Share

Bab 52

Penulis: Jiriana
last update Tanggal publikasi: 2026-06-16 07:24:56
Setelah terdiam selama beberapa detik, Kiran akhirnya berlutut. Tidak lama berselang Raka turun dan melihat itu.

"Kenapa kamu berlutut?" tanya sambil menghampri Kiran. "Bangun."

Kiran menepis tangan Raka ketika pria itu akan membantunya berdiri.

"Kiran, jangan bertingkah ke kanak-kanakkan. Cepat bangun."

Kiran mengangkat kepala, lalu menatap Raka dengan sinis. "Bukankah kamu tadi menyuruhku meminta maaf?"

"Iya, tapi aku tidak pernah menyuruhmu berlutut."

Lagi, Kiran menampilkan senyu
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (4)
goodnovel comment avatar
carsun18106
stevi mah udh jelas2 orgny aneh, lah si raka yg patut dipertanyakan
goodnovel comment avatar
carsun18106
walaupun baru sebatas itu pembelaan raka, setidaknya udh cukup bagus lah, udh ngga tahan juga pura2 ya raka??
goodnovel comment avatar
Jiriana
Greget ya kak sama Stevi.
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Revenge (Derita Tersembunyi)   Bab 71

    Pukul 5 sore, Kiran turun ke bawah untuk menunggu Raka pulang bekerja. Biasanya, pukul segitu pria itu akan tiba di rumah.  Ketika menuruni tangga, dia melihat ada Stevi dan Vania sedang duduk di sofa ruangan keluarga sambil menatap majalah fashion keluaran terbaru. Dari obrolan mereka, Kiran bisa mendengar kalau keduanya sedang memilih barang branded yang baru saja diluncurkan.  Karena tidak ingin mencari masalah dengan keduanya, Kiran memilih mengabaikan dan berjalan terus menuju ruangan tengah setelah turun dari tangga. Namun, tiba-tiba saja dia dipanggil oleh Stevi.  "Kiran, buatkan aku teh. Jangan terlalu banyak gula, aku sedang diet."  Kiran menoleh pada Stevi. "Minta Bi Rum yang buatkan, aku bukan pembantumu." Kemudian dia melangkah dari sana dengan wajah acuh tak acuh.  "Kak Kiran, kamu jangan tidak tahu diri, kamu itu dibawa kakakku ke sini untuk menjadi pembantu, bukan menjadi Nyonya di rumah ini."  Kiran yang baru saja berjalan 4 langkah, kembali berhenti. "Apa kamu t

  • Revenge (Derita Tersembunyi)   Bab 70

    "Aku permisi. Sampai bertemu lagi lain kali."  Kiran hanya mengangguk sopan sebagai jawaban. Saat menyadari kalau dia melupakan sesuatu, buru-buru dia melangkah dengan kaki pincang menuju pintu keluar.  Saat melihat Raka akan memasuki mobil, Kiran buru-buru berseru, "Raka, tunggu!"  Gerakan tangan Raka yang akan membuka pintu seketika terhenti. Dia memutar tubuhnya ke kiri dan menunggu Kiran menghampirinya.  Sebelum berbicara, Kiran mengatur napasnya yang tersengal-sengal akibat berjalan cepat tadi. "Mana ponselku? Kamu bilang akan mengembalikannya?"  Raka meraih sesuatu di saku celana kanannya, lalu menyodorkan benda pipih berwarna putih pada Kiran dan langsung disambut gembira oleh wanita itu. "Aku sudah menghapus nomor ponsel dokter itu. Jangan berhubungan lagi dengannya."  Karena tidak mau mencari masalah dengan Raka, dengan patuh Kiran mengangguk. Setelah mobil pria itu meninggalkan rumah, Kiran masuk ke dalam. Di ruangan keluarga, dia bertemu dengan Stevi dan Vania yang se

  • Revenge (Derita Tersembunyi)   Bab 69

    "Dari mana saja?" Gery langsung melontarkan pertanyaan ketika melihat Raka dan Kiran memasuki ruangan makan bersama. "Aku sudah menunggu sejak tadi, kamu tidur lagi?" Pertanyaan itu, dia tujukan pada Raka yang baru saja duduk di sebrangnya bersama Kiran. "Mandi," jawab Raka seadanya, dengan raut wajah datar. Gery mengunyah makanan dalam mulutnya dengan santai. Namun, dia tiba-tiba mengeryit ketika melihat sesuatu yang janggal. "Kenapa rambut kalian basah? Kalian habis mandi bersama?" Kiran yang baru saja meminum air putih, seketika terbatuk ketika mendengar itu. Raka langsung melesatkan tatapan tajam ke arah Gery setelah Kiran berhenti terbatuk. Namun, sahabatnya itu justu mengulum senyumnya dengan wajah santai. Sementara Stevi dan Vania yang sejak tadi hanya diam, langsung melirik ke arah Raka dan Kiran secara bergantian. Tampak sepercik api kemarahan dalam sorot mata Stevi ketika menyadari kalau Kiran sudah berganti pakaian. Dalam benaknya, dia secara tidak sadar menyimpulka

  • Revenge (Derita Tersembunyi)   Bab 68

    "Raka, kenapa kamu terus membawa Alfan dalam pembicaraan kita? Dia tidak ada hubugannya sama sekali denganku." Seolah sedang mendengar lelucon, Raka seketika tersenyum sinis. "Tidak ada hubungan, tapi kamu selalu tersenyum manis padanya. Bahkan, tidak sabar untuk segera bertemu dengannya sampai pergi ke rumah sakit pagi-pagi sekali." 'Kapan dirinya tersenyum manis pada Alfan?" "Raka, aku berangkat pagi-pagi ke rumah sakit waktu itu bukan karena ingin bertemu dengannya, tapi karena ...." Karena dia tidak tahu harus bersikap seperti apa pada Raka setelah insiden ciuman malem itu. "Karena apa?" tanya Raka akhirnya saat melihat Kiran hanya diam dan tidak melanjutkan ucapannya lagi. "Karena jadwal dokter dimajukan." Hanya itu satu-satunya alasan yang dia berikan pada Raka agar tidak ditanya lagi. "Lalu, kenapa kamu tidak mengatakan padanya kalau kamu sudah menikah

  • Revenge (Derita Tersembunyi)   Bab 67

    "Tidak mau," tolak Stevi. "Izinkan aku tinggal selama beberapa hari lagi di sini, baru aku lepaskan." Karena Stevi tidak mau melepaskan, Raka memegang kedua lengan Stevi, kemudian mendorongnya dengan kuat hingga dia nyaris terjatuh di dekat pintu. Beruntung wanita itu langsung berpegangan pada tembok. "Ini peringatan terakhirku. Jangan pernah memelukku lagi seperti tadi." Usai mengatakan itu, Raka keluar dari kamar, berjalan dengan langkah cepat—menyusul Kiran yang sedang berjalan dengan langkah pincang. "Mau ke mana?" Kiran yang tiba-tiba ditarik dari belakang tampak membelalak dengan mulut sedikit terbuka. Tubuhnya sedikit terhuyung saat akan membentur dada bidang Raka. Baju keduanya sampai basah karena terkena siraman air yang berasal dari dalam gelas yang sedang Kiran pegang akibat wanita itu bergerak terlalu cepat. "Raka lepaskan," pinta Kiran dengan wajah panik. "Kenapa langsung pergi?" Bukannya melepaskan Kiran, Raka justru semakin menarik pinggang Kiran ke arahny

  • Revenge (Derita Tersembunyi)   Bab 66

    Setelah memastikan penampilannya sudah rapi dan cantik, Stevi membuka pintu kamar tamu yang ditempati oleh Raka semalam. Begitu melihat pria itu baru saja keluar dari kamar mandi, Stevi segera berjalan ke arahnya sambil tersenyum manis. "Kak, kamu sudah bangun?" Raka yang melihat Stevi berjalan begitu lincah tanpa menggunakan tongkat, mengerutkan kening dengan tatapan memicing. "Kakimu sudah sembuh?" Selama seminggu ini, selain tidak pernah bertemu dengan Kiran, Raka juga tidak pernah bertemu dengan Stevi. Jadi, dia tidak tahu mengenai kondisi terbaru Stevi. "Dokter bilang kaki sudah mau sembuh, Kak. Cukup sering latihan berjalan juga akan pulih seperti dulu," terangnya antusias karena merasa kalau Raka mempedulikannya. "Bagaimana dengan kepala dan cidera yang lain?" Sebelumnya, akibat terjatuh dari lantai 2, Stevi mengalami geger otak ringan dan cidera di beberapa bagian tubuhnya. "Sudah mau sembuh, Kak. Aku baru selesai berkonsultasi dengan dokter kemarin," jawabnya lagi deng

  • Revenge (Derita Tersembunyi)   Bab 63

    "Kalau begitu, cerai saja. Daripada saling menyakiti, lebih baik kalian berpisah."   Mata hitam Raka seketika berkilat. "Aku tidak akan melepaskannya. Dia harus menebus kesalahannya dulu padaku."   "Setelah Kiran menebusnya, apa kamu akan membiarkannya pergi?"   Tanpa pikir panjang, Raka langs

  • Revenge (Derita Tersembunyi)   Bab 61

    Raka terbangun pukul 5 pagi. Hal yang pertama dia lakukan adalah kembali ke kamarnya untuk mengecek kondisi Kiran. Setelah memastikan demamnya sudah turun, Raka masuk kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.   Karena Kiran masih tidur, Raka turun ke bawah setelah berganti pakaian. Dia pergi menemui

  • Revenge (Derita Tersembunyi)   Bab 60

    "Sudah selesai mengobatinya?" tanya Raka pada wanita cantik yang baru saja menghampirinya di balkon atas yang berada di dekat ruangan santai. "Sudah. Demamnya mungkin sebentar lagi akan turun." Wanita yang kini berdiri di sisi kiri Raka, menatap lurus ke depan, kemudian berkata, "Sebaiknya besok

  • Revenge (Derita Tersembunyi)   Bab 59

    "Penjara seumur hidup," jawab Raka tegas. "Jika ingin setimpal, hutang nyawa harus dibayar dengan nyawa." Kiran menunduk sambil tersenyum getir. 'Jadi, yang dia inginkan sebenarnya adalah nyawaku.' Setelah menghilang senyuman di wajahnya, Kiran mengangkat kepala, lalu menatap pria di depannya

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status