INICIAR SESIÓNSebentar lagi cerita ini tamat. Cerita ini gak ada extra partnya ya. Semoga suka dengan endingnya nanti. Maaf beberapa hari kemarin Author gak up.
"Ayahku bilang tidak ada yang boleh tahu kalau akulah yang sudah menabrak Kak Mia. Aku harus menyembunyikan kejadian itu dan berpura-pura tidak tahu apa-apa." Sejak mengetahui kalau Stevi terlibat dalam kecelakaan itu, Raka sebenarnya sudah menduga kalau Hutomo pasti mengetahui hal itu dan berusaha melindungi sang putri. "Kalau begitu, bisakah kamu memberikan rekaman kecelakaan waktu itu?" tanya Raka hati-hati. Ekspresi Stevi seketika berubah. "Untuk apa? Kakak mau menjebloskanku ke penjara?" Raka segera menggeleng, kemudian menenangkan Stevi agar dia tidak berpikir macam-macam. "Tidak. Aku hanya ingin melihatnya." "Bohong!" seru Stevi marah, kemudian dia segera menjauhkan tubuhnya dari Raka. "Kamu pasti mau memasukkanku penjara, kan?" "Tidak. Kamu adik Mia, mana mungkin menjebloskanmu ke penjara." "Bisa saja kamu ingin membersihkan nama Kiran dengan mengorbankanku," tuduh Stevi. "Tidak," sanggah Raka. "Untuk apa aku membersihkan namanya? Aku justru sangat membencinya.
Saat membuka matanya di pagi hari, Stevi langsung meringis sambil memegang kepalanya yang terasa sakit. Setelah memijatnya beberapa kali, dia akhirnya bangun dari tidur, lalu mengedarkan pandangan ke seluruh kamar. Dia sedikit terkejut ketika menyadari sedang berada di kamar, seingatnya semalam dia sedang mengobrol dengan Raka di ruangan santai setelah makan malam sambil menikmati alkohol yang diberikan oleh pria itu. Saat sedang larut dalam pikirannya, pintu kamar diketuk. Terdengar suara Raka memanggil namanya dari luar. Sebelum menyahut, Stevi dengan cepat membenahi rambut serta penampilannya agar terlihat sedikit rapi. "Masuk, Kak." Tidak lama berselang, pintu kamar terbuka dan muncullah Raka dari balik pintu. "Apa aku mengganggumu?" "Tidak, Kak," jawab Stevi sembari tersenyum. "Ada apa?" "Ada yang mau aku bicarakan denganmu." "Apa?" "Kamu mandi saja dulu, setelah itu sarapan, baru kita bicara." "Baik, Kak," kata Stevi cepat. Setelah Raka pergi, Stevi segera turun dari r
“Siapa?” Tiba-tiba saja Stevi tersenyum lebar, kemudian mendekatkan diri pada Raka yang duduk di sebelahnya. “Aku yang sudah menabrak Kak Mia hingga tewas,” bisik Stevi, kemudian dia menaruh jari telunjuknya di bibir, dan terdengarlah suara desisan dari mulutnya. “Jangan bilang siapa-siapa. Ini rahasia. Papa bilang, tidak ada yang boleh tahu soal ini,” racaunya. Usai mendengar itu, raut wajah langsung berubah menjadi suram. ”Kalau benar kamu yang sudah melenyapkan nyawa Mia, lalu bagaimana bisa Kiran menjadi tersangka dalam kecelakaan 4 tahun lalu?” Stevi memejamkan mata sejenak, menggaruk kepalanya yang tidak gatal, kemudian berkata, “Karena memang Kiran yang pertama kali menabrak Kak Mia,” jawab Stevi lirih sambil tersenyum seperti orang bodoh. “Maksudmu?” Dalam kondisi setengah sadar, Stevi menjawab, “Kiran menabrak mobil Kak Mia dari belakang hingga bergeser beberapa meter, kemudian aku yang menabrak mobilnya hingga terpental jauh di pinggir jalan.” “Jadi, maksudmu, Mia masi
Usai dirinya tertangkap, Hutomo pasti menyuruh orang kepercayaannya untuk mencari Stevi, dan Raka sengaja membawa Stevi diam-diam ke tempat yang jauh agar orang suruhan Hutomo tidak bisa menemukannya. “Baik, Pak.” Selesai berbicara dengan Doni, Raka masuk ke dalam vila dan pergi ke kamar utama yang biasa dia tempati saat liburan di sana. Dia mengambil ponselnya, lalu menghubungi seseorang. “Pa, aku mau meminta bantuanmu.” “Bantuan apa?” tanya Ayah Raka di seberang telpon. “Ini mengenai Om Hutomo.” Raka berbicara dengan ayahnya selama kurang lebih 10 menit. Setelah itu, dia masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Pukul setengah 8 malam, Raka mengajak Stevi untuk makan malam berdua saja di samping villa. Di sana, sudah terdapat satu meja dan dua kursi. Di tengah-tengah meja terdapat bunga mawar serta beberapa lilin yang menyala. “Kak, kamu sengaja mempersiapkan makan malam romantis ini untukku?” tanya Stevi dengan ekspresi gembira. “Tentu saja.” Stevi yang merasa sang
“Kak, kenapa kita ke sini?” tanya Stevi setelah mobil Raka berhenti di depan villa milik pria itu yang berada di Bandung. Mereka baru saja tiba di kota itu pukul 7 malam setelah melakukan perjalanan selama kurang lebih 3 jam dari Jakarta. “Liburan,” jawab Raka usai mematikan mesin mobilnya. “Kita sudah lama tidak liburan bersama, kan?" Mata Stevi seketika berbinar. “Jadi, kamu bukan sengaja mengajakku ke sini untuk liburan berdua saja?” Tadinya, Stevi berpikir kalau Raka akan mengajaknya berkencan ke tempat romantis, ternyata Raka justru mengajaknya liburan. “Kenapa? Tidak mau?” “Mau, Kak. Aku mau,” jawab Stevi bersemangat. Mana mungkin dia tidak mau, apalagi kalau mereka liburan hanya berdua saja. “Tapi ... apa kamu tidak takut Kak Kiran marah kalau tahu kamu membawaku liburan ke sini?” “Dia tidak berhak mengaturku. Biarkan saja dia marah, aku tidak peduli padanya.” Ketika mendengar itu, perasaan Stevi menjadi sangat bahagia. Perkataan itulah yang selama ini dia tunggu-tunggu
Setelah pergi dari sana, Raka pergi ke perusahaan Hutomo. Stevi yang mengetahui Raka sedang berada di kantor sang ayah, bergegas ke sana dengan perasaan gembira.“Raka, tumben kamu ke sini, ada apa?” tanya Hutomo setelah mempersilahkan Raka duduk di sofa ruangan kerjanya.Tanpa menjawab pertanyaan Hutomo, Raka melemparkan sejumlah foto di atas meja. Foto itu adalah foto orang-orang yang tadi baru saja dia temui. “Kenapa Om menyuruh orang-orang ini untuk menyiksa Kiran di penjara?”Hutomo melirik sekilas foto-foto itu, lalu kembali menatap Raka dengan santai. “Dia sudah membunuh Mia, Om hanya memberikan sedikit pelajaran padanya,” jawabnya acuh tak acuh. “Tidak ada yang salah dengan itu.""Tapi, Om hampir membuatnya meninggal do penjara," seru Raka tidak terima, tangannya mengepal hingga urat-urat di sekitar telapak tangannya menonjol."Tapi, nyatanya dia masih hidup," balas Hutomo santai. Tidak nampak rasa bersalah sedikit pun di wajahnya ketika mengatakan itu. "Jangan karena kamu sud
"Maaf, kami tidak bisa mempekerjakan mantan napi di sini," ucap Pria berumur 55 tahun yang sedang duduk di depan Kiran. “Saya bisa melakukan pekerjaan apa saja, Pak. Cleaning service juga boleh,” balas Kiran meyakinkan. Pria itu menggeleng dengan pelan. "Kami tetap tidak bisa menerimamu. Catatan
"Bagaimana kalau aku tidak mau?" Raka menantang Alfan dengan wajah arogan. "Maka, aku tidak akan membiarkanmu pergi dari sini dengan membawanya," jawab Alfan tak kalah arogan. Kiran menjadi panik sekaligus bingung ketika melihat ketegangan di antara keduanya. Dia ing
Melihat dia akan terjatuh ke bawah, Kiran berusaha menggapai pegangan di pinggir tangga. Namun, gagal karena tangannya licin. Sebelum Kiran sempat terjungkal di anak tangga pertama, Stevi dengan cepat maju dan menarik tangan Kiran dan menukar posisinya menjadi terbalik. "Kiran, tolong aku." Ki
Kiran langsung bangun dari tidurnya begitu air membasahi wajahnya. Dia mengusap wajahnya dengan cepat, lalu menatap Raka yang sedang berdiri di samping ranjangnya. "Sudah saatnya bangun. Kamu bukan lagi tuan putri sekarang. Cepat bersihkan tubuhmu, aku tunggu di ruang makan." Setelah Raka pergi,







