Share

SATU JIWA DUA KEHIDUPAN
SATU JIWA DUA KEHIDUPAN
Author: Datu Zahra

01

Author: Datu Zahra
last update Last Updated: 2025-10-03 03:53:32

Suara sirine ambulance meraung bersahutan, menciptakan keriuhan bercampur kepanikan. Para petugas medis berhamburan keluar, menyambut kedatangan para korban kecelakaan.

Rintihan memilukan, darah segar mengalir dengan luka menganga menampakkan daging dan tulang. Menjadi pemandangan ironi setiap retina yang menyaksikan

"Sipakan ruang operasi..!" Titah salah seorang dokter yang menangani pasien cidera dikepala dan kaki.

"Dalam hitungan ketiga...!"

"Siapkan ICD...!"

"Pasien ini butuh donor darah..!"

Suara para dokter saling bersahutan, mengomandoi perawat yang sigap memberikan dan melakukan yang diinginkan.

"Kau tangani pasien dibangsal tiga, aku akan melakukan operasi." Ucap Hana pada salah satu dokter lelaki.

"Kau mau melakukan operasi sendiri..?" Tanya dokter pria yang bernama Riu itu..

Hana mengangguk, mengalihkan perhatian pada seorang dokter magang yang sudah selesai melakukan perawatan pada salah satu korban.

"Pasien bangsal enam mengalami luka ringan dan patah tangan, kau tangani itu." kata Hana.

"Baik dokter...!"

Hana bersiap keruang operasi, meninggalkan keriuhan diInstalasi Gawat Darurat.

Ada lebih dari lima belas orang korban terluka dan dua orang meninggal dunia, akibat kecelakaan beruntun dijalan Shibuya Tokyo. Semua diakibatkan oleh salah satu pengendara mobil yang sedang mabuk.

Hampir dua jam kesibukan di Instalasi Gawat Darurat baru mereda, para pasien juga telah dipindahkan keruang rawat inap.

Sementara Hana Sato masih berada didalam ruang operasi, sedang berusaha untuk mengeluarkan pecahan kaca yang bersarang dikepala, serta patahan body mobil yang menancap didada korban.

"Apa operasi belum selesai..?" tanya Riu pada suster yang baru keluar dari ruang operasi.

"Belum dokter, pasien mengalami pendarahan." jawabnya lalu pamit guna mengambil kantung darah lagi.

Detik berganti menit, tak terasa sudah lima jam berlalu.

Akhirnya operasi melelahkan itu pun selesai, dengan hasil yang memuaskan karena nyawa korban dapat diselamatkan.

Hana melakukan perenggangan seraya menghela nafas berat, guna mengusir lelah dan pegal yang mendera. Melepas masker serta semua atribut yang melekat dibadan. Mencuci tangan dan wajah, kemudian meninggalkan ruangan.

Riu yang sudah menunggu didepan ruang operasi bersama sebotol air mineral, sigap menghampiri wanita pujaannya itu.

Hana tersenyum "terimakasih...!"

"Aku antar pulang ya..?" tawar Riu.

Hana menggeleng, meneguk minumannya hingga tandas.

"Sayang...!" seru Riu cemas, karena melihat wajah lelah sang kekasih.

"Aku tidak apa-apa, jangan khawatir. Lagi pula jam jagamu belum selesai." ucap Hana lembut.

"Kalau tidak, biar Kaito yang mengantarmu." Usul Riu yang lagi-lagi ditolak oleh Hana.

Seorang suster menghampiri mereka, memberitahu Riu jika pasien yang lelaki itu tangani mengajukan keluhan.

"Hubungi aku jika sudah sampai dirumah, hati-hati." ucap Riu sebelum meninggalkan sang kekasih.

Hana menuju ruangannya, membereskan barang-barangnya untuk bersiap pulang. Segelas kopi menjadi pilihan gadis cantik itu, untuk menemaninya diperjalanan.

Sudah pukul sebelas malam, kala Hana meninggalkan rumah sakit. Dengan mobil kesayangannya, gadis itu membelah jalanan kota Tokyo yang masih nampak ramai.

Tring Tring Tring

Dering ponsel memecah keheningan didalam kabin kendaraan.

Hana merogoh tas yang ia letakkan dibangku penumpang sebelahnya. "Ck, mana sih...?" ucapnya.

Hana yang tak juga mendapatkan ponselnya, mengalihkan perhatian dari jalanan didepannya. Bahkan sampai handphone sudah ditangan, fokusnya tidak juga kembali perjalanan.

Alhasil, wanita itu tidak melihat lampu lalu lintas sudah berubah merah. Mobilnya melaju lurus dengan kecepatan sedang, mengabaikan dua mobil dari arah kanan yang menginjak full pedal gas.

Tiinnnn

Hana terkejut, dan malah reflek menginjak rem. Alhasil mobilnya langsung dihantam keras oleh dua kendaraan sekaligus.

Brak Brak Bum

Dua kali benturan, dua kali mobil Hana jungkir balik, sebelum akhirnya berhenti menabrak beton pembatas jalan.

Asap mengepul dari kap mesin, kaca remuk begitu juga badan kendaraan yang ringsek. Tubuh kurus Hana terjepit, dengan kepala bersimbah darah bertumpu pada setir.

Netra lentik yang tertutup cairan pekat berbau anyir itu berkedip lemah, pandangannya samar sebelum akhirnya menjadi gelap bersamaan nyawanya yang terlepas dari raga.

Suara sirine kembali meraung, polisi ramai memadati jalanan bersama team penyelamat dan dokter. Kabar kecelakaan itu langsung menyebar, dan sampai ketelinga keluarga Sato serta sang kekasih Riu dalam waktu singkat.

Tangis histeris pecah dari ibu, kakak, dan para sahabat yang amat mengenal bagaimana baiknya kepribadian Hana Sato.

Sang ibu dan nenek serta beberapa sahabat wanita, bahkan sampai pingsan.

Sedangkan ayah, kakak lelaki dan Riu, menangis dalam diam memandangi tubuh Hana Sato yang sudah dingin terbujur kaku diruang jenazah.

Setelah proses pemeriksaan selesai, jenazah langsung dibawa kerumah duka.

Ratusan karangan bunga memenuhi area bangunan sampai kejalan raya. Ribuan pelayat dari berbagai macam kalangan dan profesi datang silih berganti.

Riu diam membisu, duduk disisi peti sembari terus memandangi wajah pucat Hana yang tetap terlihat cantik. Matanya memanas, memancarkan luka kesedihan yang amat mendalam.

Aksi saling menyalahkan diri sendiri, menggaung lirih didalam nurani.

Andai Riu tetap memaksa mengantarkan, pasti kekasihnya itu masih ada bersamanya.

Andai sang aysh dan kakak lelaki, tidak menuruti kemauan Hana yang tak ingin ada supir serta bodyguard. Pasti kejadian tragis ini bisa dihindari.

Andai saja Hana patuh, tentu gadis itu masih hidup dan mengenakan gaun pengantin diakhir tahun nanti.

Tapi semua cuma berandai-andai, nyatanya takdir tak dapat ditolak, kemalangan tak dapat dihindari.

"Sayang..! kenapa kau meninggalkan aku..? kenapa kau tidak menepati janjimu..?" lirih Riu dengan segaris airmata menghiasi wajah rupawannya.

Dua hari jenazah Hana Sato berada dirumah duka, sebelum akhirnya dikebumikan dipemakaman elite khusus bagi kaum bangsawan dan konglomerat negeri Sakura itu.

Dari kalangan artis, pengusaha, pemerintah, sahabat dirumah sakit, para penggemar. Mengantarkan kepergian Hana Sato untuk selama-lamanya.

Tangis pilu mengiris hati, menggaung ironi merobek udara. Langir kelabu hari ini, menjadi saksi tanah merah menutupi peti kayu mahoni yang berizi jasad Hana Sato, sosok yang banyak dicintai seantero negeri.

"Hana kembali, jangan tinggalkan ibu. Putriku...!" Jerit nyonya Sato histeris, menyaksikan peti mati diturunkan keliang lahat.

"Hana....!" Pekik wanita paruhbaya itu sebelum kehilangan kesadaran untuk yang kesekian kalinya.

Riu terisak juga pada akhirnya, memeluk erat bingkai foto sang kekasih hati. Tubuh tinggi tegapnya terhuyung, kakinya lemas tak mampu berpijak kokoh. Dadanya bak diremas tangan-tangan tak kasat mata, teramat sakit dan nyeri.

Ayah dan ketiga kakak lelaki serta para keponakan, berpelukan satu sama lain, guna saling menopang tubuh tanpa daya tenaga itu.

Tak ada lagi Hana Sato, wanita cantik dengan segudang prestasi dan bakat didunia ini lagi. Semua tentangnya cuma tinggal cerita dan kenangan yang tak akan terlupakan diabad ini.

Hanya ada raga kaku terkurung dalam dinginnya gundukan tanah merah yang ditaburi bunga aneka warna. Jiwanya sudah berpindah alam, entah itu surga, neraka, atau bahkan tidak keduanya.

Biarlah itu menjadi rahasia Tuhan dan dewa kebajikan yang akan memberikan ganjaran baik buruknya selama hidup didunia.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • SATU JIWA DUA KEHIDUPAN   12

    Empat musim silih berganti, membuang luka lalu mendatangkan kebahagiaan. Mengusir kesulitan dengan kemudahan, serta menyingkirkan penghalang guna menghadirkan keberhasilan.Satu tahun berlalu. Bisnis manisan benang emas dan tanghulu yang memakai buah Hawthorn dan jujube, berhasil menarik banyak peminat sampai detik ini.Enam varian minuman seduh herbal dengan bahan utama pemanis gula pear, laris manis dipasaran.Prodak itu dinamai gula herbal.Pilihan prodak ada gula pear dengan campuran bunga osmanthus.Gula pear ditambah kurma jujube dan biji angkak.Gula pear dipadupadankan bersama bubuk kayu manis dan mint.Bubuk jahe dicampur gula per dan kurma jujube.Teh jasmin dan gula pear diberi tambahan kurma madu.Gula pear yang dikemas bersama bubuk ginseng putih, sari akar ilalang dan biji angkak.Semua sangat bagus bagi kekebalan imun dan daya tahan tubuh. Jika dimusim panas, gula herbal itu juga

  • SATU JIWA DUA KEHIDUPAN   11

    Dengan menaiki kereta sewaan, Guang Fang bersama istri dan putrinya pergi keIbukota pusat.Begitu juga dengan Yuhan, Mu Yue, Zilong, tuan dan nyonya Wei tua.Memerlukan waktu satu jam untuk sampai ditempat tujuan."Kalian jalan-jalan saja, biar aku dan kakak ipar yang berjualan." titah Guang Fang pada istri, mertua dan istri Yuhan."Tidak, kami akan membantu kalian. Kalau mau melihat-lihat Ibukota dan berbelanja, lebih bagus bersama-sama." sahut nyonya Wei.Mereka pun mencari tempat.Setelah mendapatkan lokasi yang cocok lalu membayar pajak. Meja dan dagangan dikeluarkan dari cincin penyimpanan.Tanghulu disusun rapi pada tiang jerami, sementara manisannya tetap ditempatkan pada gentong tanah liat."Tanghulunya tuan, nyonya..! ada manisan juga."Teriak para orang dewasa menawarkan guna menarik pembeli.Guang Su Zhi dan Wei Zilong yang duduk dibangku kayu kecil, mencuri banyak perhatian pengguna

  • SATU JIWA DUA KEHIDUPAN   10

    Seratus dua puluh koin emas, Guang Fang dan Wei Yuhan dapat dari kediaman tuan Bai.Semua hasil buruan yang mereka bawa pagi ini, diborong oleh tuan kaya raya itu.Jadi sudah tak perlu bersusah payah lagi Guang Fang dan Wei Yuhan menjualnya."Mau berbelanja atau langsung pulang..?" tanya Wei Yuhan."Pulang saja." jawab cepat Guang Fang."Bukankah kita akan membuat gula pear..? belanjanya besok saja sekalian menjual tanghulu dan manisan benang emas." sahut riang Guang Fang.Langkah kedua pria rupawan itu nampak sangat ringan, dengan senyum dan tawa yang tak jua sudi luntur tersungging dibibir."Bagaimana kalau besok menjualnya keIbukota saja..? aku ingin mengajak istri dan putraku juga orangtua kita sekalian, mereka sudah lama tidak jalan-jalan." tanya Wei Yuhan."Ide bagus..! aku juga akan mengajak istri dan putriku." sahut Guang Fang bersemangat.Sesampainya dirumah, para istri dan orangtua sudah bersi

  • SATU JIWA DUA KEHIDUPAN   09

    Guang Fang dan Wei Zihan masih tertegun linglung, memandangi cincin penyimpanan yang tergeletak diatas meja. Sampai mereka tak menyadari jika nenek tua telah hilang tanpa jejak diujung jalan desa.Kata-kata pesan wasiat dari nenek tua itu sebelum pamit, masing nyata terngiang digendang telinga."Didalamnya ada sesuatu yang sangat dibutuhkan putri kalian, berikan padanya ketika dia berusia sepuluh tahun.""Tapi ini sangat berharga, kami tidak bisa menerimanya." balas Guang Fang."Pertemuan kita sudah menjadi kehendak langit, kalian harus menerima dan menyimpannya dengan baik." jawab wanita tua mengusap lembut kepala Guang Su Zhi."Kelak putri kalian akan membawa perubahan bagi banyak orang, bimbing dan arahkan dia dengan benar. Jadikan putri kalian manusia yang berbudi luhur." lanjutnya.Guang Fang dan Wei Zihan cuma bisa patuh mengangguk lemah, menatap nenek tua dan Su Zhi bergantian."Jangan pernah kalian lepas gelang giok keselamatan ini dari tangan Zhi'er." ucap nenek membual agar

  • SATU JIWA DUA KEHIDUPAN   08

    "Bu..Bu..Bu..!" Kedua kaki mungil itu bergetar, melangkah terhuyung menghampiri sang ibu yang sedang duduk bertumpu pada kedua lutut, merentangkan tangan menyambut kedatangannya. Suara cadel menggemaskan, terlontar dari bibir kecil balita berusia satu tahun yang mulai belajar berjalan. HAP Tubuh gembulnya tenggelam dalam pelukan sang ibu, bibirnya terkikik geli menggemaskan, kala pipinya dihujani kecupan penuh kasih. "Putri ibu sangat hebat." Puji Wei Zihan berbinar, mengecup greget sang putri. Guang Su Zhi terkekeh geli "bu..bu...!" cicitnya lucu. Wajah Guang Fang terlipat jelek, bibirnya mengerucut protes. "Ayah terlupakan, sedih sekali." Ujarnya pura-pura merajuk, melipat kedua tangan didada. Wei Zihan dan Su Zhi terkekeh lagi. Su Zhi melepaskan diri dari dekapan sang ibu, berjalan tertatih menuju Guang Fang. "Yayah..!" Serunya cadel, memeluk ked

  • SATU JIWA DUA KEHIDUPAN   07

    Dikediaman sederhana pasangan bahagia yang baru saja memiliki seorang putri, suasana hangat menyelimuti dipagi cerah ini. Angin berhembus lembut, membawa aroma kesegaran dari bunga bermekaran."Biar aku saja yang memasak." cegah Wei Zilan saat sang suami akan menyalakan api tungku."Kau masih harus beristirahat, duduk saja bersama putri kita." balas Guang Fang."Aku sudah pulih." kata Wei Zilan "lagi pula cuma memasak, itu bukan pekerjaan yang berat."Netra lentik itu bergetar lirih, selaras dengan senyuman manis yang tergores ranum. Semua menunjukkan bahwa ia baik-baik saja.Guang Fang pun mengalah, ia memilih mengerjakan yang lain. Mencuci pakaian, menimba air untuk mengisi bak mandi dan gentong-gentong tanah liat, membersihkan rumah serta halaman.Setelahnya ia memanen tomat, sayuran hijau, kentang, dikebun belakang kediaman. Tumbuhan lama yang sudah tidak produktif dibersihkan, tanah digembarkan kemudian ditanami la

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status