FAZER LOGINIndra yang terlentang di atas ranjang masih mencoba mengatur napasnya. yang memburu, meronta dan tidak beraturan. Dadanya naik turun pelan setelah Clara mendorongnya tadi hingga jatuh ke kasur empuk kamar hotel itu.
Di bawah cahaya lampu kamar yang hangat itu dan di atas ranjang empuk itu, Clara berdiri di dekat ranjang sambil menatapnya dari kepala sampai kaki. Tatapannya tidak biasa. Bukan sekadar menilai, tapi seperti seorang kolektor yang sedang mengamati barang langka. atau tepatnya tatapan itu terasa seperti melucuti semua pakaian Indra hingga ke cangcut-cangcut hijaunya. Indra merasa sedikit tidak nyaman dan gelagapan ditatap seperti itu. “Apa maksudnya negosiasi?” tanya Indra akhirnya. Ia menoleh ke arah Clara dengan alis berkerut. “Saya tidak mengerti.”lanjut Indra. Clara tersenyum tipis. Senyum yang terlihat santai, tapi menyimpan sesuatu yang sulit ditebak. “Aku melihat semuanya tadi,” katanya pelan. Clara melangkah mendekat ke ranjang. Sepatu hak tinggi yang ia kenakan mengetuk lantai dengan suara lembut namun tegas. “Istrimu… dan mertuamu,” lanjut Clara. “Cara mereka menghina kamu di pesta ulang tahun itu.” " sebagai lelaki, apa kamu mau diperlakukan sepertivitu seterusnya? apa kamu tidak ingin merubah hidupmu?" lanjut Clara sambil naik ke atas ranjang, duduk di samping tubuh Indra yabgterlentang seakan pasrah. Indra pun masih terdiam dan mencerna semua ucapan Clara yang terasa begitu menohok. Ucapan Clara terasa seakan lecutan kuat yang mengenai relung hati Indra Bayangan wajah Dina yang meminta cerai di depan banyak orang pun langsung muncul di kepalanya. Disusul tawa para tamu, dan tatapan merendahkan dari mertuanya. Clara bersedekah di atas dada Indra. “Apa kamu tidak ingin berubah?” tanyanya sambil menatap Indra lurus-lurus. Indra mengerjap. "Berubah?"tanya Indra. Pertanyaan dari Clara itu seperti mengetuk sesuatu di dalam dadanya. Clara lalu berkata dengan tenang, “Aku punya tawaran.”jawab Clara sambil mengecu0 Dada Indra. Indra menatapnya ubun- ubun Clara dan membaui wangi shampo yangxnenguarchalus dari rambut Clara. “Kerja denganku,” lanjut Clara santai. “Kalau kamu mau, gajimu bisa mencapai miliaran rupiah setiap bulan.” Indra langsung mengerjap dan seketika duduk sedikit dari posisi terlentangnya. dan dengan lembut menggeser kepala Clara yang bersedekah di dadanya. “Miliaran?” ulang Indra dengan wajah bingung. Indra benar-benar mengira bahwa dirinya salah dengar. “Kerja apa?” tanya Indra. Clara tidak langsung menjawab. Wanita itu justru tersenyum pelan. Senyum yang perlahan berubah menjadi sesuatu yang lebih menggoda. Clara melangkah semakin dekat. Kemudian ia duduk di pinggir ranjang, tepat di samping Indra. Jarak mereka kini sangat dekat. Indra bisa mencium wangi parfum Clara yang lembut namun tajam. Aroma mahal yang membuat kepalanya sedikit pening dan jujur saja membuat hasrat kelalakian Indra merobta-ronta. Aroma tubuh wanita itu seperti memiliki daya tarik yang aneh. Tanpa sadar, napas Indra sedikit berubah. Clara memperhatikannya. Lalu dengan santai, jemari Clara menyentuh dada Indra. Indra langsung kaku dan mengejang, sementara anaconda di balik kolornya turut mengejang,mengeras,dan memanjang, merindukan goanya. Jemari wanita itu perlahan meraba otot dadanya, lalu turun ke perutnya yang keras. “Tubuhmu bagus,” gumam Clara sambil mengamati setiap otot yang ia sentuh. Indra menelan ludah. Sentuhan itu terasa aneh baginya. Ia bukan pria yang terbiasa disentuh wanita asing seperti ini. Namun tubuhnya bereaksi. Dan Clara jelas menyadarinya. “Begini saja,” kata Clara akhirnya. Ia menarik tangannya sedikit, tapi tetap duduk dekat dengan Indra. “Aku punya banyak kenalan,” lanjutnya santai. “Wanita-wanita kalangan atas. Istri pejabat, sosialita, pengusaha, bahkan beberapa figur publik.” Indra masih mendengarkan dengan wajah bingung. Clara melanjutkan, “Mereka semua punya satu masalah yang sama.” Clara menatap Indra dengan mata sedikit menyipit. “Mereka kesepian.” Indra masih belum memahami arah pembicaraan itu. Namun Clara segera menjelaskannya. “Mereka membutuhkan pria,” kata Clara tenang. “Pria yang bisa memuaskan mereka tanpa drama, tanpa ikatan, tanpa masalah.” Indra mulai mengerti. Dan ketika ia mulai mengerti, matanya langsung membesar. Clara mencondongkan tubuh sedikit lebih dekat. “Pria dengan tubuh seperti milikmu sangat langka,” bisiknya pelan. Indra menatapnya. “Kamu serius?” tanya Indra dengan nada tidak percaya. Clara tersenyum. “Kalau kamu bersedia bekerja denganku,” lanjut Clara, “gajimu sekitar satu miliar rupiah per bulan.” Indra terdiam. Satu miliar. Jumlah uang itu terasa seperti angka yang bahkan tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Namun Clara belum selesai. “Dan itu belum termasuk f*e dari para konsumen,” tambah Clara santai. “Kalau mereka puas, mereka biasanya memberi bonus sendiri.” Indra mengerjap. Pikirannya seperti sedang berusaha mengejar penjelasan itu. Clara memperhatikan reaksinya dengan tenang. “Jadi?” tanya Clara. “Tertarik?” Indra tidak langsung menjawab. Ia menatap langit-langit kamar hotel itu. Lalu wajah Dina kembali muncul di pikirannya. Tawa Hansen. Hinaan mertuanya. Dan kata cerai yang diucapkan istrinya tanpa ragu. Indra mengepalkan tangan. Kemudian ia menoleh lagi ke arah Clara. “Kalau aku setuju…” kata Indra perlahan. “Apa yang harus aku lakukan?” Clara tersenyum lebar kali ini. Senyum yang penuh arti. “Pertanyaan bagus,” ucap Clara. Lalu wanita itu perlahan mencondongkan tubuh ke arah Indra lagi. Matanya menatap wajah Indra dengan penuh minat. “Kalau kamu setuju,” kata Clara pelan, “aku harus menentukan dulu berapa nilai kamu.” Indra mengernyit. “Maksudnya?” Clara tidak langsung menjawab. Sebaliknya, tangan wanita itu bergerak turun. Pelan. Sangat pelan. Hingga jemarinya mencapai resleting celana Indra. Indra langsung menegang. Clara tersenyum kecil. “Untuk menentukan berapa gajimu,” bisiknya pelan, “aku harus menguji dulu… seberapa kuat perkakasmu.” Kalimat itu diucapkan tepat saat jemari Clara menarik resleting celana Indra ke bawah. Dan di saat itulah ...Pagi di Jakarta terasa jauh lebih sunyi dibanding biasanya. Langit ibu kota dipenuhi suara helikopter militer yang terus melintas rendah di antara gedung-gedung tinggi, sementara seluruh stasiun televisi nasional menampilkan siaran darurat yang sama sejak subuh tadi. Wajah para pembawa berita terlihat tegang ketika layar terus memutar rekaman bentrokan di Laut Arafura, kehancuran drone tempur asing, serta video jet hitam misterius yang kini menjadi pembicaraan dunia internasional. Indonesia berubah dalam semalam. Dan pusat perubahan itu... adalah satu nama. Indra Birawa. Di markas besar militer Indonesia, suasana ruang rapat utama dipenuhi tekanan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Para petinggi militer, pejabat negara, dan anggota intelijen duduk mengelilingi meja panjang sambil memperhatikan layar besar di depan mereka. Rekaman demi rekaman diputar ulang. Jet Australia yang jatuh. Drone Erebos yang hancur. Dan sosok pilot misterius yang bertarung sendirian di a
Langit di atas Laut Arafura berubah merah gelap akibat kobaran ledakan drone yang terus berjatuhan dari udara, sementara ombak besar menghantam sisi kapal patroli Indonesia yang rusak parah setelah serangan mendadak beberapa menit sebelumnya. Asap hitam membumbung tinggi ke angkasa, bercampur percikan api dan serpihan logam yang jatuh ke permukaan laut seperti hujan besi panas.Namun di tengah kekacauan itu...satu hal mulai mengubah seluruh situasi.Jet hitam Arkavian.Pesawat tempur tanpa identitas resmi yang bergerak terlalu cepat untuk diikuti radar biasa.Dan di dalamnya...Indra Birawa.“Target tersisa tujuh,” suara operator Arkavian terdengar dari headset.Tatapan Indra tetap dingin menatap layar merah di depannya.Jari-jarinya bergerak tenang di panel kendali.Sangat tenang.Padahal di dalam tubuhnya sendiri...rasa panas akibat eksperimen Erebos masih terus menyebar perlahan.Sesekali napasnya terdengar sedikit berat.Namun pria itu sama sekali tidak peduli.Karena sekarang..
Langit pagi di atas markas Arkavian masih dipenuhi kabut tipis ketika alarm peringatan mendadak berbunyi nyaring di seluruh kompleks bawah tanah, memecah suasana tegang yang sejak semalam belum benar-benar mereda. Lampu merah berkedip di sepanjang lorong baja, sementara suara langkah cepat para personel militer mulai memenuhi area komando utama.Keadaan berubah drastis hanya dalam hitungan detik.Karena sesuatu akhirnya terjadi.Sesuatu yang sejak tadi malam ditunggu semua orang.BRAKK!Pintu ruang strategi terbuka keras ketika salah satu operator masuk dengan wajah pucat sambil membawa tablet data di tangannya.“Kontak militer asing terdeteksi di Laut Arafura!”Mahesa yang sedang berdiri di depan layar peta langsung menoleh tajam.“Jumlah?”“Empat kapal destroyer Australia,” jawab operator cepat. “Dan satu kapal tempur pendukung Amerika memasuki radius pengawasan kita.”Suasana ruangan langsung membeku.Reno mengumpat pelan.“Anjing... mereka gerak secepat ini?”Seraphine yang berdir
Langit Jakarta masih gelap ketika iring-iringan kendaraan militer melaju cepat memasuki kawasan pusat pemerintahan dengan sirene rendah yang memecah sunyi dini hari, sementara hujan tipis membasahi jalan-jalan ibu kota yang mulai dipenuhi penjagaan bersenjata. Lampu merah dan biru memantul di gedung-gedung tinggi, menciptakan suasana mencekam yang belum pernah dirasakan masyarakat sejak bertahun-tahun lalu.Karena malam itu...Indonesia resmi memasuki status darurat militer terbatas.Berita tentang bentrokan besar di desa Ayu sudah mulai bocor ke media internasional. Meskipun pemerintah berusaha menutupi sebagian informasi, rekaman ledakan, kendaraan tempur misterius, serta kemunculan organisasi bersenjata asing tetap menyebar cepat di internet.Dan satu nama...mulai muncul di berbagai laporan rahasia.Indra Birawa.Di dalam kendaraan lapis baja paling depan, suasana terasa jauh lebih sunyi dibanding suara hujan di luar.Indra duduk bersandar dengan mata terpejam, sementara napasnya
Fajar belum sepenuhnya muncul ketika suasana markas militer rahasia itu sudah berubah jauh lebih sibuk dibanding beberapa jam sebelumnya. Sirene peringatan berbunyi pelan di beberapa lorong utama, sementara puluhan personel militer bergerak cepat membawa dokumen, senjata, dan perlengkapan tempur menuju area komando pusat.Udara terasa berat.Bukan karena suara langkah para tentara.Melainkan karena semua orang mulai memahami satu hal yang sama.Perang bukan lagi kemungkinan.Perang sudah mendekat.Di ruang komando utama, layar-layar besar kini dipenuhi data pergerakan armada asing di wilayah laut selatan Indonesia. Titik merah terus bertambah setiap jam, membentuk garis tekanan yang perlahan mendekati batas pertahanan nasional.Mahesa berdiri di depan layar dengan wajah keras.Tangannya terlipat di dada.Sedangkan beberapa jenderal dan petinggi negara mulai memenuhi ruangan satu per satu.“Laporan terakhir,” ucap salah satu operator cepat. “Tiga kapal destroyer Australia bergerak lebi
Malam menyelimuti markas militer rahasia itu dengan suasana yang jauh lebih tegang dibanding dunia luar. Lampu-lampu putih di sepanjang lorong baja menyala dingin tanpa suara, sementara puluhan tentara bersenjata lengkap berjaga di setiap sudut area utama markas.Udara terasa berat.Seolah seluruh tempat itu sedang menunggu sesuatu yang besar terjadi.Di dalam ruang rapat utama, suasana bahkan lebih menekan lagi.Para petinggi militer Indonesia masih duduk mengelilingi meja panjang berbentuk oval dengan wajah serius. Berbagai layar digital di dinding menampilkan peta wilayah laut selatan Indonesia, titik pergerakan armada asing, serta data ancaman yang terus bertambah setiap jam.Dan di tengah semua perhatian itu…Indra berdiri diam tanpa ekspresi.Tatapan para jenderal terus tertuju kepadanya.Sebagian terlihat kagum.Sebagian lagi jelas waspada.Karena meski laporan mengenai Indra sudah mereka baca berkali-kali…melihat langsung sosoknya tetap terasa berbeda.Aura pria itu terlalu d
Kobaran api masih membumbung tinggi di sepanjang jalur hutan ketika gema ledakan terakhir perlahan memudar ke dalam malam, sementara asap hitam bercampur kabut bergerak rendah menutupi sebagian medan perang yang telah berubah menjadi lautan lumpur, serpihan logam, dan kendaraan hancur. Aroma mesiu
Hujan gerimis masih turun tipis di sepanjang jalur hutan ketika tubuh Indra sedikit goyah setelah darah hitam kembali keluar dari mulutnya, sementara kobaran api dari kendaraan yang terbakar terus memantulkan cahaya merah ke genangan lumpur di sekitar medan perang. Suara tembakan perlahan mulai mer
Udara pagi desa terasa jauh lebih dingin dibanding biasanya ketika cahaya matahari perlahan mulai muncul dari balik hamparan sawah yang masih dipenuhi kabut tipis sisa hujan semalam. Suara ayam berkokok kembali terdengar dari beberapa rumah warga, sementara aroma kayu bakar mulai menyebar dari dapu
Suasana kamar sederhana itu berubah jauh lebih sunyi setelah lampu dimatikan perlahan, sementara suara jangkrik malam dari luar jendela terdengar samar bercampur hembusan angin desa yang masih membawa aroma tanah basah sehabis hujan. Di luar rumah, beberapa lampu hajatan yang belum dilepas masih me