong pelat baja tebal itu menggunakan bahu kanannya secara paksa hingga engselnya bergeser.Engsel pintu berderit pelan membuka akses menuju lorong utama panti rehabi
Balok kayu sepanjang satu meter melayang membelah udara mengincar persendian lutut Leo.Preman bayaran terdepan mengayunkan senjatanya dengan tenaga penuh berniat meremukkan tulang sang dokter.Leo memutar tumit pantofelnya menolak aspal panas halaman panti dengan kelenturan ekstrem.Tubuhnya melesat menyamping memotong lintasan serangan lawan sebelum kayu itu menyentuh sasarannya.Tangan kanan Leo keluar dari saku celana kargo dalam satu gerakan kilat yang tidak terdeteksi mata normal.Pisau bedah titanium murni memantulkan cahaya matahari siang di sela jemari sang dewa bedah."Hancurkan kaki dokter sombong ini sekarang juga!" perintah Rahmat mundur menjauhi barisan depan.Leo sama sekali tidak membuang tenaga untuk menangkis pukulan preman jalanan tersebut secara frontal.Bilah logam perak itu meluncur tajam menyasar celah mesin eskavator yang beroperasi tepat di sebelahnya.Pisau titanium Leo memotong selang penyalur oli hidrolik ekskavator dalam satu sayatan presisi absolut.Sis
Cahaya matahari siang menyengat tajam memantul di kaca bangunan Puskesmas Elite tanpa awan penghalang.Sektor pangan dan medis distrik kini beroperasi sempurna di bawah kendali Leo.Distribusi beras bersih dan air tanah telah terjamin mutlak tanpa campur tangan lintah darat.Leo melangkah keluar dari lobi puskesmas mengusap keringat tipis di dahinya dengan saputangan linen.Ponsel satelit di saku kargonya bergetar panjang memecah keheningan pelataran aspal yang mulai sepi.Layar ponsel itu menampilkan nomor panggilan darurat dari Bidan Ayu yang sedang bertugas di luar puskesmas."Tiga alat berat baru saja merangsek masuk merusak pagar depan Panti Rehabilitasi Harapan," lapor Ayu dengan napas terengah."Mereka mengusir paksa semua pasien gangguan saraf untuk mengosongkan lahan panti siang ini juga."Leo segera melompat masuk ke dalam Jeep hitamnya dan menghidupkan mesin berkapasitas besar tersebut.Mobil tangguh itu melaju membelah jalanan desa menuju bangunan panti yang terletak di
Debu dedak padi yang beterbangan perlahan mulai mengendap menyentuh lantai beton gudang penggilingan.Leo merangkak keluar dari persembunyian menarik tubuh Niken yang kehilangan tenaga motoriknya.Wanita berseragam dinas cokelat itu melangkah terhuyung menyeret sepatunya di atas lantai.Tangan kanannya terus bertumpu pada lengan sang dokter bedah mencari titik keseimbangan absolut."Buka kelopak matamu dan bersandarlah pada tumpukan karung ini," perintah Leo melepaskan cengkeramannya.Niken menjatuhkan bahunya ke susunan karung menahan sisa guncangan hormon di jaringan otaknya.Raut wajah inspektur wanita itu masih memerah pekat dengan napas yang memburu pelan.Bunyi kokangan mekanik senjata api mendadak memecah deru mesin giling yang mulai mereda.Gondo menodongkan senapan angin rakitan lurus ke arah bidang dada Leo dari jarak dekat.Moncong besi gelap itu tidak bergetar sama sekali mengunci target di depan mata.Ujung jari telunjuk pria tambun itu menekan pelatuk tanpa sedikit pu
Bilah golok karatan itu membelah udara dengan suara mendesing, mengarah tepat ke leher Leonardo.Maya dan Kania menjerit histeris, menutup mata mereka rapat-rapat.Namun, bagi seorang dokter bedah yang terbiasa dengan ketelitian tingkat tinggi di meja operasi, tebasan Bahar yang membabi buta itu ta
Sementara itu, rahang Leonardo mengeras. Urat-urat di lehernya menonjol. Gairah yang tadi terpaksa padam kini tersulut kembali, berubah wujud menjadi amarah yang sangat pekat dan mematikan. Matanya menatap tajam ke arah ruang tamu.Siapa yang berani membuat keributan di tengah malam buta seperti in
Bibir sang dokter langsung meraup bibir ranum Maya yang sudah bergetar menantinya. Erangan tertahan lolos dari tenggorokan wanita matang itu saat sentuhan bibir yang awalnya lembut berubah menjadi lumatan liar dan rakus. Rasa haus akan sentuhan pria yang sudah bertahun-tahun terpendam, akhirnya m
Leonardo masih terpaku memandangi lekuk tubuh Maya, berusaha keras menyembunyikan kilat gairah di matanya di balik ekspresi wajah yang tenang.Otaknya yang sedang merangkai imajinasi liar tiba-tiba terhenti saat suara Kania memecah lamunan."Ibu!" Kania setengah berlari menghampiri ibunya yang masi







