Share

Chapter 2

Author: KingBee
last update publish date: 2026-09-27 21:07:43

"Aku akan menunggumu sampai kamu ke pelukanku, Rania."

Kalimat itu terus berputar di dalam kepalaku. Suara Zayyan menyusup pelan melewati gelapnya kamar, mengikis dan menghancurkan sisa pertahananku malam ini. Suaranya terasa begitu dekat, seolah ia sedang berbisik tepat di telingaku, membujukku untuk menyerah pada keadaan. Aku membuka mata. Keputusanku sudah bulat. Aku tidak bisa terus hidup dalam ruangan yang terasa mati ini.

Aku menyingkap selimut tebal itu perlahan, sangat pelan, memastikan Mas Elvino yang tertidur memunggungiku tidak terusik sama sekali. Dengusan napasnya terdengar teratur. Dengan kaki telanjang yang langsung disambut dinginnya lantai keramik, aku berjalan mengendap-endap keluar dari kamar. Aku memeluk ponsel di dada, melangkah pelan menuju dapur.

Tanganku bergetar hebat saat mencari nama Zayyan di daftar kontak. Jantungku memukul tulang rusuk dengan keras. Nada sambung berbunyi cukup lama, sebelum akhirnya terdengar suara serak khas orang bangun tidur menyapaku.

"Halo? Rania? Ini  kamu?" Suara Zayyan terdengar ragu namun terkejut.

"Zayyan..." Suaraku bergetar.

"Hei, ada apa? Kenapa suara kamu seperti itu? Kamu menangis, Rania?" Zayyan panik.

Pertahananku runtuh. Air mata yang sejak tadi sore kutahan mati-matian akhirnya jatuh membasahi pipi. Aku menggigit bibir bawahku, berusaha agar isak tangisku tidak terdengar nyaring.

"Aku capek, Zay. Aku benar-benar lelah." Aku membisikkan rasa sesak itu ke dalam telepon. 

"Mas Elvino marah lagi hari ini. Dia terus menyalahkan aku."

"Dia bilang apa lagi sama kamu?" 

"Dia bilang rumah ini terasa sedingin kuburan karena aku tidak bisa memberi dia anak, Zay. Dia menatapku seolah aku ini perempuan tidak berguna. Aku sakit, Zay. Hatiku sakit sekali."

"Rania, dengarkan aku baik-baik. Jangan pernah masukkan kata-kata laki-laki itu ke dalam hati kamu. Kamu perempuan berharga. Kamu sempurna."

"Aku merasa sendirian di rumah ini, Zay. Aku merasa tidak ada harganya. Aku rindu kamu."

"Aku juga sangat merindukanmu, Rania. Aku selalu memikirkan kamu setiap hari."

"Aku ingin bertemu. Aku butuh kamu."

"Kita bertemu besok. Aku akan siapkan tempatnya. Jangan menangis lagi, ya? Hatiku hancur mendengar kamu menangis sendirian di sana."

"Terima kasih, Zay. Aku..."

Kalimatku terputus. Di tengah isak tangisku yang tertahan, telingaku menangkap bunyi gesekan dari arah lorong kamar. Suara sandal rumah yang diseret di atas lantai. Ada langkah kaki yang berjalan mendekat ke arah dapur.

Jantungku nyaris melompat keluar dari tempatnya. Aku buru-buru menekan tombol merah di layar, memutus sambungan telepon, dan menyembunyikan ponsel ke balik punggungku.

Mas Elvino berdiri di ambang pintu dapur. Wajahnya terlihat mengantuk, rambutnya berantakan, namun matanya menatapku penuh selidik dari atas sampai bawah.

"Lagi apa kamu di dapur tengah malam begini?" 

Keringat dingin merembes perlahan di tengkukku. Aku menelan ludah yang mendadak terasa sepahit empedu. Tanganku yang menyembunyikan ponsel di belakang punggung gemetar hebat.

"Aku... aku habis dari toilet, Mas." Aku menjawab terbata-bata, memaksakan alasan yang melintas di kepala.

"Terus kenapa berdiam diri di sini?"

"Aku mau cari minum, kamu sudah keburu datang."

"Kamu habis menangis?" Mas Elvino memicingkan mata, menatap wajahku

"Nggak." Aku menggeleng cepat. "Mataku perih kelilipan debu. Kamu sendiri, untuk apa bangun malam-malam, Mas?" Untuk menutupi rasa takut ketahuan, aku memberanikan diri menatap matanya, balik melempar tanya.

"Tenggorokanku  haus, aku butuh minum"

Ia berjalan melewatiku begitu saja tanpa mempermasalahkan jawabanku lagi. Ia membuka pintu kulkas, mengambil botol air, dan menuangkannya ke dalam gelas kaca. Ia minum dalam diam. 

Malam berganti pagi. Pertengkaran kemarin sore masih menggantung tebal di udara ruang makan. Aku melayaninya menyendokkan nasi goreng dan menuangkan kopi panas ke dalam cangkir layaknya sebuah mesin yang sudah diprogram untuk patuh.

"Kopinya kurang manis." Mas Elvino meletakkan cangkirnya agak keras.

"Biar aku tambahkan gula sebentar, Mas." 

"Tidak usah. Aku sudah terlambat." Ia menepis tanganku pelan, lalu berdiri dari kursi.

"Sarapannya baru kamu makan dua suap, Mas."

"Aku tidak berselera. Nanti aku makan di kantor saja." Ia merapikan letak kemejanya.

"Nanti sore mau aku masakkan apa?"

"Terserah kamu. Aku mungkin pulang larut malam ini."

Ia berjalan keluar pintu tanpa mengucap pamit. Jangankan pelukan perpisahan, menoleh ke arahku saja tidak ia lakukan. Aku menatap punggung suamiku hingga ia masuk ke dalam mobil. Ada rasa kosong yang menggigit saat deru mesin mobilnya menjauh.

Namun, begitu mobilnya hilang dari pandangan, detak jantungku berubah cepat.

Ada rasa bersalah yang mengintip diam-diam di sudut hati, tapi kerinduan pada kehangatan Zayyan menelan semuanya. Hari ini, aku akan menemui pelarianku. Menemui satu-satunya pria yang menganggapku ada.

Sebuah kamar hotel yang hangat dan wangi menjadi tempat pertemuan kami. Di dalam kamar bernuansa temaram itu, pertemuan dengan Zayyan melepaskan semua penat dan beban di pundakku. Kami duduk bersisian di sofa kecil dekat jendela, saling menumpahkan rindu melalui cerita.

"Kamu semakin cantik, Rania." Zayyan merapikan anak rambut yang jatuh di pipiku.

Aku tersenyum, "Tapi, aku merasa kacau akhir-akhir ini."

"Gak di mataku. Kamu selalu terlihat sempurna, Rania."

"Terima kasih Zay, sudah mau meluangkan waktu menemuiku di sini."

"Aku akan melakukan apa pun untuk kamu." Zayyan menatap mataku lekat. "Jangan sedih lagi. Ada aku di sini."

"Aku lelah bertengkar setiap hari, Zay. Aku ingin bahagia."

"Kamu pantas bahagia, Rania. Sangat pantas."

Zayyan menyentuhku dengan kelembutan yang sangat kubutuhkan. Ia memperlakukanku dengan penuh puja, seolah aku adalah hal paling berharga di dunia ini. Ia ‘menyentuh’ selayaknya ia adalah suami sahku. Dalam pelukannya, waktu terasa berhenti berputar. Aku melupakan Elvino, melupakan rumah yang dingin, melupakan segala tuntutan yang mencekik.

Beberapa jam berlalu membawa perasaan penuh dan cukup. Rasa hangat masih membekas di kulitku. Zayyan merapikan penampilannya.

"Aku senang kita bisa bertemu hari ini, Rania. Aku akan mengatur waktu agar kita bisa bertemu lagi minggu depan."

"Aku tunggu kabar dari kamu, Zay." 

"Hati-hati di jalan. Jangan melamun." Zayyan mengecup puncak kepalaku sebelum ia berjalan keluar pintu kamar lebih dulu.

Sepuluh menit kemudian, aku menyusul. Aku melangkah keluar dari kamar bernomor 314 itu, menyusuri lorong hotel yang panjang sendirian untuk pulang menuju nerakaku kembali. Di ujung lorong, saat aku hendak berbelok menuju deretan lift, langkahku mendadak mati.

Jantungku seakan berhenti berdetak detik itu juga. Darahku berdesir dingin. Mataku menangkap sosok pria yang sangat kukenal dari postur tubuh, bentuk rahang, dan kemeja biru tua yang baru tadi pagi kusiapkan dengan tanganku sendiri.

Mas Elvino.

Pria yang semalaman mendiamkanku, pria yang memarahiku karena aku belum bisa memberinya anak, pria yang terus menuntutku menjadi istri sempurna, itu sedang berjalan pelan keluar dari pintu kamar lain di lorong yang sama.

Dan ia tidak sendirian.

Mas Elvino tersenyum lebar, senyum yang sudah bertahun-tahun tidak pernah ia berikan untukku. Tangannya melingkar sangat posesif di pinggang seorang wanita muda yang merajuk manja di sisinya.

Dunia di sekelilingku seketika berputar hebat, menyisakan napasku yang tertahan sakit di kerongkongan.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • SKANDAL CINTA TERLARANG    Chapter 6

    "Kita perlu bicara, Zay. Berdua saja." Suara Megan dari seberang sambungan telepon terdengar sangat pelan. Nada bicaranya begitu berhati-hati, dijaga sedemikian rupa agar tidak bergetar. Namun efek dari beberapa kata itu mampu menghentikan laju napasku seketika. Aku terdiam cukup lama. Pikiranku berkecamuk hebat, dihantam kenyataan bahwa masa laluku yang belum tuntas kini datang menagih utang di saat yang paling hancur. Aku menelan ludah yang terasa menyumbat tenggorokan, lalu mengiyakan permintaannya tanpa ragu sedikit pun. "Besok di tempat biasa," jawabku. Panggilan itu terputus sangat cepat. Bunyi nada putus dari speaker menyisakan layar ponsel yang perlahan meredup di atas meja kerjaku. Ada beban berat yang mendadak menekan dadaku hingga rasanya aku sulit sekali meraup udara bebas. Segala dosa yang pernah kulakukan pada wanita itu berputar kembali di kepalaku layaknya sebuah kaset rusak. Sore harinya, langit kota menumpahkan rintik gerimis di atas atap rumah Rania. Aku berdi

  • SKANDAL CINTA TERLARANG    Chapter 5

    POV Zayyan“Ternyata kamu..” lirihku.Mataku terpaku pada sosok wanita yang berdiri di belakang pria brengsek itu. Jantungku seakan berhenti berdetak detik itu juga. Darah mendesir dingin merayapi tengkuk. Wanita itu adalah Megan.Tatapan kami berserobok membuat udara mendadak terasa pekat. Ada keterkejutan yang sama besarnya tergambar jelas di sepasang mata bulat wanita itu. Namun Megan buru-buru menunduk. Ia menyembunyikan wajah pucatnya di balik map dokumen yang ia peluk erat di depan dada.Aku nyaris kehilangan kendali atas suaraku sendiri. Kenyataan ini menghantamku telak tanpa ampun. Pertemuan bisnis berbalut kebohongan itu baru saja kuakhiri setelah semua urusan selesai. Pintu kayu berukir itu kini tertutup rapat dari luar seiring langkah Elvino dan Megan yang menjauh.Begitu bunyi ketukan sepatu mereka hilang, Rania melangkah keluar dari balik tirai persembunyiannya di sudut ruangan. Wajah wanita yang kucintai itu terlihat pias. Matanya menyala oleh kemarahan dan rasa jijik

  • SKANDAL CINTA TERLARANG    Chapter 4

    "Bagus kalau suami kamu selingkuh!"Suara Zayyan memecah keheningan di antara kami.Aku terkesiap. Mataku menatap pria di hadapanku ini dengan sorot tidak percaya. Dadaku masih berdenyut nyeri mengingat rasa sakit semalam."Bagus bagaimana maksudmu, Zay?" "Ini peluang buat kita, Rania." Zayyan menatapku dengan binar mata penuh harap.Bagi Zayyan, pengkhianatan Mas Elvino adalah jalan pintas. Sebuah celah besar agar ia bisa memilikiku seutuhnya tanpa perlu sembunyi lagi. Namun di balik rasa sakit yang mencekik leher ini, tumbuh rasa penasaran yang amat gelap di dalam kepalaku."Siapa yang lebih dulu bermain api, Zay?" "Kamu tidak perlu memikirkan itu. Kita urus perpisahan kamu secepatnya.""Tidak akan semudah itu.""Kenapa, Rania?""Aku butuh validasi. Aku butuh bukti nyata. Aku ingin menjadikannya senjata di pengadilan nanti. Selama dua tahun dia selalu menuntutku menjadi istri sempurna. Dia menuduhku sebagai penyebab rumah kami terasa mati karena aku belum hamil. Aku tidak akan mem

  • SKANDAL CINTA TERLARANG    Chapter 3

    "Mas Elvino," lirihku.Pria yang semalaman mendiamkanku. Pria yang memarahiku habis-habisan karena aku belum bisa memberinya anak. Pria yang terus menuntutku menjadi istri sempurna tanpa celah. Laki-laki itu sedang berjalan pelan keluar dari pintu kamar lain di lorong yang sama.Dan ia tidak sendirian.Rasa kaget menghantam dadaku begitu keras. Pikiranku kosong tak bersisa. Kakiku seketika kehilangan kemampuan untuk menopang berat badanku sendiri.Lututku melemas. Punggungku merosot perlahan menyusuri dinginnya dinding bercorak emas di lorong itu. Dadaku naik turun menahan isak tangis yang tertahan paksa di ujung tenggorokan."Mas nanti malam janji mau temani aku lagi, kan?" Suara wanita itu terdengar begitu manja dan ringan. Ia merangkul lengan suamiku dengan sangat erat, menyandarkan kepalanya di bahu suamiku.Mas Elvino membisikkan sesuatu yang membuat wanita itu tertawa kecil."Kamu ini menggemaskan sekali. Tentu aku janji. Apa sih yang nggak buat kamu?" sahut suamiku dengan nada

  • SKANDAL CINTA TERLARANG    Chapter 2

    "Aku akan menunggumu sampai kamu ke pelukanku, Rania."Kalimat itu terus berputar di dalam kepalaku. Suara Zayyan menyusup pelan melewati gelapnya kamar, mengikis dan menghancurkan sisa pertahananku malam ini. Suaranya terasa begitu dekat, seolah ia sedang berbisik tepat di telingaku, membujukku untuk menyerah pada keadaan. Aku membuka mata. Keputusanku sudah bulat. Aku tidak bisa terus hidup dalam ruangan yang terasa mati ini.Aku menyingkap selimut tebal itu perlahan, sangat pelan, memastikan Mas Elvino yang tertidur memunggungiku tidak terusik sama sekali. Dengusan napasnya terdengar teratur. Dengan kaki telanjang yang langsung disambut dinginnya lantai keramik, aku berjalan mengendap-endap keluar dari kamar. Aku memeluk ponsel di dada, melangkah pelan menuju dapur.Tanganku bergetar hebat saat mencari nama Zayyan di daftar kontak. Jantungku memukul tulang rusuk dengan keras. Nada sambung berbunyi cukup lama, sebelum akhirnya terdengar suara serak khas orang bangun tidur menyapaku.

  • SKANDAL CINTA TERLARANG    Chapter 1

    "Kamu seharian ngapain aja di rumah?" Suara Elvino memecah kesunyian dengan nada datar. Ia menunjuk majalah dan beberapa buku yang berserakan di atas meja ruang keluarga. "Rumah berantakan begini nggak dirapikan. Makanan juga belum siap di meja makan.""Aku tadi agak pusing, Mas. Habis minum obat terus ketiduran sebentar di kamar." Rania menjawab pelan. Ia melangkah mendekati meja untuk merapikan tumpukan buku itu."Pusing terus alasanmu. Aku yang banting tulang mati-matian di luar aja nggak pernah ngeluh pusing." Elvino melonggarkan dasinya dengan kasar, menariknya lepas, lalu melemparkan tas kerjanya begitu saja ke atas sofa."Aku cuma belum sempat beresin, Mas. Ini juga mau aku rapikan sekarang. Sebentar lagi aku panaskan makanan buat kamu." Rania mencoba menahan nada suaranya agar tidak ikut meninggi. "Belum sempat gimana maksudnya? Kerja kamu cuma di rumah tiap hari. Harusnya rumah bersih, makanan siap, baju disetrika. Bukan malah kayak kapal pecah begini. Apa sih susahnya ngur

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status