LOGIN"Raka, kenapa kamu terus membawa Alfan dalam pembicaraan kita? Dia tidak ada hubugannya sama sekali denganku." Seolah sedang mendengar lelucon, Raka seketika tersenyum sinis. "Tidak ada hubungan, tapi kamu selalu tersenyum manis padanya. Bahkan, tidak sabar untuk segera bertemu dengannya sampai pergi ke rumah sakit pagi-pagi sekali." 'Kapan dirinya tersenyum manis pada Alfan?" "Raka, aku berangkat pagi-pagi ke rumah sakit waktu itu bukan karena ingin bertemu dengannya, tapi karena ...." Karena dia tidak tahu harus bersikap seperti apa pada Raka setelah insiden ciuman malem itu. "Karena apa?" tanya Raka akhirnya saat melihat Kiran hanya diam dan tidak melanjutkan ucapannya lagi. "Karena jadwal dokter dimajukan." Hanya itu satu-satunya alasan yang dia berikan pada Raka agar tidak ditanya lagi. "Lalu, kenapa kamu tidak mengatakan padanya kalau kamu sudah menikah
"Tidak mau," tolak Stevi. "Izinkan aku tinggal selama beberapa hari lagi di sini, baru aku lepaskan." Karena Stevi tidak mau melepaskan, Raka memegang kedua lengan Stevi, kemudian mendorongnya dengan kuat hingga dia nyaris terjatuh di dekat pintu. Beruntung wanita itu langsung berpegangan pada tembok. "Ini peringatan terakhirku. Jangan pernah memelukku lagi seperti tadi." Usai mengatakan itu, Raka keluar dari kamar, berjalan dengan langkah cepat—menyusul Kiran yang sedang berjalan dengan langkah pincang. "Mau ke mana?" Kiran yang tiba-tiba ditarik dari belakang tampak membelalak dengan mulut sedikit terbuka. Tubuhnya sedikit terhuyung saat akan membentur dada bidang Raka. Baju keduanya sampai basah karena terkena siraman air yang berasal dari dalam gelas yang sedang Kiran pegang akibat wanita itu bergerak terlalu cepat. "Raka lepaskan," pinta Kiran dengan wajah panik. "Kenapa langsung pergi?" Bukannya melepaskan Kiran, Raka justru semakin menarik pinggang Kiran ke arahny
Setelah memastikan penampilannya sudah rapi dan cantik, Stevi membuka pintu kamar tamu yang ditempati oleh Raka semalam. Begitu melihat pria itu baru saja keluar dari kamar mandi, Stevi segera berjalan ke arahnya sambil tersenyum manis. "Kak, kamu sudah bangun?" Raka yang melihat Stevi berjalan begitu lincah tanpa menggunakan tongkat, mengerutkan kening dengan tatapan memicing. "Kakimu sudah sembuh?" Selama seminggu ini, selain tidak pernah bertemu dengan Kiran, Raka juga tidak pernah bertemu dengan Stevi. Jadi, dia tidak tahu mengenai kondisi terbaru Stevi. "Dokter bilang kaki sudah mau sembuh, Kak. Cukup sering latihan berjalan juga akan pulih seperti dulu," terangnya antusias karena merasa kalau Raka mempedulikannya. "Bagaimana dengan kepala dan cidera yang lain?" Sebelumnya, akibat terjatuh dari lantai 2, Stevi mengalami geger otak ringan dan cidera di beberapa bagian tubuhnya. "Sudah mau sembuh, Kak. Aku baru selesai berkonsultasi dengan dokter kemarin," jawabnya lagi deng
"Jika kamu tidak ingin aku curigai, lebih baik panggil Kiran. Biar dia yang merawat Raka. Dia lebih berhak merawat Raka dibandingkan dirimu." Ekspresi wajah Gery terlihat masih serius, sorot matanya pun lebih tajam dari sebelumnya. "Kak, aku bukannya tidak mau memanggil Kiran, tapi dia sudah tidur jam segini. Aku tidak tega membangunkannya. Dia kelihatan lelah tadi." Gery menunduk dan melihat jam tangan yang melingkar di tangan kirinya. Waktu sudah menunjukkan pukul 23.48 WIB. Mungkin saja benar kalau Kiran sudah tidur, mengingat pukul segitu memang waktunya orang-orang terlelap. "Kalau begitu, aku akan menginap di sini. Biar aku yang menjaganya." Tanpa menunggu persetujuan Stevi, Gery masuk ke dalam kamar melalui celah pintu yang masih terbuka. "Keluarlah." "Tapi, aku mau mera—" Belum juga Stevi menyelesaikan ucapannya, tubuhnya sudah didorong keluar oleh Gery. Bukan dengan tenaga yang kuat. Namun, hanya dorongan pelan. "Lebih baik kau istirahat sekarang. Ini sud
"Aku tidak cemburu." Gery yang tidak percaya, langsung mencibir Raka. "Tidak cemburu, tapi kamu seperti ingin meremukkan ponsel Kiran saat berbicara dengannya tadi." Raka terdiam dengan wajah kaku. Dia ingin membantah ucapan Gery, tapi entah mengapa lidahnya mendadak kelu. Jadi, tidak ada satu pun suara yang keluar dari mulutnya sampai Gery kembali angkat bicara. "Raka, meski kau terus menyangkalnya, tapi aku sangat yakin kalau kau sudah jatuh cinta pada Kiran. Sekarang, kau sudah terjebak di antara kebencian dan cinta," ucapnya. "Benci ibarat api. Jika kau terus menyulutnya, suatu saat api itu akan melahap habis dirimu. Sedangkan cinta, ibarat pisau bermata dua. Jika kau tidak berhati-hati memegangnya, maka akan melukaimu. Keduanya bisa sama-sama menyakitimu, bahkan di saat bersamaan. Jadi, berhentilah sebelum semuanya terlambat." "Kau menyumpahiku?" "Tidak. Aku hanya memperingatkanmu. Jangan sampai kau baru menyesalinya di saat sudah tidak bisa memperbaikinya lagi." Sete
"Kalau begitu, cerai saja. Daripada saling menyakiti, lebih baik kalian berpisah." Mata hitam Raka seketika berkilat. "Aku tidak akan melepaskannya. Dia harus menebus kesalahannya dulu padaku." "Setelah Kiran menebusnya, apa kamu akan membiarkannya pergi?" Tanpa pikir panjang, Raka langsung menjawab, "Tentu saja tidak." Gery menggeleng lemah, kemudian berkata, "Kenapa? Tidak rela dia pergi? Takut kehilangannya?" Gery melemparkan senyuman menggoda ketika menanyakan itu. "Jangan bicara omong kosong. Aku menahanya hanya karena ingin membalaskan dendam. Apa kamu lupa, alasan aku menikahinya?" "Tentu saja aku ingat," jawab Gery mantap. "Kau bilang, sengaja menikahinya hanya untuk menyiksanya. Tapi yang aku lihat, dia yang menyiksamu, bukan kau yang menyiksanya." "Itu hanya menurutmu," jawab Raka acuh tak acuh. "Memang itu kenyataannya. Selama ini, kau berusaha menyiksanya dengan kebencian, tapi dia justru menyiksamu dengan cinta." Dari luar, memang sepert
Raka terbangun pukul 5 pagi. Hal yang pertama dia lakukan adalah kembali ke kamarnya untuk mengecek kondisi Kiran. Setelah memastikan demamnya sudah turun, Raka masuk kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Karena Kiran masih tidur, Raka turun ke bawah setelah berganti pakaian. Dia pergi menemui
"Sudah selesai mengobatinya?" tanya Raka pada wanita cantik yang baru saja menghampirinya di balkon atas yang berada di dekat ruangan santai. "Sudah. Demamnya mungkin sebentar lagi akan turun." Wanita yang kini berdiri di sisi kiri Raka, menatap lurus ke depan, kemudian berkata, "Sebaiknya besok
"Penjara seumur hidup," jawab Raka tegas. "Jika ingin setimpal, hutang nyawa harus dibayar dengan nyawa." Kiran menunduk sambil tersenyum getir. 'Jadi, yang dia inginkan sebenarnya adalah nyawaku.' Setelah menghilang senyuman di wajahnya, Kiran mengangkat kepala, lalu menatap pria di depannya
"Cerai?" ulang Raka. "Mimpi. Dia sudah membunuh calon istriku, jadi dia harus menggantikan posisi Mia selamanya." Padahal, Raka sudah berjanji akan melepaskan Kiran setelah selesai menebus kesalahannya dan paling lama itu satu tahun setelah mereka menikah. "Raka, apa kau yakin alasanmu menahan







