ログインIndra membeku.
Tangannya refleks mencengkeram seprai ketika jemari Clara menarik resleting celananya perlahan. Suara kecil dari logam itu terdengar sangat jelas di kamar hotel yang tiba-tiba terasa sunyi. Clara tidak terburu-buru. Ia menatap wajah Indra terlebih dahulu, memperhatikan setiap perubahan ekspresi pria itu, seolah sedang membaca pikiran yang berputar di kepala pria di hadapannya. “Tenang saja,” ucap Clara lembut sambil memiringkan kepala sedikit, nadanya seperti seseorang yang sedang menenangkan anak kecil yang gugup. Indra menelan ludah. Tenggorokannya terasa kering. “Apa ini… serius?” gumamnya dengan suara pelan, matanya masih menatap Clara dengan ragu. Clara tertawa kecil mendengar pertanyaan itu. Tawanya ringan, tetapi terdengar sangat percaya diri. “Tentu saja serius,” jawab Clara santai sambil mengangkat alisnya sedikit. Wanita itu lalu menatap Indra dengan mata yang penuh rasa ingin tahu. “Bagaimana mungkin aku menjual seseorang tanpa tahu kualitasnya?” tambah Clara dengan nada seolah sedang menjelaskan hal yang sangat logis. Indra terdiam. Menjual. Kata itu terasa kasar di telinganya, tetapi entah kenapa ia tidak membantah. Bayangan wajah Dina kembali muncul di kepalanya. “Kamu itu tidak berguna, Indra,” suara istrinya terngiang di kepalanya seperti luka yang baru saja digoreskan. Disusul suara mertuanya yang penuh hinaan. “Pria miskin seperti kamu bahkan tidak pantas berdiri di samping anak saya.” Tangan Indra mengepal kuat di atas kasur. Clara melihat reaksi itu dengan jelas. Matanya menyipit sedikit, seperti seorang pemburu yang baru saja melihat celah pada mangsanya. Dan ia tahu, luka seperti itu adalah pintu terbaik untuk membuat seseorang berubah. “Uang satu miliar per bulan,” lanjut Clara santai sambil menyandarkan satu tangannya di kasur. “Dengan tubuhmu, angka itu bahkan bisa lebih.” Indra menatapnya. Matanya masih dipenuhi keraguan, tetapi kini ada sesuatu yang lain di sana. Kemarahannya. Clara tersenyum tipis melihat perubahan itu. “Jadi jangan kaku seperti anak sekolah yang dipanggil guru,” kata Clara sambil menepuk ringan paha Indra dengan telapak tangannya. Sentuhan itu membuat tubuh Indra kembali tegang. Clara lalu berdiri dari tempat duduknya. Langkahnya perlahan mengitari ranjang, seperti seseorang yang sedang menilai barang mahal dari berbagai sisi. Indra mengikuti gerakannya dengan tatapan bingung. “Aku punya banyak klien,” kata Clara sambil berjalan santai di sisi ranjang. Suara hak sepatunya kembali terdengar lembut di lantai kamar. “Wanita-wanita yang bosan dengan suami mereka,” lanjutnya sambil melirik Indra. “Wanita-wanita yang punya uang terlalu banyak tapi tidak punya seseorang yang bisa membuat mereka puas.” Ia berhenti di sisi lain ranjang. Tatapannya kembali jatuh pada tubuh Indra. “Dan pria seperti kamu… sangat langka,” tambah Clara pelan sambil menatap dada bidang Indra. Indra tidak tahu harus merespons apa. Ia masih mencoba memahami situasi aneh yang sedang ia hadapi. Beberapa jam lalu ia masih menjadi suami yang dihina di pesta keluarga. Sekarang ia berada di kamar hotel dengan seorang wanita cantik yang menawarkan pekerjaan bernilai miliaran rupiah. Dan pekerjaan itu jelas bukan pekerjaan biasa. Clara kembali mendekat. Kali ini ia berdiri tepat di depan Indra yang masih duduk di atas ranjang. “Sekarang aku akan jujur,” kata Clara pelan sambil menatap mata Indra dalam-dalam. Indra mengangkat kepala. “Kalau kamu bekerja denganku, kamu tidak hanya akan tidur dengan satu wanita,” lanjut Clara dengan nada santai, seolah sedang menjelaskan kontrak bisnis. Clara mengangkat satu alisnya. “Mungkin lima,” katanya sambil mengangkat lima jarinya di depan Indra. “Sepuluh,” tambahnya lagi dengan senyum tipis. “Atau lebih dalam satu bulan,” lanjut Clara dengan nada yang hampir terdengar menggoda. Indra mengerjap. Kata-kata itu membuat dadanya terasa panas. Clara memperhatikan reaksinya dengan puas. “Dan mereka semua kaya,” lanjut Clara sambil menyilangkan tangannya di dada. “Mereka tidak akan pelit kalau puas.” Indra terdiam beberapa detik. Lalu ia bertanya pelan, “Kenapa… kamu memilihku?” tanya Indra dengan suara rendah, matanya menatap Clara dengan penuh tanda tanya. Clara tertawa kecil mendengar pertanyaan itu. “Aku tidak memilih sembarang pria,” jawab Clara sambil kembali mendekat. Tangannya kembali menyentuh dada Indra. “Tubuhmu kuat,” kata Clara sambil meraba otot dada Indra perlahan. Lalu jemarinya turun ke perut Indra. “Bentuknya bagus,” lanjutnya sambil menelusuri garis otot perut Indra. Kemudian tangannya berhenti di pinggang Indra. “Dan yang paling penting…” Clara berhenti sejenak. Ia menatap mata Indra dalam-dalam. “Aku bisa melihat dari matamu bahwa kamu sedang marah pada dunia,” kata Clara pelan. Indra terdiam. Clara tersenyum. “Pria yang marah biasanya memiliki tenaga yang luar biasa di ranjang,” tambah Clara dengan nada setengah bercanda. Kalimat itu membuat Indra tidak bisa berkata apa-apa. Beberapa detik kemudian Clara melangkah mundur sedikit. Lalu ia membuka kancing atas blazernya. Gerakan itu membuat Indra tertegun. Blazer itu perlahan dilepas Clara, lalu ia meletakkannya di kursi dekat ranjang dengan gerakan santai. Kini yang tersisa hanya gaun tipis yang membentuk tubuhnya dengan sangat jelas. Indra menelan ludah lagi. Clara memperhatikan reaksinya dengan ekspresi puas. “Tesnya sederhana,” kata Clara santai sambil kembali duduk di ranjang tepat di depan Indra. Ia menyilangkan kakinya perlahan. “Anggap saja ini wawancara kerja,” lanjut Clara dengan senyum kecil. Indra masih diam. Clara kemudian mendekatkan wajahnya. Napas hangat wanita itu menyentuh wajah Indra. “Kalau kamu bisa memuaskanku,” bisiknya pelan di dekat telinga Indra, “aku akan menjadikanmu pria paling mahal di daftar klienku.” Jantung Indra berdetak lebih cepat. Clara tersenyum kecil melihat reaksinya. Lalu ia mengambil ponselnya dari meja samping ranjang. Indra mengernyit. Clara membuka layar ponselnya dengan santai. Kemudian ia berkata, “Ngomong-ngomong, ada satu hal lagi yang perlu kamu tahu,” ujar Clara sambil memainkan ponselnya. Indra menatapnya. Clara memutar layar ponselnya ke arah Indra. “Tes ini sebenarnya tidak hanya untukku,” kata Clara dengan nada ringan. Indra mengerutkan dahi. “Apa maksudmu?” tanya Indra bingung. Clara tersenyum tipis. “Klien pertamamu… sedang menonton,” jawab Clara santai. Indra langsung menegang. “Apa?” ucapnya kaget. Clara mengangkat ponselnya sedikit lebih tinggi. Di layar itu terlihat seorang wanita yang sedang melakukan panggilan video. Seorang wanita cantik berusia sekitar tiga puluhan dengan senyum yang sangat percaya diri. Wanita itu menatap Indra dari layar. Lalu dengan suara pelan namun jelas ia berkata, “Jadi… ini pria yang kamu rekomendasikan, Clara?” tanya wanita itu sambil menyilangkan tangannya. Clara tersenyum santai. “Ya,” jawab Clara pendek. Lalu ia menoleh ke arah Indra. “Perkenalkan,” kata Clara sambil menunjuk layar ponsel itu. Indra menatap wajah wanita di layar. Dan detik berikutnya tubuhnya langsung membeku. Karena ia mengenali wajah itu. Wanita itu adalah salah satu teman dekat ibu mertuanya. Wanita yang tadi malam berdiri di pesta… ikut menertawakannya. Wanita di layar itu tersenyum tipis. Tatapannya penuh rasa penasaran. “kamu tampan,sih. tapi, aku penasaran,” katanya pelan sambil menatap Indra dari layar. “Seberapa hebat kamu di atas ranjang sebenarnya, Indra.” Dan tepat saat itu Clara menoleh ke arah Indra sambil berkata dengan nada santai namun tajam, “Sekarang… buktikan!” Ucap Clara sambil membuka bajunya sendiri di hadapan Indra.Suasana di dalam bank itu berubah dalam hitungan detik setelah kalimat itu diucapkan. Semua orang yang tadi hanya melirik kini benar-benar menoleh, bahkan beberapa nasabah yang sedang mengantre mulai berdiri untuk memastikan apa yang mereka dengar. Nama Indra Birawa yang baru saja disebut dengan penuh hormat terasa asing bagi mereka, tetapi cara manager itu mengucapkannya membuat suasana menjadi tegang. Indra sendiri masih berdiri di tempatnya, memegang tas lusuhnya, seolah semua itu bukan tentang dirinya.Manager itu masih sedikit membungkuk, napasnya tertahan, sementara tangannya memegang kartu hitam itu dengan sangat hati-hati. “Maafkan kami atas perlakuan yang Anda terima tadi,” ucapnya dengan suara yang kini jauh lebih rendah dan penuh hormat. Ia melirik sekilas ke arah satpam dan customer service yang berdiri kaku, wajah mereka mulai pucat. Perubahan sikap itu terlalu cepat, tetapi jelas menunjukkan sesuatu yang besar.Customer service wanita itu langsung panik. Ia buru-buru ber
Setelah telepon itu terputus, Indra tidak langsung bergerak. Ia masih berdiri di tempatnya, menatap layar ponsel yang kini sudah gelap, seolah berharap Clara akan menelepon lagi dan mengatakan semuanya hanya lelucon. Namun tidak ada apa-apa selain keheningan yang menekan. Napasnya terasa berat, sementara kartu hitam di tangannya seperti berdenyut pelan, mengingatkannya pada sesuatu yang belum ia pahami.Ia mengangkat wajahnya perlahan, menatap ujung lorong yang kosong. Di kepalanya, wajah Dina muncul begitu jelas, bersama semua kenangan yang pernah mereka lalui. Ada tawa, ada harapan, dan ada janji yang kini terasa seperti milik orang lain. Meski sudah dihina dan diusir, bagian kecil di dalam dirinya tetap ingin kembali.“Aku harus pulang,” gumam Indra pelan, suaranya terdengar lelah tapi penuh keputusan. Ia menggenggam kartu itu lebih erat sebelum akhirnya melangkah pergi. Dalam langkahnya, ada harapan yang tidak masuk akal, tetapi tetap ia pertahankan. Ia ingin percaya bahwa semua b
Suara langkah kaki para pria berjas itu perlahan menghilang dari lorong yang panjang. Indra masih berdiri di tempatnya, tubuhnya kaku seolah belum sepenuhnya sadar dengan apa yang baru saja terjadi. Di tangannya, sebuah kartu hitam dengan pinggiran emas mengkilap terasa asing namun juga berat, seakan menyimpan sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar benda biasa. Matanya menatap kartu itu lama, mencoba memahami makna di baliknya.Salah satu pria tadi kembali menoleh sebelum benar-benar pergi. Ia menatap Indra dengan pandangan serius, lalu berkata, “Itu hanya sebagian kecil dari apa yang seharusnya menjadi milik Anda,” ucapnya dengan nada tenang namun penuh arti. Kalimat itu tidak terdengar seperti basa-basi, justru seperti sebuah fakta yang selama ini tersembunyi.Indra mengernyit, kebingungan jelas terlihat di wajahnya. “Sebagian kecil?” ulangnya pelan, lebih seperti berbicara pada dirinya sendiri. Ia mengangkat kartu itu sedikit lebih tinggi, mencoba melihat lebih jelas, tetapi te
“Untuk menghancurkanmu… malam ini juga,” bisik wanita itu pelan di telinga Indra sambil mencondongkan tubuhnya sedikit, napas hangatnya menyentuh leher Indra yang langsung menegang. Indra tidak bergerak, matanya lurus ke depan, tetapi rahangnya perlahan mengeras seolah ada sesuatu yang terusik jauh di dalam dirinya. Dadanya naik turun lebih berat dari sebelumnya, menandakan pikirannya tidak lagi tenang.Indra berbalik setengah badan, menatap wanita itu dengan sorot mata yang mulai berubah tajam. “Siapa?” tanya Indra rendah sambil mengepalkan tangan di samping tubuhnya, suaranya tertahan namun jelas mengandung tekanan. Ia mencoba tetap rasional, meskipun situasi mulai terasa tidak masuk akal.Wanita itu berjalan santai menjauh dua langkah, lalu menyilangkan tangan di dada sambil menatap Indra dengan senyum tipis. “Kalau aku tahu, aku tidak akan setenang ini,” jawabnya ringan sambil mengangkat alis, tetapi matanya tetap serius mengamati setiap perubahan ekspresi Indra. Ia lalu berbalik
Malam berikutnya datang lebih cepat dari yang Indra harapkan, seolah waktu sengaja berlari untuk menyeretnya ke titik yang tidak bisa ia hindari. Sejak meninggalkan kamar hotel bersama Clara, pikirannya tidak pernah benar-benar tenang.Mobil hitam yang membawanya melaju mulus di jalanan kota. Indra duduk di kursi belakang, menatap keluar jendela tanpa benar-benar melihat apa pun, sementara bayangan hinaan, permintaan cerai, dan tatapan merendahkan terus berputar di kepalanya.“Kamu tegang,” suara Clara terdengar dari sampingnya sambil melirik sekilas. Ia duduk santai, satu kaki menyilang, seolah ini hanya rutinitas biasa baginya.Indra tidak langsung menjawab. Ia menarik napas panjang sebelum akhirnya berkata pelan, “Ini pertama kalinya aku melakukan hal seperti ini,” ucapnya jujur, suaranya berat dan sedikit tertahan.Clara tersenyum tipis mendengar itu. “Semua orang punya pertama kali,” jawab Clara santai, “Tapi tidak semua orang dibayar mahal untuk itu,” lanjutnya sambil menatap ke
Sekarang… buktikan,” ucap Clara dengan nada santai namun tegas, matanya menatap Indra tanpa berkedip. Kalimat itu seperti palu yang menghantam dada Indra dan memaksanya menghadapi kenyataan yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.Indra tidak langsung bergerak. Ia masih menatap layar ponsel di tangan Clara, tepat pada wajah wanita yang sangat ia kenal, salah satu lingkaran sosial mertuanya yang tadi malam menertawakannya tanpa ampun.Rasa panas langsung menjalar di dada Indra, bukan karena situasi di kamar itu, tetapi karena harga dirinya yang diinjak-injak. Bayangan hinaan, tawa, dan permintaan cerai dari Dina kembali berputar di kepalanya, membuat rahangnya mengeras.“Kenapa diam?” suara wanita di layar terdengar lagi dengan nada meremehkan, ia menyandarkan dagunya di tangan sambil menatap Indra seperti menilai barang murah. “Atau kamu memang hanya terlihat bagus saja?” lanjutnya dengan senyum tipis yang menusuk.Indra mengepalkan tangan di atas kasur. Tatapannya berubah perlahan,







