ログインIndra membeku.
Tangannya refleks mencengkeram seprai ketika jemari Clara menarik resleting celananya dengan perlahan. Suara kecil dari logam resleting itu terdengar sangat jelas di kamar hotel yang tiba-tiba terasa sunyi. Clara nampak berpengalaman dalam urusan resleting pria, karenanampaj tidak terburu-buru dan tidak kesulitan. Ia menatap wajah Indra terlebih dahulu, memperhatikan setiap perubahan ekspresi Indra, seolah sedang membaca pikiran yang berputar di kepala pria di hadapannya. “Tenang saja!” ucap Clara lembut sambil memiringkan kepala sedikit, nadanya seperti seseorang yang sedang menenangkan anak kecil yang gugup. Indra menelan ludah sambil menatap bibir merah Clara yang nampak sedikit tebal dan kenyal. Tenggorokannya seketika erasa kering sehingga bibir Clara nampak seakah permen manis yang bisa mengatasi dahaganya.. “Apa ini… serius?” gumamnya dengan suara pelan, matanya masih menatap Clara dengan ragu. Clara tertawa kecil mendengar pertanyaan itu. Tawanya ringan, tetapi terdengar sangat percaya diri. “Tentu saja serius,” jawab Clara santai sambil mengangkat alisnya sedikit. Wanita itu lalu menatap Indra dengan mata yang penuh rasa ingin tahu. “Bagaimana mungkin aku menjual seseorang tanpa tahu kualitasnya?” tambah Clara dengan nada seolah sedang menjelaskan hal yang sangat logis. Indra terdiam. Menjualku?kualitasku?" pikir Indra di dalam hatinya. Kata itu terasa kasar di telinganya, tetapi entah kenapa ia tidak membantah dan seolah menikmati segalanya. Bayangan wajah Dina kembali muncul di kepalanya. “Kamu itu tidak berguna, Indra,” suara istrinya terngiang di kepalanya seperti luka yang baru saja digoreskan. Disusul suara mertuanya yang penuh hinaan. “Pria miskin seperti kamu bahkan tidak pantas berdiri di samping anak saya.” Tangan Indra mengepal kuat di atas kasur. amarah yang tertahan. sehingga semua itu seolah menjadi alasan dan pembenaran bagi dirinya untuk menyerah saja dan rela saja untuk menjual tubuhnya bahkan rela saja jika pun harus dicicipi tubuhnya olwh Clara. Clara melihat reaksi itu dengan jelas. Matanya menyipit sedikit, seperti seorang pemburu yang baru saja melihat celah pada mangsanya. Dan ia tahu, luka seperti itu adalah pintu terbaik untuk membuat seseorang berubah. “Uang satu miliar per bulan,” lanjut Clara santai sambil menyandarkan satu tangannya di kasur. “Dengan tubuhmu, angka itu bahkan bisa lebih.” Indra menatapnya. Matanya masih dipenuhi keraguan, tetapi kini ada sesuatu yang lain di sana. Kemarahannya, dan kesedihan Indra, juga tentu keinginan Indra untuk merubH hidupnya. Clara pun melihat Indra yang sudah mulai naik libidonya. terlihat dari ritme napas Indra yang semakin memburu tak beraturan. Clara tersenyum tipis melihat perubahan itu. “Jadi jangan kaku seperti anak sekolah yang dipanggil guru,” kata Clara sambil menepuk ringan paha Indra dengan telapak tangannya. Sentuhan itu membuat tubuh Indra kembali tegang. Clara lalu berdiri dari tempat duduknya. Langkahnya perlahan mengitari ranjang, seperti seseorang yang sedang menilai barang mahal dari berbagai sisi. Indra mengikuti gerakannya dengan tatapan bingung. “Aku punya banyak klien,” kata Clara sambil berjalan santai di sisi ranjang. Suara hak sepatunya kembali terdengar lembut di lantai kamar. “Wanita-wanita yang bosan dengan suami mereka,” lanjutnya sambil melirik Indra. “Wanita-wanita yang punya uang terlalu banyak tapi tidak punya seseorang yang bisa membuat mereka puas.” Ia berhenti di sisi lain ranjang. Tatapannya kembali jatuh pada tubuh Indra. “Dan pria seperti kamu… sangat langka,” tambah Clara pelan sambil menatap dada bidang Indra. Indra tidak tahu harus merespons apa. Ia masih mencoba memahami situasi aneh yang sedang ia hadapi. Beberapa jam lalu ia masih menjadi suami yang dihina di pesta keluarga. Sekarang ia berada di kamar hotel dengan seorang wanita cantik yang menawarkan pekerjaan bernilai miliaran rupiah. Dan pekerjaan itu jelas bukan pekerjaan biasa. Clara kembali mendekat. Kali ini ia berdiri tepat di depan Indra yang masih duduk di atas ranjang. “Sekarang aku akan jujur,” kata Clara pelan sambil menatap mata Indra dalam-dalam. Indra mengangkat kepala. “Kalau kamu bekerja denganku, kamu tidak hanya akan tidur dengan satu wanita,” lanjut Clara dengan nada santai, seolah sedang menjelaskan kontrak bisnis. Clara mengangkat satu alisnya. “Mungkin lima,” katanya sambil mengangkat lima jarinya di depan Indra. “Sepuluh,” tambahnya lagi dengan senyum tipis. “Atau lebih dalam satu bulan,” lanjut Clara dengan nada yang hampir terdengar menggoda. Indra mengerjap. Kata-kata itu membuat dadanya terasa panas. Clara memperhatikan reaksinya dengan puas. “Dan mereka semua kaya,” lanjut Clara sambil menyilangkan tangannya di dada. “Mereka tidak akan pelit kalau puas.” Indra terdiam beberapa detik. Lalu ia bertanya pelan, “Kenapa… kamu memilihku?” tanya Indra dengan suara rendah, matanya menatap Clara dengan penuh tanda tanya. Clara tertawa kecil mendengar pertanyaan itu. “Aku tidak memilih sembarang pria,” jawab Clara sambil kembali mendekat. Tangannya kembali menyentuh dada Indra. “Tubuhmu kuat,” kata Clara sambil meraba otot dada Indra perlahan. Lalu jemarinya turun ke perut Indra. “Bentuknya bagus,” lanjutnya sambil menelusuri garis otot perut Indra. Kemudian tangannya berhenti di pinggang Indra. “Dan yang paling penting…” Clara berhenti sejenak. Ia menatap mata Indra dalam-dalam. “Aku bisa melihat dari matamu bahwa kamu sedang marah pada dunia,” kata Clara pelan. Indra terdiam. Clara tersenyum. “Pria yang marah biasanya memiliki tenaga yang luar biasa di ranjang,” tambah Clara dengan nada setengah bercanda. Kalimat itu membuat Indra tidak bisa berkata apa-apa. Beberapa detik kemudian Clara melangkah mundur sedikit. Lalu ia membuka kancing atas blazernya. Gerakan itu membuat Indra tertegun. Blazer itu perlahan dilepas Clara, lalu ia meletakkannya di kursi dekat ranjang dengan gerakan santai. Kini yang tersisa hanya gaun tipis yang membentuk tubuhnya dengan sangat jelas. Indra menelan ludah lagi. Clara memperhatikan reaksinya dengan ekspresi puas. “Tesnya sederhana,” kata Clara santai sambil kembali duduk di ranjang tepat di depan Indra. Ia menyilangkan kakinya perlahan. “Anggap saja ini wawancara kerja,” lanjut Clara dengan senyum kecil. Indra masih diam. Clara kemudian mendekatkan wajahnya. Napas hangat wanita itu menyentuh wajah Indra. “Kalau kamu bisa memuaskanku,” bisiknya pelan di dekat telinga Indra, “aku akan menjadikanmu pria paling mahal di daftar klienku.” Jantung Indra berdetak lebih cepat. Clara tersenyum kecil melihat reaksinya. Lalu ia mengambil ponselnya dari meja samping ranjang. Indra mengernyit. Clara membuka layar ponselnya dengan santai. Kemudian ia berkata, “Ngomong-ngomong, ada satu hal lagi yang perlu kamu tahu,” ujar Clara sambil memainkan ponselnya. Indra menatapnya. Clara memutar layar ponselnya ke arah Indra. “Tes ini sebenarnya tidak hanya untukku,” kata Clara dengan nada ringan. Indra mengerutkan dahi. “Apa maksudmu?” tanya Indra bingung. Clara tersenyum tipis. “Klien pertamamu… sedang menonton,” jawab Clara santai. Indra langsung menegang. “Apa?” ucapnya kaget. Clara mengangkat ponselnya sedikit lebih tinggi. Di layar itu terlihat seorang wanita yang sedang melakukan panggilan video. Seorang wanita cantik berusia sekitar tiga puluhan dengan senyum yang sangat percaya diri. Wanita itu menatap Indra dari layar. Lalu dengan suara pelan namun jelas ia berkata, “Jadi… ini pria yang kamu rekomendasikan, Clara?” tanya wanita itu sambil menyilangkan tangannya. Clara tersenyum santai. “Ya,” jawab Clara pendek. Lalu ia menoleh ke arah Indra. “Perkenalkan,” kata Clara sambil menunjuk layar ponsel itu. Indra menatap wajah wanita di layar. Dan detik berikutnya tubuhnya langsung membeku. Karena ia mengenali wajah itu. Wanita itu adalah salah satu teman dekat ibu mertuanya. Wanita yang tadi malam berdiri di pesta… ikut menertawakannya. Wanita di layar itu tersenyum tipis. Tatapannya penuh rasa penasaran. “kamu tampan,sih. tapi, aku penasaran,” katanya pelan sambil menatap Indra dari layar. “Seberapa hebat kamu di atas ranjang sebenarnya, Indra.” Dan tepat saat itu Clara menoleh ke arah Indra sambil berkata dengan nada santai namun tajam, “Sekarang… buktikan!” Ucap Clara sambil membuka bajunya sendiri di hadapan Indra.Pagi di Jakarta terasa jauh lebih sunyi dibanding biasanya. Langit ibu kota dipenuhi suara helikopter militer yang terus melintas rendah di antara gedung-gedung tinggi, sementara seluruh stasiun televisi nasional menampilkan siaran darurat yang sama sejak subuh tadi. Wajah para pembawa berita terlihat tegang ketika layar terus memutar rekaman bentrokan di Laut Arafura, kehancuran drone tempur asing, serta video jet hitam misterius yang kini menjadi pembicaraan dunia internasional. Indonesia berubah dalam semalam. Dan pusat perubahan itu... adalah satu nama. Indra Birawa. Di markas besar militer Indonesia, suasana ruang rapat utama dipenuhi tekanan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Para petinggi militer, pejabat negara, dan anggota intelijen duduk mengelilingi meja panjang sambil memperhatikan layar besar di depan mereka. Rekaman demi rekaman diputar ulang. Jet Australia yang jatuh. Drone Erebos yang hancur. Dan sosok pilot misterius yang bertarung sendirian di a
Langit di atas Laut Arafura berubah merah gelap akibat kobaran ledakan drone yang terus berjatuhan dari udara, sementara ombak besar menghantam sisi kapal patroli Indonesia yang rusak parah setelah serangan mendadak beberapa menit sebelumnya. Asap hitam membumbung tinggi ke angkasa, bercampur percikan api dan serpihan logam yang jatuh ke permukaan laut seperti hujan besi panas.Namun di tengah kekacauan itu...satu hal mulai mengubah seluruh situasi.Jet hitam Arkavian.Pesawat tempur tanpa identitas resmi yang bergerak terlalu cepat untuk diikuti radar biasa.Dan di dalamnya...Indra Birawa.“Target tersisa tujuh,” suara operator Arkavian terdengar dari headset.Tatapan Indra tetap dingin menatap layar merah di depannya.Jari-jarinya bergerak tenang di panel kendali.Sangat tenang.Padahal di dalam tubuhnya sendiri...rasa panas akibat eksperimen Erebos masih terus menyebar perlahan.Sesekali napasnya terdengar sedikit berat.Namun pria itu sama sekali tidak peduli.Karena sekarang..
Langit pagi di atas markas Arkavian masih dipenuhi kabut tipis ketika alarm peringatan mendadak berbunyi nyaring di seluruh kompleks bawah tanah, memecah suasana tegang yang sejak semalam belum benar-benar mereda. Lampu merah berkedip di sepanjang lorong baja, sementara suara langkah cepat para personel militer mulai memenuhi area komando utama.Keadaan berubah drastis hanya dalam hitungan detik.Karena sesuatu akhirnya terjadi.Sesuatu yang sejak tadi malam ditunggu semua orang.BRAKK!Pintu ruang strategi terbuka keras ketika salah satu operator masuk dengan wajah pucat sambil membawa tablet data di tangannya.“Kontak militer asing terdeteksi di Laut Arafura!”Mahesa yang sedang berdiri di depan layar peta langsung menoleh tajam.“Jumlah?”“Empat kapal destroyer Australia,” jawab operator cepat. “Dan satu kapal tempur pendukung Amerika memasuki radius pengawasan kita.”Suasana ruangan langsung membeku.Reno mengumpat pelan.“Anjing... mereka gerak secepat ini?”Seraphine yang berdir
Langit Jakarta masih gelap ketika iring-iringan kendaraan militer melaju cepat memasuki kawasan pusat pemerintahan dengan sirene rendah yang memecah sunyi dini hari, sementara hujan tipis membasahi jalan-jalan ibu kota yang mulai dipenuhi penjagaan bersenjata. Lampu merah dan biru memantul di gedung-gedung tinggi, menciptakan suasana mencekam yang belum pernah dirasakan masyarakat sejak bertahun-tahun lalu.Karena malam itu...Indonesia resmi memasuki status darurat militer terbatas.Berita tentang bentrokan besar di desa Ayu sudah mulai bocor ke media internasional. Meskipun pemerintah berusaha menutupi sebagian informasi, rekaman ledakan, kendaraan tempur misterius, serta kemunculan organisasi bersenjata asing tetap menyebar cepat di internet.Dan satu nama...mulai muncul di berbagai laporan rahasia.Indra Birawa.Di dalam kendaraan lapis baja paling depan, suasana terasa jauh lebih sunyi dibanding suara hujan di luar.Indra duduk bersandar dengan mata terpejam, sementara napasnya
Fajar belum sepenuhnya muncul ketika suasana markas militer rahasia itu sudah berubah jauh lebih sibuk dibanding beberapa jam sebelumnya. Sirene peringatan berbunyi pelan di beberapa lorong utama, sementara puluhan personel militer bergerak cepat membawa dokumen, senjata, dan perlengkapan tempur menuju area komando pusat.Udara terasa berat.Bukan karena suara langkah para tentara.Melainkan karena semua orang mulai memahami satu hal yang sama.Perang bukan lagi kemungkinan.Perang sudah mendekat.Di ruang komando utama, layar-layar besar kini dipenuhi data pergerakan armada asing di wilayah laut selatan Indonesia. Titik merah terus bertambah setiap jam, membentuk garis tekanan yang perlahan mendekati batas pertahanan nasional.Mahesa berdiri di depan layar dengan wajah keras.Tangannya terlipat di dada.Sedangkan beberapa jenderal dan petinggi negara mulai memenuhi ruangan satu per satu.“Laporan terakhir,” ucap salah satu operator cepat. “Tiga kapal destroyer Australia bergerak lebi
Malam menyelimuti markas militer rahasia itu dengan suasana yang jauh lebih tegang dibanding dunia luar. Lampu-lampu putih di sepanjang lorong baja menyala dingin tanpa suara, sementara puluhan tentara bersenjata lengkap berjaga di setiap sudut area utama markas.Udara terasa berat.Seolah seluruh tempat itu sedang menunggu sesuatu yang besar terjadi.Di dalam ruang rapat utama, suasana bahkan lebih menekan lagi.Para petinggi militer Indonesia masih duduk mengelilingi meja panjang berbentuk oval dengan wajah serius. Berbagai layar digital di dinding menampilkan peta wilayah laut selatan Indonesia, titik pergerakan armada asing, serta data ancaman yang terus bertambah setiap jam.Dan di tengah semua perhatian itu…Indra berdiri diam tanpa ekspresi.Tatapan para jenderal terus tertuju kepadanya.Sebagian terlihat kagum.Sebagian lagi jelas waspada.Karena meski laporan mengenai Indra sudah mereka baca berkali-kali…melihat langsung sosoknya tetap terasa berbeda.Aura pria itu terlalu d
Pria berjas hitam itu tersenyum tipis sambil menatap langsung ke arah Indra, dan ia sedikit memiringkan kepalanya seolah sedang menilai sesuatu yang tidak terlihat oleh orang lain, sementara debu dari ledakan sebelumnya masih turun perlahan di antara barisan nisan yang kini berubah menjadi medan ya
Di sebuah pemakaman di pinggiran kota ...Turunkan pelan-pelan, jangan sampai miring,” ucap Indra dengan suara rendah sambil berdiri di tepi liang lahat, dan kedua matanya tertuju lurus ke arah tubuh Dina yang sudah dibungkus kain kafan putih, ketika empat anggota Iblis Merah menurunkannya perlahan
Angkat kepala kalian!!! dan lihat saya dengan benar!” ucap Indra dengan suara rendah namun penuh tekanan sambil berdiri tegak di tengah barisan pasukan Iblis Merah yang kini berlutut mengelilinginya, dan nada bicaranya tidak tinggi, tetapi cukup untuk membuat udara di sekitar terasa lebih berat d
Bawa dia dengan hati-hati. Jangan ada satu bagian pun yang terlewat,” ucap Indra dengan suara rendah sambil berdiri tegak di samping tandu khusus yang digunakan untuk mengangkat tubuh Dina, dan matanya tidak pernah benar-benar lepas dari sosok itu sejak tadi. Nada bicaranya tidak keras, namun tekan







