Partager

Tamu Misterius

Auteur: Falisha Ashia
last update Date de publication: 2026-05-27 09:14:26

Ujung sepatu bot Leo menapaki teras kayu rumah Maya. Aroma melati yang tidak biasa tercium dari sela-sela pintu depan yang sedikit terbuka.

Maya melangkah lebih dulu, mendorong pintu kayu itu tanpa suara. Janda kembang tersebut menunjuk ke arah ruang tamu dengan gerakan matanya.

Seorang wanita duduk bersandar kaku di atas sofa rotan usang. Ia mengenakan daster batik luntur yang jelas bukan miliknya, tampak sangat kebesaran menutupi lekuk tubuhnya.

Topi anyaman bambu lebar tergeletak di samping
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé

Dernier chapitre

  • Rayuan Desa Wanita   Preman Berdasi

    Bilah papan mahoni terbelah akibat bantingan kasar. Pintu gudang logistik terbuka paksa menabrak dinding."Minggir dari jalanku, Janda!" bentak pria berkemeja safari cokelat menepis bahu Sekar.Sekar terhuyung mundur. Punggungnya menabrak tumpukan karung teh herbal hingga beberapa karung bergeser.Tiga pria bertubuh kekar melangkah masuk. Mereka mengenakan tanda pengenal berlogo palang hijau di dada."Kami petugas pengawas peredaran obat," klaim pria dengan luka codet di dagu. "Kalian memproduksi obat tanpa standar kelayakan."Pria itu melempar selembar kertas berstempel merah ke atas meja pencatatan logistik."Angkut semua karung ini ke truk," perintahnya pada dua rekannya. "Semua barang ini adalah bukti pelanggaran hukum."Kedua pria itu langsung bergerak maju menuju tumpukan karung."Jangan sentuh barang Tuan Leo!" teriak Sekar merentangkan tangan menghalangi mereka."Kalian tidak punya surat penyitaan resmi. Ini perampokan!"Pria bercodet itu tertawa meremehkan. Ia mendekati Sekar

  • Rayuan Desa Wanita   Cek Kosong

    Leo mengunci map merah itu ke dalam brankas baja di balik lukisan. Pria itu memutar piringan kombinasi angka secara acak.Aroma seduhan kopi hitam pagi memenuhi ruang kerja VIP.Suara derit ban mobil bergesekan dengan aspal memecah ketenangan desa. Tiga unit sedan mewah berwarna perak berhenti berjejer di depan Puskesmas Elite.Empat pria berjas abu-abu melangkah keluar terlebih dahulu. Mereka membawa koper besi dan berdiri menyamping membentuk barisan pelindung di pelataran.Seorang wanita berpostur tinggi menyusul keluar dari mobil tengah. Sepatu hak tinggi merahnya mengetuk ubin teras puskesmas dengan ritme cepat.Wanita itu mengenakan setelan blazer putih ketat dan celana kain senada. Kacamata berbingkai tipis membingkai wajahnya yang dipoles riasan tajam.Matanya memindai sekeliling lobi klinik dengan pandangan sangat meremehkan."Di mana pemilik resep herbal kampungan ini?" tuntut wanita tersebut melipat lengan di depan dada.Ayu yang sedang menyusun botol kaca di meja pendaftar

  • Rayuan Desa Wanita   Skakmat di Atas Kertas

    Pintu kaca VIP terdorong kasar sebelum Leo sempat menjawab ketukan.Bidan Ayu melangkah masuk dengan napas tersengal-sengal. Gadis berhijab itu memegangi bingkai pintu mencari tumpuan untuk berdiri tegak."Tuan Leo, konvoi mobil Bupati tidak jadi pergi meninggalkan desa," lapor Ayu dengan raut wajah sangat panik."Dua truk logistik milik Nyonya Wulan memblokir jalan utama secara tidak sengaja dari arah berlawanan."Leo berdiri dari kursi putarnya perlahan. Ia menatap lurus ke arah lobi depan melalui kaca ruang kerjanya."Bupati Hendrawan turun dari mobilnya dan berjalan kembali kemari," tambah Ayu menunjuk ke belakang dengan gemetar."Dia terlihat sangat marah karena mobil dinasnya terjebak di jalanan.""Kembali ke ruang obat sekarang juga," instruksi Leo tenang. "Kunci pintunya dari dalam dan jangan keluar."Ayu mengangguk cepat dan langsung berlari meninggalkan ruang VIP.Leo menundukkan pandangannya. Ia menatap Elara yang masih berlutut lemas di atas karpet abu-abu."Kau dengar lap

  • Rayuan Desa Wanita   Interogasi Buta

    Leo melangkah mundur memberi jalan. Ia menekan panel pintu ruang VIP hingga daun kayu mahoni itu terbuka lebar.Hendrawan melangkah masuk dengan napas memburu. Sepatu kulit kotornya menginjak karpet abu-abu tebal milik sang dokter.Di balik meja kerja besar itu, Elara meringkuk merapatkan tubuhnya. Istri bupati itu meremas alat penyadap hitam dengan tangan gemetar.Ia menyelinap lewat pintu belakang puskesmas sepuluh menit lalu. Ia bermaksud menyerahkan rekaman percakapan korupsi suaminya pada Leo.Suara amukan Hendrawan di lobi memaksanya bersembunyi di bawah kolong meja yang tertutup panel kayu rapat."Ruangan ini terlalu mewah untuk klinik desa," komentar Hendrawan memindai peralatan medis di sekitarnya.Bupati itu menjatuhkan pantatnya ke atas sofa tamu berbahan kulit asli tanpa diundang."Duduk dan dengarkan tuntutanku, Dokter," perintah Hendrawan menunjuk kursi kerja Leo.Leo menarik kursi putarnya dan duduk dengan postur tegap. Ujung sepatu pantofelnya menyentuh paha Elara di k

  • Rayuan Desa Wanita   Arogansi Penguasa Daerah

    Jari telunjuk Leo menekan tombol merah di layar ponsel tersebut. Panggilan dari penguasa kabupaten itu terputus sepihak."Bupati Hendrawan akan segera memburu ke sini," ucap Leo melempar ponsel mahal itu ke atas meja rotan.Maya merapikan kerah kemejanya. Janda kembang itu menatap lurus ke arah pintu utama dengan raut wajah waspada."Dia mencari Nyonya Elara sampai ke desa terpencil ini?" tanya Maya memastikan situasi."Dia mencari kambing hitam atas proyek korupsinya yang macet total," ralat Leo mengambil jas putihnya dari sandaran kursi kayu.Leo mengancingkan jas dokternya dengan cepat sambil melangkah menuju pintu keluar."Mandikan Elara dan tahan dia di kamar. Jangan biarkan dia keluar dari rumah ini sebelum aku kembali," instruksi Leo mutlak."Baik, Tuan," patuh Maya melangkah mundur perlahan menuju kamar tidur.Leo berjalan menyusuri jalan setapak berbatu meninggalkan pekarangan rumah Maya. Lampu-lampu jalan desa mulai menyala terang, menandakan jam operasional puskesmas telah

  • Rayuan Desa Wanita   Boneka Politik

    Leo menahan pinggul Elara menggunakan kedua telapak tangannya yang besar. Pria itu mengatur ritme pergerakannya dengan perhitungan matematis.Setiap dorongan pinggul Leo menargetkan persimpangan saraf sakral di dasar tulang belakang sang wanita. Titik itu menyambung langsung dengan pusat kendali motorik di otak.Elara melebarkan matanya menatap langit-langit kamar. Kuku jarinya menancap dalam menembus lapisan sprei katun putih."Ini... terlalu kuat," rintih Elara dengan napas tersengal-sengal.Tubuh rampingnya mengejang keras menerima rangsangan yang belum pernah ia rasakan selama hidupnya."Tubuhmu kelaparan selama dua tahun terakhir," desis Leo tanpa menurunkan kecepatan. "Aku hanya memberinya porsi yang pantas."Istri bupati itu menggelengkan kepalanya berulang kali ke kanan dan ke kiri di atas bantal.Saraf simpatiknya yang mati kini dibombardir oleh sinyal listrik berkekuatan maksimal dari ujung jari Leo.Leo menggeser posisi tangannya ke bagian perut bawah Elara. Ibu jari pria i

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status