เข้าสู่ระบบSetelah mengangkat Kiran ke atas, Raka membaringkan tubuhnya di lantai, kemudian mengecek pernapasannya dengan cara menempelkan kuping ke mulut dan hidung Kiran, setelah itu memperhatikan gerakan dada Kiran sebentar sebelum memeriksa denyut nadi di lehernya."Kiran," panggil Raka.Namun, tidak ada respon apa pun darinya. Tanpa pikir panjang, Raka memberikan bantuan pernapasan pada Kiran sebanyak lima kali.Melihat belum ada pergerakan juga dari Kiran, Raka kembali membungkuk dan memberikan napas buatan lagi. Setelah melakukan sebanyak dua kali, barulah muncul pergerakan dari Kiran, dan tidak lama setelah itu matanya terbuka.Melihat Kiran akan memuntahkan sesuatu, buru-buru Raka memiring tubuh wanita itu ke samping agar tidak tersedak. Kiran pun terbatuk dan mengeluarkan air dari mulutnya.Raka seketika merasa lega begitu melihat Kiran baik-baik saja."Kiran, apa kau itu bodoh? Otakmu itu, apa tidak ada isinya?"Baru saja Kiran selesai mengeluarkan air dari mulutnya, dia sudah dimarah
“Raka, apa maksudmu membawa Kiran ke rumahmu?”Raka mengangkat kepala dengan malas begitu tahu kalau ibu dan adiknya yang masuk ke ruangannya. “Tidak bisakah Mama mengetuk pintu dulu?” Setelah mengatakan itu, dia kembali menatap dokumen di depannya, mengabaikan ibunya yang sedang berjalan mendekati meja kerjanya.“Raka, Mama sedang tidak ingin berbasa-basi. Kenapa kau membawa Kiran ke rumahmu?”“Benar, Kak. Untuk apa Kakak menampung si pembunuh itu. Dia—"Vania langsung mengatupkan bibirnya dengan rapat setelah mendapatkan tatapan tajam dari ibu dan kakaknya.“Mama baru pulang dari rumahmu dan bertemu Kiran di sana. Dia bilang, kau sengaja menahan dan menjadikannya pembantu di sana.”Raka akhirnya menutup dokumen di tangannya, kemudian menatap sang ibu dengan malas. “Aku hanya memberikan pekerjaan dan tempat tinggal padanya. Tidak ada yang salah dengan itu.”“Raka, jangan pikir Mama tidak tahu apa yang ada di pikiranmu. Kau tidak mungkin sebaik itu terhadap orang yang sudah menyebabka
Kiran langsung bangun dari tidurnya begitu air membasahi wajahnya. Dia mengusap wajahnya dengan cepat, lalu menatap Raka yang sedang berdiri di samping ranjangnya."Sudah saatnya bangun. Kamu bukan lagi tuan putri sekarang. Cepat bersihkan tubuhmu, aku tunggu di ruang makan."Setelah Raka pergi, Bi Rum menghampiri Kiran dengan wajah iba. Ketika melihat wajah pucatnya, Bi Rum langsung bertanya dengan lembut, "Non Kiran, sakit?"Kiran menggeleng. "Tidak, Bi."Merasa ragu dengan jawaban Kiran, Bi Rum menempelkan tangan di dahinya. Matanya membelalak ketika merasakan suhu di tubuh Kiran sangat panas. "Non Kiran, demam. Biar Bibi bilang sama Den Raka dulu."Ketika Bi Rum akan pergi, Kiran menahan lengannya. "Jangan, Bi. Kiran cuma demam biasa. Nanti juga sembuh habis minum obat."Dengan hati-hati, Kiran turun dari ranjang dibantu oleh Bi Rum. "Kiran mandi dulu, Bi."Setelah selesai mandi, Kiran pergi ke ruangan makan, di mana Raka sedang berada."Bi Rum, hari ini biar Kiran yang mengerjaka
"Ini rumah siapa?"Kiran menatap rumah besar di depannya dengan heran setelah turun dari mobil Raka."Rumahku." Tanpa melirik pada Kiran, Raka berjalan melewatinya dengan acuh tak acuh.Kiran yang tidak tahu alasan Raka membawanya ke sana, akhirnya bertanya, "Kenapa aku dibawa ke sini?"Raka menghentikan langkahnya, lalu menoleh pada Kiran. "Sudah waktunya kamu menebus kesalahanmu."Kiran mematung seketika.Menebus kesalahan? Pria itu ingin aku menebus kesalahan dengan cara apa?"Jangan diam saja. Ikut aku ke dalam.""Aku tidak mau."Kiran tidak mau mengikuti Raka masuk ke dalam rumah pria itu karena dia tidak tahu apa yang akan Raka lakukan padanya nanti. Bagaimana jika pria itu berbuat yang tidak-tidak padanya."Sebaiknya kamu masuk ke dalam selagi aku memintanya baik-baik."Kiran menelan salivanya ketika mendapatkan tatapan tajam dari Raka. Kakinya sampai gemetar karena merasa terintimidasi oleh tatapan pria itu."Aku tidak memiliki kesabaran lebih padamu, jadi cepat ikuti aku," la
"Mau ke mana?" Gery menahan lengan Raka ketika melihat pria itu melangkah."Masuk ke dalam.""Eh, tunggu dulu." Baru sempat melangkah, Raka kembali ditahan oleh Gery. "Kau mau melakukan apa di dalam, menghampiri Kiran?""Menurutmu?" tanya Raka dengan malas."Jangan membuat keributan di rumah sakit. Meski keluargamu berpengaruh, tapi kau tidak bisa bertindak sesukamu."Dengan raut wajah tidak sabar, Raka berkata, "Diam dan lihat saja apa yang akan kulakukan." Setelah itu Raka melangkah masuk. Namun, suara ponsel di sakunya seketika menghentikan langkahnya. Dia memutar arah dan mengangkat panggilan itu.Sementara itu di dalam ruangan IGD, Kiran kembali duduk di brankar setelah sempat hampir terjatuh akibat tidak bisa menjejakkan kaki dengan baik di lantai."Sebaiknya kamu dirawat semalam di sini. Kamu tidak bisa pulang dalam kondisi kaki yang cidera," saran Alfan."Aku tidak apa-apa. Dokter sudah meresepkan obat, aku hanya perlu meminumnya dan setelah itu akan sembuh.""Cidera di kakimu
"Raka, kau yakin akan meninggalkannya sendirian di sana?" tanya Gery sesaat setelah mobil melaju.Raka tidak menjawab dan hanya menatap jalanan di depannya."Raka, aku tahu kau masih membencinya, tapi saat ini dia sedang membutuhkan pertolongan. Tidak bisakah mengesampingkan dendammu dulu dan menolongnya?""Tidak bisa," jawab Raka datar. "Biarkan orang lain yang menolongnya."Gery menggeleng lemah, kemudian berkata, "Raka, kau sudah membuatnya kehilangan pekerjaan, kau juga sudah membuatnya diusir dari kontrakannya, apa itu belum cukup untuk memuaskan hatimu?""Itu tidak sebanding dengan apa yang sudah dia lakukan padaku. Dia sudah membuatku kehilangan orang yang aku cintai. Dia menghancurkan kebahagianku."Gery menghela napas panjang dengan wajah frustrasi. "Dia memang salah, tapi dia sudah mendapatkan hukuman atas perbuatannya, memangnya itu belum cukup?""Empat tahun adalah hukuman yang sangat ringan baginya. Ini tidak adil bagi Mia.""Iya, aku tahu, tapi dia juga sudah kehilangan







