LOGINMatahari menyapa, merunduk rendah dari balik pegunungan. Menebar sinar keemasan guna menghantarkan kehangatan, bagi para insan yang siap memulai rutinitas.
Guang Fang yang baru kembali memasang perangkap hewan dihutan, langsung membantu Wei Zihan menikmati lembutnya cahaya mentari dihalaman rumah bersama sang putri Guang Su Zhi. "Ah, cucuku sudah lahir...!" seru wanita berusia tiga puluh sembilan tahun dari ujung jalan pekarangan. Guang Fang dan Wei Zihan tersenyum hangat, menyambut kedatangan anggota keluarga mereka. Tuan dan nyonya Wei, datang menjenguk bersama putra pertama Wei Yuhan, serta menantu Mu Yue dan cucu pertamanya Wei Zilong. "Ayah, ibu...!" sapa hormat Guang Fang dan Wei Zihan. "Kakak, kakak ipar...!" sambung mereka. "Kalian ini kejam sekali, kenapa tidak memberi kabar..?" oceh nyonya Wei setelah berada dihadapan putri dan menantunya. "Kalau bukan karena nenek Lee, sampai besok kami pasti tidak akan mengetahui kalau putri kalian sudah lahir." tambah tuan Wei. "Maaf ayah, ibu..! semalam aku sangat panik, kebetulan bertemu dengan nenek Lee dijalan. Jadi sudah tidak bisa berfikir untuk mengabari kalian." jawab Guang Fang. Nyonya Wei mendengus, sebelum beralih menggedong cucu perempuannya. "Siapa nama cucuku yang cantik ini..?" tanya tuan Wei memandang berbinar wajah mungil cucunya. "Guang Su Zhi ayah..!" jawab Guang Fang. Wei Zilong mendongak, menarik baju nyonya Wei "nenek..! aku mau melihat adik bayi." celoteh cadel nan lucu bocah berusia dua tahun itu. Nyonya Wei terkekeh kecil, lalu duduk dikursi yang berada dipekarangan. Diletakkan tubuh mungil Su Zhi dipangkuan, agar Zilong bisa lebih leluasa melihat. "Cantik sekali..!" ucap Zilong mencium pipi Su Zhi. "Adik, aku kakak Zilong. Nanti kalau sudah besar, aku akan mengajakmu berburu kehutan Qilin." cicit menggemaskan Zilong. Para orang dewasa terbahak. Sementara Su Zhi yang paham akan perkataan kakak lelakinya itu, tertawa lebar tanpa suara. Mata Jernih Su Zhi membingkai wajah-wajah keluarga barunya dikehidupan kedua ini. "Aku tadi memasak sup delapan rasa dan ayam akar teratai, ayo kita sarapan..!" ajak Mu Yue. "Iya, lebih baik kita sarapan dulu. Ayah juga sudah sangat lapar." balas tua Wei. Wei Zihan putri kedua dari pasangan tuan dan nyonya Wei yang juga berprofesi sebagsi seorang petani. Satu-satunya kakak lelaki yang dimiliki, Wei Yuhan sudah menikah tiga tahun yang lalu dengan putri buruh tani masih dari desa yang sama. Wei Yuhan adalah sahabat Guang Fang saat diakademi dasar, serta satu guru dalam menimba ilmu beladiri. Usia sebaya dengan sifat karakter serupa, membuat keduanya bisa menjalin kedekatan ditengah perbedaan yang ada. Guang Fang terlahir dari keluarga terpandang, putra pertama keluarga Guang. Saudagar kaya raya pemilik restoran, penginapan, toko herbal, toko perhiasan dan toko pakaian, yang berada diIbukota pusat. Rumah besar keluarga Guan juga berada diIbukota pusat. Ibu Guang Fang bermarga Gong dan satu-satunya keturunan yang tersisa. Tuan Gong sendiri disemasa hidupnya adalah seorang komandan prajurit kekaisaran, dan tewas saat terjadi perang perebutan wilayah perbatasan selatan benua timur. Harta peninggalan tuan Gong berupa rumah dan ladang lima hektar, dikuasai oleh saudara tirinya. Guang Fang, putra tunggal dan pewaris kekayaan klan Guang. Korban fitnah keji, yang membuatnya terusir dari rumah tanpa membawa apa pun. Dihari peringatan kematian sang ibu yang keseratus hari, tepatnya lima tahun lalu. Guang Fang dituduh bersekongkol dengan selir pertama mencelakai selir kedua, sampai membuat wanita itu kehilangan bayi dalam kandungan. Guang Fang yang pada saat itu akan mengikuti ujian kekaisaran, harus rela mengubur mimpinya guna menjadi seorang guru besar akibat kasus yang menimpanya. Sementara selir kedua yang berasal dari keluarga buruh tani miskin, dijual menjadi budak pada salah satu keluarga pejabat. Berbekal cincin penyimpanan pemberian sang guru sebelum wafat, Guang Fang memulai hidup barunya didesa Fujian. Cincin penyimpanan itu berisi sepuluh koin emas, pakaian, kitab beladiri tingkat satu, pedang dan busur panah. Meski tiga tahun kemudian, ia terbukti tidak bersalah karena kesaksian dari seorang pelayan selir kedua yang membelot. Namun Guang Fang tetap memilih tinggal didesa Fujian dan menikah dengan Wei Zilan. Semua karena sang ayah sudah berada dalam kendali selir kedua, lebih mempercayai wanita rubah itu sampai mewariskan kekayaannya kepada putra putri selir kedua. Oleh sebab itu, hubungan Guang Fang dan ayahnya terputus sampai sekarang dan tidak lagi mau saling mengakui satu sama lain. "Apa kau mau berburu..?" tanya Wei Yuhan, yang melihat busur panah, serta parang didalam keranjang bambu yang ada didapur. Guang Fang mengangguk "tadi pagi aku sudah memasang perangkap. "Aku ikut kalau begitu." balas Wei Yuhan. Masa panen sudah lewat, lahan juga baru rampung digemburkan lagi. Jadi para penduduk desa biasanya akan memanfaatkan waktu nganggur ini untuk pergi kehutan pegunungan. Jika beruntung mereka bisa mendapat tanaman atau hewan untuk dijual. Jika tidak, masih sayuran dan buah-buahan untuk dikonsumsi sendiri. "Ibu akan menjaga Istri dan putrimu, berburu lah dengan tenang." kata nyonya Wei. "Aku juga akan membantu ibu..!" Mu Yue menimpali. Setelah sarapan, Guang Fang dan Wei Yuhan pergi kehutan pegunungan Wuyi. Mereka berencana akan melewati batas aman pendakian, berharap bisa mendapatkan hasil yang melimpah. Wang Fang sangat ingin membelikan selimut bulu kualitas terbaik untuk Su Zhi. Agar putrinya itu tisak kedinginan terlebih ketika musim dingin datang. Desa Fujian, berjarak dua kilo meter dari kota Changan dan sepuluh kilo meter dari Ibukota pusat kekaisaran. Desa Fujian dihuni hampir tiga ratus kepala keluarga, yang mayoritas petani dan pemburu. Hanya beberapa orang saja pedagang dengan memiliki toko kecil dikota Changan. Tujuh gunung berdiri kokoh tinggi menjulang, mengelilingi kota Changan dan sembilan desa lainnya. Pegunungan Wuyi, Lushan, Luo'an, Yu'gong dan Kubi. Hutan yang banyak didatangi oleh penduduk. Empat puluh kilo meter, jarak batas aman pendakian dari lereng pegunungan. Sementara Qilin dan Ganxi, hutan yang jarang bahkan nyaris tak pernah didatangi oleh penduduk. Karena menurut berita, disana banyak dihuni hewan buas, ular berbisa serta berkabut tebal. Jarak batas aman untuk menjelahi hutan terdalam saja cuma lima belas kilo meter saja. Pernah beberapa pemburu yang nekat memasuki hutan terdalam, tewas diterkam Harimau, Beruang, Srigala atau digigit ular. Padahal baru melewati batas aman satu kilo meter saja. Tapi meski begitu, hewan-hewan buas itu tak pernah sekali pun menyambangi desa-desa sekitar. Cuma sesekali saja ada babi hutan, itu pun hanya sampai dilahan pertanian saja. Entah itu cuma kebohongan belaka atau memang benar adanya. Tapi faktanya rumor tersebut sudah ada sejak zaman nenek moyang terdahulu.Empat musim silih berganti, membuang luka lalu mendatangkan kebahagiaan. Mengusir kesulitan dengan kemudahan, serta menyingkirkan penghalang guna menghadirkan keberhasilan.Satu tahun berlalu. Bisnis manisan benang emas dan tanghulu yang memakai buah Hawthorn dan jujube, berhasil menarik banyak peminat sampai detik ini.Enam varian minuman seduh herbal dengan bahan utama pemanis gula pear, laris manis dipasaran.Prodak itu dinamai gula herbal.Pilihan prodak ada gula pear dengan campuran bunga osmanthus.Gula pear ditambah kurma jujube dan biji angkak.Gula pear dipadupadankan bersama bubuk kayu manis dan mint.Bubuk jahe dicampur gula per dan kurma jujube.Teh jasmin dan gula pear diberi tambahan kurma madu.Gula pear yang dikemas bersama bubuk ginseng putih, sari akar ilalang dan biji angkak.Semua sangat bagus bagi kekebalan imun dan daya tahan tubuh. Jika dimusim panas, gula herbal itu juga
Dengan menaiki kereta sewaan, Guang Fang bersama istri dan putrinya pergi keIbukota pusat.Begitu juga dengan Yuhan, Mu Yue, Zilong, tuan dan nyonya Wei tua.Memerlukan waktu satu jam untuk sampai ditempat tujuan."Kalian jalan-jalan saja, biar aku dan kakak ipar yang berjualan." titah Guang Fang pada istri, mertua dan istri Yuhan."Tidak, kami akan membantu kalian. Kalau mau melihat-lihat Ibukota dan berbelanja, lebih bagus bersama-sama." sahut nyonya Wei.Mereka pun mencari tempat.Setelah mendapatkan lokasi yang cocok lalu membayar pajak. Meja dan dagangan dikeluarkan dari cincin penyimpanan.Tanghulu disusun rapi pada tiang jerami, sementara manisannya tetap ditempatkan pada gentong tanah liat."Tanghulunya tuan, nyonya..! ada manisan juga."Teriak para orang dewasa menawarkan guna menarik pembeli.Guang Su Zhi dan Wei Zilong yang duduk dibangku kayu kecil, mencuri banyak perhatian pengguna
Seratus dua puluh koin emas, Guang Fang dan Wei Yuhan dapat dari kediaman tuan Bai.Semua hasil buruan yang mereka bawa pagi ini, diborong oleh tuan kaya raya itu.Jadi sudah tak perlu bersusah payah lagi Guang Fang dan Wei Yuhan menjualnya."Mau berbelanja atau langsung pulang..?" tanya Wei Yuhan."Pulang saja." jawab cepat Guang Fang."Bukankah kita akan membuat gula pear..? belanjanya besok saja sekalian menjual tanghulu dan manisan benang emas." sahut riang Guang Fang.Langkah kedua pria rupawan itu nampak sangat ringan, dengan senyum dan tawa yang tak jua sudi luntur tersungging dibibir."Bagaimana kalau besok menjualnya keIbukota saja..? aku ingin mengajak istri dan putraku juga orangtua kita sekalian, mereka sudah lama tidak jalan-jalan." tanya Wei Yuhan."Ide bagus..! aku juga akan mengajak istri dan putriku." sahut Guang Fang bersemangat.Sesampainya dirumah, para istri dan orangtua sudah bersi
Guang Fang dan Wei Zihan masih tertegun linglung, memandangi cincin penyimpanan yang tergeletak diatas meja. Sampai mereka tak menyadari jika nenek tua telah hilang tanpa jejak diujung jalan desa.Kata-kata pesan wasiat dari nenek tua itu sebelum pamit, masing nyata terngiang digendang telinga."Didalamnya ada sesuatu yang sangat dibutuhkan putri kalian, berikan padanya ketika dia berusia sepuluh tahun.""Tapi ini sangat berharga, kami tidak bisa menerimanya." balas Guang Fang."Pertemuan kita sudah menjadi kehendak langit, kalian harus menerima dan menyimpannya dengan baik." jawab wanita tua mengusap lembut kepala Guang Su Zhi."Kelak putri kalian akan membawa perubahan bagi banyak orang, bimbing dan arahkan dia dengan benar. Jadikan putri kalian manusia yang berbudi luhur." lanjutnya.Guang Fang dan Wei Zihan cuma bisa patuh mengangguk lemah, menatap nenek tua dan Su Zhi bergantian."Jangan pernah kalian lepas gelang giok keselamatan ini dari tangan Zhi'er." ucap nenek membual agar
"Bu..Bu..Bu..!" Kedua kaki mungil itu bergetar, melangkah terhuyung menghampiri sang ibu yang sedang duduk bertumpu pada kedua lutut, merentangkan tangan menyambut kedatangannya. Suara cadel menggemaskan, terlontar dari bibir kecil balita berusia satu tahun yang mulai belajar berjalan. HAP Tubuh gembulnya tenggelam dalam pelukan sang ibu, bibirnya terkikik geli menggemaskan, kala pipinya dihujani kecupan penuh kasih. "Putri ibu sangat hebat." Puji Wei Zihan berbinar, mengecup greget sang putri. Guang Su Zhi terkekeh geli "bu..bu...!" cicitnya lucu. Wajah Guang Fang terlipat jelek, bibirnya mengerucut protes. "Ayah terlupakan, sedih sekali." Ujarnya pura-pura merajuk, melipat kedua tangan didada. Wei Zihan dan Su Zhi terkekeh lagi. Su Zhi melepaskan diri dari dekapan sang ibu, berjalan tertatih menuju Guang Fang. "Yayah..!" Serunya cadel, memeluk ked
Dikediaman sederhana pasangan bahagia yang baru saja memiliki seorang putri, suasana hangat menyelimuti dipagi cerah ini. Angin berhembus lembut, membawa aroma kesegaran dari bunga bermekaran."Biar aku saja yang memasak." cegah Wei Zilan saat sang suami akan menyalakan api tungku."Kau masih harus beristirahat, duduk saja bersama putri kita." balas Guang Fang."Aku sudah pulih." kata Wei Zilan "lagi pula cuma memasak, itu bukan pekerjaan yang berat."Netra lentik itu bergetar lirih, selaras dengan senyuman manis yang tergores ranum. Semua menunjukkan bahwa ia baik-baik saja.Guang Fang pun mengalah, ia memilih mengerjakan yang lain. Mencuci pakaian, menimba air untuk mengisi bak mandi dan gentong-gentong tanah liat, membersihkan rumah serta halaman.Setelahnya ia memanen tomat, sayuran hijau, kentang, dikebun belakang kediaman. Tumbuhan lama yang sudah tidak produktif dibersihkan, tanah digembarkan kemudian ditanami la







