MasukUjung pisau bedah titanium Leo mencongkel celah sempit panel elektronik di dinding ruang isolasi.Logam perak itu merusak susunan kabel sirkuit utama dalam satu putaran presisi mekanik.Lampu indikator merah di atas pintu baja padam seketika menyisakan bunyi dengungan pendek akibat korsleting."Sistem pengunci magnetiknya sudah terputus dari sumber daya sentral," lapor Leo mencabut pisaunya perlahan.Citra menarik napas panjang mengatur ulang ritme jantungnya yang masih berpacu liar tak terkendali.Janda muda itu menyisir rambutnya yang berantakan menggunakan jari tangan kirinya yang berkeringat."Mereka pasti menunggu kita di luar pintu ini, Dokter," bisik Citra membetulkan kerah seragam perawatnya."Senjata tumpul jalanan tidak akan pernah bisa mengalahkan kecepatan instrumen bedah klinis," balas Leo santai.Leo mendorong pelat baja tebal itu menggunakan bahu kanannya secara paksa hingga engselnya bergeser.Engsel pintu berderit pelan membuka akses menuju lorong utama panti rehabi
Balok kayu sepanjang satu meter melayang membelah udara mengincar persendian lutut Leo.Preman bayaran terdepan mengayunkan senjatanya dengan tenaga penuh berniat meremukkan tulang sang dokter.Leo memutar tumit pantofelnya menolak aspal panas halaman panti dengan kelenturan ekstrem.Tubuhnya melesat menyamping memotong lintasan serangan lawan sebelum kayu itu menyentuh sasarannya.Tangan kanan Leo keluar dari saku celana kargo dalam satu gerakan kilat yang tidak terdeteksi mata normal.Pisau bedah titanium murni memantulkan cahaya matahari siang di sela jemari sang dewa bedah."Hancurkan kaki dokter sombong ini sekarang juga!" perintah Rahmat mundur menjauhi barisan depan.Leo sama sekali tidak membuang tenaga untuk menangkis pukulan preman jalanan tersebut secara frontal.Bilah logam perak itu meluncur tajam menyasar celah mesin eskavator yang beroperasi tepat di sebelahnya.Pisau titanium Leo memotong selang penyalur oli hidrolik ekskavator dalam satu sayatan presisi absolut.Sis
Cahaya matahari siang menyengat tajam memantul di kaca bangunan Puskesmas Elite tanpa awan penghalang.Sektor pangan dan medis distrik kini beroperasi sempurna di bawah kendali Leo.Distribusi beras bersih dan air tanah telah terjamin mutlak tanpa campur tangan lintah darat.Leo melangkah keluar dari lobi puskesmas mengusap keringat tipis di dahinya dengan saputangan linen.Ponsel satelit di saku kargonya bergetar panjang memecah keheningan pelataran aspal yang mulai sepi.Layar ponsel itu menampilkan nomor panggilan darurat dari Bidan Ayu yang sedang bertugas di luar puskesmas."Tiga alat berat baru saja merangsek masuk merusak pagar depan Panti Rehabilitasi Harapan," lapor Ayu dengan napas terengah."Mereka mengusir paksa semua pasien gangguan saraf untuk mengosongkan lahan panti siang ini juga."Leo segera melompat masuk ke dalam Jeep hitamnya dan menghidupkan mesin berkapasitas besar tersebut.Mobil tangguh itu melaju membelah jalanan desa menuju bangunan panti yang terletak di
Debu dedak padi yang beterbangan perlahan mulai mengendap menyentuh lantai beton gudang penggilingan.Leo merangkak keluar dari persembunyian menarik tubuh Niken yang kehilangan tenaga motoriknya.Wanita berseragam dinas cokelat itu melangkah terhuyung menyeret sepatunya di atas lantai.Tangan kanannya terus bertumpu pada lengan sang dokter bedah mencari titik keseimbangan absolut."Buka kelopak matamu dan bersandarlah pada tumpukan karung ini," perintah Leo melepaskan cengkeramannya.Niken menjatuhkan bahunya ke susunan karung menahan sisa guncangan hormon di jaringan otaknya.Raut wajah inspektur wanita itu masih memerah pekat dengan napas yang memburu pelan.Bunyi kokangan mekanik senjata api mendadak memecah deru mesin giling yang mulai mereda.Gondo menodongkan senapan angin rakitan lurus ke arah bidang dada Leo dari jarak dekat.Moncong besi gelap itu tidak bergetar sama sekali mengunci target di depan mata.Ujung jari telunjuk pria tambun itu menekan pelatuk tanpa sedikit pu
Bilah pengait besi berkarat meluncur deras mengincar tulang selangka kiri Leo.Pemuda itu tidak menarik tangannya dari saku untuk menahan benturan senjata tajam tersebut.Pundaknya merendah memotong sudut serang, membiarkan besi itu membentur udara kosong."Pukul dari arah belakang!" teriak salah satu kuli sambil mengayunkan tongkat bambu panjang.Leo memutar tumit pantofelnya menolak lantai beton gudang yang dipenuhi sekam padi.Tubuhnya melesat maju menembus pertahanan kasar lawan layaknya bayangan yang tak tersentuh.Kedua tangannya keluar dari saku celana kargo dalam gerakan presisi tingkat tinggi.Dua jari telunjuk Leo menancap kuat pada titik saraf brakialis di bawah ketiak kuli pertama.Sinyal motorik yang mengalir ke seluruh otot lengan pria kekar itu langsung terputus seketika.Tongkat bambu terlepas dari genggamannya, berdebum jatuh membentur lantai gudang."Tarik mundur lengan kalian atau sendinya patah!" perintah kuli lain mencoba menghindar.Nasihat itu datang terlamba
Biji beras putih di atas meja kerja kayu jati itu hancur menjadi bubuk halus.Ujung jari telunjuk Leo menekan pelan bulir karbohidrat itu tanpa mengerahkan tenaga yang berarti.Bau bahan kimia pemutih sintetis langsung menguar tajam menyengat sistem penciuman sang dokter bedah itu"Pasokan beras distrik dioplos menggunakan klorin pemutih mematikan untuk menutupi jamur," observasi Leo datar.Bidan Ayu berdiri di depan meja dengan raut wajah memucat pasi melihat bubuk beras tersebut."Karena ini, ratusan balita desa terancam gagal ginjal akut kalau pasokan beras ini terus dikonsumsi setiap harinya," lapor Ayu dengan kondisi yang tegang.Leo membersihkan sisa bubuk putih dari ujung jarinya menggunakan saputangan linen bersih."Cuma ada satu pemain besar yang memonopoli seluruh pasokan pangan mentah di wilayah ini," ucap Leo seraya berdiri.Juragan Gondo adalah penguasa absolut tunggal seluruh gudang penggilingan padi di perbatasan timur distrik.Pria itu menekan harga beli gabah petani
Sinar mentari pagi mengusir sisa-sisa dingin di ruang istirahat klinik darurat. Leonardo Xaverius melangkah keluar dengan kemeja linen yang melekat pas di tubuh kekarnya, memancarkan wibawa absolut seorang penguasa yang baru saja memuaskan hasratnya.Di belakang sang dewa bedah, Ayu menunduk patuh.
Pintu kayu tebal ruang belakang balai desa berderit terbuka, memecah ketegangan yang sejak tadi menyiksa Juragan Darmo. Lintah darat itu langsung terlonjak dari kursi tunggunya, mengabaikan lututnya yang masih bergetar parah akibat ketakutan."Bagaimana hasilnya, Ratna? Katakan padaku kau berhasil
Ancaman yang dibisikkan Leo dengan nada sangat pelan itu sukses membuat napas Bidan Ayu tercekat. Jantung sang lulusan akademi berdegup satu ketukan lebih cepat.Di balik lensa kacamatanya, mata cokelat Ayu menatap lurus ke dalam sepasang mata elang Leo yang sedingin dasar lautan.‘Mata ini... ini
Kamar berukuran tiga kali tiga meter itu terasa sangat sempit dan sunyi. Sinar temaram dari lampu teplok di sudut ruangan menyorot tubuh tiga orang yang berbaring sejajar di atas ranjang kayu tua. Kasur itu sebenarnya hanya muat untuk dua orang, tetapi malam ini, tubuh tegap Leonardo Xaverius ter







