LOGINSaat membuka matanya di pagi hari, Stevi langsung meringis sambil memegang kepalanya yang terasa sakit. Setelah memijatnya beberapa kali, dia akhirnya bangun dari tidur, lalu mengedarkan pandangan ke seluruh kamar. Dia sedikit terkejut ketika menyadari sedang berada di kamar, seingatnya semalam dia sedang mengobrol dengan Raka di ruangan santai setelah makan malam sambil menikmati alkohol yang diberikan oleh pria itu. Saat sedang larut dalam pikirannya, pintu kamar diketuk. Terdengar suara Raka memanggil namanya dari luar. Sebelum menyahut, Stevi dengan cepat membenahi rambut serta penampilannya agar terlihat sedikit rapi. "Masuk, Kak." Tidak lama berselang, pintu kamar terbuka dan muncullah Raka dari balik pintu. "Apa aku mengganggumu?" "Tidak, Kak," jawab Stevi sembari tersenyum. "Ada apa?" "Ada yang mau aku bicarakan denganmu." "Apa?" "Kamu mandi saja dulu, setelah itu sarapan, baru kita bicara." "Baik, Kak," kata Stevi cepat. Setelah Raka pergi, Stevi segera turun dari r
“Siapa?” Tiba-tiba saja Stevi tersenyum lebar, kemudian mendekatkan diri pada Raka yang duduk di sebelahnya. “Aku yang sudah menabrak Kak Mia hingga tewas,” bisik Stevi, kemudian dia menaruh jari telunjuknya di bibir, dan terdengarlah suara desisan dari mulutnya. “Jangan bilang siapa-siapa. Ini rahasia. Papa bilang, tidak ada yang boleh tahu soal ini,” racaunya. Usai mendengar itu, raut wajah langsung berubah menjadi suram. ”Kalau benar kamu yang sudah melenyapkan nyawa Mia, lalu bagaimana bisa Kiran menjadi tersangka dalam kecelakaan 4 tahun lalu?” Stevi memejamkan mata sejenak, menggaruk kepalanya yang tidak gatal, kemudian berkata, “Karena memang Kiran yang pertama kali menabrak Kak Mia,” jawab Stevi lirih sambil tersenyum seperti orang bodoh. “Maksudmu?” Dalam kondisi setengah sadar, Stevi menjawab, “Kiran menabrak mobil Kak Mia dari belakang hingga bergeser beberapa meter, kemudian aku yang menabrak mobilnya hingga terpental jauh di pinggir jalan.” “Jadi, maksudmu, Mia masi
Usai dirinya tertangkap, Hutomo pasti menyuruh orang kepercayaannya untuk mencari Stevi, dan Raka sengaja membawa Stevi diam-diam ke tempat yang jauh agar orang suruhan Hutomo tidak bisa menemukannya. “Baik, Pak.” Selesai berbicara dengan Doni, Raka masuk ke dalam vila dan pergi ke kamar utama yang biasa dia tempati saat liburan di sana. Dia mengambil ponselnya, lalu menghubungi seseorang. “Pa, aku mau meminta bantuanmu.” “Bantuan apa?” tanya Ayah Raka di seberang telpon. “Ini mengenai Om Hutomo.” Raka berbicara dengan ayahnya selama kurang lebih 10 menit. Setelah itu, dia masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Pukul setengah 8 malam, Raka mengajak Stevi untuk makan malam berdua saja di samping villa. Di sana, sudah terdapat satu meja dan dua kursi. Di tengah-tengah meja terdapat bunga mawar serta beberapa lilin yang menyala. “Kak, kamu sengaja mempersiapkan makan malam romantis ini untukku?” tanya Stevi dengan ekspresi gembira. “Tentu saja.” Stevi yang merasa sang
“Kak, kenapa kita ke sini?” tanya Stevi setelah mobil Raka berhenti di depan villa milik pria itu yang berada di Bandung. Mereka baru saja tiba di kota itu pukul 7 malam setelah melakukan perjalanan selama kurang lebih 3 jam dari Jakarta. “Liburan,” jawab Raka usai mematikan mesin mobilnya. “Kita sudah lama tidak liburan bersama, kan?" Mata Stevi seketika berbinar. “Jadi, kamu bukan sengaja mengajakku ke sini untuk liburan berdua saja?” Tadinya, Stevi berpikir kalau Raka akan mengajaknya berkencan ke tempat romantis, ternyata Raka justru mengajaknya liburan. “Kenapa? Tidak mau?” “Mau, Kak. Aku mau,” jawab Stevi bersemangat. Mana mungkin dia tidak mau, apalagi kalau mereka liburan hanya berdua saja. “Tapi ... apa kamu tidak takut Kak Kiran marah kalau tahu kamu membawaku liburan ke sini?” “Dia tidak berhak mengaturku. Biarkan saja dia marah, aku tidak peduli padanya.” Ketika mendengar itu, perasaan Stevi menjadi sangat bahagia. Perkataan itulah yang selama ini dia tunggu-tunggu
Setelah pergi dari sana, Raka pergi ke perusahaan Hutomo. Stevi yang mengetahui Raka sedang berada di kantor sang ayah, bergegas ke sana dengan perasaan gembira.“Raka, tumben kamu ke sini, ada apa?” tanya Hutomo setelah mempersilahkan Raka duduk di sofa ruangan kerjanya.Tanpa menjawab pertanyaan Hutomo, Raka melemparkan sejumlah foto di atas meja. Foto itu adalah foto orang-orang yang tadi baru saja dia temui. “Kenapa Om menyuruh orang-orang ini untuk menyiksa Kiran di penjara?”Hutomo melirik sekilas foto-foto itu, lalu kembali menatap Raka dengan santai. “Dia sudah membunuh Mia, Om hanya memberikan sedikit pelajaran padanya,” jawabnya acuh tak acuh. “Tidak ada yang salah dengan itu.""Tapi, Om hampir membuatnya meninggal do penjara," seru Raka tidak terima, tangannya mengepal hingga urat-urat di sekitar telapak tangannya menonjol."Tapi, nyatanya dia masih hidup," balas Hutomo santai. Tidak nampak rasa bersalah sedikit pun di wajahnya ketika mengatakan itu. "Jangan karena kamu sud
Pukul 8 pagi, taksi yang dipesan Raka tiba di depan rumah orang tua Kiran. Raka diantar sampai depan rumah oleh Kiran dan orang tuanya."Setelah urusanku selesai, aku akan ke sini lagi menjemputmu," ucap Raka sebelum memasuki mobil. "Aku harap kamu mau memberikanku kesempatan untuk memperbaiki pernikahan kita.""Iya."“Kalau begitu, aku pergi dulu,” pamit Raka pada Kiran.“Iya, hati-hati.”Setelah berpamitan pada orang tua Kiran, Raka melangkah menuju taksi yang sejak tadi sudah menunggu. Namun, baru saja akan membuka pintu, Raka tiba-tiba berbalik dan kembali menghampiri Kiran.“Kenapa? Apa ada yang tertinggal?” tanya Kiran heran setelah Raka berdiri di depannya.“Iya, aku melupakan sesuatu,” jawab Raka. Setelah itu, dia membungkuk, kemudian mengecup bibir sang istri. "Aku melupakan ini."Kiran tersipu, sementara orang tua Kiran hanya tersenyum tipis melihat pemandangan itu."Cepatlah pergi, nanti kamu terlambat," kata Kiran dengan wajah memerah."Iya, aku pergi dulu," balas Raka den
WARNING ....!!!!!Adegan kekerasan di bab ini TIDAK PATUT DICONTOH dan TIDAK BOLEH DITIRU. Khusus untuk usia 21+, usia di bawah itu, harap SKIP. Terima kasih.==================================="Kenapa saya harus pindah, Pak?" protes Kiran pada pria berumur sekitar 50 tahun yang sedang berada di h
"Bagaimana kalau aku tidak mau?" Raka menantang Alfan dengan wajah arogan. "Maka, aku tidak akan membiarkanmu pergi dari sini dengan membawanya," jawab Alfan tak kalah arogan. Kiran menjadi panik sekaligus bingung ketika melihat ketegangan di antara keduanya. Dia ing
“Kiran Avriyadi, beritahu aku, bagaimana kehidupanmu selama di penjara?” Pria bernama Raka itu meraih dagu Kiran, lalu berkata penuh penekanan, “Baik atau buruk?”Ketika melihat seringai jahat pria itu, kaki Kiran mendadak gemetar dan lemas. Saking lemasnya sampai dia tidak bisa berkata-kata lagi.
"Maaf, kami tidak bisa mempekerjakan mantan napi di sini," ucap Pria berumur 55 tahun yang sedang duduk di depan Kiran. “Saya bisa melakukan pekerjaan apa saja, Pak. Cleaning service juga boleh,” balas Kiran meyakinkan. Pria itu menggeleng dengan pelan. "Kami tetap tidak bisa menerimamu. Catatan







