MasukAmel berdiri mengetik cepat di atas papan ketik terminal kendali hidrolik stasiun pompa air.Wanita berkacamata itu mencoba membobol sistem keamanan untuk membuka kunci pintu bendungan desa secara manual."Kode enkripsinya sudah diubah ulang secara sepihak siang tadi," gumam Amel membetulkan letak kacamatanya.Keringat dingin menetes dari dahi sang insinyur menyadari risiko tinggi dari tindakan sabotase tersebut.Tiga preman penjaga mendadak melangkah masuk ke dalam ruang kontrol menodongkan senjata mereka."Jadi kau mau mencoba menjadi pahlawan kemanusiaan untuk warga desa ya, Nona Insinyur?" tegur preman pertama.Amel terlonjak mundur menabrak meja kontrol menjatuhkan gulungan peta topografinya ke lantai."Bos Tirta sudah menduga kau akan mencoba berkhianat dengan membuka pintu bendungan itu malam ini," lanjut preman kedua.Pria berbadan gempal itu melangkah maju berniat mencengkeram rambut panjang Amel yang diikat kuda.Leo melesat masuk dari balik bayangan pintu memotong jarak
Debu kering beterbangan tertiup angin panas menyapu pelataran aspal Puskesmas Elite.Musim kemarau ekstrem melanda seluruh wilayah perbatasan distrik tanpa tanda-tanda awan mendung.Daun-daun pohon jati di pinggir jalan raya menguning dan berguguran layu menahan suhu tinggi.Layar monitor tangki air utama puskesmas berkedip merah menampilkan angka debit yang terus menurun.Bidan Ayu berlari keluar dari lorong ruang sterilisasi alat medis dengan wajah tegang."Pasokan air bersih untuk mesin sterilisasi uap panas mengalami penyusutan drastis pagi ini, Dokter," lapor Ayu dengan wajah yang tampak panik."Kita tidak bisa melakukan tindakan operasi minor siang nanti tanpa instrumen yang disterilkan secara absolut itu."Leo meletakkan cangkir kopi hitamnya ke atas meja kerja kayu jati di ruang VIP."Debit air tanah tidak akan turun drastis dalam semalam hanya karena cuaca panas," observasi Leo datar.Suara deru mesin mobil SUV mewah memecah percakapan mereka dari arah gerbang depan.Sebuah
Engsel pintu insulasi perak itu berderit pelan merespons dorongan bahu kanan Leo.Hawa beku berhembus keluar berbenturan langsung dengan udara pengap bekas pabrik tekstil.Leo melangkah keluar dari ruang pendingin raksasa menenteng kemeja linennya di tangan kiri.Sinta berjalan mengekor tepat di belakang sang dokter bedah dengan langkah kaki yang menapak stabil.Suhu inti tubuh perawat muda itu telah kembali normal sepenuhnya pasca terapi termal di dalam mesin pembeku.Rona kemerahan menghiasi wajah dan leher Sinta menyisakan jejak guncangan biologis barusan.Napas wanita itu masih sedikit tersengal menahan lonjakan hormon endorfin yang memabukkan jaringan otaknya.Sembilan penjaga bayaran mengerang parau memegangi pergelangan kaki mereka yang cacat permanen."Berhenti melangkah sekarang juga, Dokter keparat!" bentak Frans dari ujung lorong timur.Mantan ahli anatomi itu mengangkat sebuah pistol pembius bertekanan gas pneumatik tinggi.Laras hitam berlubang besar itu mengarah lurus m
Ujung tongkat baja pertama melayang lurus mengincar pelipis kanan Leo.Pemuda itu merendahkan bahunya membiarkan besi tumpul tersebut melewati kepalanya.Pisau titanium di tangan sang dokter bedah berputar memantulkan cahaya neon."Pukul kepalanya dari belakang!" perintah seorang preman berwajah parut.Leo melangkah mundur memotong lintasan serangan lawan dengan presisi geometris.Bilah perak murni itu menyayat bagian belakang pergelangan kaki preman pertama.Tendon Achilles pria tersebut terputus rapi dalam satu tarikan garis lurus.Preman berwajah parut itu menjerit keras kehilangan fungsi tumpuan kakinya seketika.Dia ambruk menghantam lantai tanpa kesempatan untuk berdiri tegak kembali."Kalian terlalu membebani otot betis saat mengayunkan senjata," evaluasi Leo datar."Potong lidahnya biar dia bungkam!" teriak preman lain melompat maju.Tiga penjaga bayaran lainnya merangsek serentak dari arah samping.Leo memutar tubuhnya menggunakan poros tumit kiri dengan kelenturan efisien.S
Ban mobil Jeep hitam itu berdecit keras menggesek aspal berlubang di kawasan kumuh pinggiran kota.Layar jam digital di dasbor mobil menunjukkan pukul satu dini hari lewat lima belas menit.Leo mematikan mesin kendaraannya tepat di depan sebuah bangunan bekas pabrik tekstil yang terbengkalai.Jejak ban truk pendingin medis tercetak sangat jelas di atas tanah lumpur dekat pintu masuk."Distribusi kantong plasma darah golongan O negatif bermuara di tempat pembuangan sampah ini," gumam Leo.Sepatu pantofelnya menghindari genangan air kotor, melangkah menuju pintu baja berkarat di bagian belakang bangunan.Suara mesin pendingin ruangan terdengar beroperasi melebihi kapasitas standar sebuah gedung kosong.Di balik pintu itu, Frans berdiri mengenakan celemek plastik yang dipenuhi noda kecokelatan.Sinta, seorang perawat muda berseragam putih, terbaring kaku terikat sabuk kulit di atas meja operasi.Mulut Sinta disumbat gulungan kain kasa medis yang menahan suara teriakannya meminta tolon
Leo menarik kedua jarinya dari leher Rina saat suara derap langkah menjauh.Polisi wanita itu merosot lemas menghirup sisa oksigen dengan rakus."Ambil map merahmu dari lantai baja itu sekarang," perintah Leo membenarkan kerahnya.Rina merangkak cepat memungut dokumen tersebut dengan tangan bergetar.Leo memutar tubuhnya menghadap pintu brankas setebal lima belas sentimeter.Pria itu memusatkan tenaga murni ke ujung sepatu pantofel kanannya.Leo menendang engsel baja pintu brankas tersebut menggunakan satu hentakan brutal.Brak!Baut penahan pintu patah berhamburan menghantam dinding lorong.Pelat baja seberat ratusan kilogram itu terlempar membentur lantai keramik.Komandan Bayu yang berjarak lima langkah refleks memutar tubuhnya.Wajah perwira distrik itu memucat melihat pintu brankas jebol paksa."Penyusup!" teriak Bayu mengangkat laras senapan serbunya setinggi dada.Jari telunjuk Bayu menekan pelatuk tanpa peringatan tembakan.Suara letusan mesiu menggema memekakkan telinga di
Bilah golok karatan itu membelah udara dengan suara mendesing, mengarah tepat ke leher Leonardo.Maya dan Kania menjerit histeris, menutup mata mereka rapat-rapat.Namun, bagi seorang dokter bedah yang terbiasa dengan ketelitian tingkat tinggi di meja operasi, tebasan Bahar yang membabi buta itu ta
Sementara itu, rahang Leonardo mengeras. Urat-urat di lehernya menonjol. Gairah yang tadi terpaksa padam kini tersulut kembali, berubah wujud menjadi amarah yang sangat pekat dan mematikan. Matanya menatap tajam ke arah ruang tamu.Siapa yang berani membuat keributan di tengah malam buta seperti in
Bibir sang dokter langsung meraup bibir ranum Maya yang sudah bergetar menantinya. Erangan tertahan lolos dari tenggorokan wanita matang itu saat sentuhan bibir yang awalnya lembut berubah menjadi lumatan liar dan rakus. Rasa haus akan sentuhan pria yang sudah bertahun-tahun terpendam, akhirnya m
Leonardo masih terpaku memandangi lekuk tubuh Maya, berusaha keras menyembunyikan kilat gairah di matanya di balik ekspresi wajah yang tenang.Otaknya yang sedang merangkai imajinasi liar tiba-tiba terhenti saat suara Kania memecah lamunan."Ibu!" Kania setengah berlari menghampiri ibunya yang masi






