Home / Romansa / SENDIAKALA / 01 AWAL DARI DONGENG

Share

SENDIAKALA
SENDIAKALA
Author: Lila Oktavia

01 AWAL DARI DONGENG

Author: Lila Oktavia
last update Last Updated: 2025-04-02 20:29:53

“Bapak, Azahra kangen banget.” Aku menatap nisan yang sudah berdiri empat tahun lamanya. Sungguh, membaca namanya membuat hatiku semakin ingin memeluk sosoknya. Padahal sudah tiga tahun silam, tapi rasa itu tidak hilang. Aku mencoba mengukir senyum, melihat bunga segar yang baru saja kutaburkan. Aku sudah mengirim doa, semoga saja sampai dengan cepat, sebagai bentuk rindu dan baktiku.

“Azahra?” terdengar suara berat yang memanggil. Spontan aku menoleh, dan kala melihat siapa yang datang, aku bangkit dari posisi dudukku. Aku ingat betul siapa laki-laki berpawakan tinggi, putih, dan bermata sipit ini. Namanya Wangsasatya, laki-laki dari kalangan Cina Muslim yang dahulu adalah anak dari majikan Bapak. Kami saling mengenal baik, sebab Bapak sering mengajakku ke rumah besar itu, dan aku dengan Wangsasatya sering bermain di halaman luas rumah miliknya.

“Satya? Kamu kok ada di sini?”

Laki-laki itu tersenyum. “Mumpung aku lagi di rumah, pengen mampir ke makam Pak Adam. Eh, kebetulan ketemu kamu di sini. Ada sesuatu yang pengen aku berikan, soalnya kalau datang ke rumah, enggak mungkin bisa ketemu. Oh iya, kamu sekarang ini libur atau udah boyong dari pesantrenmu?”

“Aku lagi ambil cuti untuk beberapa hari.”

Dia mengangguk. “Tunggu aku sebentar, ya?” Dia mengajukan permintaan, tapi nadanya lebih condong seperti pertanyaan, apakah aku bisa menunggunya sebentar. Dengan raut ragu aku mengangguk pelan, kemudian mempersilahkannya untuk mengambil posisi lebih dekat dengan makam saat dia meminta celah untuk jalan.

Sama sepertiku, Wangsasatya menaburkan bunga segar yang ia bawa, menyiramkan air dari botol kaca, kemudian menengadahkan tangannya dan memejamkan mata untuk berdoa. Aku duduk di sampingnya dan membersamai bacaan surat yang dibacanya.

Dua puluh menit berlalu, dan kini aku sudah berada di samping mobil Wangsasatya. Dia sedang mengambil sesuatu dari mobilnya. Tidak membutuhkan waktu lama, Satya keluar dengan membawa sebuah barang. Langsung saja barang itu disodorkan padaku sebuah buku dengan judul Khadijah. Satya tidak berbicara apa-apa padaku. Hanya saja, secercah senyum disodorkan bersamaan dengan pemberian buku berukuran tebal itu.

Aku ikut menyusul senyumnya. Melihat buku itu membuatku berpikir kembali, bagaimana Satya yang berumur sepuluh tahun lalu gemar sekali membaca buku. Bahkan jika bermain pun akan membawa satu atau dua buku di genggaman tangannya. Buku membuatnya berpikir tidak pada umurnya. Bagaimana tidak? Wangsasatya kecil sudah mengetahui banyak sekali ilmu dan informasi hanya dengan membaca buku. Buku dongeng sudah habis dilahapnya, hingga ia meminta buku yang seharusnya dibaca oleh ilmuwan.

“Itu buku baru. Papa berikan sebagai hadiah ulang tahun ke delapan untukku. Dia beli dari Prancis kemarin.” Aku masih ingat obrolan kita di dalam rumah pohon Satya. Ia mengatakan hal demikian, sebab aku membolak-balik buku tebal miliknya. Aku tidak mengerti tentang buku-bukunya, dan kala itu tidak ingin mengerti. Sebab memandang buku berukuran tebal miliknya saja sudah cukup membuat mataku lelah. Bagaimana bisa laki-laki itu menghabiskan berjam-jam untuk membaca?

“Aku melihatnya di toko buku saat mencari buku minggu lalu.” Kalimat yang diucapkan Satya membuatku kembali dari lamunanku tentang masa kecil kita. “Saat melihat buku itu, aku mengingat kamu. Eh, lebih tepatnya cita-cita kamu dulu. Menikah dengan seorang pangeran, kemudian hidup bahagia di dalam kerajaannya,” ujarnya sambil mengukir senyum tak terlalu lebar.

Ah! Aku jadi malu. Dia ternyata masih ingat dengan cita-cita Azahra yang tak suka membaca seperti dia.

Aku mengambil buku yang sudah lama mengapung di udara. “Aku ambil, ya.”

Satya mengangguk. “Khadijah bisa menjadi panutan untuk menjadi ratu yang taat pada rajanya,” imbuh Satya. Dan lagi-lagi aku tersipu malu sebab itu.

“Oh iya. Mumpung kamu ada di sini, ayo mampir ke rumahku. Pasti Uti senang kalau kamu datang.”

Itu adalah kalimat paksaan dari Satya. Ada banyak hal yang harus aku kerjakan di rumah, tapi karena dia membawa Uti dalam ajakan, aku jadi tidak bisa menolaknya.

Keluarga Satya sangat baik. Aku sudah dianggap sebagai putri mereka di sana. Mereka memberiku makanan yang sama dengan Satya, baju baru ketika pulang dari luar negeri, dan kasih sayang yang sepadan dengan yang mereka berikan pada teman kecilku ini. Dulu Bapak sering melarangku untuk ikut ke rumah besar itu, sebab terlalu sering Satya menangis tak mendapat pembelaan jika bertengkar denganku. Mungkin bukan hanya itu alasannya. Menurutku, Bapak takut jika mereka memaksa untuk memintaku, sedangkan aku anak satu-satunya.

Kini, kejadian itu menjadi lucu dan membuatku rindu. Azahra, anak perempuan yang tinggal bersama Bapak, yang selalu menunggu Ibu pulang membawa kue kering dan barang-barang bekas majikannya. Tapi hidupku yang mungkin terlihat perlu dikasihani, tak seburuk dan sesepi demikian. Itu semua berkat Satya dan keluarganya. Sungguh, aku dituan-putrikan di rumah besar milik Satya. Oleh sebab itu, dahulu aku sering bermimpi akan ada seorang pangeran yang menjemput tuan putri ini, dan membawanya ke istana yang sama besarnya dengan rumah Satya.

***

"Bagaimana kamu di pondok?” Orang paruh baya yang menggenggam erat tanganku ini sedari tadi tidak berhenti mengajukan pertanyaan tentang kabarku sepuluh tahun belakangan ini. Aku bisa melihat antusiasmenya menunggu jawabanku. Wanita cantik ini sangat merindukanku.

“Azahra tidak bisa pulang karena sibuk dengan murid-muridnya, Uti.” Satya datang dan langsung saja menyahuti pembicaraan kami. Satya tahu itu, sebab pembicaraan kami saling bertukar kabar. Sepuluh tahun memang sudah mengubah segalanya. Bahkan Satya sendiri sudah mewujudkan cita-citanya, menjadi seorang dokter. Namun aku tidak pernah tahu jika menjadi dokter kandungan merupakan keinginannya.

"Oh iya to? Masyaallah, Azahra sudah menjadi ustazah ternyata.” Uti menepuk pipiku lembut.

“Pesanan datang!” Terlihat dari jarak lima meter, Mbak Ami mendekati kami dengan tatakan minuman yang diangkat tangannya setinggi telinga. Larinya terbirit-birit. Jangan khawatir jika minuman atau nampannya akan jatuh, sebab dia sudah profesional melakukannya.

Kuamati wanita yang kini sedang menata minuman di depanku dan Uti. Senyumnya terus mengembang dan kini malah kian lebar. Mbak Ami semakin cantik, apalagi dengan penampilan barunya. “Ah! Ini untuk menutupi uban,” begitu bisiknya kala kuberi pujian tadi.

“Ngomong-ngomong, sudah ada calon apa belum?”

Aku tersedak mendengar pertanyaan dari Uti. Seharusnya aku tidak perlu terkejut mendapati pertanyaan yang sudah sering kudengar. Apalagi ini adalah pertanyaan yang memang seharusnya dipertanyakan pada wanita yang sudah berusia matang. Bagi masyarakat desa, wanita berumur dua puluh lima tahun sepertiku seharusnya sudah bersuami dan menimang seorang anak.

Aku menatap Uti, menggeleng sambil tersenyum. “Belum ada pangeran yang menjemput Azahra, Uti.” begitu kataku.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • SENDIAKALA   20 PERNIKAHAN

    Aku duduk di sudut kamar rias, ruangan kecil yang dulu jadi kamar baca Bapak, sekarang diubah sebentar untuk hari ini. Matanya merah karena menahan air mata, tapi wajahnya tetap penuh cinta saat melihat aku yang sedang memakai gaun putih sederhana yang dijahit sendiri oleh tetangga. Saat aku menyusun jilbab dengan hati-hati di depan cermin bekas yang selalu ada di kamar itu, ibu mendekat dan mengambil tanganku dengan lembut.Kulit tangannya yang kasar akibat kerja keras merawat kebun dan menjahit untuk menutupi kebutuhan keluarga menyentuh kulit aku yang lembut. Ibu menatapku, lalu melihat ke arah sebuah vas bunga mawar yang hanya ada satu kuntumnya, berdiri sendirian di atas meja rias. “Bunga cantik harus tumbuh di tanah yang subur, dengan akar yang kuat dan ruang yang cukup untuk berkembang,” ucap ibu perlahan, sambil menyentuh kelopak bunga itu dengan lembut. Aku mengerti makna yang tersirat, setiap bunga layak mendapatkan tempatnya sendiri, bukan harus berbagi ruang dengan yang la

  • SENDIAKALA   19 MAHKAM BAPAK

    Langit pagi itu terbentang cerah namun tidak terlalu terik, seolah alam juga memahami bahwa hari ini bukanlah hari untuk keceriaan yang berlebihan. Udara di komplek pemakaman terasa dingin dan bersih, membawa aroma tanah basah yang baru saja disiram embun pagi dan daun-daun tua yang mengering di atas rerumputan. Aroma itu mengiringi langkah kami saat berjalan pelan menuju persinggahan terakhir Bapak, tempat di mana dia telah beristirahat damai selama tiga tahun terakhir. Aku berjalan paling depan bersama ibu, tangan kami saling menggenggam erat. Ibu tidak banyak bicara, tapi sentuhan tangannya yang hangat sudah cukup untuk memberikan kekuatan. Di belakang kami mengikuti Mbak Aiza dan Mas Abrisam, masing-masing membawa sekotak bunga. Mbak Aiza membawa bunga melati putih, sedangkan Mas Abrisam memilih bunga kenanga yang selalu jadi kesukaan Bapak. Langkah kami pelan namun mantap, dan aku berusaha sekuat mungkin untuk tidak membawa beban pikiran apapun selain doa dan rasa rindu yang mend

  • SENDIAKALA   18 GAUN DAN SYARAT

    Mobil mewah warna hitam mengendap tepat di depan sebuah bangunan bertingkat tinggi dengan dinding berlapis kaca tembus pandang. Pintu depan yang menjulang tinggi dibingkai dengan ornamen emas yang mengkilap, di atasnya terpampang nama butik bergaya kaligrafi: “Bunga Pengantin Atelier Pengantin Eksklusif”. Huruf-huruf timbulnya seolah terbuat dari potongan cahaya yang menyala setiap kali terkena sinar matahari siang hari. Begitu sopir membuka pintu mobil, udara sejuk dari pendingin ruangan langsung menyergap wajahku, membawa aroma campuran bunga mawar putih dan parfum mahal yang tidak aku kenal namanya. Lantai marmer putih seperti salju mengilap sempurna, memantulkan bayangan langkah kaki kami dengan jelas. Di langit-langit yang tinggi, lampu gantung kristal besar dengan ribuan potongan kaca berkilauan, cahayanya jatuh berlapis-lapis seperti hujan cahaya yang memercik ke seluruh sudut ruangan. Di sisi kanan dan kiri lorong utama, deretan gaun pengantin berjajar rapi di balik rak kaca

  • SENDIAKALA   17 PANTAI

    Di pagi yang sepi, usai shalat subuh terlaksana dengan khidmat, aku memutuskan untuk keluar tanpa pamit panjang pada ibu. Langkah ku terasa berat namun juga ingin terbang bebas, seperti burung yang lama terkurung dalam sangkar. Ibu yang sedang membersihkan sajadah pun hanya mengangguk perlahan, matanya yang penuh pengertian tahu betul, aku perlu angin dan kesendirian untuk sekadar menyelesaikan pikiran yang terlalu penuh dengan beban yang baru saja kujanjikan. Pantai pagi itu benar-benar sepi, hanya suara ombak yang bergulung perlahan seperti bisikan alam yang tidak pernah lelah bercerita. Langit yang masih pucat kebiruan memantulkan bayangannya pada permukaan air yang tenang, ombak bergulung malas seolah tidak ingin mengganggu kedamaian pagi. Angin laut yang membawa aroma garam dan rumput laut mengusap wajah ku lembut, seperti tangan lama yang mengenal setiap lekukan di wajah ku dan tahu cara menenangkannya. Aku melangkah menuju bebatuan besar yang selalu jadi tempat persembunyian h

  • SENDIAKALA   16 AZAHRA SAKIT

    Perlahan-lahan aku mencoba membuka mata, meski pandanganku masih kabur dan berat. Cahaya lampu yang teramat terang membuatku memicing, namun di balik silau itu aku melihat sesosok yang sangat kukenal. Kulihat Ibu. Awalnya kukira itu hanya khayalanku, sisa dari kelelahan dan kepalaku yang masih terasa berat. Tetapi ketika tangan itu membelai rambutku, hangat dan penuh kasih, aku tersadar bahwa ini nyata. “Ibu?” "Iya, sayang. Ini ibu.” Suara itu menenangkan sesuatu di dadaku yang sejak lama terasa runtuh. Belaiannya membuatku ingin menangis, namun aku terlalu lemah bahkan untuk itu. Aku mencoba mengumpulkan kesadaran yang belum sepenuhnya kembali. Mataku menyapu sekeliling. Banyak perlengkapan rumah sakit terpasang di tubuhku. Selang, infus, alat monitor, semuanya menegaskan bahwa tubuh ini benar-benar telah menyerah. “Kamu istirahat dulu, Nduk,” kata Ibu lembut. “Ibu akan di sini menjaga kamu.” “Azahra enggak apa-apa, Bu,” kataku sambil memaksakan senyum kecil, menyembunyik

  • SENDIAKALA   15 MENJAWAB USTADZ ALIF

    Ruang ndalem sudah terisi oleh Abah dan Umi yang duduk bersamaku. Kami menunggu kedatangan Ustadz Alif. Tanganku saling menggenggam di pangkuan, dingin dan kaku. Sejak tadi dadaku terasa sempit. Firasatku tidak baik, namun bukan tentang penolakan yang hendak ku sampaikan. Ada rasa lain yang mengganjal, seperti bayangan sesuatu yang akan terulang kembali. Seolah takdir sedang berjalan menuju arah yang sudah kukenal, hanya saja aku belum tahu bentuknya. Berkali-kali aku berdoa dalam hati. Menepis segala keburukan yang melintas di hati dan otakku. Tentang Ustadz Alif, tentang keluarga di pesantren ini. Semoga semuanya baik-baik saja. Dan semoga jawabanku nanti tidak menjatuhkan nama Abah dan Umi. “Apapun jawabanmu, kami paham,” ucap Umi lembut sambil menggenggam tanganku yang dingin. “Kami tahu Azahra melakukan ini karena Allah.” Aku menunduk. Barangkali Umi benar-benar mengerti betapa risaunya hatiku sekarang. Tiba-tiba ponsel Abah berdering. Pikiranku kembali berkecamuk sebab s

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status