Partager

SISTEM: Aku Si Raja Montir
SISTEM: Aku Si Raja Montir
Auteur: BandaNeira

1. Sistem.

Auteur: BandaNeira
last update Date de publication: 2026-09-14 18:55:59

“Sial! Kenapa gue harus kebagian tempat yang jauh sih?!” umpat Dimas saat melihat surat pengantar PKL (praktek kerja lapangan) dari sekolahnya.

Ia melangkah keluar kelas dengan langkah gontai, dan saat ia akan ke area parkiran dua sahabatnya sudah menunggu.

“Dim! Lo PKL kemana?” tanya Dodo sahabatnya.

Dimas menunjukan surat yang ia terima dari wali kelasnya kepada Dodo.

Begitu Dodo membacanya ia terkejut, sambil tertawa terbahak-bahak. “Buset! Serius? Jauh amat Dim? Nggak salah nih, Pak Eko ngirim lo ke Surabaya? Kita kan ada di Jakarta,” ucapnya sambil menyerahkan kembali surat PKL milik Dimas itu.

Dimas hanya mendegus kesal sambil duduk di jok motor miliknya. “Mana tau gue, lagian Pak Eko kan bisa cari bengkel lain, kenapa harus ke surabaya? Arrgh! Kampret emang,” umpatnya sambil menyalakan motor sport miliknya.

***

Tak berselang lama Dimas sampai di rumahnya, rumah yang cukup sederhana. Ia anak dari pasangan bernama Bagas Wijaya dan Maria Ozawa. Keduanya sama-sama bekerja sebagai PNS yang cukup di kenal di komplek perumahannya.

“Ma, Papa belum pulang?” tanya Dimas kepada sang ibu.

“Belum, Kayaknya Papamu pulang besok,” jawab Maria.

Dimas mengeluarkan kertas pengantar dari sekolah dan memberikannya kepada sang ibu. Begitu Maria meraih kertas itu dan membacanya. Ia terkejut.

“Hah?! Surabaya Dim?” tanya Maria dengan ekspresi terkejut.

Dimas mengangguk sambil bersandar malas ke kursi. “Iyaa, mau gimana lagi. Mana besok harus berangkat,” jawab Dimas.

Bukannya khawatir, Maria justru senang. Karena alamat bengkel yang tertera di surat itu sama dengan alamat adiknya, yaitu Tante dari Dimas, Vania.

“Bagus dong!” seru Maria sambil menandatangani surat pengantar itu.

Sontak Dimas melotot saat ibunya menandatangani surat itu. “Yah! Ma! Apaan sih... kenapa di tandatangan?” tanya Dimas sambil mengacak rambutnya sampai berantakan.

Maria menoleh sambil menatap tajam ke arah anaknya. “Lho, kenapa memangnya?”

“Tapi kan Mama bisa nolak, terus ajuin tempat PKL baru buat Dimas, biar tetep disini...”

“Nggak! Pokonya kamu harus tetep ke surabaya. Nggak ada tapi-tapi lagi, lagian disana juga ada tante kamu, dan biar hemat biaya selama disana. Kamu tinggal di rumah tante Vania, dan nggak usah ngekos!” potong sang ibu sambil memasukkan kembali lembaran surat pengantar itu ke dalam amplop berlogo sekolahnya.

“Lagian kalo kamu disini, Mama nggak bakalan izinin kamu yang hobinya keluyuran malam,” pungkas ibunya sambil melangkah pergi dari meja makan.

Sementara itu Dimas hanya bisa mendengus kesal lalu terdiam menatap amplop di tangannya itu.

“Aaiissh! Kenapa harus rumah tante Vania sih,” keluh Dimas.

***

Surabaya...

“Aduh! Hati-hati dong Mas!” protes gadis itu saat sikut Dimas tak sengaja menyenggol kepala gadis mungil itu.

Dimas langsung menurunkan koper dengan hati-hati sambil meminta maaf kepada gadis itu.

“Ma-maaf mbak, saya nggak sengaja,” ucapnya Sopan.

Sementara gadis itu terdiam beberapa saat begitu Dimas menatap ke arahnya. “Ganteng juga nih orang?” pikirnya.

“Lain kali hati-hati Mas,” balasnya dengan suara yang lebih lembut dari sebelumnya. Lalu gadis itu berlalu pergi sambil menyampirkan tas ranselnya di bahu kanan.

Begitu sampai di loby stasiun, Dimas yang sedang menyeret kopernya langsung di hampiri seorang gadis, yang tak lain adalah Rere, sepupunya.

“Lo Dimas kan?” ucapnya tanpa basa-basi.

Dimas mengangguk, “Mbak Rere?” ucapnya pelan.

Rere tidak menjawab ia langsung membalikkan badannya dan melangkah pergi sambil berkata, “Ya udah buruan, gue lagi buru-buru.”

Melihat sikap sepupunya itu Dimas sedikit kesal, namun ia ingat bahwa ini bukan tempatnya. Dan dia harus mengingat pesan ibunya, "Harus menjaga sikap, dimanapun kamu berada."

Meskipun Dimas sedikit urakan dan terkenal nakal, ia tetap patuh kepada kedua orang tuanya.

Setelah sampai di parkiran Dimas menyimpan kopernya di bagasi. Sepanjang perjalanan menuju ke rumah tantenya, suasana di dalam mobil benar-benar hening. Tak ada obrolan apapun, hingga Dimas baru menyadari bahwa Rere, hanya memakai hotpant yang membuat paha mulusnya jelas terlihat meskipun Dimas melihatnya dari sudut mata, ia tetap bisa melihatnya dengan jelas.

“Gue kira, penampilan cewek disini bakalan beda sama di jakarta,” batin Dimas.

Sesampainya di depan gerbang sebuah rumah, mobil yang di tumpangi Dimas berhenti. Rere langsung menyuruhnya turun dari mobil.

“Lo masuk aja, Mama udah nunggu di rumah,” jelas Rere sebelum Dimas turun. Rere lalu menekan klakson mobilnya sekali.

Dimas mengangguk lalu turun tanpa banyak bicara lagi, setelah Dimas membawa koper di dalam bagasi, Rere langsung memutar balik mobilnya dan pergi meninggalkan Dimas yang berdiri tepat di depan gerbang rumah berwarna coklat itu.

Dimas menarik napas dalam-dalam, sebelum akhirnya ia melangkah ke arah gerbang itu. Pintu gerbang terbuka perlahan, tampak seorang satpam langsung tersenyum ke arahnya.

“Mas Dimas yak? Monggo masuk Mas, Ibu Vania udah nunggu dari tadi,” ucapnya.

Dimas mengangguk sopan lalu melangkah masuk, halaman rumah itu cukup luas dan ada satu mobil hitam terparkir disana. Serta bangunan dua lantai itu berdiri megah dengan taman yang tertata rapih, membuat Dimas berdecak kagum.

“Silahkan masuk, Mas,” ucap Pak Udin sambil membungkuk sopan dan melangkah pergi.

Dimas membuka pintu perlahan, terakhir kali ia bertemu dengan tantenya itu saat usia dia sekitar enam tahun, namun kini usianya telah beranjak dewasa tujuh belas tahun sudah kini usia pemuda itu.

Begitu pintu terbuka lebar, Dimas langsung di sambut senyuman hangat tantenya. Yaitu, Vania yang langsung berdiri dan menghampiri Dimas lalu memeluknya.

“Ya ampun! Dimas! Kamu sudah besar?” seru Tante Vania.

Dimas masih terdiam, ada sesuatu yang menekan dadanya. Empuk, dan menonjol.

“I-iya Tante...”

“Sial! Mana gede lagi!” batinnya.

“Ya ampun, Tante sampe pangling lihat kamu, ternyata makin ganteng aja keponakan tante ini!” ucap Tante Vania sambil menarik lengan Dimas dan membawanya ke ruang santai.

“Ya udah sana, Kamu mandi dulu, terus istirahat. Kamu pasti capek kan? Tante, mau kabarin Mama mu dulu,” ucapnya sambil tersenyum, “Kamar mu, ada di atas udah di siapin dari kemarin. Di sebelah kamar Rere, yang paling pojok,” lanjutnya.

“Iyaa Tante, terimakasih,” Jawab Dimas.

Dia pergi ke lantai atas, sambil menarik kopernya itu. Suasananya sedikit berbeda dengan rumah yang ada di jakarta. Lebih tenang, dan sejuk, Dimas juga harus beradaptasi dengan lingkungan baru yang akan dia tinggali beberapa bulan ke depan.

“Halah, bakalan repot ini mah,” gumam Dimas sambil membuka kamar yang cukup luas itu.

Disana juga sepertinya Tante Vania sudah menyiapkan banyak hal, peralatan mandi, televisi, playstation dan lainnya. Dimas sudah tak heran lagi, karena tantenya itu memang terkenal royal dan baik, meskipun seorang janda tantenya seorang yang sangat tekun dan memiliki usaha yang cukup sukses.

Terlebih tantenya itu masih sangat cantik, walau umurnya kini sudah sekitar tiga puluh lima tahun, badannya juga masih terawat sangat baik.

Dimas membaringkan tubuhnya di atas kasur sambil mengistirahatkan tubuhnya yang sudah terlihat sangat lelah itu.

***

Esok harinya bengkel di samping rumah tante Vania...

Ia menarik napas panjang begitu sampai di halaman, udara pagi yang sejuk menyentuh wajahnya, namun rasa panas di dadanya belum sepenuhnya hilang. Ia menggelengkan kepalanya pelan, berusaha membuang bayangan penampilan kedua wanita itu dari pikirannya.

“Fokus Dimas! Lo kesini buat praktek, bukan buat mikirin hal-hal gitu! Jangan jadi cowok rendahan!” tekadnya dalam hati, lalu ia berjalan menuju bengkel mobil yang letaknya hanya beberapa langkah dari rumah itu.

Bengkel itu cukup luas, dengan deretan alat-alat bengkel yang tertata rapi di rak dinding, dan beberapa mobil yang sedang dalam perbaikan terparkir di area terbuka. Begitu ia melangkah masuk, seorang pria paruh baya dengan wajah ramah dan tangan yang penuh noda oli segera menyambutnya. Pria itu adalah Pak Haris, pemilik bengkel sekaligus pembimbing praktek Dimas selama empat bulan ke depan.

“Kamu Dimas ya?” tanya Pak Haris sambil tersenyum, lalu mengulurkan tangannya yang kasar namun hangat. “Saya sudah dikabari oleh sekolahmu kemarin. Silakan, selamat datang di bengkel saya. Semoga selama di sini kamu bisa belajar banyak hal, bukan sekedar duduk diam saja,” ucapnya dengan nada tegas namun tetap bersahabat.

Dimas tersenyum lega, menjabat tangan pria itu dengan sopan. “Siap, Pak! Saya janji akan belajar sungguh-sungguh dan tidak bermalas-malasan,” jawabnya dengan semangat yang baru saja ia bangkitkan, berusaha menghapus sisa-sisa kegelisahan yang dibawanya dari rumah.

Hari itu berjalan cukup baik di awal. Pak Haris mengajaknya berkeliling bengkel, mengenalkan nama-nama alat, jenis oli, serta cara mendiagnosis kerusakan mesin mobil hanya dengan mendengarkan suara mesinnya.

Dimas mendengarkan dengan seksama, sesekali mengangguk dan bertanya hal-hal yang ingin ia ketahui lebih dalam. Ia merasa tertarik sekali, bahkan lupa sebentar dengan hal-hal yang tadi pagi mengganggunya di rumah.

Hingga menjelang siang, saat Pak Haris menyuruhnya mengambil kunci pas yang jatuh di bawah mobil yang sedang diperbaiki. Dimas berjalan mendekati mobil itu, namun saat ia melangkah, telapak kakinya yang mengenakan sepatu bot kerja itu tak sengaja menginjak tumpahan oli hitam yang licin di lantai semen bengkel itu.

Tanpa sempat bereaksi, kakinya tergelincir ke belakang dengan cepat. Tubuhnya kehilangan keseimbangan dalam sekejap. Dimas berusaha meraih tepian mobil untuk menahan jatuh, namun tangannya hanya menyapu udara. Dengan suara benturan yang keras, bagian belakang kepalanya membentur sudut balok besi yang menonjol di dudukan mesin.

“Akh!” rintihnya pelan, sebelum pandangannya seketika menjadi gelap. Tubuhnya yang tinggi besar itu jatuh terjerembap ke lantai bengkel yang keras, lalu tak bergerak lagi.

“Dimas!” teriak Pak Haris yang melihat kejadian itu, segera berlari mendekati tubuh pemuda itu. Beberapa mekanik lain juga berhenti bekerja dan berkumpul dengan panik. Namun tak ada satu pun dari mereka yang menyadari... di saat yang sama, di dalam kesadaran Dimas yang sedang gelap, sesuatu yang luar biasa sedang terjadi.

Di ruang kesadarannya yang semula kosong dan gelap, tiba-tiba muncul cahaya kebiruan yang lembut namun menyilaukan. Cahaya itu berdenyut perlahan, seolah memiliki detak jantung sendiri. Bersamaan dengan itu, suara mekanis yang terdengar tenang dan jelas, tanpa nada sedikit pun, bergema di seluruh ruang pikirannya.

Ding!

[SISTEM TERVERIFIKASI. MENYINKRONKAN DATA HOST DENGAN SISTEM LUNA... 10%... 35%... 68%... 92%... SINKRONISASI SELESAI.]

[SELAMAT DATANG, HOST! SISTEM LUNA TELAH DI AKTIFKAN!]

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Dernier chapitre

  • SISTEM: Aku Si Raja Montir   6. Misi berhasil

    Ding! Bantu perbaiki kendaraan mogok! Hadiah: Skill poin S + Rp.3.000.000 Waktu 24 jam! dari sekarang. Dimas menggerutu di dalam hatinya, dimana ia harus mencari kendaraan mogok dan membantu memperbaikinya dalam waktu 24 jam terhitung dari sekarang, belum lagi misi memberi Rere hadiah belum ia selesaikan membuat kepalanya semakin pusing. “Dimana gue harus cari kendaraan mogok? ada-ada aja lo sistem! ck!” gerutunya. Dimas akhirnya memutuskan untuk mencari udara segar keluar rumah, sekaligus mengenali lingkungan di sekitar rumah tantenya itu. Saat menuruni tangga, ia langsung di sambut oleh tantenya, Vania. “Mau kemana kamu Dim?” tanyanya. Dimas kembali menelan ludah sambil menundukkan pandangannya dan berkata, “Mau cari udara segar tan, nggak jauh-jauh kok sekalian cari cemilan,” jawabnya sambil melangkah turun dari tangga. Vania mengangguk sambil menyilangkan kedua kakinya membuat daster yang di kenakannya tersingkap, Dimas yang melihat itu semakin berdegup kencang. T

  • SISTEM: Aku Si Raja Montir   5. Firasat buruk

    Sore harinya, Dimas sudah berdiri di depan bengkel dengan pakaian yang sedikit lebih rapi. Rambutnya disisir, kausnya diganti dengan kemeja sederhana, dan sepatu yang biasanya penuh noda oli sudah ia bersihkan. Ia berkali-kali melihat jam di ponselnya. “Lima menit lagi...” Dimas menarik napas panjang. “Kenapa gue malah gugup begini? Gue cuma makan bareng customer.” Tak lama kemudian, sebuah motor putih berhenti di depan bengkel. Alya melepas helmnya dan tersenyum. “Maaf ya, Mas Dimas. Tadi agak macet.” Dimas menggeleng. “Nggak apa-apa. Saya juga baru selesai bersiap.” Ding! Dimas langsung terdiam. Layar biru muncul di hadapannya. [MISI BARU!] [Target: Alya] [Tujuan: Buat target merasa nyaman selama acara makan.] [Hadiah: Rp1.000.000] Dimas membelalakkan mata. “Sejuta?!” Alya menatapnya heran. “Mas bilang apa?” Dimas langsung menggeleng. “Eh, nggak. Saya cuma bilang... sejuta...” Ia berhenti. “...eh, maksud saya, silakan.” Alya tertawa kecil. “Mas Dimas aneh juga, ya.” D

  • SISTEM: Aku Si Raja Montir   4. Berkencan

    Keesokan harinya, Dimas tetap memikirkan apa hadiah yang cocok untuk Rere, si gadis jutek yang membuatnya selalu geram setiap melihat ekspresinya yang ketus.“Kalau bukan sepupu gue, udah gue jailin tuh cewek, ck!” gumam Dimas sambil melangkah santai menuju ke bengkel.Seperti biasa, udara pagi di sekitar rumah Tante Vania terasa cukup sejuk. Dimas berjalan sambil membawa tas kecil berisi perlengkapan pribadinya.Namun, baru beberapa langkah memasuki area bengkel, suara notifikasi kembali terdengar di kepalanya.Ding!Dimas langsung berhenti. “Apaan lagi?” gumamnya.Sebuah layar biru transparan muncul tepat di hadapannya.[SISTEM LUNA][MISI BARU TERSEDIA!]Dimas mengernyitkan kening.“Jangan bilang misi mesum lagi.”Layar itu berubah.[Misi Peningkatan Skill Montir][Target: Meningkatkan kemampuan komunikasi dan diagnosis kendaraan Host.][Persyaratan misi:][1. Sambut customer baru.][2. Periksa kerusakan kendaraan tanpa bantuan senior.][3. Berhasil memperbaiki kerusakan kendaraan.

  • SISTEM: Aku Si Raja Montir   3. Pijatan

    Dimas menggantung pakaian kotornya di kamar mandi, ia mengguyur tubuhnya dengan air dingin untuk mengusir pikiran kotor yang seharian ini memenuhi kepalanya. Di bawah shower air ia hanya bisa meredam semua pikiran kotornya, dan tak lama Dimas segera berpakaian untuk mengisi perutnya yang keroncongan. Saat Dimas melangkah keluar kamar, sura notifikasi sistem membuatnya menghentikan langkah tepat di ambang pintu. Ding! Misi baru! Berikan hadiah untuk Rere! Besok Rere ulang tahun. Hadiah: ? Dimas tertegun melihat tulisan di layar biru itu, ternyata sistem tidak memberikannya misi yang aneh, tapi... hadiah dari sisten tidak di tunjukan, hal itu membuat Dimas sedikit khawatir. Tapi apa yang harus ia berikan kepada Rere, sepupunya? Pikir Dimas. Dimas akan memikirkannya lagi nanti, ia kembali melanjutkan langkahnya dan berjalan menuruni anak tangga dengan santai. Dan begitu melihat ke arah dapur, Rere dan tante Vani sudah lebih dulu duduk di meja makan sambil menunggunya.

  • SISTEM: Aku Si Raja Montir   2. Misi Konyol

    “Kalo emang kamu nggak bisa lanjut hari ini, kamu lanjutin besok aja nggak apa-apa,” lanjut Pak Haris.Dimas menggelengkan kepalanya pelan sambil, “Udah Pak, saya nggak kenapa-kenapa, cuma sakit sedikit aja di bagian kepala,” jawabnya penuh keyakinan. “Ya sudah kalo begitu, kita lanjutkan.”Semua orang kembali beraktifitas seperti biasa, di sela-sela aktifitasnya Dimas terus memikirkan hal yang dia lihat di bawah alam kesadarannya. “Ahh, palingan itu cuma mimpi,” pikirnya. Namun, tepat saat sebuah mobil datang ke bengkel tersebut, suara denting halus menggema di kepalanya. Ding! Tiba-tiba sebuah layar biru muncul di hadapan Dimas, membuatnya sedikit terlonjak kaget. Gleg. Dimas menelan ludah sambil mengucek kedua matanya untuk memastikan apa yang dia lihat memang benar nyata. “Sistem?” Misi perdana Host! Mengintip warna celana dalam Customer! Target bernama : Livia, usia sekitar 25 tahun, pekerjaan managet hotel. Hadiah: Rp, 200.000 + 10 poin sistem dan 5 poin skill montir

  • SISTEM: Aku Si Raja Montir   1. Sistem.

    “Sial! Kenapa gue harus kebagian tempat yang jauh sih?!” umpat Dimas saat melihat surat pengantar PKL (praktek kerja lapangan) dari sekolahnya.Ia melangkah keluar kelas dengan langkah gontai, dan saat ia akan ke area parkiran dua sahabatnya sudah menunggu.“Dim! Lo PKL kemana?” tanya Dodo sahabatnya.Dimas menunjukan surat yang ia terima dari wali kelasnya kepada Dodo.Begitu Dodo membacanya ia terkejut, sambil tertawa terbahak-bahak. “Buset! Serius? Jauh amat Dim? Nggak salah nih, Pak Eko ngirim lo ke Surabaya? Kita kan ada di Jakarta,” ucapnya sambil menyerahkan kembali surat PKL milik Dimas itu.Dimas hanya mendegus kesal sambil duduk di jok motor miliknya. “Mana tau gue, lagian Pak Eko kan bisa cari bengkel lain, kenapa harus ke surabaya? Arrgh! Kampret emang,” umpatnya sambil menyalakan motor sport miliknya.***Tak berselang lama Dimas sampai di rumahnya, rumah yang cukup sederhana. Ia anak dari pasangan bernama Bagas Wijaya dan Maria Ozawa. Keduanya sama-sama bekerja sebagai P

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status