LOGIN"Mas Elvino," lirihku.
Pria yang semalaman mendiamkanku. Pria yang memarahiku habis-habisan karena aku belum bisa memberinya anak. Pria yang terus menuntutku menjadi istri sempurna tanpa celah. Laki-laki itu sedang berjalan pelan keluar dari pintu kamar lain di lorong yang sama. Dan ia tidak sendirian. Rasa kaget menghantam dadaku begitu keras. Pikiranku kosong tak bersisa. Kakiku seketika kehilangan kemampuan untuk menopang berat badanku sendiri. Lututku melemas. Punggungku merosot perlahan menyusuri dinginnya dinding bercorak emas di lorong itu. Dadaku naik turun menahan isak tangis yang tertahan paksa di ujung tenggorokan. "Mas nanti malam janji mau temani aku lagi, kan?" Suara wanita itu terdengar begitu manja dan ringan. Ia merangkul lengan suamiku dengan sangat erat, menyandarkan kepalanya di bahu suamiku. Mas Elvino membisikkan sesuatu yang membuat wanita itu tertawa kecil. "Kamu ini menggemaskan sekali. Tentu aku janji. Apa sih yang nggak buat kamu?" sahut suamiku dengan nada lembut yang sudah bertahun-tahun tidak pernah kudengar. Tawa dan sahutan itu mengiris gendang telingaku perlahan. Perih. Sangat perih. Dari keterpurukan ini, muncul dorongan putus asa yang menyala hebat di dadaku. Aku memaksakan diri untuk berdiri. Tanganku berpegangan erat pada dinding lorong yang dingin. Aku melangkah pelan, menyeret kakiku yang masih gemetar, membututi mereka dari kejauhan. Aku menahan napas sekuat tenaga saat melihat punggung mereka berdekatan, lalu masuk berdua ke dalam kamar hotel VIP termahal di hotel itu. Di luar sana, hujan turun deras saat aku akhirnya menjatuhkan diri di kursi belakang taksi. Air hujan menghantam kaca jendela mobil dengan suara berisik yang memekakkan telinga. Namun di dalam kabin mobil ini, suasananya terasa begitu dingin dan sangat sepi. "Mbak, kita lewat jalan tol saja atau jalan biasa? Di depan sepertinya macet panjang karena hujan." Pak Sopir bertanya sambil menatapku dari kaca spion tengah. "Lewat tol saja, Pak. Tolong agak cepat ya, Pak." Suaraku bergetar hebat saat menjawab. "Mbak sakit? Pucat sekali wajahnya dari tadi saya perhatikan. Mau saya mampirkan ke klinik dulu di depan sana?" "Tidak perlu, Pak. Saya hanya ingin cepat sampai rumah. Tolong percepat saja laju mobilnya." "Baik, Mbak. Sabar ya, jalanan licin." Aku kembali bersandar pada jok mobil. Sisa-sisa wangi ruangan hotel di bajuku kini terasa mencekik leherku. Rasa bersalahku usai membagi kehangatan bersama Zayyan beberapa jam lalu seketika menguap begitu saja. Perasaan itu hancur lebur digantikan oleh rasa perih yang teramat dalam. "Jadi selama ini kamu juga bermain gila di belakangku, Mas?" batinku. Aku dikhianati oleh orang yang menuntut kesetiaan dan kesempurnaan dariku setiap detik. Laki-laki yang selalu menyudutkanku kini ternyata memiliki dosa yang sama pekatnya. Sejak kapan ia membagi tubuhnya untuk perempuan lain? Sejak kapan tatapan dinginnya untukku berganti menjadi senyum hangat untuk perempuan itu? "Apakah wanita itu alasan kamu selalu mencari kesalahanku setiap hari, Mas?" Aku bertanya pada bayangan di luar kaca jendela. "Apakah dia alasan kamu selalu marah dan mengeluh tentang rumah kita yang terasa sepi?" Tanganku memeluk perut yang mendadak terasa mual dan bergejolak hebat. Aku menyandarkan kening di kaca jendela mobil yang basah oleh embun. Pandanganku buram menatap deretan lampu jalanan yang memudar di balik derasnya hujan. Aku membiarkan air mata mengalir membasahi pipiku dalam diam sepanjang sisa perjalanan. Jarum jam di dinding ruang keluarga berdetak nyaring saat aku kembali ke realita. Waktu sudah menunjukkan pukul satu dini hari. Rumah sangat sepi dan suhu udara terasa menggigit kulit. Aku duduk menanti di tepi ranjang kamar tidur. Tiba-tiba suara deru mesin mobil Mas Elvino terdengar memasuki garasi. Terdengar suara kunci diputar dari pintu depan. Saat pintu terbuka, langkah kaki Mas Elvino terdengar mendekat menyusuri ruang tengah, lalu masuk ke dalam kamar. Pandanganku pada pria itu kini telah berubah total. Tidak ada lagi sosok pelindung di mataku. Yang berdiri di depanku kini hanyalah seorang pria asing yang sangat pandai bersandiwara memainkan perannya. "Mas baru pulang? Mau kubuatkan teh hangat untuk menghangatkan badan?" Aku menyapanya pelan. Aku berusaha keras menekan dadaku, menyembunyikan getar suaraku agar terdengar normal. Mas Elvino melepaskan sepatunya asal-asalan lalu melemparnya ke sudut kamar. Ia bahkan tidak menoleh ke arahku sama sekali. Tangannya langsung melepas dasi yang melingkar di leher. "Tidak usah. Aku lelah sekali mau langsung tidur. Jangan ganggu aku." Nada suaranya datar, sangat dingin, tanpa ada nada penyesalan atau rasa bersalah sedikit pun di sana. "Pekerjaan di kantor menumpuk sekali ya, Mas? Sampai kamu pulang selarut ini." Aku memancingnya dengan pertanyaan pelan, mencoba melihat seberapa jauh ia akan berbohong malam ini. "Kamu ini banyak tanya sekali malam ini. Aku banting tulang di luar buat makan kamu juga. Sudah, diam sana. Kepalaku pusing mendengar suaramu." Ia mendengus kasar. Aku menelan kepahitan itu bulat-bulat. Aku mengangguk pelan. "Ya sudah. Kamu istirahat saja. Biar aku rapikan tas kerjamu." Aku beranjak dari ranjang, mengambil tas kerja kulitnya dari atas sofa. Aku membawanya ke meja nakas kecil di sudut kamar untuk mengeluarkan kotak bekal yang biasa kubawakan pagi tadi. Saat aku membuka resleting utama tas kulit itu, tanganku menyentuh sesuatu yang ganjil. Sebuah benda asing terselip di antara tumpukan dokumen rapatnya. Aku menarik benda itu pelan dengan ujung jariku. Sebuah kain berbahan sutra tipis jatuh. Mataku melebar seketika menatap sepotong ce la na dalam wanita berwarna merah menyala yang kini tergeletak di bawah kakiku. Napasku tercekat di pangkal tenggorokan. Ujung jariku gemetar hebat saat aku memungut kain kecil itu. Aroma parfum manis yang sangat asing dan menusuk tajam langsung memenuhi indra penciumanku. Itu bukan wangi parfumku. Itu wangi perempuan yang menggelayut manja di lengannya di lorong hotel tadi. Hatiku hancur berkeping-keping. Seluruh pertahananku hancur. Anehnya, air mataku justru berhenti mengalir. Mataku mengering seketika, digantikan oleh bara api yang menyala sangat panas di dalam dada. Aku menggenggam erat kain sutra merah itu. Rasa sakit ini perlahan bermutasi menjadi sesuatu yang jauh lebih gelap, pekat, dan sangat berbahaya. Di saat bersamaan, benda persegi di dalam saku samping tas kerja tiba-tiba bergetar pelan. Ponsel Mas Elvino menyala terang di tengah temaram kamar, menampilkan sebuah notifikasi pesan masuk di layar kuncinya. Nama kontak yang tertera di layar adalah Mekanik Yanto. Namun, barisan kalimat pendek yang terbaca jelas di bawah nama aneh itu membuat aliran darahku membeku seketika. "Sayang, ce la na dalamku kebawa di tas kamu ya? Besok malam kita ketemu lagi di kamar yang sama." Aku menatap layar yang kembali meredup itu tanpa berkedip. Rahangku mengeras. Tekadku menguat bagai batu karang yang dihantam ombak. Malam ini, aku bersumpah pada diriku sendiri. Aku akan mencari tahu siapa wanita yang bersembunyi di balik nama itu, dan aku akan pastikan merekan membayarnya!"Kita perlu bicara, Zay. Berdua saja." Suara Megan dari seberang sambungan telepon terdengar sangat pelan. Nada bicaranya begitu berhati-hati, dijaga sedemikian rupa agar tidak bergetar. Namun efek dari beberapa kata itu mampu menghentikan laju napasku seketika. Aku terdiam cukup lama. Pikiranku berkecamuk hebat, dihantam kenyataan bahwa masa laluku yang belum tuntas kini datang menagih utang di saat yang paling hancur. Aku menelan ludah yang terasa menyumbat tenggorokan, lalu mengiyakan permintaannya tanpa ragu sedikit pun. "Besok di tempat biasa," jawabku. Panggilan itu terputus sangat cepat. Bunyi nada putus dari speaker menyisakan layar ponsel yang perlahan meredup di atas meja kerjaku. Ada beban berat yang mendadak menekan dadaku hingga rasanya aku sulit sekali meraup udara bebas. Segala dosa yang pernah kulakukan pada wanita itu berputar kembali di kepalaku layaknya sebuah kaset rusak. Sore harinya, langit kota menumpahkan rintik gerimis di atas atap rumah Rania. Aku berdi
POV Zayyan“Ternyata kamu..” lirihku.Mataku terpaku pada sosok wanita yang berdiri di belakang pria brengsek itu. Jantungku seakan berhenti berdetak detik itu juga. Darah mendesir dingin merayapi tengkuk. Wanita itu adalah Megan.Tatapan kami berserobok membuat udara mendadak terasa pekat. Ada keterkejutan yang sama besarnya tergambar jelas di sepasang mata bulat wanita itu. Namun Megan buru-buru menunduk. Ia menyembunyikan wajah pucatnya di balik map dokumen yang ia peluk erat di depan dada.Aku nyaris kehilangan kendali atas suaraku sendiri. Kenyataan ini menghantamku telak tanpa ampun. Pertemuan bisnis berbalut kebohongan itu baru saja kuakhiri setelah semua urusan selesai. Pintu kayu berukir itu kini tertutup rapat dari luar seiring langkah Elvino dan Megan yang menjauh.Begitu bunyi ketukan sepatu mereka hilang, Rania melangkah keluar dari balik tirai persembunyiannya di sudut ruangan. Wajah wanita yang kucintai itu terlihat pias. Matanya menyala oleh kemarahan dan rasa jijik
"Bagus kalau suami kamu selingkuh!"Suara Zayyan memecah keheningan di antara kami.Aku terkesiap. Mataku menatap pria di hadapanku ini dengan sorot tidak percaya. Dadaku masih berdenyut nyeri mengingat rasa sakit semalam."Bagus bagaimana maksudmu, Zay?" "Ini peluang buat kita, Rania." Zayyan menatapku dengan binar mata penuh harap.Bagi Zayyan, pengkhianatan Mas Elvino adalah jalan pintas. Sebuah celah besar agar ia bisa memilikiku seutuhnya tanpa perlu sembunyi lagi. Namun di balik rasa sakit yang mencekik leher ini, tumbuh rasa penasaran yang amat gelap di dalam kepalaku."Siapa yang lebih dulu bermain api, Zay?" "Kamu tidak perlu memikirkan itu. Kita urus perpisahan kamu secepatnya.""Tidak akan semudah itu.""Kenapa, Rania?""Aku butuh validasi. Aku butuh bukti nyata. Aku ingin menjadikannya senjata di pengadilan nanti. Selama dua tahun dia selalu menuntutku menjadi istri sempurna. Dia menuduhku sebagai penyebab rumah kami terasa mati karena aku belum hamil. Aku tidak akan mem
"Mas Elvino," lirihku.Pria yang semalaman mendiamkanku. Pria yang memarahiku habis-habisan karena aku belum bisa memberinya anak. Pria yang terus menuntutku menjadi istri sempurna tanpa celah. Laki-laki itu sedang berjalan pelan keluar dari pintu kamar lain di lorong yang sama.Dan ia tidak sendirian.Rasa kaget menghantam dadaku begitu keras. Pikiranku kosong tak bersisa. Kakiku seketika kehilangan kemampuan untuk menopang berat badanku sendiri.Lututku melemas. Punggungku merosot perlahan menyusuri dinginnya dinding bercorak emas di lorong itu. Dadaku naik turun menahan isak tangis yang tertahan paksa di ujung tenggorokan."Mas nanti malam janji mau temani aku lagi, kan?" Suara wanita itu terdengar begitu manja dan ringan. Ia merangkul lengan suamiku dengan sangat erat, menyandarkan kepalanya di bahu suamiku.Mas Elvino membisikkan sesuatu yang membuat wanita itu tertawa kecil."Kamu ini menggemaskan sekali. Tentu aku janji. Apa sih yang nggak buat kamu?" sahut suamiku dengan nada
"Aku akan menunggumu sampai kamu ke pelukanku, Rania."Kalimat itu terus berputar di dalam kepalaku. Suara Zayyan menyusup pelan melewati gelapnya kamar, mengikis dan menghancurkan sisa pertahananku malam ini. Suaranya terasa begitu dekat, seolah ia sedang berbisik tepat di telingaku, membujukku untuk menyerah pada keadaan. Aku membuka mata. Keputusanku sudah bulat. Aku tidak bisa terus hidup dalam ruangan yang terasa mati ini.Aku menyingkap selimut tebal itu perlahan, sangat pelan, memastikan Mas Elvino yang tertidur memunggungiku tidak terusik sama sekali. Dengusan napasnya terdengar teratur. Dengan kaki telanjang yang langsung disambut dinginnya lantai keramik, aku berjalan mengendap-endap keluar dari kamar. Aku memeluk ponsel di dada, melangkah pelan menuju dapur.Tanganku bergetar hebat saat mencari nama Zayyan di daftar kontak. Jantungku memukul tulang rusuk dengan keras. Nada sambung berbunyi cukup lama, sebelum akhirnya terdengar suara serak khas orang bangun tidur menyapaku.
"Kamu seharian ngapain aja di rumah?" Suara Elvino memecah kesunyian dengan nada datar. Ia menunjuk majalah dan beberapa buku yang berserakan di atas meja ruang keluarga. "Rumah berantakan begini nggak dirapikan. Makanan juga belum siap di meja makan.""Aku tadi agak pusing, Mas. Habis minum obat terus ketiduran sebentar di kamar." Rania menjawab pelan. Ia melangkah mendekati meja untuk merapikan tumpukan buku itu."Pusing terus alasanmu. Aku yang banting tulang mati-matian di luar aja nggak pernah ngeluh pusing." Elvino melonggarkan dasinya dengan kasar, menariknya lepas, lalu melemparkan tas kerjanya begitu saja ke atas sofa."Aku cuma belum sempat beresin, Mas. Ini juga mau aku rapikan sekarang. Sebentar lagi aku panaskan makanan buat kamu." Rania mencoba menahan nada suaranya agar tidak ikut meninggi. "Belum sempat gimana maksudnya? Kerja kamu cuma di rumah tiap hari. Harusnya rumah bersih, makanan siap, baju disetrika. Bukan malah kayak kapal pecah begini. Apa sih susahnya ngur







