Home / Male Adult / SEXY HOT OFFER / 4. Pembuktian

Share

4. Pembuktian

Author: Chana Lee
last update publish date: 2026-03-17 12:12:50

Sekarang… buktikan,” ucap Clara dengan nada santai namun tegas, matanya menatap Indra tanpa berkedip. Kalimat itu seperti palu yang menghantam dada Indra dan memaksanya menghadapi kenyataan yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Indra tidak langsung bergerak. Ia masih menatap layar ponsel di tangan Clara, tepat pada wajah wanita yang sangat ia kenal, salah satu lingkaran sosial mertuanya yang tadi malam menertawakannya tanpa ampun.

Rasa panas langsung menjalar di dada Indra, bukan karena situasi di kamar itu, tetapi karena harga dirinya yang diinjak-injak. Bayangan hinaan, tawa, dan permintaan cerai dari Dina kembali berputar di kepalanya, membuat rahangnya mengeras.

“Kenapa diam?” suara wanita di layar terdengar lagi dengan nada meremehkan, ia menyandarkan dagunya di tangan sambil menatap Indra seperti menilai barang murah. “Atau kamu memang hanya terlihat bagus saja?” lanjutnya dengan senyum tipis yang menusuk.

Indra mengepalkan tangan di atas kasur. Tatapannya berubah perlahan, dari ragu menjadi dingin, dan Clara yang berdiri di dekatnya menangkap perubahan itu dengan jelas.

“Dia memang seperti ini di awal,” ujar Clara santai sambil melirik ke arah layar, nadanya seolah membahas produk yang belum diuji. “Masih ragu, masih bingung, tapi biasanya itu tidak lama,” tambahnya sambil tersenyum kecil.

Clara lalu menoleh kembali ke arah Indra, matanya menatap lebih dalam. “Aku yakin kamu tidak akan mengecewakan,” ucapnya pelan dengan nada yang lebih rendah dan penuh tekanan halus.

Indra menarik napas panjang dan menutup matanya sejenak. Ia mencoba menenangkan pikirannya yang kacau, namun justru bayangan Dina dan kata “cerai” itu kembali terngiang lebih keras.

Indra membuka mata dan menatap Clara dengan ekspresi yang berbeda. “Kalau aku melakukan ini…” katanya pelan dengan suara lebih berat, “berarti tidak ada jalan kembali, kan?” lanjutnya sambil menatap tajam.

Clara tersenyum tipis mendengar itu. “Kamu baru sadar sekarang?” jawab Clara ringan sambil mengangkat alis, seolah pertanyaan itu terlalu terlambat untuk dipikirkan.

Wanita di layar tertawa kecil mendengar percakapan itu. “Jalan kembali?” ulangnya dengan nada mengejek, “Sejak kamu masuk ke kamar itu, kamu sudah tidak punya pilihan,” lanjutnya dengan santai namun menusuk.

Indra menoleh ke arah layar dengan tatapan tajam. “Baik,” ucap Indra singkat, satu kata yang terdengar seperti keputusan yang tidak bisa ditarik kembali.

Clara tersenyum lebih lebar melihat itu. “Nah, itu baru menarik,” katanya pelan sambil mengambil ponselnya dan meletakkannya di meja dengan posisi menghadap ke arah mereka.

Clara kembali mendekat ke arah Indra dengan langkah tenang. “Anggap saja ini langkah pertamamu,” ujarnya sambil duduk di depan Indra, menjaga jarak yang cukup dekat untuk menekan suasana.

Indra tidak mundur kali ini. Ia tetap diam, tetapi napasnya mulai berubah dan sorot matanya mulai lebih fokus.

“Bagus,” gumam Clara pelan sambil mengangkat tangannya dan menyentuh dada Indra. Sentuhan itu kini tidak lagi membuat Indra kaku seperti sebelumnya.

Tangan Indra bergerak perlahan, awalnya ragu, namun kemudian ia menggenggam pergelangan tangan Clara. Gerakan itu kecil, tetapi cukup untuk membuat Clara menyipitkan mata dan tersenyum tipis.

“Akhirnya kamu bergerak juga,” kata Clara pelan dengan nada puas. Ia tidak menarik tangannya, justru membiarkan Indra menentukan arah berikutnya.

Indra menatap mata Clara tanpa ragu. “Kalau ini ujian, aku tidak akan setengah-setengah,” ucap Indra dengan suara rendah dan lebih mantap dari sebelumnya.

Wanita di layar tertawa kecil. “Aku suka sikapnya,” katanya sambil menyilangkan kaki, “Setidaknya dia mulai punya keberanian,” lanjutnya dengan nada lebih tertarik.

Clara tidak menjawab, ia hanya memperhatikan setiap gerakan Indra dengan saksama. Ia ingin melihat seberapa cepat pria itu berubah dari korban menjadi seseorang yang mengambil kendali.

Indra menggeser posisinya lebih dekat. Gerakannya kini tidak lagi ragu, seolah ia mulai menemukan ritmenya sendiri dalam situasi yang sebelumnya terasa asing.

“Tidak buruk,” gumam Clara pelan, suaranya sedikit berubah menjadi lebih rendah. Matanya kini tidak lagi sekadar menilai, tetapi mulai benar-benar memperhatikan.

Indra tidak menjawab. Fokusnya hanya satu, membuktikan bahwa ia bukan pria yang selama ini dihina dan dianggap tidak berharga.

Suasana kamar perlahan berubah. Ketegangan yang awalnya canggung kini berganti menjadi tekanan yang berbeda, lebih dalam dan lebih tajam.

Clara menatap Indra dengan mata yang kini lebih serius. Ia tidak lagi melihat pria bingung seperti beberapa menit lalu, melainkan seseorang yang mulai menemukan kendalinya.

“Menarik…” gumam Clara pelan sambil menyilangkan kakinya. Nada suaranya mengandung penilaian yang jauh lebih jujur dibanding sebelumnya.

Wanita di layar ikut memperhatikan dengan lebih fokus. Ekspresinya berubah dari meremehkan menjadi penasaran, seolah ia sedang menyaksikan sesuatu yang tidak ia duga.

“Sepertinya aku mulai mengerti kenapa kamu membawanya ke sini,” kata wanita itu sambil menatap Clara. Nada suaranya kini lebih serius dan tidak lagi penuh ejekan.

Clara tersenyum kecil. “Aku tidak pernah salah memilih,” jawabnya tenang sambil melirik Indra sekilas.

Indra tidak terlalu mendengar percakapan itu. Namun ia bisa merasakan perubahan suasana, dan untuk pertama kalinya, ia tidak lagi berada di posisi yang sama seperti sebelumnya.

Perlahan, posisinya berbalik. Dari yang dinilai, menjadi seseorang yang mulai mengendalikan arah.

Clara menyadari hal itu, dan ia tidak menghentikannya. Justru ia membiarkan perubahan itu terjadi, karena inilah yang ia cari sejak awal.

“Cukup,” ucap Clara tiba-tiba sambil mengangkat tangan. Suaranya tenang, tetapi cukup untuk menghentikan semua yang sedang berlangsung.

Indra langsung berhenti. Napasnya masih berat saat ia menatap Clara dengan sedikit kebingungan.

“Kenapa berhenti?” tanya Indra pelan. Nada suaranya menunjukkan bahwa ia belum selesai.

Clara tersenyum tipis sambil berdiri dan merapikan gaunnya. “Karena aku sudah melihat cukup,” jawabnya ringan, seolah keputusan itu sudah final.

Wanita di layar ikut tersenyum. “Sayang sekali,” katanya pelan, “Padahal mulai menarik,” lanjutnya dengan nada yang kini lebih halus.

Clara mengambil ponselnya kembali dan menatap layar. “Jadi?” tanya Clara singkat, langsung pada inti pembicaraan.

Wanita itu tidak langsung menjawab. Ia menatap Indra beberapa detik, cukup lama untuk membuat suasana kembali tegang.

Kemudian ia tersenyum. Senyum yang kali ini berbeda, bukan lagi meremehkan, melainkan penuh ketertarikan.

“Aku mau dia,” kata wanita itu akhirnya dengan nada pasti. Keputusan itu terdengar ringan, tetapi dampaknya sangat besar bagi Indra.

Indra langsung menoleh ke arah layar. Pikirannya mencoba mengejar makna dari kata-kata itu.

“Secepat itu?” tanya Clara santai sambil mengangkat alis. Ia tampak tidak terkejut, justru seolah sudah menduganya.

Wanita itu mengangguk pelan. “Besok malam,” katanya singkat, “Kirim dia ke tempatku,” lanjutnya tanpa ragu.

Indra terdiam. Kata “besok malam” terasa begitu dekat, terlalu cepat untuk sesuatu yang baru saja ia masuki.

Clara menoleh ke arah Indra dengan senyum tipis. “Selamat,” ucap Clara santai, “Kamu baru saja mendapatkan klien pertamamu,” lanjutnya dengan nada yang terdengar ringan namun penuh arti.

Indra tidak menjawab. Ia hanya menatap Clara, pikirannya masih berusaha memahami perubahan besar yang terjadi begitu cepat.

Clara belum selesai. Ia mendekat lagi, kali ini sangat dekat hingga suaranya hampir seperti bisikan.

“Dan satu hal lagi,” bisik Clara pelan di telinga Indra. Nadanya rendah, membuat bulu kuduk Indra meremang.

Indra menegang. Ia menunggu kalimat berikutnya dengan napas yang tertahan.

“Wanita itu…” lanjut Clara dengan nada yang lebih dalam, sengaja menggantung.

Clara menatap mata Indra sejenak sebelum melanjutkan. “Adalah orang yang tadi malam menyarankan mertuamu untuk menceraikanmu,” ucapnya pelan namun tajam.

Indra membeku. Matanya langsung membesar, dan napasnya tertahan di dada.

Clara menepuk pelan dada Indra, lalu tersenyum tipis. “Jadi pastikan besok malam… kamu tidak mengecewakannya,” ucap Clara santai, seolah itu hanya urusan biasa.

Kalimat itu menggantung di udara.

Dan untuk pertama kalinya, Indra sadar… ini bukan sekadar pekerjaan.

Ini adalah awal dari sesuatu yang jauh lebih dalam.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • SEXY HOT OFFER    Bab 137

    Gelombang kejut dari benturan antara tinju Indra dan tongkat logam pria berjubah hitam masih menyapu area pelabuhan ketika suara dentuman keras terus menggema ke segala arah, sementara kontainer-kontainer raksasa berderit seperti akan roboh akibat tekanan yang baru saja menghantam seluruh kawasan, dan ombak laut di sisi dermaga naik tinggi sebelum menghantam tiang-tiang pelabuhan tua dengan suara bergemuruh yang membuat suasana malam terasa semakin mencekam.DUUUUMMM!Retakan panjang mulai menyebar di bawah kaki kedua monster tersebut.Beton pelabuhan perlahan hancur.Percikan listrik dari kabel-kabel putus menari liar di udara bercampur debu dan asap panas yang memenuhi area sekitar benturan.Ayu yang berdiri tidak jauh dari sana sampai harus menahan tubuhnya menggunakan sisi kendaraan rusak agar tidak terjatuh akibat tekanan angin yang begitu besar, sementara napasnya terasa semakin sesak ketika melihat bagaimana udara di sekitar Indra dan pria berjubah hitam itu seperti bergetar ti

  • SEXY HOT OFFER    Bab 136

    Tubuh Harun Naga masih berguling di atas beton pelabuhan ketika suara dentuman logam dari kontainer-kontainer yang runtuh terus menggema ke segala arah, sementara percikan api dan kabel listrik yang putus menari liar di udara malam bercampur aroma mesiu yang semakin pekat hingga seluruh area terasa seperti neraka perang yang baru saja dibuka paksa oleh amukan monster yang selama ini ditahan dalam bayangan.BRAKKK!Satu kontainer besar akhirnya roboh sepenuhnya tepat beberapa meter dari tubuh Harun Naga hingga debu dan serpihan besi beterbangan menutupi area sekitarnya, sementara pria itu terbatuk keras sambil memuntahkan darah segar yang mengalir dari sudut bibirnya ke permukaan beton retak.Napasnya mulai kacau.Dadanya terasa seperti dihantam palu raksasa.Dan untuk pertama kalinya sejak bertahun-tahun hidup di dunia perang bawah tanah…Harun Naga benar-benar menyadari satu kenyataan yang selama ini tidak mau ia akui.Indra Birawa sekarang…berada di level yang bahkan tidak lagi bis

  • SEXY HOT OFFER    Bab 135

    DUUUUMMMM!Gelombang tekanan besar langsung meledak dari tubuh Indra tepat setelah kalimat terakhirnya jatuh di udara malam pelabuhan, sementara angin laut yang sebelumnya hanya berembus keras kini berubah seperti badai yang menyapu seluruh area kontainer hingga mantel hitam panjangnya berkibar liar di tengah cahaya lampu sorot kendaraan tempur, dan tekanan mengerikan itu membuat beberapa anggota Pasukan Abyss refleks mundur dengan wajah pucat karena insting bertahan hidup mereka menangkap sesuatu yang jauh lebih berbahaya dibanding seluruh kekacauan sebelumnya.Beton di bawah kaki Indra mulai retak perlahan.KRAKK… KRAKKK…Retakan panjang menyebar seperti jaring laba-laba ke segala arah.Ayu yang berdiri tepat di dekatnya langsung membelalakkan mata ketika merasakan udara di sekitar tubuh Indra berubah jauh lebih berat dibanding sebelumnya, seolah pria itu benar-benar berhenti menahan sesuatu yang selama ini dikunci rapat di dalam dirinya.Sementara itu…di atas kontainer-kontainer t

  • SEXY HOT OFFER    Bab 134

    Selamat datang di permainan yang sebenarnya, Dewa Perang.”Kalimat terakhir dari pria berjubah hitam itu masih menggema dingin di seluruh area pelabuhan ketika angin laut kembali berembus keras melewati deretan kontainer raksasa, membawa aroma asin bercampur darah, mesiu, dan karat besi yang memenuhi udara malam hingga membuat suasana terasa semakin berat menekan dada siapa pun yang berdiri di sana, sementara puluhan sosok berpakaian putih keabu-abuan di atas kontainer tetap mengarahkan senjata panjang aneh mereka ke bawah tanpa bergerak sedikit pun seperti pasukan eksekutor yang sudah siap menghabisi seluruh area dalam satu perintah.Cahaya lampu sorot kendaraan tempur memantul samar di permukaan senjata-senjata aneh tersebut.Dan pantulan itu…membuat lambang mata hitam berlatar lingkaran perak di dada mereka terlihat semakin jelas.Pria berwajah luka dari Unit Naga Hitam langsung menegang lebih dalam ketika melihat simbol itu dari dekat, karena meskipun selama bertahun-tahun ia han

  • SEXY HOT OFFER    Bab 133

    Suara ombak yang menghantam tiang-tiang dermaga tua terus bergema pelan di tengah area pelabuhan yang kini berubah menjadi medan perang penuh darah, sementara angin malam membawa aroma mesiu dan besi karatan yang semakin pekat hingga membuat suasana terasa begitu berat menekan dada siapa pun yang masih berdiri di sana, dan di bawah cahaya lampu sorot kendaraan tempur yang berkedip samar, seluruh mata perlahan tertuju pada sosok pria tinggi berjubah hitam yang baru saja keluar dari dalam gudang utama.Langkah pria itu tenang.Stabil.Namun justru ketenangan itulah yang membuat seluruh area mendadak sunyi.Bahkan anggota Pasukan Abyss yang sebelumnya masih memegang senjata dengan tegang kini ikut menurunkan pandangan secara refleks, karena aura yang keluar dari pria tersebut berbeda dari Harun Naga ataupun komandan lain yang pernah mereka lihat sebelumnya.Aura itu…terasa seperti tekanan mutlak.Tongkat logam berukir simbol aneh di tangan pria tersebut memantulkan cahaya samar ketika i

  • SEXY HOT OFFER    Bab 132

    Angin laut malam terus berembus keras di area pelabuhan tua sambil membawa aroma asin bercampur darah, mesiu, dan karat besi yang memenuhi udara hingga membuat seluruh kawasan terasa semakin menyesakkan, sementara cahaya lampu sorot kendaraan tempur memantul di permukaan kontainer-kontainer besar yang tersusun tinggi seperti labirin raksasa, menciptakan bayangan panjang yang bergerak liar di atas beton retak bekas pertarungan brutal sebelumnya.Tubuh-tubuh Pasukan Abyss masih tergeletak di berbagai sisi area pelabuhan dengan kondisi mengenaskan setelah dihantam amukan Indra, dan pemandangan itu perlahan menghancurkan keberanian pasukan lain yang sebelumnya masih percaya diri dengan jumlah serta persenjataan mereka, karena kini mereka benar-benar memahami bahwa pria yang berdiri di tengah medan perang tersebut bukan lagi manusia biasa yang bisa dijatuhkan menggunakan metode normal.Di sisi lain…Ayu berdiri di depan gudang utama dengan kedua tangan masih terikat kuat, sementara beberap

  • SEXY HOT OFFER    Bab 17

    Ruangan itu membeku setelah kalimat terakhir Indra jatuh dengan tenang namun berat. Tidak ada suara yang langsung menyusul, tetapi ketegangan di udara terasa semakin padat, seolah setiap orang sedang mencoba memahami perubahan yang terjadi di depan mata mereka. Indra berdiri tegak dengan ekspresi d

  • SEXY HOT OFFER    Bab 30

    Mobil itu melaju pelan di antara padatnya lalu lintas kota yang mulai hidup sepenuhnya. Suara klakson bersahutan, lampu merah silih berganti, dan orang-orang bergerak dengan ritme yang terburu-buru. Namun di dalam mobil, suasananya justru terasa tenang, seolah dunia luar tidak sepenuhnya masuk ke d

  • SEXY HOT OFFER    Bab 28

    Ruangan itu kembali hening setelah kalimat Indra menggantung di udara. Tidak ada suara tambahan, tidak ada gerakan yang terburu-buru, tetapi tekanan di dalamnya terasa berubah arah. Jika sebelumnya wanita itu berdiri sebagai pihak yang mengendalikan, kini keseimbangan itu mulai goyah. Udara yang ta

  • SEXY HOT OFFER    Bab 40

    Pagi itu datang perlahan, menyapu rumah besar Dina dengan cahaya hangat yang lembut. Indra membuka mata, namun tubuhnya terasa tegang, seakan malam sebelumnya masih menempel di kulitnya—bayangan, tawa seram, dan ancaman yang menyelusup hingga ke tulang. Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status