Home / Romansa / SENDIAKALA / 10 SETUJU DALAM RAGU

Share

10 SETUJU DALAM RAGU

Author: Lila Oktavia
last update Last Updated: 2025-12-09 22:28:05

“Pak… Azahra rindu.” Senyumku simpul kala menatap nisan yang bernamakan orang yang kini ku rindukan kehadirannya di setiap tempat ataupun waktu. Aku menatap bunga yang baru saja kutaburkan setelah aku berdua untuk ruh bapak, dan bunga itu melambai-lambai seolah-olah bapak juga mengatakan jika ia juga rindu sama hal nya denganku. Aku tak lagi menangis entah pada hari ini atau pada hari-hari sebelumnya, mungkin karena aku sudah berdamai dengan kepergian bapak, atau mungkin sebab aku mendengar orang yang pergi terlebih dahulu bisa melihat kita dan barangkali karena itu aku tak ingin bapak sedih sebab melihat putri kesayangannya menangis.

“Azahra ingat, suatu sore ketika azahra ingin ikut Wangsasatya ke laut bapak tidak mengizinkan Azahra, Azahra marah sebab itu. Kemudian bapak bilang, jika anak kecil tidak memutuskan sesuatu sesuai kehendaknya, sebab ia belum sepenuhnya tau mana yang baik dan mana yang salah. kemudian azahra kecil yang tidak tau beban itu bertanya, kapan azahra memutuskan keputusan untuk azahra sendiri. Bapak bilang dengan bangga, jika suatu hari nanti, ketika azahra besar dan beranjak dewasa akan ada banyak keputusan-keputusan penting dan besar yang harus azahra ambil.”

Aku menghela nafas. Rasanya ada sesuatu yang di tenggorokanku, sakit dan nyeri hingga dada. Susah payah aku menyulan senyum tapi masih saja tak bisa membujuk diriku untuk tidak menangis. Hingga akhirnya bendunganku bocor, dan air mataku mengalir deras membasahi pipi hingga membuat basah kerudungku. Air mata jatuh tanpa permisi, ia tak sopan.

Aku tak bisa melanjutkan kalimatku. Lidahku kilu. Hanya isak yang keluar dari mulutku dan sela-sela napasku. Berulang kali aku mengucap maaf di dalam hati, semoga bapak tidak bersedih sebab menyaksikan gadisnya yang di didik untuk kuat menjadi selemah ini. Semoga bapak tidak kecewa, gadisnya yang sudah diberinya banyak petuah menjadi sedilema ini. Dan semoga saja bapak tidak tau jika gadisnya ini sedang menghindari berbagai masalah yang sedang menimpanya.

Angin yang sedari tadi menemaniku kini membawa hujan untuk menemaninya. Hujan deras tiba-tiba saja mengguyur tanah lapang ini dan diriku. Bunga yang tadi baru saja kutaburkan dibuatnya layu dan meyebar sebab kerja sama angin dan hujan, gamisku yang bersih dibuatnya berlumur tanah pada bagian bawahnya. Hujan menghentikan air mataku, membuatku tersenyum getir, merasakan alam juga prihatin padaku. hujan saja sampai turun, apakah langit juga ikut menangis sama seperti diriku? mungkin saja, ia sedang memperhatikan dan mendengarkan diriku.

Ku tarik napas panjag, walau sedikit sulit di derasnya hujan. Menggenggam erat nisan bapak, dan menyulam senyum dan mengatakan pada bapak jika gadisnya akan segera mengambil keputusan besar setelah pertimbangan panjang dari banyaknya ingatan tending petuah-petuah yang duhulu bapak berikan. Aku juga mengirim doa kepada tuhan semoga selalu dijaga-Nya bapak dan di beri tempat ternyaman di sana.

Aku hendak bangkit, dan sebuah suara mengejutkanku. Suara itu memanggil namaku tapat di sampingku, bersamaan dengan hujan yang berhenti menerjang. Hujan masih deras, akan tetapi ada yang melindungi hingga hujan itu seolah tak berani menyentuh. Segera aku melihat ke aras sumber suara yang itu berasal, dan betapa terkejutnya aku jika itu adalah mas Risam, suami mbak Aiza.

Aku langsung menunduk kala mata kita saling bertemu. Kemudian mencari-cari sosok lain di tanah luas yang tengah di guyur hujan lebat ini, tapi tak kutemui siapapun termasuk mbak Aiza, hanya saja aku bisa melihat mobil mas risam terparkir di depan gerbang tanah mahkam ini. “Kenapa tidak berteduh, Azahra? Kamu bisa sakit jika hujan-hujanan seperti ini. Pegang lah payung ini, dan mari berteduh.” Ia menjulurkan payung yang digunakannya untuk melindungiku dari deraian hujan dengan tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya ia gunakan menahan payung yang digunakan untuk melindungi dirinya sendiri.

“Azahra, ayok! Hujan semakin lebat.” Suaranya terdengar menggertakku sebab aku hanya diam tanpa memberikan jawaban. Banyak pertanyaan dariku hingga membuatku tak bisa berbicara ataupun berpikir dengan jernih kala ini. Aku hanya terdiam, menuruti dengan mudah apa kata mas Risam, mengikutinya berjalan menelusuri jalanan yang diciptakan di antara gundukan tanah.

Aku mengikuti pria ini hingga masuk ke dalam warung Mak Darsini. Hampir semua orang yang ada di dalam warung tersebut memandangi kami yang basah kuyup walau telah menggunakan pelindung, hujan begitu lebat ditambah lagi angin. Aku tak menatap masing-masing di antara pengujung warung, tapi aku tau, mereka menatap kami dengan tatapan aneh itu. Aku tak ingin berpikir panjang, sama halnya mas Risam yang menghiraukan tatapan mereka.

Mas risam menuju di mana tempat mbak Aiza duduk. Kulihat mbak Aiza di sudut warung, ia dengan tersenyum dan seolah mengintruksi untuk kami segera menghampirinya. Saat aku hendak menciptakan langkah sama halnya mas Risam langkahku terhenti sebab Mak Darsimi yang menanyaiku dengan banyak pertanyaannya tentang sebab diriku yang basah kuyup dan kotor demikian.

Ada banyak paksaan dari Mbok Darsim untuk aku mengganti pakaianku yang kotor dan basah kuyup ini. Tapi dengan rasa tak enak aku menolaknya, sebab aku lebih merasa tidak enak dengan mbak Aiza dan juga mas Risam, mereka datang ke mari pasti bukan tanpa sebab. Mak Darsim memberiku handuk, dia bilang agar aku tak sakit sebab angin yang menerpa bumi. Aku setuju, kemudian membenarkan, Mak Darsim cukup senang mendengarnya.

Aku menghampiri dua pasang kekasih yang sedang berbahagia, itu yang kulihat kala mereka berinteraksi cukup mesra di pojok sana. Terlihat hangat. Mas Risam yang mengayomi, tatapan dan caranya menyampaikan kasih sayangnya pada mbak Aiza, cukup membuktikan di mata para pemandang mengira bahwa mereka adalah pasangan yang sempurna, tak memiliki kekurangan apapun. Andai saja mereka telusuri lebih dalam, ada penderitaan dari mbak Aiza.

"Azahra…” mbak Aiza memulai pembukaan kala kami hanya memandangi bagaimana mas Risam meninggalkan kami untuk membayar pesanan. Mbak Aiza memberikanku tatapan itu, sungguh aku tak menyukainya, segala banteng pertahananku bisa runtuh seutuhnya dengan tatapan itu.

Aku menarik panjang napasku, mencoba mayakinkan diri sendiri, “Insya Allah saya menerima permintaan mbak Aiza untuk menikah dengan Mas Risam."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • SENDIAKALA   20 PERNIKAHAN

    Aku duduk di sudut kamar rias, ruangan kecil yang dulu jadi kamar baca Bapak, sekarang diubah sebentar untuk hari ini. Matanya merah karena menahan air mata, tapi wajahnya tetap penuh cinta saat melihat aku yang sedang memakai gaun putih sederhana yang dijahit sendiri oleh tetangga. Saat aku menyusun jilbab dengan hati-hati di depan cermin bekas yang selalu ada di kamar itu, ibu mendekat dan mengambil tanganku dengan lembut.Kulit tangannya yang kasar akibat kerja keras merawat kebun dan menjahit untuk menutupi kebutuhan keluarga menyentuh kulit aku yang lembut. Ibu menatapku, lalu melihat ke arah sebuah vas bunga mawar yang hanya ada satu kuntumnya, berdiri sendirian di atas meja rias. “Bunga cantik harus tumbuh di tanah yang subur, dengan akar yang kuat dan ruang yang cukup untuk berkembang,” ucap ibu perlahan, sambil menyentuh kelopak bunga itu dengan lembut. Aku mengerti makna yang tersirat, setiap bunga layak mendapatkan tempatnya sendiri, bukan harus berbagi ruang dengan yang la

  • SENDIAKALA   19 MAHKAM BAPAK

    Langit pagi itu terbentang cerah namun tidak terlalu terik, seolah alam juga memahami bahwa hari ini bukanlah hari untuk keceriaan yang berlebihan. Udara di komplek pemakaman terasa dingin dan bersih, membawa aroma tanah basah yang baru saja disiram embun pagi dan daun-daun tua yang mengering di atas rerumputan. Aroma itu mengiringi langkah kami saat berjalan pelan menuju persinggahan terakhir Bapak, tempat di mana dia telah beristirahat damai selama tiga tahun terakhir. Aku berjalan paling depan bersama ibu, tangan kami saling menggenggam erat. Ibu tidak banyak bicara, tapi sentuhan tangannya yang hangat sudah cukup untuk memberikan kekuatan. Di belakang kami mengikuti Mbak Aiza dan Mas Abrisam, masing-masing membawa sekotak bunga. Mbak Aiza membawa bunga melati putih, sedangkan Mas Abrisam memilih bunga kenanga yang selalu jadi kesukaan Bapak. Langkah kami pelan namun mantap, dan aku berusaha sekuat mungkin untuk tidak membawa beban pikiran apapun selain doa dan rasa rindu yang mend

  • SENDIAKALA   18 GAUN DAN SYARAT

    Mobil mewah warna hitam mengendap tepat di depan sebuah bangunan bertingkat tinggi dengan dinding berlapis kaca tembus pandang. Pintu depan yang menjulang tinggi dibingkai dengan ornamen emas yang mengkilap, di atasnya terpampang nama butik bergaya kaligrafi: “Bunga Pengantin Atelier Pengantin Eksklusif”. Huruf-huruf timbulnya seolah terbuat dari potongan cahaya yang menyala setiap kali terkena sinar matahari siang hari. Begitu sopir membuka pintu mobil, udara sejuk dari pendingin ruangan langsung menyergap wajahku, membawa aroma campuran bunga mawar putih dan parfum mahal yang tidak aku kenal namanya. Lantai marmer putih seperti salju mengilap sempurna, memantulkan bayangan langkah kaki kami dengan jelas. Di langit-langit yang tinggi, lampu gantung kristal besar dengan ribuan potongan kaca berkilauan, cahayanya jatuh berlapis-lapis seperti hujan cahaya yang memercik ke seluruh sudut ruangan. Di sisi kanan dan kiri lorong utama, deretan gaun pengantin berjajar rapi di balik rak kaca

  • SENDIAKALA   17 PANTAI

    Di pagi yang sepi, usai shalat subuh terlaksana dengan khidmat, aku memutuskan untuk keluar tanpa pamit panjang pada ibu. Langkah ku terasa berat namun juga ingin terbang bebas, seperti burung yang lama terkurung dalam sangkar. Ibu yang sedang membersihkan sajadah pun hanya mengangguk perlahan, matanya yang penuh pengertian tahu betul, aku perlu angin dan kesendirian untuk sekadar menyelesaikan pikiran yang terlalu penuh dengan beban yang baru saja kujanjikan. Pantai pagi itu benar-benar sepi, hanya suara ombak yang bergulung perlahan seperti bisikan alam yang tidak pernah lelah bercerita. Langit yang masih pucat kebiruan memantulkan bayangannya pada permukaan air yang tenang, ombak bergulung malas seolah tidak ingin mengganggu kedamaian pagi. Angin laut yang membawa aroma garam dan rumput laut mengusap wajah ku lembut, seperti tangan lama yang mengenal setiap lekukan di wajah ku dan tahu cara menenangkannya. Aku melangkah menuju bebatuan besar yang selalu jadi tempat persembunyian h

  • SENDIAKALA   16 AZAHRA SAKIT

    Perlahan-lahan aku mencoba membuka mata, meski pandanganku masih kabur dan berat. Cahaya lampu yang teramat terang membuatku memicing, namun di balik silau itu aku melihat sesosok yang sangat kukenal. Kulihat Ibu. Awalnya kukira itu hanya khayalanku, sisa dari kelelahan dan kepalaku yang masih terasa berat. Tetapi ketika tangan itu membelai rambutku, hangat dan penuh kasih, aku tersadar bahwa ini nyata. “Ibu?” "Iya, sayang. Ini ibu.” Suara itu menenangkan sesuatu di dadaku yang sejak lama terasa runtuh. Belaiannya membuatku ingin menangis, namun aku terlalu lemah bahkan untuk itu. Aku mencoba mengumpulkan kesadaran yang belum sepenuhnya kembali. Mataku menyapu sekeliling. Banyak perlengkapan rumah sakit terpasang di tubuhku. Selang, infus, alat monitor, semuanya menegaskan bahwa tubuh ini benar-benar telah menyerah. “Kamu istirahat dulu, Nduk,” kata Ibu lembut. “Ibu akan di sini menjaga kamu.” “Azahra enggak apa-apa, Bu,” kataku sambil memaksakan senyum kecil, menyembunyik

  • SENDIAKALA   15 MENJAWAB USTADZ ALIF

    Ruang ndalem sudah terisi oleh Abah dan Umi yang duduk bersamaku. Kami menunggu kedatangan Ustadz Alif. Tanganku saling menggenggam di pangkuan, dingin dan kaku. Sejak tadi dadaku terasa sempit. Firasatku tidak baik, namun bukan tentang penolakan yang hendak ku sampaikan. Ada rasa lain yang mengganjal, seperti bayangan sesuatu yang akan terulang kembali. Seolah takdir sedang berjalan menuju arah yang sudah kukenal, hanya saja aku belum tahu bentuknya. Berkali-kali aku berdoa dalam hati. Menepis segala keburukan yang melintas di hati dan otakku. Tentang Ustadz Alif, tentang keluarga di pesantren ini. Semoga semuanya baik-baik saja. Dan semoga jawabanku nanti tidak menjatuhkan nama Abah dan Umi. “Apapun jawabanmu, kami paham,” ucap Umi lembut sambil menggenggam tanganku yang dingin. “Kami tahu Azahra melakukan ini karena Allah.” Aku menunduk. Barangkali Umi benar-benar mengerti betapa risaunya hatiku sekarang. Tiba-tiba ponsel Abah berdering. Pikiranku kembali berkecamuk sebab s

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status