共有

Angsa Putih

作者: Garis_Langit
last update 公開日: 2026-03-16 17:16:15

Satu Minggu Kemudian

Aula utama SMA Merpati putih dihias dengan begitu megah. Ribuan bunga lily putih menghias setiap sudutnya, menebarkan aroma harum. Lily putih adalah bunga kesukaan Lily, sama seperti namanya.

Karpet merah membentang di sepanjang aula. Para petinggi, politikus, pengusaha berkumpul.

Lily berdiri di sudut ruang, menggunakan kebaya hitam anggun yang begitu pas di tubuhnya. Menyembunyikan pistol kecil dibalik keanggunannya.

Matanya terus memindai kerumunan. Tiba-tiba seseora
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター

最新チャプター

  • Requiem For a Swan   Luka Menganga

    Lily masuk dengan langkah diseret ke apartmen nya yang gelap. Dia tidak menyalakan lampu, dia menutup pintu, mengunci rapat-rapat dan menyandarkan punggungnya di sana.Hening. Sunyi yang memekakkan. Tiba-tiba, bayangan Elena menggandeng mesra tangan Julian, dan suara tawa anak laki-laki itu, berputar di kepalanya seperti kaset rusak. Perasaan yang dia tekan selama lima tahun, rasa dikhianati, rasa tidak berdaya, rasa kehilangan, dan rasa bersalah meledak seketika.PRANG! Lily menghantamkan vas bunga ke dinding hingga hancur berkeping-keping. "ARRGHHH!!" Teriakan itu pecah, tubuh Lily merosot, tanpa diminta, air mata jatuh membasahi pipinya. Lily meraung, raungan dari dasar jiwanya yang telah terlalu lama hancur. Lily menerjang meja rias, menyapu semua botol parfume dan alat rias hingga pecah dan berserakan di lantai. Dia mencengkram pinggiran meja, napasnya sesak, dia melihat bayangin dirinya yang rapuh di dalam cermin. Dia membenci sosok itu. BRAKKSatu hantaman tinjunya membu

  • Requiem For a Swan   Angsa Putih

    Satu Minggu Kemudian Aula utama SMA Merpati putih dihias dengan begitu megah. Ribuan bunga lily putih menghias setiap sudutnya, menebarkan aroma harum. Lily putih adalah bunga kesukaan Lily, sama seperti namanya. Karpet merah membentang di sepanjang aula. Para petinggi, politikus, pengusaha berkumpul. Lily berdiri di sudut ruang, menggunakan kebaya hitam anggun yang begitu pas di tubuhnya. Menyembunyikan pistol kecil dibalik keanggunannya. Matanya terus memindai kerumunan. Tiba-tiba seseorang menepuk pingganya. Begitu menoleh, Adrian sudah berdiri tegak di samping Lily. Tangannya masih dibebat perban, yang dia sembunyikan dibalik jas mewah yang dia kenakan. Tiba-tiba hening, ketika sebuah mobil hitam berhenti tepat di depan aula. Seolah seluruh perhatian tersedot keluar. Pintu mobil terbuka. Seorang pria turun. Penampilannya begitu bersih dan beriwibawa. Adrian yang berada tak jauh di samping Lily mematung. Dia menatap wanita itu, seolah ingin menariknya keluar dari sana. Lal

  • Requiem For a Swan   Keping kenangan

    Suara wiper mobil taktis yang menerobos air hujan menjadi satu-satunya ritme di tengah keheningan yang menyesakkan. Lily duduk di kursi belakang, tubuhnya masih terasa kaku. Di sampingnya, Adrian sedang berusaha membalut luka di lengannya dengan satu tangan. Kain kasa itu berkali-kali merosot, membiarkan warna merah pekat kembali menodai kemejanya yang sudah compang-camping. Lily hanya memperhatikannya dari sudut mata. Ada keinginan untuk membantu, namun egonya yang baru saja dihantam kenyataan pahit menahan tangannya untuk bergerak membantu pria itu."Kau akan terus menonton sampai aku kehabisan darah, atau kau mau melakukan sesuatu?" suara Adrian memecah kesunyian. Dingin dan tanpa basa-basi.Lily menghela napas panjang, lalu merampas perban dari tangan Adrian. Jemarinya yang masih dingin menyentuh kulit lengan Adrian. Kontak fisik itu terasa canggung, terlalu intim untuk dua orang yang baru saja saling melontarkan ancaman, dan menatap tajam beberapa menit lalu, namun terlalu boh

  • Requiem For a Swan   Folder Lullaby

    Samuel mondar-mandir di ruangan kendali. Suaranya sepatunya yang beradu dengan lantai menciptakan irama yang tidak stabil. Sesekali dia menggigit kuku, sebuah kebiasaan lama yang dia lakukan saat merasa terdesak. Ibu jarinya mulai memerah, darah mulai merembes dari sana. Tapi, Samuel tidak peduli. Andrez jengah. Dia menghentikan aktivitasnya mengetik di atas keyboard, meraih bahu sang Kapten dan mendudukkan paksa di kursi putar tepat di sampingnya. Tubuh Samuel memang duduk, tapi kakinya terus bergerak gelisah, mengetuk-ngetuk lantai dengan tempo cepat. Dia kembali membawa jempolnya ke bibir, menggigiti kulit yang sudah terluka itu."Kapten!" Seru Andrez kesal. Dia menyentakkan tangan Samuel menjauh dari wajahnya. "Berhentilah menyakiti dirimu! Dan, aku tidak fokus membobol server ini jika kau terus bertingkah seperti itu!" Kaki Samuel berhenti sejenak. Ia menatap Andrez dengan mata yang menunjukkan kelelahan luar biasa. "Aku... aku tidak seharusnya membiarkan dia masuk ke sana,"

  • Requiem For a Swan   Asap Menuju Kebenaran

    Lily menelan ludah, berusaha menetralkan gemuruh di dadanya. Dia segera merunduk, membiarkan tangan Adrian bertumpu pada bahunya. Tubuh pria itu terasa berat dan panas, kontras dengan lantai marmer yang dingin. Aroma kayu cendana yang menjadi ciri khas Adrian kini bercampur dengan baubesi yang amis dari darah"Bantu saya berdiri," desis Adrian, suaranya parau menahan nyeri.Lily memapah Adrian menuju ruang UKS yang jaraknya paling dekat. Keheningan terasa mencekam, hanya suara gesekan sepatu mereka dan napas Adrian yang memburu di dekat telinga Lily. Sepanjang koridor, keheningan terasa mencekam. Samuel di earpiece terus memanggil namanya dengan nada panik, namun dia memilih untuk mematikan komunikasi secara sepihak. Lily tahu Samuel khawatir, tapi saat ini yang dia butuhkan bukanlah intruksi, melainkan waktu untuk mencerna semua, dan waktu untuk mendengarkan dirinya. Sesampainya di UKS, Lily mendudukkan Adrian di tepi ranjang yang dilapisi seprai putih bersih. Dia segera mengambil

  • Requiem For a Swan   Isyarat Dalam Gelap

    Pintu perpustakaan berderit, Lily segera menutup pintu di belakangnya, membiarkan kegelapan menyelimuti. Hanya ada cahaya bulan yang menelusup lewat celah jendela. Lily bergerak perlahan. Memindai. Ruangan ini cukup luas, dengan meja dan kursi yang tersedia di setiap sudut ruangan. "Andrez," panggil Lily lirih. "Gambar masuk, Lily. Jernih. Gerakkan kepalamu ke kanan. Jangan bergerak, aku sedang memindai sinar infra-merah di sana." Suara Andrez terdengar di earpiece. Lily diam, dia tidak bergerak hingga Andrez memberi aba-aba. "Oke, aman. Tapi, jangan mendekat ke meja pustakawan," lanjut Andrez Lily bergerak menuju area gudang di belakang rak buku klasik. Debu halus menari di udara. Lily sampai di depan pintu kayu tua yang tidak memiliki papan nama. Di atas kertas, ini hanyalah sebuah gudang peralatan, tapi di peta Andrez, ini adalah mulut labirin. "Gudang ditemukan, aku masuk." Lily mendorong pintu, cukup berat. Begitu masuk ke dalam, gelap menyergap, dia menyal

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status