LOGIN"Tuan, pelakunya sudah ditangkap kemarin," ucap Doni setelah panggilan telponnya dijawab oleh ayah Raka. "Hari ini saya akan ke kantor polisi untuk bertemu dengannya.""Apa dia sudah mengaku siapa yang menyuruhnya?""Sudah, Pak," jawab Doni cepat. "Memang benar kalau dia orang suruhan Tuan Hutomo."Terdengar helaan napas pelan dari seberang telpon setelah Doni selesai bicara. "Baiklah. Aku akan mengirimkan beberapa pengacara untuk mengurus kasus itu. Mulai sekarang, kamu fokus saja menjaga Raka. Jangan sampai dia tiba-tiba menghilang dari rumah sakit.""Baik, Tuan."Seperti yang sudah ditugaskan oleh ayah Raka, Doni terus menjaga Raka di rumah sakit sampai bosnya itu diperbolehkan pulang. Total 12 hari Raka dirawat di rumah sakit. Selama itu juga, beberapa kali dia mencoba untuk keluar dari rumah sakit diam-diam saat ibunya tidak ada. Namun, selalu dicegah oleh Doni.Raka yang memang belum pulih, tidak bisa berbuat banyak selain menunggu sampai dirinya diizinkan dokter untuk pulang. S
"Bagaimana dengan pelakunya?" tanya Ayah Raka setelah keduanya berdiri di dekat jendela kaca yang tidak jauh dari lift. "Apa sudah ditemukan?""Belum, Tuan," jawab Doni sambil menunduk. "Saya sudah menyuruh beberapa orang untuk mencarinya.""Selidiki orang di sekitar Hutomo. Mungkin saja ini ada kaitan dengannya."Bukan tanpa alasan Ayah Raka mencurigai ayah Stevi. Selama ini, Raka tidak pernah bermasalah dengan siapa pun selain Hutomo."Baik, Tuan," jawab Doni sambil mengangguk. "Sebenarnya, saya juga curiga kalau orang itu adalah orang suruhan Tuan Hutomo. Beberapa hari ini, kami sering diikuti oleh orang tidak dikenal."Ayah Raka yang sejak tadi menatap ke depan, seketika membalik badannya. "Kenapa tidak memberitahuku?""Pak Raka meminta saya merahasiakannya."David menghelas napas pelan, kemudian berkata, "Mulai sekarang kau harus berhati-hati. Takutnya dia mengincarmu juga karena kau sudah melihat wajah pelaku.""Baik, Tuan," jawab Doni. "Apa perlu saya beritahu Tuan Hedy mengena
Praaaang!!!! Kiran memegang dadanya yang berdebar sangat kencang seraya menatap pecahan gelas yang berhambur di lantai. Tiba-tiba perasaannya menjadi tidak enak. "Kiran, ada apa?" Kiran mendongak dan melihat Febby sedang berlari ke arahnya dengan wajah panik. "Tidak apa-apa. Aku tadi tidak sengaja menjatuhkan gelas." Kiran kemudian berjongkok dan meraih salah satu pecahan gelas. Namun, tangannya tergores ujung pecahan kaca yang tajam. "Aaww." Kiran segera menarik tangannya dengan cepat. Tampak cairan merah keluar dari jari telunjuknya. Febby yang melihat itu, segera menarik Kiran berdiri. "Biar Bibi Mey yang membereskan," katanya. "Ayo, kita obati tanganmu." Kiran hanya mengangguk, lalu mengikuti langkah Febby menuju ruang keluarga dengan linglung. Febby mengambil kotak obat, lalu mendekati Kiran yang sedang duduk di sofa. Dengan hati-hati, dia membersihkan tangan Kiran dengan cairan anti septik, lalu memasang plester di tangannya sambil bertanya apa apakah ada luka lain. N
"Aku ingin menanyakan tentang Kiran. Siapa tau, mereka sudah mendapatkan informasi keberadaannya." Hannah mendekati putranya, lalu berdiri di hadapannya. "Kamu sedang demam, wajahmu juga pucat sekali. Lebih baik hari ini istirahat di rumah, nanti saja setelah sehat baru ke sana." "Tidak bisa, Ma. Aku harus ke sana hari ini." "Raka, kamu ke sana pun, belum tentu mendapatkan informasi tentang Kiran. Lebih baik telpon saja daripada ke sana." "Aku ingin bertanya langsung pada mereka." Melihat sika keras kepala putranya, Hannah menjadi kesal. "Raka, apa kamu tidak sayang dengan badanmu sendiri? Setidaknya, pikirkan dirimu dulu sebelum memikirkan orang lain." Raka yang baru selesai mengancingkan bajunya, akhirnya menatap sang ibu. "Aku tidak apa-apa, Ma. Hanya sedikit lelah saja." "Lelah katamu," seru Hannah marah. "Kamu pikir, Mama tidak tahu, setelah Kiran pergi, kamu sering minum-minum di bar dan selalu pulang dini hari sampai kamu pernah tidak sadarkan diri karena minuman."
"Akhirnya kamu pulang juga, Sayang," ucap Raka sambil memeluk Sofia. "Aku sangat merindukanmu. Jangan pergi lagi." "Raka, aku bukan Kiran, kamu salah orang," seru Sofia sambil berusaha melepaskan diri dari dekapan Raka. "Cepat lepaskan aku." "Aku tidak mau," tolak Raka. "Kamu pasti akan pergi lagi jika aku lepaskan," katanya sambil memeluk sofia erat. Merasa kesulitan untuk bernapas, Sofia akhirnya tidak bergerak lagi. "Raka, tolong lepaskan aku." Raka mengabaikan ucapan Sofia dan tetap memeluknya erat. "Kamu cuma salah paham, Sayang. Aku tidak pernah berniat menceraikanmu. Tolong maafkan aku." "Raka, kamu mabuk." Merasa semakin sesak, Sofia akhirnya memberontak. Raka yang takut Kiran pergi lagi, secara tiba-tiba mengubah posisi keduanya hingga dia berada di atas Sofia. "Aku tidak akan membiarkanmu pergi," kata Raka dengan mata memerah sambil menahan kedua tangan Sofia di sisi kanan dan kiri. "Aku akan membuatmu mengandung anakku agar kau tidak bisa meninggalkanku." Melihat Rak
Raka mematikan rokok di tangannya, kemudian menegak minuman berwarna coklat di hadapannya. "Dia hanya salah paham padaku.""Itulah bodohnya kau. Seharusnya kau langsung menjelaskan pada Kiran setelah menelponnya agar dia tidak salah paham padamu.""Aku bermaksud menjelaskannya secara langsung setelah selesai mengurus semuanya, tapi ....""Tapi ternyata dia justru mengambil kesempatan itu untuk meninggalkanmu dan pergi dengan pria lain," potong Gery sambil tersenyum. "Kau terlalu percaya diri Raka. Kau pikir Kiran pasti tidak akan berani meninggalkanmu setelah kau bilang ingin memulai awal lagi dengannya."Raka hanya diam dengan pandangan lurus ke depan sambil memainkan gelas yang ada di tangan kanannya."Kiran pasti berpikir kau hanya mempermainkannya, makanya dia memilih pergi," ujar Gery. "Tapi, aku mendukung keputusan Kiran pergi meninggalkanmu. Lebih baik dia bersama dengan pria itu daripada dengan pria sepertimu."Raka meletakkan gelasnya dengan kasar di meja, lalu menatap Gery d
“Kiran Avriyadi, beritahu aku, bagaimana kehidupanmu selama di penjara?” Pria bernama Raka itu meraih dagu Kiran, lalu berkata penuh penekanan, “Baik atau buruk?”Ketika melihat seringai jahat pria itu, kaki Kiran mendadak gemetar dan lemas. Saking lemasnya sampai dia tidak bisa berkata-kata lagi.
Kiran langsung bangun dari tidurnya begitu air membasahi wajahnya. Dia mengusap wajahnya dengan cepat, lalu menatap Raka yang sedang berdiri di samping ranjangnya. "Sudah saatnya bangun. Kamu bukan lagi tuan putri sekarang. Cepat bersihkan tubuhmu, aku tunggu di ruang makan." Setelah Raka pergi,
"Ini rumah siapa?"Kiran menatap rumah besar di depannya dengan heran setelah turun dari mobil Raka."Rumahku." Tanpa melirik pada Kiran, Raka berjalan melewatinya dengan acuh tak acuh.Kiran yang tidak tahu alasan Raka membawanya ke sana, akhirnya bertanya, "Kenapa aku dibawa ke sini?"Raka menghe
"Maaf, kami tidak bisa mempekerjakan mantan napi di sini," ucap Pria berumur 55 tahun yang sedang duduk di depan Kiran. “Saya bisa melakukan pekerjaan apa saja, Pak. Cleaning service juga boleh,” balas Kiran meyakinkan. Pria itu menggeleng dengan pelan. "Kami tetap tidak bisa menerimamu. Catatan







