LOGIN"Aahh....!!"
Jerit kesakitan Wei Zihan mengiris udara, mencabik rasa tenang yang dipaksakan oleh Guang Fang. Rintihan disertai erangan memilukan, menciptakan simfoni yang menakutkan. Guang Fang menggenggam erat tangan sang istri, yang sedang berjuang untuk melahirkan buah hati tercinta. Kata-kata penenang terselipkan semangat penuh kasih sayang, berulang kali diucapkan pria berusia dua puluh dua tahun itu. Tangannya yang nganggur, bergerak lembut mengusap buliran keringat dikening serta wajah cantik sang istri. Tabib wanita yang kerap disapa nenek Lee, datang bersama sang cucu sembari membawa ember berisi air hangat dan beberapa potong kain bersih. Nenek Lee melakukan pemeriksaan lagi, ternyata pembukaan telah sempurna. "Sudah waktunya..!" ucapnya. Sang cucu perempuan bersiap, membantu memegangi pinggul Wei Zihan agar tidak terangkat berlebihan. "Tarik nafas perlahan----- Nenek Lee memberi pengarahan, Wei Zihan patuh mengangguk sembari meringis kesakitan karena kontraksinya makin menjadi. "Dorong...!" "Aacchhh....!" pekik Wei Zihan. Usahanya masih gagal, nafas itu tersengal dengan keringat bercucuran deras. Percobaan kedua belum membuahkan hasil, bayi kecil itu masih enggan untuk menyapa kedua orangtuanya. "Dorong....!" komando nenek Lee "Aacchhh....!!" Guang Fang meringis, seolah ikut merasakan betapa sakit dan tersiksanya sang istri. Tangan kokoh yang biasa memegang peralatan tani itu gemetar berkeringat. "Sedikit lagi, kepala bayinya sudah terlihat." pekik nenek Lee, menumbuhkan kembali semangat juang Wei Zihan yang nyaris padam. "Dorong yang kuat...!" "Aacchhhh,....!!" "Oeak, oeak...!" tangis melengking bayi perempuan, menggema nyaring dipenghujung senja ini. Helaan nafas kelegaan berhembus lirih, bersama senyuman yang perlahan tergores manis. Kedua pasang mata itu memanas, menatap haru penuh kasih pada sosok bayi berlumuran darah digendongan nenek Lee. "Aku akan membersihkan putri kalian." ucap nenek Lee. Guang Fang dan Wei Zihan mengangguk. "Bersihkan kakakmu lalu berikan tonik herbalnya." titah nenek Lee pada cucunya sebelum beranjak dari ranjang. "Baik nek...!" Guang Fang ikut membantu, mengumpulkan kain kotor kedalam ember kayu yang sudah tersedia. Mengganti baju sang istri kemudian alas tempat tidur, lalu menyuapi ramuan herbal racikan sang tabib. "Terimakasih sudah bertahan, terimakasih istriku..!" ucap Guang Fang berkaca-kaca. Wei Zihan tersenyum, mengusap lembut tangan sang suami yang sedang membelai rambut panjangnya. "Itu sudah kewajibanku sebagai istri dan ibu. Lagi pula kita sudah berjanji akan hidup bersama selama seribu tahun. Bagaimana mungkin aku akan mengingkarinya..?" ucapnya berbinar. Derap langkah perlahan terdengar, nenek Lee kembali sembari menggendong bayi berbalut kain katun bermotif bunga lotus. "Putri kalian sangat cantik, sehat sempurna tanpa cacat." beritahu nenek Lee memindahkan bayi itu kedalam dekapan sang ibu. "Coba kau susui..!" titah nenek Lee yang langsung dilakukan oleh wanita berusia tujuh belas tahun itu. "Putri ibu, pelan-pelan nak...!" seru lembut Wei Zihan mengusap pipi sang putri, yang dengan rakus menghisap sumber ASInya. Guang Fang terkekeh, menoel pelan hidung kecil anaknya "putri ayah sangat cantik..!" pujinya berembun. "Sudah menentukan nama yang akan diberikan pada putri kita..?" tanya Wei Zihan. "Guang Su Zhi, bagaimana..?" tanya balik Guang Fang. Wei Zihan mengangguk yakin tersenyum cerah "Guang Su Zhi..! cantik dan sangat manis, seperti putri kita." Nenek Lee meletakkan bungkusan pelepah bambu yang berisi ramuan herbal keatas meja. "Tonik ini untuk dua hari kedepan, minum tiga kali sehari." kata nenek Lee lalu berpamitan. Guang Fang menyerahkan lima belas koin perak hasil dari menjual padi dan gandum. Beruntung, panen kali ini amat bagus dan melimpah. Jadi pasangan itu bisa menghasilkan enam puluh koin perak dari ladang seluas satu hektar. "Beristirahatlah, aku mau kesungai untuk mencuci." ucap Guang Fang yang melihat putrinya terlelap. Wei Zihan patuh, memejamkan mata sembari mendekap lembut tubuh mungil Guang Su Zhi. Tanpa kedua orang itu tahu, jika interaksi mereka sejak tadi diamati dan dimengerti oleh bayi merah yang baru beberapa jam terlahir itu. Guang Su Zhi membuka mata, ketika Guang Fang pergi dan Wei Zilan terlelap. Retinanya bergerak lambat, merotasi ruangan berdinding kayu dan beratap jerami itu. Otak kecilnya ia paksa bekerja, mencerna situasi dan kondisi saat ini. Ditatapnya wajah kusam wanita yang baru saja melahirkannya. "Apa surga seperti ini..?" gumam Su Zhi dalam hati. Ditelisik lebih teliti penampilan Wei Zihan, lalu mengingat bagaimana pakaian Guang Fang, nenek Lee dan cucu perempuannya. Pakaian lusuh berbahan katun kasar, dengan potongan kuno diera kekaisaran berkuasa dizaman peradaban. Pupil hitam kecoklatan Su Zhi membulat, dahinya mengkerit tipis kala memahami sesuatu yang baru saja terlintas difikirannya. "Time Travel, mungkinkah aku mengalami hal semacam itu..?" pekiknya dalam hati. Su Zhi menggeleng pelan, matanya memanas sedih, mengingat kecelakaan tragis yang ia alami dikehidupan sebelumnya. "Ayah, ibu..!" lirihnya pilu, mengingat wajah-wajah insan yang ia kasihi. "Kakak...!" gumamnya lagi. "Riu, andai saja aku mendengarkanmu." ucapnya sesal, menghela nafas berat sejuta makna. Lama Su Zhi larut dalam pergolakan batin dan fikiran, sebelum akhirnya ia memasrahkan takdir yang sudah Tuhan gariskan. Semua pasti ada maksud. Alih-alih dilempar kesurga atau neraka, justru Tuhan membuatnya hidup dimasa antah berantah yang semua serba kuno dan sulit. "Hiduplah dengan baik disana, jangan bersedih karenaku. Maaf, aku sudah mengecewakan kalian." ucapnya menangis dalam keheningan. "Aku akan hidup dengan baik disini, aku akan menebus semua dosa dimasa lalu. Aku tidak akan mengecewakan orang-orang yang menyayangiku dikehidupan keduaku ini." tekadnya tegas. Hana Sato, siapa yang bisa menduga jika wanita itu kini hidup lagi dengan menempati tubuh seorang bayi, menggantikan jiwa aslinya yang telah meninggalkan raga sebelum dilahirkan. Hana Sato, benar-benar sudah tak ada. Jiwanya kini berganti nama menjadi Guang Su Zhi. Putri dari pasangan petani miskin didesa Fujian, kota Changan, Ibukota pusat kekaisaran Dong Benua Timur. "Untung dikehidupan yang dulu aku lumayan pintar, dan semua ingatan itu tidak hilang. Aku bisa memanfaatkannya nanti disini untuk membantu mencari uang." ucap Su Zhi. Langkah kaki mendekat terdengar, Su Zhi spontan mengatupkan mata. Ternyata sudah cukup lama ia melamun, berfikir dan berbicara sendiri. "Oke, ayah dan ibuku sekarang mereka. Aku adalah Guang Su Zhi...!" ucapnya dalam hati, sebelum akhirnya memutuskan untuk tidur dan bermimpi. Guang Fang yang melihat istri dan putrinya masih tertidur pulas, memilih pergi kedapur untuk memasak sekaligus menghangatkan badan. Malam-malam mencuci pakain kesungai, membuat tubuhnya terasa membeku. Udara pegunungan yang cenderung lebih sejuk, ditambah sebentar lagi musim penghujan. Membuat hawa udara bertambah dingin menusuk saja. "Besok aku harus berburu." ucap Guang Fang melihat stok daging yang tinggal sepotong dan telur dua butir. Bubur gandum dengan tambahan bayam, asparagus liar dan daging babi hutan. Akan menjadi menu santapan makan malamnya bersama Su Zilan, jika istrinya itu terbangun nanti.Empat musim silih berganti, membuang luka lalu mendatangkan kebahagiaan. Mengusir kesulitan dengan kemudahan, serta menyingkirkan penghalang guna menghadirkan keberhasilan.Satu tahun berlalu. Bisnis manisan benang emas dan tanghulu yang memakai buah Hawthorn dan jujube, berhasil menarik banyak peminat sampai detik ini.Enam varian minuman seduh herbal dengan bahan utama pemanis gula pear, laris manis dipasaran.Prodak itu dinamai gula herbal.Pilihan prodak ada gula pear dengan campuran bunga osmanthus.Gula pear ditambah kurma jujube dan biji angkak.Gula pear dipadupadankan bersama bubuk kayu manis dan mint.Bubuk jahe dicampur gula per dan kurma jujube.Teh jasmin dan gula pear diberi tambahan kurma madu.Gula pear yang dikemas bersama bubuk ginseng putih, sari akar ilalang dan biji angkak.Semua sangat bagus bagi kekebalan imun dan daya tahan tubuh. Jika dimusim panas, gula herbal itu juga
Dengan menaiki kereta sewaan, Guang Fang bersama istri dan putrinya pergi keIbukota pusat.Begitu juga dengan Yuhan, Mu Yue, Zilong, tuan dan nyonya Wei tua.Memerlukan waktu satu jam untuk sampai ditempat tujuan."Kalian jalan-jalan saja, biar aku dan kakak ipar yang berjualan." titah Guang Fang pada istri, mertua dan istri Yuhan."Tidak, kami akan membantu kalian. Kalau mau melihat-lihat Ibukota dan berbelanja, lebih bagus bersama-sama." sahut nyonya Wei.Mereka pun mencari tempat.Setelah mendapatkan lokasi yang cocok lalu membayar pajak. Meja dan dagangan dikeluarkan dari cincin penyimpanan.Tanghulu disusun rapi pada tiang jerami, sementara manisannya tetap ditempatkan pada gentong tanah liat."Tanghulunya tuan, nyonya..! ada manisan juga."Teriak para orang dewasa menawarkan guna menarik pembeli.Guang Su Zhi dan Wei Zilong yang duduk dibangku kayu kecil, mencuri banyak perhatian pengguna
Seratus dua puluh koin emas, Guang Fang dan Wei Yuhan dapat dari kediaman tuan Bai.Semua hasil buruan yang mereka bawa pagi ini, diborong oleh tuan kaya raya itu.Jadi sudah tak perlu bersusah payah lagi Guang Fang dan Wei Yuhan menjualnya."Mau berbelanja atau langsung pulang..?" tanya Wei Yuhan."Pulang saja." jawab cepat Guang Fang."Bukankah kita akan membuat gula pear..? belanjanya besok saja sekalian menjual tanghulu dan manisan benang emas." sahut riang Guang Fang.Langkah kedua pria rupawan itu nampak sangat ringan, dengan senyum dan tawa yang tak jua sudi luntur tersungging dibibir."Bagaimana kalau besok menjualnya keIbukota saja..? aku ingin mengajak istri dan putraku juga orangtua kita sekalian, mereka sudah lama tidak jalan-jalan." tanya Wei Yuhan."Ide bagus..! aku juga akan mengajak istri dan putriku." sahut Guang Fang bersemangat.Sesampainya dirumah, para istri dan orangtua sudah bersi
Guang Fang dan Wei Zihan masih tertegun linglung, memandangi cincin penyimpanan yang tergeletak diatas meja. Sampai mereka tak menyadari jika nenek tua telah hilang tanpa jejak diujung jalan desa.Kata-kata pesan wasiat dari nenek tua itu sebelum pamit, masing nyata terngiang digendang telinga."Didalamnya ada sesuatu yang sangat dibutuhkan putri kalian, berikan padanya ketika dia berusia sepuluh tahun.""Tapi ini sangat berharga, kami tidak bisa menerimanya." balas Guang Fang."Pertemuan kita sudah menjadi kehendak langit, kalian harus menerima dan menyimpannya dengan baik." jawab wanita tua mengusap lembut kepala Guang Su Zhi."Kelak putri kalian akan membawa perubahan bagi banyak orang, bimbing dan arahkan dia dengan benar. Jadikan putri kalian manusia yang berbudi luhur." lanjutnya.Guang Fang dan Wei Zihan cuma bisa patuh mengangguk lemah, menatap nenek tua dan Su Zhi bergantian."Jangan pernah kalian lepas gelang giok keselamatan ini dari tangan Zhi'er." ucap nenek membual agar
"Bu..Bu..Bu..!" Kedua kaki mungil itu bergetar, melangkah terhuyung menghampiri sang ibu yang sedang duduk bertumpu pada kedua lutut, merentangkan tangan menyambut kedatangannya. Suara cadel menggemaskan, terlontar dari bibir kecil balita berusia satu tahun yang mulai belajar berjalan. HAP Tubuh gembulnya tenggelam dalam pelukan sang ibu, bibirnya terkikik geli menggemaskan, kala pipinya dihujani kecupan penuh kasih. "Putri ibu sangat hebat." Puji Wei Zihan berbinar, mengecup greget sang putri. Guang Su Zhi terkekeh geli "bu..bu...!" cicitnya lucu. Wajah Guang Fang terlipat jelek, bibirnya mengerucut protes. "Ayah terlupakan, sedih sekali." Ujarnya pura-pura merajuk, melipat kedua tangan didada. Wei Zihan dan Su Zhi terkekeh lagi. Su Zhi melepaskan diri dari dekapan sang ibu, berjalan tertatih menuju Guang Fang. "Yayah..!" Serunya cadel, memeluk ked
Dikediaman sederhana pasangan bahagia yang baru saja memiliki seorang putri, suasana hangat menyelimuti dipagi cerah ini. Angin berhembus lembut, membawa aroma kesegaran dari bunga bermekaran."Biar aku saja yang memasak." cegah Wei Zilan saat sang suami akan menyalakan api tungku."Kau masih harus beristirahat, duduk saja bersama putri kita." balas Guang Fang."Aku sudah pulih." kata Wei Zilan "lagi pula cuma memasak, itu bukan pekerjaan yang berat."Netra lentik itu bergetar lirih, selaras dengan senyuman manis yang tergores ranum. Semua menunjukkan bahwa ia baik-baik saja.Guang Fang pun mengalah, ia memilih mengerjakan yang lain. Mencuci pakaian, menimba air untuk mengisi bak mandi dan gentong-gentong tanah liat, membersihkan rumah serta halaman.Setelahnya ia memanen tomat, sayuran hijau, kentang, dikebun belakang kediaman. Tumbuhan lama yang sudah tidak produktif dibersihkan, tanah digembarkan kemudian ditanami la







